----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 5 Oktober 1999

Killing Field
Oleh: Bambang P Cahyono

INTEGRASI Timor-Timur (Timtim) pada tahun 1976 membuat Indonesia
selalu tersandung dan terjebak dalam konflik internasional yang
tiada batas. Namun, jajak pendapat yang diharapkan mampu
menyelesaikan masalah, justru telah mengubah Timtim sebagai ajang
perang saudara dan menciptakan killing field (ladang pembantaian)
dunia pra-abad 21.

Mungkin Timtim tak ubahnya tanah tandus dan gersang yang menyimpan
banyak misteri hingga selalu "diributkan" oleh banyak pihak. Mulai
dari pihak Portugal yang telah meninggalkan Timtim begitu saja,
Indonesia, Australia hingga PBB. Semuanya seolah merasa menjadi
pihak yang paling berhak atas Tanah Loro Sae tersebut.

Konflik kian mengkristal tatkala Presiden BJ Habibie memberi opsi
kemerdekaan bagi rakyat Timtim. Pihak asing lantas membentuk suatu
"konspirasi global" dengan melibatkan PBB, untuk menjustifikasi
Timtim sebagai suatu wilayah "tak bertuan". PBB melalui United
Nation Assistance for East Timor (Unamet) yang ditugasi
mengorganisir jajak pendapat lantas bertindak tidak adil dan
cenderung mendukung satu kelompok tertentu. Hasilnya, jajak
pendapat menunjukkan 78,5 pesen rakyat Timtim mendukung
kemerdekaan dan hanya 21,5 persen rakyat Timtim yang pro
integrasi.

Timtim yang telah menjadi daerah operasi militer selama lebih dari
20 tahun, kini berubah menjadi arena perbantaian antara sesama
rakyat Timtim, tatkala kecurangan Unamet tidak ditindak-lanjuti
oleh pihak yang berkompeten. Konyolnya, PBB sebagai "sponsor
resmi" jajak pendapat, seolah tuli dan buta akan kecurangan Unamet
dan berteriak keras tatkala rakyat yang merasa dicurangi
melampiaskan kekesalannya.

Dengan logika yang paling sederhana kita dapat menyimpulkan bahwa
ketidak-jujuran dan ketidak-adilan PBB-lah yang menciptakan
suasana mencekam di Timtim. Ketidakmampuan PBB dalam melepaskan
diri dari intervensi kepentingan negara-negara tertentu, telah
menciptakan Timtim menjadi neraka menjelang millenium mendatang,
sebagaimana yang telah mereka lakukan di Palestina, Kamboja, Irak
dan Semenanjung Balkam. Sehingga tak berlebihan jika ada yang
menyebut bahwa PBB adalah sang kreator neraka millenium!

Ingat tuan-tuan, dunia ini bukan milik anda ataupun negara-negara
yang menyokong dana operasional PBB. Kami juga berhak untuk hidup
dengan layak, merdeka dan berdaulat. Tanpa pernah merasa was-was
untuk diatur, diinvasi dan diperbudak setiap saat oleh serdadu-
serdadu berlabel United Nations!

Tanpa kemandirian dan kedaulatan PBB, cita-cita luhur berupa
penciptaan kedamaian dan ketentraman dunia akan menjadi cita-cita
sumir hingga akhir jaman. Selama ini PBB telah membius seluruh
umat manusia dengan janji-janji muluk tentang perdamaian semu yang
subyektif. Jika PBB selalu menjadi corong kekuasaan dan ajang
"macho-vitas" negara-negara kaya, lebih baik dan sangat bijaksana
jika PBB dilikuidasi dan dibubarkan saja!

(Penulis adalah wisudawan Sarjana Universitas Trisakti, Jakarta).

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Oct 1999 jam 10:03:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke