---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 34/II/2-8 Oktober 99 ------------------------------ KOMPROMIS YANG MENGAKU ANTI-NEKOLIM (POLITIK): Kubu Ultranasionalis ketemu Islam, mengaku Anti-Nekolim. Sialnya, tetap sekedar 'baju'. Tujuannya mendukung kompromi elit dalam SU-MPR. Seorang William Cohen telah dikirim Clinton. Menteri Pertahanan Amerika ini mengemban dua misi. Baik-baikin publik Indonesia dan memberi Australia sebuah kemplangan. Belum kaki menginjak bandara, pernyataan keras sudah dia keluarkan. "Indonesia akan diisolasi secara diplomatik kalau militer kembali berkuasa." Gerakan anti-dwifungsi segera menyambut gayung? Nanti dulu. Udang di balik batunya politik luarnegeri Amerika sudah akrab bagi publik dunia ketiga seperti Indonesia. Sebelumnya Cohen menegur PM Australia John Howard karena mengaku telah meminta Amerika mengirim pasukan ke Timor Leste. Bukan sambut gempita dari gerakan demokrasi, teguran Cohen justru dianggap membuka belang Amerika. Sebab diketahui Paman Sam memang mempersilahkan Australia berlagak bak "polisi" Asia Tenggara. "Amerika juga yang membolehkan militer Indonesia menginvasi Timor Timur," terang Bambang Harimurti, pemred Tempo dalam dialog dengan SCTV. Kedatangan Cohen ke Indonesia sudah pasti soal Sidang Umum MPR 1999. Ia mengaku berkepentingan dengan bakal penguasa baru negeri 13.000 pulau ini. Hanya ancaman Cohen tidak lantas disimpulkan Washington emoh Wiranto dan mendukung Megawati. Sekalipun bila menilik setting PDI-P, calon RI-1 dan RI-2 mereka sama-sama dari sipil. Mega menurut kabar bakal disandingkan dengan Akbar Tanjung dari Partai Golkar. Beda dengan calon sipil lain semisal Habibie yang minta di-partner-kan dengan Wiranto. Sementara Gus Dur sebagai salah satu capres sudah dianggap kartu mati. Artinya, Amerika jangan harap bisa beroleh apa-apa dari tokoh ini. Sementara tanpa militerisme Indonesia, Amerika bakal merugi US$60 juta per tahunnya dari perdagangan senjata ke Indonesia. Sejak tahun 1975-1995 total perolehan berdagang senjata ke Indonesia senilai US$1.118,9 juta. Toh, angka itu mau tidak mau harus direlakan. Pasalnya, angin politik Indonesia kini kencang meniupkan anti-neokolonialisme barat. Incaran arah angin, ya Amerika. Diikuti Australia di urutan kedua. Tiup-tiupan anti nekolim berawal sejak Indonesia dibombardir kecaman akibat ulah TNI di Timor Leste. Banyak pihak seperti tersentak. "Kok bisa-bisanya barat atur-atur kita semau-mau mereka." Adi Sasono pun diutus Habibie untuk melawat beberapa negara Islam. Kyai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga sempat bertemu dengan tokoh-tokoh dunia Islam. Hasilnya seperti bisa dilihat. Ketika PBB melakukan voting untuk memutuskan resolusi perlu tidaknya international inquiry untuk Timor Leste, 12 negara menolak. Antara lain RRC, Rusia, Jepang, India, Cuba dan Filipina. Nyali Indonesia juga dianggap cukup tinggi dengan menolak resolusi penyelidik internasional untuk Timor Leste. Dan selama ini tidak terlihat implementasi isu anti-nekolim dari elit-elit politik Indonesia. Seperti Megawati mempunyai hubungan mesra dengan Hubert Neiss, program ekonomi PKB mendukung pasar bebas ala Amerika. Amien Rais akrab dengan Washington. Justru kekuatan kontra nekolim terdapat di gerakan muda Indonesia. Cuma lucunya, kelompok sosialis seperti Pijar atau PRD malah yang kerap dituduh "terlalu barat". Belakangan Front Pembela Islam-nya (FPI) A. Sumargono dan Egy Sudjana mendakwa Forkot dan Famred sebagai agen Kristen. Tuduhan itu dilemparkan saat demonstrasi anti RUU PKB dihujani peluru di Semanggi (23-24/9). Bohongnya tiupan anti-nekolim ternyata benar. Isu ini cuma dipakai untuk membangun opini di dalam negeri. Targetnya? Supaya masyarakat tidak terlalu menyoal benar siapa yang bakal memegang kekuasaan Indonesia. Elit politik kita rupanya beranggapan bahwa jalan paling mungkin memecahkan kebuntuan krisis politik dan ekonomi cuma lewat power sharing. Jika memang TNI yang menjadi biang kerugian Indonesia, ya tidak usah dibagi kekuasaan. dan lebih baik kembali saja ke barak." Akibat kemauan masyarakat yang tidak ketemu dengan konstelasi elit nasional itu yang memunculkan 'kekerabatan taktis' kelompok nasionalis (ultranasionalis) dengan Islam. Di sisi lain isu nasionalis sudah usang di telinga golongan muda, apalagi bawa-bawa idiom SARA. Makanya solidaritas dari kalangan terbelakang dianggap lebih laku jadi lem perekat. Pada kelompok pertama terdapat TNI dan PDI-P. Sementara representasi Islam yang menonjol adalah orang-orang pendukung Habibie, selain "Golkar Putih"-nya Akbar Tanjung. Pendukung Habibie ini gemar main gelar kebulatan tekad. FPI yang mengklaim beranggota 2 juta orang termasuk berdiri memagari Habibie. Namun Habib Rejiq Lc membantah anggotanya disiapkan untuk Habibie. "Siapapun jadi presiden tugas pertama mereka adalah menutup pabrik minuman keras," tutur Rijeq. Belakangan orang dikejutkan niatan Gus Dur mengerahkan Banser NU kalau SU MPR "diganggu" mahasiswa. Dari Syaifullah Yusuf, Ketua GP Anshor, diperoleh keterangan 300.000 Banser telah disiapkan. Akhirnya, yang dimaui memang kerelaan rakyat mendukung hasil kompromi elit selama SU MPR. "Suka tidak suka ini hasil kompromi kami." Begitu kira-kira. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Oct 1999 jam 07:11:03 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
