----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN DI BUMI LORO SA'E (9)

Dear Joko dan Riri,

Ini juga surat yang paling membosankan. Moga-moga kalian mau dengan cermat
membacanya. Bagaimana kabar kalian? Aku masih harus menulis laporan
penelitian yang aku kerjakan bersama kawan-kawan beberapa waktu lalu. Sulit
juga memulainya karena sepulang dari Bumi Lorosae aku masih pengen
males-malesan. Rasanya masih ingin tidur seharian. Jangan-jangan aku mulai
sinting, ya?=20

Dokumen dari Panglima Pasukan Pejuang Integrasi [PPI] adalah dokumen
kesekian yang pernah aku baca selama aku berada di sana. Instruksi Panglima
Pasukan Pejuang Integrasi, Jo=E3o da Silva Tavares ini bernomor:
010/INS/PPI/VII/1999. Judul dokumen ini sangat luar biasa: "Kesiapan dan
Kesiagaan Pasukan Pejuang Integrasi [Milisi] Dalam Menyikapi Perkembangan
Situasi dan Kondisi di Timor Timur". Sebagai panglima pasukan pejuang
integrasi, Jo=E3o Tavares menimbang: "bahwa dalam rangka menyikapi
perkembangan situasi dan kondisi akhir-akhir  ini, sejak kehadiran Tim PBB
dengan misi UNAMET di Timor Timur sampai dengan saat ini disinyalir selalu
berpihak kepada kelompok Pro kemerdekaan/tidak netral." Dan mengingat: [1]
UU No. 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur ke Dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia; [2] Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun
1976 tentang Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dan
Kabupaten-kabupaten  Daerah Tingkat II Timor Timur; [3] Kesepakatan
Triparti tanggal 5 Mei 1999 di New York tentang Paket Otonomi Khusus yang
diperluas sebagai Penyelesaian akhir masalah Timor Timur. Poin satu dan
kedua, aku nggak usah cerita lah. Keduanya adalah pengakuan bahwa Timor
Lorosae menjadi bagian dari Indonesia. Dengan dua undang-undang itu Timor
Lorosae dianggap sah sebagai bagian dari wilayah Indonesia. Sedangkan pada
poin ketiga, mungkin perlu aku jelaskan tersendiri karena aku khawatir
kalian akan bosan membaca suratku kali ini.

Menurut dokumen, "Tim Intelijen Pasukan Pejuang Pro integrasi" telah
mengadakan pemantauan di seluruh wilayah Timor Timur tentang
"manuver-manuver dan tipu-muslihat yang dilakukan oleh Tim UNAMET serta
meningkatnya akivitas-aktivitas kelompok aktivis Pro kemerdekaan" yang
hasilnya diungkapkan dalam dokumen mereka Nomor: R-03/Intel-VII/1999.
Berdasar pemantauan itu, Jo=E3o Tavares kemudian menginstruksikan kepada=
 para
komandan komando milisi di 13 kabupaten, yakni: Aitarak di Dili; Besi Merah
Putih di Liquica;  Naga Merah dan Darah Merah di Ermera, Dadurus Merah
Putih/Halilintar di Maliana; Laksaur Merah Putih di Kovalima; Mahidin di
Ainaro; Ablai di Same; AHI di Aileu; Mahadomi di Manatuto; Saka di Baucau;
Sera di Viqueque; Alfa di Lauten; dan Darah Merah di Ambeno. Ketiga belas
milisi ini merupakan milisi andalan dari kelompok pro integrasi, yang
dikenal sangat sadis. Jika kalian pengen tahu sepak-terjang para milisi
itu, mungkin perlu surat khusus untuk menceritakannya. Tapi aku percaya,
secara umum kalian sudah tahu apa yang telah mereka lakukan.=20

Dokumen yang dikeluarkan di Balibo pada 17 Juli 1999 itu tampaknya
menindaklanjuti dari instruksi yang dikeluarkan oleh H.R. Ganardi, yang
sudah aku ceritakan dalam surat beberapa waktu lalu. Surat instruksi ini
serius sekali karena ditembuskan kepada Panglima ABRI di Jakarta; Pangdam
IX Udayana di Denpasar, Bali; Danrem 164 Wira Dharma di Dili; Kapolda Timor
Timur di Dili; Komando Distrik Militer se-Propinsi Timor Timur; Komando
Resort Kepolisian se-Propinsi Timor Timur, yang kesemuanya untuk
diperhatikan. Jo=E3o Tavares menginstruksikan untuk segera merapatkan=
 barisan
serta pro-aktif dalam rangka mengeliminir pengaruh/ruang gerak
lawan/anti-integrasi dengan mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
pertama, "tetap mengadakan teror dan intimidasi terhadap pihak-pihak yang
disinyalir mempengaruhi rakyat untuk tidak menerima Otonomi Khusus sebagai
penyelesaian akhir masalah Timor Timur".

Ah, membaca sekilas saja kita akan tahu bahwa pemerintah Indonesia
ketakutan dan pasti akan dipermalukan jika otonomi ditolak oleh rakyat.
Milisi, tentara Indonesia maupun pejuang pro integrasi itu 'kan nggak
pernah (mau) tahu apa isi hati rakyat di sana. Dan mereka beranggapan kalau
diteror dan diintimidasi mereka kemudian akan memilih opsi I. Aku pernah
cerita pada kalian, ketika aku menemui seorang perempuan muda di salah satu
polling station di Dili. Ia mengatakan, "Kami tahu mana yang baik dan mana
yang buruk". Ini artinya apa? Ya, mereka tak lagi takut untuk memilih opsi
II meski telah diteror dan diintimidasi habis-habisan. Aku yakin, rakyat di
Bumi Matahari Terbit itu percaya, bahwa kemerdekaan itu bukan hadiah dari
bangsa lain tapi sebuah perjuangan yang panjang.=20

Langah kedua yang diinstruksikan Tavares adalah "menekan dan mengancam
rakyat untuk tidak ikut berpartisipasi dalam kampanye yang dilakukan oleh
Juru Kampanye Pro kemerdekaan yang disponsori pihak UNAMET."  Ajaib juga
langkah yang diambil oleh gerombolan "pejuang" integrasi ini. Rakyat
sebagaimana aku tahu tak akan pernah takut. Dan untuk apa sebenarnya
pendukung kemerdekaan harus melakukan kampanye besar-besaran seperti yang
dilakukan oleh pro integrasi? Bukankah mereka telah berjuang selama lebih
dari 23 tahun? Pendukung integrasi 'kan nggak tahu bahwa kelompok pro
kemerdekaan bisa melakukan sesuatu dalam diam. Mungkin kalian pernah
mendengar, bahwa istilah yang digunakan adalah silaturahmi. Tanpa harus aku
jelaskan kalian pasti tahu apa maksudnya. Ya, selama lebih dari 23 tahun
itulah kelompok pro kemerdekaan telah aktif berkampanye, untuk mengusir
penjajah Indonesia meninggalkan Bumi Loorsae.

Antisipasi yang ketiga: "menyikapi hasil kesepakatan damai yang
dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 18 Juni 1999 antara pihak Pro-Otonomi
dan Pro kemerdekaan, maka diharapkan agar segera disiapkan senjata-senjata
tradisional, rakitan dan  senjata-senjata bekas peninggalan Portugis untuk
diserahkan kepada pihak POLRI dihadapan UNAMET." Nah, belum apa-apa pihak
pro integrasi atau kemudian didengung-dengungkan menjadi pihak pro otonomi
ketahuan belangnya.  Model tipuan seperti ini kemudian jadi populer di
sana. Ketika  itu kita tertawa geli mendengar istilah "kantongisasi". Ya,
itu tadi senjata-senjata pura-puranya dikumpulkan dan kemudian diserahkan
kepada pihak polisi, di depan PBB.  Ini acting doang. Langkah ini kemudian
diikuti oleh sejumlah kelompok milisi. Yang paling menggelikan, ketika
Aitarak menyerahkan senjata milik milisi itu. Komandan Aitarak Eurico
Guterres dengan gagah mengatakan bahwa senjata-senjata milik Aitarak sudah
digudangkan dan dijaga oleh polisi. Nah, kamu tahu di mana ajaibnya, 'kan?

Instruksi keempat, para milisi diperintahkan untuk tetap siap siaga, bahwa
sebelum hasil jajak pendapat diumumkan di Markas Besar PBB, maka akan
dibagikan senjata-senjata modern yang telah disiapkan oleh ABRI sebanyak
15.000 (lima belas ribu) pucuk, serta akan didukung oleh Pasukan Elit TNI
dan dilengkapi dengan senjata berat/tank serta pesawat-pesawat tempur
modern sebanyak 50 buah yang berpangkalan di Kupang/NTT dan Ujungpandang,
Sulawesi Selatan. Joko, kamu bisa menyimak betapa tidak konsistensinya
petinggi di lingkungan TNI. Petinggi yang satu sibuk membantah bahwa
tentara Indonesia terlibat dalam kegiatan milisi, sedangkan pejabat lain
mengatakan, tidak mungkin TNI berada di belakang milisi. Nah, boss PPI itu
pasti tak mungkin menulis surat instruksi yang mengatakan ABRI akan
menyiapkan senjata sebanyak itu, apabila memang tentara tak pernah
menjanjikannya. Soal pesawat aku nggak ngerti tapi yang jelas di bandara di
Kupang telah menunggu pesawat Skyhawk dan Bronco. Dua jenis pesawat ini
adalah pesawat pembunuh yang efektif ketika Indonesia menginvasi Timor
Lorosae.

Sedangkan instruksi yang kelima tertulis: "pada saat pengumuman hasil jajak
pendapat, ternyata pihak pro-otonomi dinyatakan kalah, maka secara serentak
dengan kekuatan penuh melancarkan Operasi Pembersihan terhadap
pendukung-pendukung Pro kemerdekaan mulai dari yang berusia 15 tahun ke
atas, baik laki-laki maupun perempuan tanpa terkecuali." Sedangkan
instruksi yang terakhir, "instruksi ini mulai berlaku sejak tanggal
dikeluarkan dan untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggungjawab.
Instruksi ini pasti diartikan sebagai, "pokoknya, mati hidup tetap=
 integrasi.=20

Joko dan Riri, aku cuma mau berkomentar, nyatanya pro otonomi kalah dan
kemudian wilayah di Bumi Lorosae dibumihanguskan. Tak bisa dihitung lagi
berapa jumlah rakyat sipil yang mati akibat pembunuhan yang mereka lakukan.
Faktanya di lapangan, tak ada lagi laki-laki dan perempuan yang berusia di
atas 15 tahun yang menjadi pengungsi di kawasan Timor Barat dan NTT. Sebab,
milisi dan tentara terus mengejar mereka ketika gelombang paksa pengungsian
terjadi secara besar-besaran. Kalaupun masih ada pasti mereka lari dan
menyembunyikan diri di hutan-hutan. Ada sejumlah saksi bagaimana milisi di
mana-mana memeriksa rombongan yang akan mengungsi itu, sejak mereka berada
di halaman Mapolda. Seleksi itu semakin ketat selama perjalanan menuju ke
Atambua. Bukan hanya yang lewat darat. Sejumlah pemuda dan kaum perempuan
yang dicurigai sebagai pendukung kemerdekaan juga diincar sejak berada di
Pelabuhan Dili. Milisi dan sejumlah tentara pun aktif mencari mereka di
setiap sudah kapal yang akan meninggalkan Dili. Begitu juga para pengungsi
yang akan menuju tempat yang dianggap aman dengan pesawat terbang.=20

