----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

SELASA,
Ada yang aneh dengan perjalanan ini, sejak awal
keberangkatan mendung selalu menyertai kami,
mendung sepanjang ratusan miles, membuat awan
nampak seperti tinta abu abu gelap yang tumpah
di sepanjang langit 3 negara bagian, Missouri, Iowa
dan kini Illinois.

Pagi ini ketika kami bangun, hujan tetap betah
mengucur dari langit.Selesai mandi, tanpa sarapan
kami lansung menstater mobil dan meluncur menuju
kembali ke Chicago.

Freeway 55 north demikian padat, mobil ini bukan
cuma merangkak tapi melata, beringsut sedikit demi sedikit
seperti pengantin Jawa yang kelewat pasrah...menyebalkan.
Perbaikan dan kontruksi jalan membuat ribuan mobil antri
seperti cacing cacing politikus di gedung DPR yang sekarang
sedang sibuk bargain bargain kekuasaan sambil ngitung income
duit suap dari Habibie en de geng. Saya mulai merasa kesal
dan tidak sabar. Ketika ada exit saya bilang pada Vicky
" Ayo kita cari jalan alternative " sang bini dengan sigap langsung
membelokan stir keluar dari freeway.

Damn shit !  SOB ! What the f*ck !! Jalan alternative yang awalnya
lancar 5 menit kemudian malah bermuara pada kemacetan yang
lebih memusingkan. Sekejab saya mulai membenci Chicago,

Satu jam kemudian, ( 20 miles dalam satu jam ? ) kami sampai
di downtown kembali.Menyaksikan perubahan suasana bagus
di Michigan Avenue yang penuh dengan gedung-gedung tua
berarsitek cute dan punya nilai seni, mulai membuat saya adem
kembali.Gedung musium of art yang megah nampak terbujur tidak
jauh dari lake Michigan yang berwarna hijau jernih. Buckingham
Fountain di Grant Park juga nampak menyegarkan pemandangan
dengan pancuran airnya yang deras menguap ke udara meninggal
kan buih lembab. Dan jembatan yang membelah N. Branch Chanel
seakan saling bersaing memamerkan seni dengan gedung Equitable
dan Tribune Tower yang sarat oleh dekor .

WHO CARE ABOUT ART..
Seni itu adalah apresiasi, dan untuk menemukan sense apresiasi
orang butuh jiwa yang tenang dan kantong yang tidak cekak.
Itulah sebabnya kebanyakan pecinta seni adalah orang orang
berduit, karena cuma orang yang berduit banyak yang mampu
menemukan ketenangan sehingga bisa mengkoleksi barang seni
yang mahal tanpa perduli berapapun harganya.

Sedangkan seniman sebaliknya harus menjadi miskin untuk
mempunyai jiwa seni seperti Van Gogh,Mozart,Beethoven,Tolstoy
Atau pura pura sableng seperti Afandi dan Emha dan semua
seniman Cikini.

Karena saya bukanlah masuk katagori seniman dan tidak cukup
punya tabungan untuk sok berapresiasi seni macam Sudwikatmono
yang koleksi lukisannya begitu norak dan kampungan, pada
saat memarkir mobil dan membaca tarifnya yang aujubilah
( 7 dollar per jam ) saya lalu memutuskan to hell with art..I dont
give a damn..

Tapi setelah berputaran kemana mana, semua tarif parkir hampir sama.
Saya menyerah...

Mobil kami parkir 4 blok dari W. Carrol Avenue. Kami berjalan
santai menuju  Michigan Avenue menuju Wrigley Building,
masuk di gedung tua bermarmer dingin dan kuno ini membuat
suasana seperti kembali ke Eropa di abad pertengahan.
Naik ke lantai 13 kami sampai ke British Konsulat, setelah
mengambil kartu antrian, kami duduk di ruang tunggu konsuler
untuk mengambil visa Inggris. Seorang bule botak tampak
sedang ngambek lantaran visa imigrannya tidak bisa keluar
hari ini " Saya minta surat kawin yang asli, bukan ketikan
macam gini " begitu kata si penjaga loket, dan argumen
bloon begituan terus berlangsung selama lebih dari sejam.
Bule Inggris penjaga loket mundar mandir sibuk dengan
kertas kertas si botak satu ini, Hampir 2 jam menunggu
urusan lenong rumpi ini, saya mulai mangkel lagi..
" Buset..cepetan dikit nape? mesti bayar parkiran
berape gue entar bleh ? "

Urusan visa selesai sudah, dengan membayar $ 56,
saya mendapatkan visa single entry yang berlaku
selama 6 bulan. ( Damn..kalau gue jadi American
Citizen...gua ngga perlu visa dan bayar apa-apa)
begitu gerutu hati saya.

Tapi paspor dengan Visa tidak bisa di ambil saat
itu juga, kami harus kembali jam 3 sore nanti..
Dan kami kembali ke mobil untuk muter muter
kembali setelah membayar $12 parking fee..!

TEMPAT BAGUS, NERAKA PARKIR
Navy Pier adalah dermaga artifisial yang telah dirubah
menjadi sebuah tempat wisata yang baik dan unik.
Di sana bukan saja bisa kita dapati restaurant, toko,
kapal pesiar, tall ship dan sebuah confrence room
yang luas, tapi selalu saja tertambat kapal milik coast
guard yang bisa kita masuki lalu lalang sambil menanyakan
fungsinya pada para kadet persis seperti di musium.
Navy Pier nampak gemilang di mendung siang.
Bayangan yang jatuh di permukaan Lake Michigan
yang dihuni bebek-bebek liar sungguh menyenangkan
untuk dipandang. Kami bahkan naik biang lala raksasa
dengan membayar 3 dollar sekali putaran untuk melihat
bayangan Navy Pier dan downtown di permukaan danau
Michigan yang nampak seperti lautan. Ombak putih meng
hempas di sepanjang Lake Shore Drive membawa suasana
romantisme yang menyejukan.Tidak heran saya menggengam
tangan Vicky lebih erat tanda sayang, sedangkan dia gemetaran
karena takut pada ketinggian.

Tapi sekali lagi, inilah celakanya menjadi orang Minang.
Setelah puas menelan segala emosi mendayu dayu seperti
itu, masalah hitungan akan kembali menguasai diri.

What ? 15 dollar? Motherfu*ker! Son of Habibie ! Amien
A*s Hole ! begitu teriak saya ketika membayar parkir
kembali. Gila apa? masa setelah di validasi dengan
makan di Restaurant saya harus tetap bayar hampir
140.000 untuk parkir? Jelas dong..ogut ngamuk seperti
milisi di Tim-Tim ketika kalah suara di referendum.
Romantisme langsung cao..saya merasa empet banget..

Jam 2:30 sore kami berjibaku mencari tempat parkir
meteran di jalanan. Seperti keajaiban kami menemukan
sekitar5 blok dari Gedung British konsulat. Tapi meteran
juga bukannya murah. Kita harus membayar seperempat
dollar untuk 10 menit parkir.

Jam 3:00 saya menunggu di ruang tamu Konsulat bersama
dengan 9 orang lainnya seperti sapi bego atau Harmoko
sampai loket dibuka.

Menunggu ..menunggu...dan menunggu...
Ya ampun nggak dibuka juga ? Saya mulai sangsi
yang kerja di sini orang Inggris atau petani bawang
dari Tegal sih? lah...ini udah jam 3;25 itu pintu masih
rapet aje..?

Jam 3:00 pintu dibuka, loket dibuka..dan Petani Bawang
itu akhirnya memberikan paspor satu demi persatu..
Tapi saya sudah keburu empet bukan saja lantaran
nunggu...

Soalnya saya juga mikirian " Bujubuneng..gue ngabisin
$ 30 cuma buat parkir di down town sini.."

Otak Pariaman ini sakit sekali memikirkan
hampir Rp 250.000 melayang, menguap seperti dosa
Tantri Abeng yang merampok Bank Bali, tidak berbekas
tertutup urat malu yang sudah membusuk di Kabinet
busuk di sebuah negeri penuh udara kentut...

( kentut masih bersambung )

Hasan Basri

October 4, 99

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Oct 1999 jam 01:58:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke