---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk MEGAWATI PRESIDEN, LETJEN YUDHOYONO PIMPIN TNI JAKARTA, (TNI Watch!, 5/10/99). Meski dibayangi berbagai ganjalan, tampaknya Megawati akan melenggang ke Istana, sebagai Presiden RI keempat. Optimisme ini berdasar alasan, ternyata Gus Dur tidak berminat menjadi Presiden. Kesediaan Gus Dur untuk dicalonkan "Poros Tengah", bukanlah sikap sejati dari Gus Dur. Itu merupakan trik Gus Dur, untuk membungkam Amin Rais, yang cenderung "bawel". Pada saatnya nanti, Gus Dur akan kembali pada sikapnya yang lama, yakni mendukung Mbak Mega sebagai Presiden. Jika perdebatan tentang siapa presiden nanti telah selesai, kini beranjak pada pertanyaan berikutnya: siapa yang bakal memimpin TNI? Sebuah pertanyaan yang cukup pelik bagi Mbak Mega. Karena TNI dengan "Orde Baru" adalah identik, dengan kata lain: Orde Baru adalah TNI, TNI adalah Orde Baru. Jadi jenderal-jenderal yang ada sekarang ini, semuanya produk Soeharto. Mereka bisa jadi jenderal, karena diangkat oleh Soeharto. Mbak Mega sebagai pimpinan, diharapkan akan membawa Indonesia ke zaman baru, sebuah era yang bebas dari unsur Soeharto. Memang sulit menentukan jenderal mana yang benar-benar bersih dari pengaruh Suharto. Jadi yang paling-paling bisa dilakukan Mbak Mega adalah, memilih jenderal yang kira-kira tidak terlalu Soehartois. Dalam bahasa sederhana, Mbak Mega harus memilih "yang terbaik di antara yang terburuk." Sebuah logika yang biasa dalam dunia politik praktis. Jenderal-jenderal yang ada sekarang ini secara apriori buruk, karena mereka semua Soehartois. Dari sekian jenderal-jenderal Soehartois itu, siapa kira-kira "yang terbaik di antara yang terburuk", dengan kata lain: siapa yang unsur Soehartoisnya paling kecil? Mungkin jawabnya adalah Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono (kini Kaster Mabes TNI). Sedang jenderal-jenderal lain, umumnya memiliki "cacat " Soehartois. Seperti Letjen TNI Soegiono (Kasum Mabes TNI), yang pernah bertahun-tahun menjadi ajudan Soeharto. Beberapa fakta yang mendukung asumsi Letjen Yudhoyono, sebagai jenderal yang paling kecil unsur Soehartoisnya: 1. Tidak pernah menjadi pengawal Soeharto, baik sebagai ajudan maupun di berdinas Paspampres. 2. Bebas dari bayang-bayang Letjen TNI Purn Prabowo Subianto. Keduanya bahkan cenderung bersaing (prestasi) sejak taruna di Akmil Magelang. 3. Menantu dari alm Letjen TNI Purn Sarwo Edi Prabowo, yang merupakan musuh Soeharto. 4. Dibanding jenderal yang lain, Yudhoyono terkesan lebih intelek dan tidak berkesan bengis. MENANTU JENDRAL SARWO EDY Dengan alasan-alasan di atas, tampaknya Letjen Yudhoyono yang paling acceptable di banding jenderal yang lain. Meski sempat diisukan, ayahnya adalah seorang tokoh PKI, namun itu tidaklah mengurangi penerimaan banyak pihak terhadap figur Yudhoyono. Faktor bahwa ia menantu Jenderal Sarwo Edi, merupakan sesuatu yang signifikan. Meski tangan Sarwo Edi berlumuran darah, karena peranannya saat pembunuhan massal di Jateng dan Jatim seputar tahun 1965-1966. Namun pada akhirnya, Sarwo Edi secara perlahan disingkirkan Soeharto dari percaturan politik. Sebagai perwira yang setia pada Soeharto, dengan kesediaannya "pasang badan" untuk kejayaan Soeharto, apa yang diperoleh Sarwo Edi sama sekali tidak sepadan. Bagaimana mungkin, seorang Sarwo Edi yang melibas sekian ratus ribu orang tak berdosa, demi mengamankan Soeharto, ia hanya diberi jabatan setingkat "Kepala Sekolah", yaitu sebagai Gubernur Akmil di Magelang. Ini merupakan awal timbulnya rasa dendam Sarwo terhadap Soeharto, yang terus dibawanya hingga ia meninggal pada tanggal 9 November 1989. Namun dengan menjadi Gubernur Akmil, ada juga hikmahnya. Ketika menjadi Gubernur Akmil itulah, salah seorang puterinya bisa memadu kasih dengan taruna yang sangat brilian, yaitu Sersan Mayor Taruna Susilo Bambang Yudhoyono. Yang ketika lulus dari Akmil (1973), menempati ranking pertama di angkatannya. ANAK JENDRAL GATOT SUBROTO Sedang Letjen Soegiono, meski ayahnya juga seorang jenderal, yaitu Jenderal Gatot Soebroto. Tapi figur Gatot Soebroto kurang dikenal, terutama bagi generasi sekarang, dibanding figur Sarwo Edi, yang namanya sudah tertanam pada memori banyak orang. Menurut beberapa perwira sepuh, yang pernah mengenal Gatot Soebroto, meski seorang jenderal, Gatot tidak bisa menanggalkan sikap urakannya, bahkan cenderung kampungan. Itu mungkin sebagai kompensasi ketidakfasihannya dalam berbahasa Belanda, bahasa pengantar tidak resmi di kalangan perwira kala itu. ANAK JENDRAL RYACUDU Melihat asal-asul keluarga, mungkin dalam hal ini yang kira-kira nasibnya bisa sebaik Yudhoyono, adalah Mayjen TNI Ryamizard Ryacudu (Pangdam V/Brawijaya). Meski ia adalah menantu Jend Purn Try Sutrisno yang Soehartois, namun ayah Ryamizard, yakni Jenderal Ryacudu, adalah seorang jenderal yang dikenal setia kepada Presiden Soekarno. Karena dianggap sebagai perwira Soekarnois, hingga namanya sempat masuk dalam daftar Dewan Revolusi di tahun 1965, yang saat itu masih menjabat Pangdam Tanjungpura (Kalbar). "Cacat" Ryamizard karena menantu Try Sutrisno, bisa dinetralisir oleh posisi ayahnya. _______________ TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Oct 1999 jam 11:59:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