Tapi sebagaimana adat dan kebiasaan para petinggi, surat ini dibantah
habis-habisan oleh sang panglima. Padahal surat itu tak hanya beredar di
Timor Lorosae. Bantahan Joao Tavares itu bukannya dipercaya tapi malah
berkembang jadi cerita yang meluas, entah sungguhan atau cuma sekadar
gosip. Kabarnya, Joao Tavares yang mendapat julukan Panglima Pasukan
Pejuang Integrasi   itu dipanggil Panglima ABRI ke Jakarta. Dalam
pembicaraan yang serius itu, Wiranto menanyakan kenapa surat rahasia itu
bisa beredar di masyarakat.  Surat dua halaman itu tidak saja beredar di
Dili tapi juga dibaca oleh kalangan luas di daerah perbatasan antara Timur
Timur dan Timur Barat, bahkan sampai juga di Jakarta dan kota-kota lain di
Indonesia. Mendengar jawaban Joao Tavares itu, Wiranto marah besar.
Menurut Wiranto, isi surat itu akan merusak citra TNI dan Pemerintah
Indonesia di mata dunia internasional.=20

Ini masih menurut kabar yang beredar, jawaban Joao yang  tak memuaskan
membuat Wiranto langsung menampar pipi Joao Tavares. Tentu saja Joao tak
bisa membalas. Ia hanya diam dan segera pamit. Menurut cerita salah seorang
temanku di sana, Joao Tavares langsung kembali ke Dili. Untuk membantah
keterlibatannya, Joao segera menghubungi jurnalis untuk sebuah konferensi
pers di Kantor FPDK (Forum Persatuan Demokrasi dan Keadilan). Eh, kalian
tahu enggak, di Bumi Lorosae FPDK diplesetkan menjadi "Forum Pencari Duit
dan Kekuasaan". Saat konferensi pers itu, Joao didampingi oleh Basilio Dias
Araujo, juru bicara FPDK. Dalam kesempatan itu, Joao menjelaskan
ketidaktahuannya atas surat yang beredar itu. "Yang jelas, itu bukan
tandatangan saya. Dan stempel yang dibubuhkan dalam surat tersebut jelas
palsu," katanya. Tentu saja keterangan Joao dibantah oleh mereka yang
sempat membaca surat itu. "Ah, surat itu benar dia yang mendatangani."
Surat itu jelas dikeluarkan dari markas besar golongan pendukung integrasi.
"Dia itu pembohong besar," jelas seorang ibu yang menimpali ketika aku dan
Manuel tengah membahas bantahan Joao, saat kami makan siang di sebuah
restoran di Colmera.

Rupanya surat itu juga dibantah keras oleh para pejabat di Timor Lorosae.
Antara lain oleh Wakapolda Kolonel Pol. Drs. Muafi Sahudji, SH. "Masyarakat
jangan percaya selebaran gelap," katanya, seperti yang aku baca di Harian
Suara Timor Timur (STT).

"Jangan percaya pada selebaran-selebaran dan isu-isu, bahwa akan terjadi
perang di Timtim. Semua orang tidak ingin perang. Siapa sih yang mau perang
di sini? Semua orang ingin aman. Saya kira kita sepakat bahwa kita mau aman,
termasuk saya juga mau aman. Kalau masyarakat aman, saya sendiri juga aman,"
katanya pada jurnalis STT di ruang kerjanya, Jum'at (6/8). Joko dan Riri,
sekarang aku ingin tahu apa komentar Drs. Muafi Sahudji, yang sarjana hukum
itu. Memang, di Timor
Lorosae tak terjadi perang karena yang terjadi adalah milisi yang dibantu
tentara menyerang, menembak, membunuh rakyat sipil di sana.  Dia pun tahu
bahwa rakyat sipil tak bisa melawan karena mereka tak bersenjata. Dan aku
yakin, Wakil Kapolda itu pasti juga sudah ngabur dari Bumi Lorosae.=20

Meskipun surat yang dikeluarkan oleh PPI itu telah dibantah  oleh Joao
Tavares, tapi beredarnya dokumen itu telah mencemaskan rakyat banyak.
Ribuan orang warga luar Timor Timur berangsur-angsur meninggalkan wilayah
yang diakui sebagai Propinsi ke-27 oleh Indonesia itu. Mereka sangat
khawatir jika berita dalam surat itu menjadi kenyataan. Bahkan, rakyat NTT
di perbatasan Timor Timur tengah bersiap-siap untuk mengungsi ke Atambua.
Siapa yang tak cemas jika dalam surat instruksi yang ketika itu dianggap
palsu menyebutkan, sebelum hasil referendum diumumkan akan dibagikan 15.000
pucuk senjata, didukung oleh pasukan elit TNI dan peralatan perang seperti
tank dan pesawat tempur yang telah berpangkal di Kupang dan Ujungpandang.
Untuk mempertegas bantahan Joao, ia minta bantuan UNAMET untuk mencari
orang-orang yang membuat surat tersebut dan menuntut pertanggungjawaban
atas perbuatannya. Dan untuk membuktikan bahwa dokumen itu palsu, Joao da
Silva Tavares memperlihatkan stempel dan kop surat serta tandatangannya
kepada jurnalis. "Bandingkan dengan yang tertera dalam dokumen itu,"
katanya. Duh, manusia atau bukan sih Joao da Silva Tavares itu? Kalau
maling mau mengakui segala perbuatannya, tentu saja penjara akan penuh
sesak, 'kan? Dan kalau sekarang dia membaca surat yang dibikin kemudian
dibantahnya sendiri itu apakah dia masih punya rasa malu?=20

Dokumen lain yang pernah aku baca adalah sebuah rapat di Korem Wiradharma.
Pada  24 Juli 1999 lalu ada rapat rahasia di aula Makorem di Dili. Dalam
rapat yang diselenggarakan dari 16.00-22.00 itu dihadiri oleh Danrem,
Kapolda, Sekwilda Tk. I yang mewakili Gubernur, Ketua DPRD Tk I dan
tokoh-tokoh pro integrasi. Rapat yang diselenggarakan pada hari Sabtu itu
menyepakati 6 (enam) poin penting yakni: pertama, pada waktu  kampanye
jajak pendapat pasukan milisi akan digerakkan,  tapi belum ada kepastian
waktu; kedua, pada saat kampanye  pihak Korem dan Polda akan mengirimkan 5
orang intel yang akan bekerjasama dengan milisi Aitarak. Mereka akan
menyamar seperti orang kampung miskin yang akan memonitor dan mengerahkan
pasukan pengacau kampanye dan membuat kerusuhan. Poin ketiga, aparat yang
mendapat tugas sebagai pengacau itu akan dilengkapi dengan peralatan
lengkap. Keluarga mereka juga dijamin oleh pemerintah Indonesia. =20

Butir keempat adalah kubu pro integrasi secara umum sudah tahu bahwa mereka
tak akan mendapat suara, karena itu melalui  berbagai cara harus
dimanfaatkan untuk menghabisi kelompok pro kemerdekaan yang ada di
kota-kota dalam wilayah Timor Lorosae. Maksudnya, pada saat referendum
nanti kelompok pro kemerdekaan sudah tak  ada artinya. Taktik seperti ini
selalu dipakai Indonesia selama berada di sana; kelima, seandainya kubu pro
integrasi kalah, secara otomatis milisi Aitarak dan lain-lainnya akan ke
gunung untuk melakukan gerakan terrorista, seperti di Angola. Untuk
membantu mereka, peralatan dan logistik akan didukung dan diatur oleh
Indonesia; poin terakhir, rapat juga menyimpulkan, Indonesia tidak akan
meninggalkan Timor Timur dan tidak peduli dengan kehadiran PBB meskipun
diancam dengan segala cara. Dikeluarkan dari anggota PBB pun Indonesia
tidak peduli.

Joko dan Riri, aku mendapatkan notulensi rapat itu dari seorang kawan
Indonesia, yang pamannya adalah pegawai di sebuah departemen di sana. Nah,
menurut sumber itu, pada saat jauh sebelum hasil referendum diumumkan para
milisi mulai mempersiapkan diri dengan mengungsikan keluarganya ke wilayah
NTT serta persiapan untuk bergerilya di hutan bila dalam referendum nanti
masyarakat menolak otonomi. "Di Maliana, Bupati Bobonaro Guilherme da
Santos terang-terangan mengancam staf UNAMET dan menyuruh milisi untuk
membakar dua tempat pendaftaran jajak pendapat."  Di Dili, kelompok Aitarak
semakin berani mengancam masyarakat di depan UNAMET, bahkan tidak segan
para milisi itu melepaskan tembakan peringatan untuk menakut-nakuti petugas
UNAMET. Sebagian anggota mereka mendapat stok senjata untuk bergerilya di
hutan untuk menggantikan Falintil, bila kelak masyarakat tolak otonomi. Aku
sendiri nggak percaya bahwa milisi itu akan tahan bergerilya di hutan-hutan
untuk menggantikan Falintil.=20

Jadi, sekarang ini kalau mendengar bantahan para petinggi di republik ini
aku suka tertawa geli. Di Dili juga santer beredar informasi bahwa pada
tanggal 1 Agustus 1999 lalu, para petinggi di  Indonesia seperti Zacky
Anwar Makarim,  Mayor Jenderal (Purnawirawan) Sintong Panjaitan dan Mayor
Jenderal Kiki Syahnakri yang telah berada di Timor Timur. Yang aku tahu
persis, Zacky Makarim tiba di Dili pada 26 Juni, tapi mungkin dia tak
menetap di Dili. Lebih dari satu bulan itu ternyata mereka mempunyai tugas
khusus. Mereka diharuskan membantu para milisi pro integrasi di Timor
Lorosae. Mereka lah yang merencanakan dan mengatur strategi perang di bekas
koloni Portugis itu. Menurut keterangan, Panglima TNI Jendral Wiranto telah
menyiapkan dana sebesar Rp 28 milyar untuk membantu mengevakuasi keluarga
para milisi ke propinsi lain di Indonesia serta untuk mendanai
tempat-tempat pengungsian yang telah disiapkan. Bahkan, semua peralatan
militer telah disiapkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menghadapi
segala bentuk ancaman perang atau perang terbuka yang bisa saja terjadi.
Informasi itu telah disampaikan oleh salah satu Komandan Pasukan pro
integrasi pada acara pengukuhan sub-ranting pasukan pro integrasi di
wilayah Kabupaten Dili. Langkah konkrit dari persiapan itu adalah, saat itu
masing-masing anggota pasukan milisi pro integrasi telah mendapat satu
pistol. Senjata itu akan digunakan saat kampanye yang akan diselenggarakan
pada 11-27 Agustus mendatang.=20


Joko dan Riri tindakan brutal pro integrasi selama masa kampanye pernah aku
ceritakan dalam suratku yang lalu, 'kan? Dengan begitu kalian bisa menilai
bagaimana kelakuan para milisi dan tentara Indonesia.  Tadi malam, apakah
kalian sempat menyaksikan dialog antara Wimar Witoelar dengan Hasnan Habib?
Sampai di surat mendatang. Salamku untuk ayah dan ibu kamu, Ri.=20

Bogor, 5 Oktober 1999

Pratiwi

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Oct 1999 jam 05:56:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke