----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 35/II/10-16 Oktober 99
------------------------------

BERHARAP PENGHAPUSAN UTANG

(EKONOMI): Tanpa penghapusan utang, ekonomi Indonesia takkan pulih. Peluang
itu, sebetulnya, terbuka. Tapi, percuma kalau Habibie kembali berkuasa.

Sejak dulu, diskusi tentang penghapusan utang luar negeri Indonesia selalu
menemui jalan buntu. Di satu sisi, pemerintah Orde Baru sangat percaya diri
bisa mengembalikan cicilan utangnya, meskipun setiap tahun nilainya semakin
besar. Di sisi lain, suara-suara kritis di dalam negeri juga enggan
mengangkat isu ini, lantaran menganggap dapat membuat pemerintah menjadi
`keenakan', kendati menjalankan kebijakan ekonomi yang salah.

Beberapa waktu lalu (5/10), Sri Mulyani Indrawati yang jadi salah satu
pembicara dalan diskusi Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Manajemen (LPEM) UI
menyatakan perlunya pengampunan atau penghapusan utang, mengingat beratnya
beban cicilan yang kini ditanggung Indonesia. Pada tahun anggaran 1999/2000
ini, pembayaran bunga dan cicilan utang besarnya sudah mencapai Rp60
trilyun, "atau dua kali anggaran untuk menggaji pengawai negeri dan TNI."

Argumen lain tentang perlunya debt relief ini dikemukakan pula oleh
Sekretaris Infid, Binny Buchori. Ada empat alasan: Pertama, Indonesia tak
mungkin memulihkan ekonomi tanpa mengurangi utang yang sangat besar. Kedua,
amatlah tidak bermoral bila rakyat Indonesia mesti ikut memikul beban utang
yang dikorupsi dan diselewengkan oleh rezim otoriter. Ketiga, tak adil jika
negara-negara dan lembaga-lembaga kaya terus menerima pembayaran utang dari
rakyat negara miskin seperti Indonesia. Keempat, Bank Dunia siap berunding
jika ada permintaan kuat dari pihak Indonesia. Kelima, gerakan penghapusan
utang sedang berkembang di seluruh dunia -ide ini tidak saja datang dari
negara-negara miskin, juga dari negara-negara kaya.

Dalam pertemuan tahunan antara IMF dan Bank Dunia, September lalu, persoalan
penghapusan utang negara-negara miskin, lagi-lagi mendapat perhatian serius.
Menteri Keuangan Pakistan Ishaq Dar yang menjadi salah satu juru bicara
negara-negara miskin, mengingatkan tentang efek kesenjangan antara
negara-negara miskin dan negara-negara maju yang ditimbulkan kapitalisme,
produk negara-negara maju. Menurutnya, negara-negara maju tidak saja harus
melakukan penghapusan utang, tapi juga memberi akses lebih besar bagi
negara-negara miskin untuk menjual produknya di pasar negara-negara maju.

Delegasi Malaysia dalam pertemuan itu, Mustapha Mohamed bahkan menuding
lembaga donor seperti IMF yang membuat negara-negara miskin makin terjerat
utang. Ia memberi contoh, ketika Malaysia menolak resep IMF untuk menaikkan
suku bunga, bahkan menggunakan cara sendiri untuk melakukan kontrol kapital,
hasilnya malah positif. "Angka pengangguran tetap rendah, dan angka
kemiskinan tidak terlalu meningkat," ungkapnya. "Pengalaman kami menunjukkan
kebijakan IMF, tidak berlaku di Malaysia."

Bagaimanapun, negara-negara maju mempunyai tanggung jawab moral untuk
membantu negara-negara miskin. Kenyataannya, meskipun terus-menerus memberi
pinjaman pada negara-negara miskin, namun itu dilakukan dengan 'pamrih'.
Yaitu, supaya negara-negara miskin tetap bisa membeli produk-produk negara
maju. Sementara negara-negara maju terus berupaya menutup pintunya terhadap
barang-barang produksi negara-negara miskin. The United Nations Conference
on Trade and Development (UNCTAD), memperkirakan, negara-negara berkembang
bisa menghasilkan ekspor senilai US$700 milyar lebih banyak pada tahun 2005,
seandainya negara-negara maju mau membuka pasar mereka. Jumlah yang amat
berguna untuk menyelesaikan persoalan utang luar negeri negara-negara miskin.

Lantas, bagaimana sikap negara-negara maju? Sepertinya mereka tidak
berkeberatan dengan ide ini. Presiden Bill Clinton bertekad untuk
memperjuangkan penghapusan utang sebesar 100% dari sekitar 30 negara yang
masuk kategori sangat miskin -sepuluh persen lebih besar dari kesepakatan
negara-negara G7 yang dicapai bulan Juli lalu di Cologne, Jerman.

Namun, kenyataannya, komitmen Clinton dimentahkan oleh Kongres AS, awal
Oktober lalu, yang memutuskan untuk memotong dana bantuan luar negeri AS,
termasuk dana untuk penghapusan utang negara-negara dunia ketiga. Alokasi
dana AS untuk Bank Dunia (untuk program pinjaman bagi negara-negara
termiskin) pun menjadi jauh berkurang, dari US$800 milyar pada tahun
anggaran lalu, menjadi US$625 juta tahun ini.

Lembaga-lembaga donor semacam IMF dan Bank Dunia -yang juga mendapat
kontribusi sumbangan dari AS dan negara-negara maju lainnya-, sebetulnya,
juga pesimis dengan janji-janji muluk penghapusan 100% utang. "Saya tak
percaya (penghapusan 100%) itu dimungkinkan," ujar Presiden Bank Dunia James
Wolfensohn dalam sebuah konferensi pers. "Kalau kami mengampuni semua utang,
seharusnya para "pemegang saham" (negara-negara kaya -red.) juga mengampuni
kami."

Berapapun mampunya, komitmen ini cukup melegakan. Hanya saja, dalam kasus
Indonesia, usulan penghapusan utang akan menjadi percuma bila kelompok
status quo kembali berkuasa. Pertama, lembaga-lembaga donor seperti IMF dan
Bank Dunia sudah kapok berurusan dengan rezim lama yang mereka anggap tak
serius menyelesaikan persoalan KKN -khususnya dalam usaha menuntaskan kasus
Bank Bali. Kedua, kalaupun mendapatkan penghapusan utang, praktek KKN yang
sudah membudaya dalam diri kelompok status quo, cepat atau lambat akan
menggiring perekonomian Indonesia kembali ke tepi jurang. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Oct 1999 jam 13:43:30 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke