----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/2-8 Oktober 99
------------------------------

Ida Nasim, Sekjen KPP PRD:
"SPONTAN KARENA REPRESI"

(DIALOG): Bentrokan aktivis dan aparat ketika aksi kini makin marak terjadi.
Bahkan perlawanan para demonstran semakin berani menggunakan bom molotov dan
tongkat baja. Ini terjadi paling tidak dalam peristiwa Semanggi II yang baru
lalu. Salah satu kelompok yang dituduh Kapolda Noegroho Djajoesman sering
menggunakan kekerasan saat aksi adalah Partai Rakyat Demokratik (PRD).
Berikut adalah wawancara Xpos dengan Ida Nasim mengenai masalah tersebut:

T: Kapolda bilang PRD adalah salah satu penggerak demo, apa tanggapan Anda?
J: Sebenarnya ini harus dilihat secara jernih dari fakta-fakta mulai dari
kasus di Ambon, Aceh, Timor Leste dan sebagainya. Fakta itu kan menjatuhkan
nama TNI sendiri. Aksi-aksi sekarang menunjukkan sentimen kebencian terhadap
militer memuncak. Militer lalu mencari skenario bagaimana supaya mereka
mendapat legitimasi kembali di hadapan rakyat. Jadi tuduhan itu pada
dasarnya adalah pemutarbalikan fakta. Untuk menciptakan opini seolah-olah
yang menolak UU PKB ini hanya beberapa gelintir kelompok atau orang saja.
Padahal penolakan UU PKB ini sudah menjadi reaksi hampir semua orang
Indonesia. Itu yang pertama, yang kedua adalah ini pola lama khas
militeristik dalam rangka membabat gerakan rakyat.

Yang ketiga sesungguhnya ada suatu grand skenario bahwa dia TNI berambisi
terhadap kekuasaan. Ini terlihat sekali bagaimana mereka begitu antusias
menggolkan UU PKB ini ke DPR. Ini tidak terlepas dari skenario politik yang
mereka bikin untuk mengembalikan posisi mereka di panggung politik.

T: Kalau Kapolda bilang bahwa PRD provokatornya, kenyataan di lapangan kan
PRD memang terlibat dalam aksi-aksi tersebut?
J: Ya kami tidak memungkiri bahwa kami adalah salah satu kelompok yang
sering dan terus-menerus melawan penguasa, khususnya dalam UU PKB ini. Bahwa
kemudian Kapolda menyebut dalang, itu kan sebutan khas Orde Baru. Dalang
atau provokator ini kan bahasa stigma untuk menjelekkan lawan politik. Saya
pikir ini tuduhan mengada-ada untuk membelokkan fakta menjadi sekelompok
saja yang melawan.

T: Kalau Anda sendiri di lapangan, apa yang Anda lihat secara riil?
J: Saya melihat mengapa reaksi terhadap UU PKB ini bersifat massif itu
karena pertama, masyarakat memang sudah kritis terutama mahasiswa. Mereka
disadarkan oleh suatu fakta yang semakin akumulatif di mana militer makin
seenaknya merepresi, termasuk merepresi mahasiswa dan penyelesaiannya pun
tidak tuntas seperti kasus Trisakti dan Semanggi. Semua itu mendidik rakyat,
inilah kekejaman militer. Nggak perlu kami PRD kampanye untuk melawan,
kesadaran itu sudah ada di kalangan masyarakat terbukti dalam peristiwa
Semanggi kedua kemarin betapa dukungan rakyat terhadap mahasiswa begitu
besar. "Wa ini kalau kita biarkan pasti militer nanti bisa lebih kejam lagi
menindas," begitu pendapat umum masyarakat sekarang.

T: Padahal kalau kita lihat kan banyak friksi di kalangan gerakan?
J: Sebetulnya isu anti militer ini bisa menyatukan karena sama-sama melihat
kondisi objektif, melihat di mana militer tetap merupakan momok demokrasi.
Cuma dalam melakukannya di lapangan ada perbedaan taktik dan strategi. Ada
yang melihat bahwa gerakan massa sebagai satu-satunya jalan dan melihat ini
sebagai gerakan moral sehingga tidak menghendaki adanya kekerasan. Saya
pikir kenapa kekerasan muncul dalam sebuah aksi gerakan massa itu karena
reaksi spontan muncul setelah melihat tingginya represi dari militer itu
sendiri. Rejim militeristik sekarang ini bila melihat bahwa lawannya tak
bersenjata maka ia akan semakin gila menekan aksi-aksi tersebut. Ini watak
militer. Dia akan berhitung ketika lawan menggunakan taktik dan strategi
yang sangat kualitatif.

T: Dengan bom molotov dan senjata bambu begitu misalnya?
J: Ya, saya melihat penggunaan bom molotov dan bambu atau besi untuk melawan
tentara itu sah-sah saja sebagai reaksi. Kalau nggak, habis kita. Karena
mereka akan dengan cepat mengejar dan menghajar. Saya kira ini kemajuan
kualitatif gerakan.

T: Bagaimana dengan strategi menyatukan gerakan agar tak sporadis?
J: Pertama, kita harus menghadapi propaganda Orde Baru yang selalu
memecah-mecah gerakan supaya mereka bisa mengkontrol. Mereka meniupkan
propaganda bahwa gerakan mahasiswa itu gerakan yang moralis, eksklusif dan
tidak perlu bersatu dengan rakyat. Nah ini ditiupkan terus hingga bisa
menguasai benak sebagian dari aktivis gerakan mahasiswa. Rejim juga
meniupkan propaganda bahwa bila ada elemen masyarakat yang bergabung itu
berarti gerakan mahasiswa telah disusupi oleh preman misalnya. Hal yang
harus dilakukan, kita harus berbasis pada program. Semua elemen yang menyatu
dalam front bersama berpatok pada program sebagai tolok ukur kemajuan dan
kemunduran gerakan.

T: PRD sendiri dianggap sering mengklaim program-program aksi yang dilakukan
kelompok lain. Bagaimana tanggapan Anda?
J: Kami sendiri sering melakukan evaluasi mengapa anggapan ini muncul. Salah
satu jawabannya adalah bahwa setiap kerja aksi dalam front bersama itu tidak
secara eksplisit terbuka dengan programnya masing-masing, tidak ada program
bersama, yang ada aksi bersama tanpa kesepakatan yang tegas. Lalu muncul
anggapan-anggapan klaim ketika kami mengeluarkan pernyataan. Tapi yang jelas
kami turut terlibat mengorganisir sampai ke bawah. Dan sebetulnya itu yang
lebih kami prioritaskan daripada melayani intrik-intrik yang tidak produktif
bagi gerakan. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Oct 1999 jam 07:56:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke