----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Laporan Yayasan HAK
s/d 23 September 1999

Pengantar

Sejak didirikan tahun 1996, Yayasan HAK senantiasa melakukan pemantauan
terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Timor Lorosae dan berupaya
melakukan pembelaan bagi para korban. Selama jajak pendapat berlangsung,
Yayasan HAK membentuk sebuah komite, dan menemukan banyak bukti tentang
pelanggaran yang dilakukan baik oleh milisi pro-integrasi maupun pemerintah
Indonesia, khususnya TNI dan Polri. Sejumlah temuan sempat diumumkan dalam
empat laporan yang dibuat komite tersebut, namun laporan akhir yang
sedianya mencantumkan semua pelanggaran akhirnya tidak berhasil disusun
karena serangan, penjarahan dan pembakaran terhadap kantor kami tanggal 5
dan 6 September 1999.=20

Serangan itu membuktikan bahwa para pelaku ingin menghapus jejak dengan
memusnahkan semua bukti yang ada, dan sekaligus mengusir secara paksa semua
orang yang punya potensi untuk merekam dan mencatat kejahatan yang
dilakukan. Namun, sebagian besar dari data yang dikumpulkan berhasil
diselamatkan walau tersebar di berbagai tempat, dan saat ini sedang dalam
proses penyusunan kembali. Walau dalam kondisi yang sangat sulit, sebagian
staf dan relawan Yayasan HAK sampai saat ini masih bekerja di Timor Lorosae
dan NTT, mengumpulkan data dan informasi mengenai kejahatan terhadap
kemanusiaan yang dilakukan oleh milisi pro-integrasi, TNI dan Polri.=20

Pembantaian dan Penghancuran di Timor Lorosae

Kondisi keamanan di Timor Lorosae makin memburuk setelah pemungutan suara
tanggal 30 Agustus 1999. Dua orang staf lokal UNAMET terbunuh pada hari itu
di wilayah Ermera, sementara puluhan orang lainnya terpaksa mengungsi
karena hidupnya terancam. Dari hampir seluruh kabupaten Yayasan HAK
menerima laporan tentang ancaman pembunuhan dan bahkan pembasmian kelompok
pro-kemerdekaan yang dilontarkan oleh anggota milisi pro-integrasi, pejabat
pemerintah daerah, TNI dan Polri secara terbuka. Para korban bukan kemudian
bukan hanya aktivis CNRT, staf lokal UNAMET, tapi juga mereka yang selama
ini dituduh mendukung kemerdekaan, termasuk pekerja kemanusiaan, wartawan
dan tenaga kesehatan.=20

Ancaman itu kemudian menjadi kenyataan ketika Sekjen PBB mengumumkan hasil
jajak pendapat pada tanggal 4 September 1999, di mana 78,5% pemilih
ternyata menolak otonomi. Pada hari itu puluhan orang dikabarkan meninggal
dunia karena dibunuh, sementara beberapa staf UNAMET dan lembaga pemantau
internasional diserang secara fisik. Beberapa saksi mata, termasuk staf dan
relawan Yayasan HAK, melihat sendiri bahwa anggota TNI dan Polri tidak
hanya membiarkan aksi-aksi kejahatan itu terjadi, tapi bahkan terlibat
langsung melakukan penembakan dan pembakaran.=20

Jika dilihat secara seksama, maka aksi kekerasan yang dilakukan oleh milisi
pro-integrasi, TNI dan Polri dapat disebut sebagai kejahatan terhadap
kemanusiaan dan upaya pembasmian (genocide) secara sistematis dan
terencana. Langkah-langkah seperti pemindahan secara paksa terhadap
penduduk, terutama perempuan dan anak-anak, ke wilayah NTT, pembunuhan
massal di beberapa lokasi, dan tindak kekerasan terhadap seluruh penduduk
Timor Lorosae sejak tanggal 4 September 1999, memperkuat kesimpulan
tersebut. Dan semua itu dilakukan bersamaan dengan pengusiran atau evakuasi
paksa terhadap semua individu dan lembaga yang potensial untuk menjadi
saksi, seperti para pemimpin agama, lembaga kemanusiaan, perwakilan asing,
media massa domestik dan internasional, tenaga kesehatan, lembaga pemantau
jajak pendapat, dan bahkan UNAMET sendiri.

Jumlah korban secara keseluruhan masih sulit dipastikan, tapi perkiraan
kasar berdasarkan catatan mengenai kasus-kasus yang menonjol, adalah
sekitar 5.000 orang dalam waktu 18 hari. Korban aksi kekerasan yang biadab
ini termasuk anak-anak berusia 5-9 tahun, sampai seorang suster Canossian
yang berusia 80 tahun. Di samping pembantaian terhadap para pengungsi dan
mereka yang memberikan perlindungan, aksi pembunuhan juga terarah pada
sejumah tokoh pro-kemerdekaan dan orang-orang yang dianggap membantu
perjuangan mereka. Rangkaian pembunuhan yang sistematis dan terencana ini
tidak hanya diarahkan kepada masyarakat yang ada di Timor Lorosae, tapi
juga para 'pengungsi' yang dipaksa pindah ke wilayah NTT. Dalam kampanye
pembasmian itu, milisi pro-integrasi, TNI dan Polri berhasil memaksa
sekitar 180.000 orang pindah ke wilayah NTT, untuk kemudian menjadi sasaran
empuk karena tidak adanya pengawasan sama sekali.=20

Beberapa kasus pembunuhan dan kekerasan yang dapat disampaikan di sini:

- Dili. Pembunuhan mulai meluas sejak tanggal 5 September, ketika milisi
Aitarak menyerang dan membakar kantor keuskupan Dili, yang menjadi tempat
berlindung bagi ratusan pengungsi. Sekitar 25 orang diperkirakan tewas
dalam serangan itu, dan menjadi pembunuhan secara massal yang pertama.
Setelah itu terjadi beberapa serangan, yang kadang dilakukan bersama oleh
milisi pro-integrasi dan TNI, bahkan Polri. Penduduk saat ini sudah
menemukan beberapa tempat pemakaman massal, seperti rumah pengurus CNRT
Manuel Carrascal=E3o, desa Hera dan Comoro. Beberapa saksi mata mengaku
melihat pembakaran tumpukan mayat pada tanggal 9 September di kecamatan
Dili Barat, tapi tidak dapat memastikan jumlahnya. Diperkirakan selama 18
hari aksi brutal menghancurkan kota Dili, lebih dari 300 orang tewas
terbunuh. Angka ini belum termasuk mereka yang hilang diculik dan dibunuh
di luar kota Dili. Korban di Dili ini termasuk para penghuni Panti Asuhan
Seroja, yakni sekitar 70 anak yatim piatu dan 30 orang pengasuh beserta
keluarganya, yang tidak sempat menyelamatkan diri ketika diserang tanggal 7
September.

- Suai. Tanggal 7 September milisi Laksaur Merah Putih, TNI dan Polri
menyerang para pengungsi yang berlindung di kompleks paroki setempat. Tiga
orang rohaniwan yang mencoba melindungi para pengungsi akhirnya tewas
ditembak bersama sekitar tiga orang suster. Sebagian dari 1.500 pengungsi
yang berlindung di sana sempat melarikan diri, tapi nasibnya tidak
diketahui. Sekitar 200 orang yang tewas dalam kejadian itu, dan sampai hari
berikutnya saksi mata masih melihat darah mengalir keluar dari kompleks
paroki yang juga banyak dihuni oleh orang tua dan anak-anak. Paroki Suai
berulangkali menjadi sasaran keganasan milisi, dan diperkirakan puluhan
orang sebelumnya meninggal dunia sebelum serangan tanggal 7 September.

- Maliana. Sejak tanggal 30 Agustus kota itu tidak dapat dilalui oleh
masyarakat karena dijaga ketat oleh milisi pro-integrasi, TNI dan Polri.
Beberapa orang staf lokal UNAMET dan aktivis pro-kemerdekaan dibunuh di
tempat dan hilang diculik dalam operasi pembersihan oleh milisi Dadurus
Merah Putih dan Halilintar yang secara terbuka dibantu oleh Kodim setempat.
Ratusan rumah dibakar pada tanggal 4 September sementara para penghuni yang
melarikan diri ditembak oleh anggota milisi dan TNI. Beberapa saksi mata
juga melihat penduduk diserang dengan senjata tajam di jalan-jalan. Sejak
itu wilayah Bobonaro, khususnya Memo dan Batugade menjadi pos pemeriksaan
bagi para pengungsi yang dibawa oleh milisi pro-integrasi dan TNI ke
wilayah NTT. Ratusan orang diperkirakan hilang dan meninggal dunia di
pos-pos pemeriksaan tersebut.

Sejak tanggal 5 September tidak satupun kota kabupaten di Timor Lorosae
yang luput dari serangan. Sasaran umumnya adalah aktivis pro-kemerdekaan,
pihak gereja, dan staf lokal UNAMET yang sebelumnya dituduh melakukan
kecurangan dalam jajak pendapat. Tanggal 10 September milisi Aitarak
membunuh orang tua Xanana Gusm=E3o, sementara adik perempuan beserta=
 suaminya
hilang. Tapi kenyataannya, kebanyakan korban adalah masyarakat biasa yang
tidak aktif dalam politik, dan bahkan ada beberapa orang yang dikenal
sebagai pendukung otonomi juga. Dari beberapa kota dilaporkan adanya
helikopter yang terbang ke arah laut, kemudian menjatuhkan
bungkusan-bungkusan, sebelum kembali ke daratan.

Pembunuhan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, penyiksaan dan
tindak kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya terus terjadi diiringi dengan
penghancuran rumah, bangunan dan fasilitas publik lainnya di seluruh Timor
Lorosae. Menurut pengamatan, sasaran utama adalah rumah penduduk dan
fasilitas publik. Seorang komandan milisi Aitarak secara terbuka mengatakan
kepada media massa bahwa penghancuran itu sengaja dilakukan karena 'rakyat
tidak berhak menikmati hasil integrasi'. Pernyataan serupa berulangkali
diutarakan oleh para pemimpin pro-integrasi dan pejabat pemerintah
Indonesia dalam kampanye mendukung otonomi semasa jajak pendapat. Ancaman
itu sekarang menjadi kenyataan, dan dalam waktu 18 hari milisi
pro-integrasi, TNI dan Polri merusak, menjarah dan membakar antara lain
gedung-gedung perguruan tinggi, kantor Telkom, toko dan pasar,
sekolah-sekolah, panti asuhan, kompleks gereja, rumah sakit dan klinik, dan
ribuan rumah penduduk. Di kota Dili saja, diperkirakan sekitar 80% bangunan
yang ada habis dijarah dan dirusak.=20

Akibat pembantaian dan penghancuran itu, diperkirakan 200.000 penduduk
Timor Lorosae mengungsi ke daerah pegunungan. Mereka hidup dalam keadaan
sangat menyedihkan, tanpa makanan dan fasilitas kesehatan apa pun. Pada
tanggal 12 September, kami menerima laporan bahwa puluhan bayi meninggal
dunia karena kekurangan makanan di tempat-tempat pengungsian, sementara
ribuan anak terserang berbagai macam penyakit. Penghancuran ladang, sawah
dan sumber makanan lainnya oleh milisi pro-integrasi, TNI dan Polri,
membuat situasi semakin buruk dan dikhawatirkan akan semakin buruk jika
tidak diambil tindakan segera.=20

Keadaan Darurat Militer Melindungi Aksi Penghancuran

Pada tanggal 4 September, pemerintah Indonesia masih berusaha menyangkal
terjadinya pembunuhan dan tindak kekerasan oleh milisi pro-integrasi,
apalagi TNI dan Polri. Menlu Ali Alatas masih menekankan bahwa pihaknya
tidak akan menerima kehadiran pasukan multinasional, karena TNI "masih
dapat mengendalikan situasi." Keesokan harinya Menlu Ali Alatas dan
Panglima TNI Jenderal Wiranto berkunjung ke Dili, tapi tidak memberi
komentar apa pun melihat kantor keuskupan dibakar dan pengungsi ditembak di
pelabuhan Dili. Jenderal Wiranto kemudian malah menambah pasukan TNI dari
Batalyon 321 untuk 'menjaga keamanan'. Di Jakarta sementara itu beberapa
kelompok pemantau jajak pendapat yang diorganisir dan dibiayai oleh
pemerintah Indonesia mulai menyerang UNAMET yang dituduh melakukan
kecurangan. Tuduhan itu untuk sementara mengalihkan perhatian dari
pembantaian dan penghancuran yang terjadi. Dalam situasi seperti itu,
tanggal 8 September pemerintah mengumumkan pembebasan Xanana Gusm=E3o dan
mengatakan bahwa ia akan segera diserahkan kepada UNAMET di Dili yang
sekaligus diminta untuk menjaga keselamatannya. Tindakan itu jelas
merupakan bentuk lain dari eksekusi hukuman mati karena seluruh kota Dili
dikuasai dan dikendalikan oleh milisi pro-integrasi, TNI dan Polri yang
melakukan pembantaian dan penghancuran.

Tanggal 7 September Panglima TNI Jenderal Wiranto mengumumkan
diberlakukannya keadaan darurat militer di Timor Lorosae. Dalam keadaan itu
kekuasaan sepenuhnya ada di tangan TNI, yang dapat melakukan apa saja untuk
'menertibkan keadaan'. Alasan resmi ketika menetapkan keputusan itu adalah
karena situasi keamanan di Timor Lorosae sudah tidak menentu, walau TNI
tidak menjelaskan bahwa situasi 'tidak menentu' itu diciptakan oleh milisi
pro-integrasi, yang dibantu oleh TNI dan Polri. Dalam kenyataannya keadaan
darurat militer membuat Timor Lorosae sepenuhnya tertutup bagi dunia luar,
karena TNI dapat menangkap siapa pun juga, termasuk pekerja kemanusiaan dan
wartawan yang sedang menjalankan tugasnya. Sejumlah saksi mata di beberapa
daerah mengatakan antara tanggal 7 sampai 12 September, situasi di Timor
Lorosae luar biasa buruk. Di mana-mana terlihat anggota TNI, Polri dan
milisi pro-integrasi melakukan penembakan terhadap penduduk, membakar
rumah-rumah, serta menjarah pertokoan, dan gereja.=20

Menyingkirkan Para Saksi

Keputusan memberlakukan darurat militer juga berakibat para pengamat,
wartawan, pekerja kemanusiaan, perwakilan internasional, dan saksi lainnya
dipaksa menyingkir dari Timor Lorosae. Sejak tanggal 4 September UNAMET
terpaksa menarik stafnya di enam kabupaten karena teror dari milisi
pro-integrasi. Beberapa orang staf lokal tewas dibunuh sementara seorang
Polisi Sipil PBB asal Amerika Serikat ditembak oleh anggota Besi Merah
Putih di Liqui=E7a. Ketika helikopter yang mau mengangkut korban hendak
mendarat, anggota milisi melepaskan tembakan, sementara anggota Brimob yang
berdiri di dekat tempat kejadian hanya berdiri menonton. Setelah itu
serangan juga dilancarkan terhadap kantor UNAMET di Dili dan Baucau yang
sudah menjadi tempat penampungan pengungsi akibat kebrutalan milisi
pro-integrasi, TNI dan Polri. Serangan, teror dan intimidasi akhirnya
memaksa UNAMET untuk mengevakuasi hampir seluruh stafnya pada tanggal 10
September.

Sementara itu pekerja media domestik maupun internasional juga berulangkali
mendapat serangan, sehingga mereka terpaksa meninggalkan Timor Lorosae. Di
kota Dili beberapa wartawan diserang oleh milisi pro-integrasi sampai
terluka. Serangan terakhir terjadi tanggal 21 September yang berakibat
tewasnya seorang wartawan asal Belanda. Serangan terhadap media
mengingatkan masyarakat pada news blackout pada tahun 1975-1989, di mana
semua kejahatan terhadap kemanusiaan berlangsung tanpa seorang wartawan pun
dapat merekam dan melaporkannya secara terbuka. Serangan terhadap mereka
yang menjadi saksi pun semakin meningkat. Tidak kurang dari Duta Besar
Australia yang ditembak saat sedang berkeliling kota Dili pada tanggal 6
September. Malam harinya, giliran konsulat Australia yang dihujani
tembakan, sementara Duta Besar berada di dalam gedung konsulat. Sementara
itu hampir semua lembaga pemantau dan kemanusiaan internasional, seperti
Carter Center, International Federation for East Timor, International Red
Cross, dan lainnya dipaksa keluar dari Timor Lorosae pada tanggal 6 dan 7
September. Di bawah ancaman yang hebat, Uskup Carlos Ximenes Belo akhirnya
harus meninggalkan Timor Lorosae pada tanggal 7 September. Pada tanggal 10
September hanya beberapa staf UNAMET, tiga orang wartawan asing, dan
beberapa rohaniwan yang masih bertahan di Timor Lorosae.=20

Pemindahan Penduduk Secara Paksa

Saat ini diperkirakan ada 200.000 penduduk Timor Lorosae yang secara paksa
dipindahkan ke wilayah NTT dan beberapa propinsi Indonesia lainnya.
Pemindahan secara paksa ini dimulai sekitar tanggal 1 September, dan sampai
laporan ini disusun masih terus terjadi, sekalipun pasukan multinasional
sudah hadir dan bekerja di Timor Lorosae. Pemerintah menggunakan fasilitas
TNI dan truk Departemen Pekerjaan Umum untuk mengangkut penduduk, terutama
ke wilayah NTT. Pemerintah Daerah NTT membuka tempat-tempat penampungan di
Atapupu, Atambua, Kefamenanu, SoE, Kupang, Noelbaki dan Oebufu. Komandan
Korem 164/WD Nur Muis pada tanggal 3 September mengatakan bahwa TNI akan
memindahkan 250.000 orang ke wilayah NTT, sebuah target yang mungkin sangat
ini sudah tercapai.=20

Para pengungsi ini setiap hari hidup di bawah ancaman, karena milisi
pro-integrasi, TNI dan Polri melakukan pemeriksaan di sepanjang jalan dan
tempat-tempat penampungan. Sumber yang dapat dipercaya di Atambua
mengatakan, bahwa kabupaten Belu sekarang ini menjadi ladang pembantaian
massal. Setiap barisan pengungsi yang masuk ke wilayah itu diperiksa dan
laki-laki yang dianggap mendukung kemerdekaan dipisahkan dari rombongan.
Beberapa di antaranya dibunuh di tempat, sementara banyak di antaranya yang
diangkut naik ke kendaraan lain dalam keadaan tangan terikat dan sampai
saat ini tidak diketahui keberadaannya. Sejumlah saksi mata juga mengatakan
bahwa mereka yang dipisahkan dari rombongan itu kemudian dipaksa untuk
menjadi milisi pro-integrasi, tapi tidak diberi senjata. Menurut keterangan
mereka disiapkan menjadi tameng hidup oleh milisi pro-integrasi dan TNI
yang akan menyerang pasukan multinasional di Timor Lorosae.=20

Bukti bahwa pemindahan penduduk itu dilakukan secara paksa antara lain
diperoleh dari para pengungsi yang semula berlindung di gereja dan kediaman
Uskup Belo. Para pengungsi di kediaman Uskup Belo pada tanggal 6 September
pagi didatangi oleh milisi Aitarak dan Polri. Mereka mengatakan bahwa para
pengungsi harus ikut ke Atambua dengan truk-truk militer. Para pengungsi
itu menolak dan memilih ikut dengan Uskup Belo mengungsi ke Baucau. Tidak
lama kemudian milisi Aitarak datang kembali dan mulai menembaki kediaman
Uskup. Semua orang yang bertahan di tempat itu kemudian dibawa ke markas
Aitarak dan kantor-kantor polisi di kota Dili. Pada saat bersamaan dari
Manufahi diterima laporan bahwa ada puluhan truk yang dipakai untuk
memindahkan para penduduk di kota Same ke pelabuhan Betano. Di sana sudah
ada beberapa kapal yang tidak diketahui tujuannya.=20

Penduduk yang dipaksa tinggal di NTT hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Setiap hari ada laporan tentang penculikan para penghuni kamp-kamp
pengungsian oleh milisi pro-integrasi. Beberapa sumber mengatakan mereka
dibawa ke pantai dan kemudian dibunuh. Sumber lain mengatakan bahwa
sebagian di antara penghuni kamp itu dipindahkan lagi ke pulau-pulau lain,
sebagai bagian dari program 'transmigrasi'. Dalam waktu singkat milisi
pro-integrasi mengubah situasi di NTT seperti Timor Lorosae. Pembunuhan,
penembakan, teror dan intimidasi, bahkan pembakaran terjadi di beberapa
kota, yang membuat penduduk setempat ketakutan. Di Atambua, hampir semua
penduduk asli akhirnya mengungsi, karena milisi pro-integrasi setiap hari
melakukan teror, intimidasi, dan penjarahan. Anggota TNI dan Polri kadang
terlihat ikut dalam aksi penjarahan dan menjual barang-barang hasil jarahan
dengan harga murah kepada sesama.=20

Saat ini teror terhadap perwakilan asing, wartawan dan pekerja kemanusiaan
juga mulai terjadi di Timor Barat. Dua orang pejabat UNHCR beberapa waktu
lalu diserang, sementara para wartawan sangat terancam karena milisi
pro-integrasi berulangkali melakukan penganiayaan terhadap warga asing di
Kupang dan Atambua. Situasi semakin parah karena para pengungsi maupun
penduduk di Timor Barat tidak memiliki perlindungan apa pun dari pasukan
multinasional, sehingga bisa disimpulkan bahwa situasinya bahkan lebih
parah daripada Timor Lorosae sekarang ini.

Pemerintah Indonesia Bertanggungjawab Atas Pembantaian dan Penghancuran

Dari pengamatan terhadap rangkaian pembunuhan, penghancuran dan tindak
kekerasan lainnya, dapat disimpulkan bahwa apa yang terjadi saat ini di
Timor Lorosae bukanlah semata-mata reaksi spontan, melainkan sebuah
tindakan yang sistematis dan terencana. Dalam pidato tanggal 14 September,
Presiden BJ Habibie mengatakan bahwa tindak kekerasan terjadi antara lain
karena TNI punya 'masalah psikologis' sehingga tidak dapat menindak tegas
para pelaku pelanggaran, yang tidak lain adalah milisi pro-integrasi. Kami
berkesimpulan sebaliknya, karena anggota TNI bukan hanya membiarkan milisi
pro-integrasi melakukan kejahatan, bahkan terlibat di dalamnya. Di
mana-mana ditemukan bukti kuat bahwa TNI dan Polri secara aktif membantu
operasi pembantaian dan penghancuran di seluruh Timor Lorosae.

Pemerintah Indonesia sesungguhnya dapat menghentikan pembantaian dan
penghancuran itu, mengingat jumlah aparat keamanan yang luar biasa banyak
dan pengetahuan yang mendalam tentang kelompok-kelompok milisi
pro-integrasi yang sekarang mau dijadikan 'kambing hitam'. Tidak adanya
tindakan yang efektif terhadap peristiwa dengan skala dan intensitas yang
begitu besar serta berlangsung untuk waktu cukup lama, memperlihatkan
dengan jelas bahwa pemerintah Indonesia, khususnya TNI dan Polri,
bertanggung jawab atas semua kejadian di atas. Karena itu, Yayasan HAK
menyambut baik upaya pembentukan sebuah komisi penyelidikan oleh Dewan
Keamanan PBB. Seperti dikatakan oleh UN High Commissioner for Human Rights
Mary Robinson, bukti tentang kebiadaban itu berlimpah, dan tidak ada
keraguan lagi bahwa masyarakat Timor Lorosae akan bersedia menjadi saksi
untuk mengakhiri kejahatan dengan membawa para pelakunya ke pengadilan.
Terima kasih.=20

Geneve, 23 September 1999

Aniceto Guterres Lopes
Direktur Yayasan HAK

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Oct 1999 jam 08:37:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke