----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 9 Oktober 1999

Setiap Tahun, Australia Kuras Rp 1,8 Triliun dari Pelajar RI

CANBERRA (Antara): Australia terancam kehilangan devisa sekitar
Rp 1,8 triliun per tahun apabila Indonesia `menyetop` warganya
untuk belajar di Australia, menyusul munculnya sejumlah keluhan
dari pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia yang mendapat
perlakuan tak adil dari sesama mahasiswa maupun dari masyarakat
setempat.

Demikian Atase Pendidikan pada KBRI di Canberra Dr Aria Djalil
di Canberra, kemarin. Djalil menilai hubungan Indonesia-
Australia yang memburuk akhir-akhir ini, mau tak mau akan
membuat pemerintah Negara Kanguru itu gelisah. "Kegelisahan itu
pasti akan terjadi jika pemerintah Indonesia menyarankan agar
pelajar dan mahasiswa kita mengalihkan studinya ke negara lain,"
kata Djalil.

Djalil yang mengutip data dari Departemen Pendidikan Australia,
pada 1999 jumlah pelajar dan mahasiswa RI yang studi di
Australia mencapai angka 17.462 orang. Dari jumlah itu, hanya
693 orang yang mendapat beasiswa dari AusAID (Lembaga Kerjasama
Internasional pemerintah Australia), atau kurang dari 4%.
Selebihnya, 96% adalah mahasiswa yang membayar sendiri baik uang
kuliah maupun biaya hidup di Australia.

Biaya belajar di Australia sendiri termasuk cukup mahal, yaitu
rata-rata 21 ribu dolar Australia atau Rp 105 juta/tahun/orang,
dengan mematok kurs Rp 5.000/dolar Australia. Sehingga, total
pendapatan Australia dari mahasiswa RI rata-rata per tahunnya
mencapai 355 juta dolar Australia atau hampir Rp 1,8
triliun/tahun, atau hampir setara dengan nilai ekspor kapas
Australia ke Indonesia, kata Djalil.

"Itu belum termasuk pengeluaran orang tua dan sanak keluarga
yang mondar-mandir menjenguk putra-putri mereka untuk melepas
rindu," katanya. Dengan begitu, tambah Djalil, keberadaan
pelajar dan mahasiswa RI di Australia telah menjadi komoditas
bisnis yang sangat penting, karena jumlahnya tertinggi
dibandingkan dengan mahasiswa mancanegara lainnya yang datang ke
Australia.

Posisi tawar

Menurut Jalil, momentum hubungan diplomatik kedua negara yang
anjlok ke titik terendah sekarang, mestinya dapat digunakan
untuk memperkuat posisi tawar Indonesia dalam hubungan
pendidikan dengan Australia, sehingga lebih menguntungkan
mahasiswa RI yang belajar di Australia.

Posisi tawar yang dapat digunakan untuk menekan pemerintah
Australia antara lain dalam hal keringanan biaya belajar.
Caranya, bisa dalam bentuk potongan biaya belajar, pinjaman
tanpa bunga atau pengembalian dengan cicilan setelah mahasiswa
yang bersangkutan lulus dan bekerja di perusahaan Australia.

Fasilitas lainnya, bisa berupa penyediaan asrama dengan sistem
sponsorship, uang saku dari pengalaman bekerja, dan pemberian
kesempatan yang luas dalam hal sosialisasi antara mahasiswa RI
dengan mahasiswa dan warga Australia.

Sementara untuk dosen penerima beasiswa AusAID, menurut Djalil,
agar diberikan kesempatan untuk magang mengajar di lembaga
pendidikan Australia sebagai dosen pendamping. Kepada mereka
juga hendaknya diberi peluang untuk melakukan riset kooperatif,
khususnya yang terkait dengan sektor industri dan pertanian yang
dapat diaplikasikan di Indonesia.

Selama ini, riset untuk tesis dan disertasi mahasiswa RI
kebanyakan dilakukan di Indonesia. Hal itu menyebabkan Australia
makin kaya informasi mengenai Indonesia, bukan sebaliknya,
demikian Djalil Djalil.

Australia mulai menjalin kerja sama pendidikan dengan Indonesia
sejak 1980. Baru sejak awal 1994, Australia mulai aktif
meningkatkan kerja sama pendidikan dengan menawarkan beberapa
program beasiswa. Dari sekitar 17.000 mahasiswa Indonesia di
Australia kurang lebih 15.000 mahasiswa terkonsentrasi belajar
di Melbourne.

Seorang mahasiswa yang belajar di Australia pernah menuturkan
pengalamannya, bahwa keamanan para pelajar dan mahasiswa
Indonesia di Australia sejak pecahnya konflik Timor Timur sangat
terganggu. Di beberapa tempat fasilitas umum misal pasar, trem,
telepon umum, warga Australia tidak segan-segan bertindak kasar
secara fisik jika mengetahui bahwa yang di hadapannya adalah
orang Indonesia. Umumnya, sikap itu karena pengaruh pemberitaan
kantor berita Barat yang cenderung memojokkan pihak pemerintah
Indonesia.

Tetapi, sejauh ini Mendikbud Prof Dr Juwono Sudarsono belum
mempertimbangkan untuk menarik seluruh pelajar dan mahasiswa
Indonesia yang belajar di Australia. Mereka justru diminta untuk
tetap bertahan, seraya memberikan penjelasan tentang situasi
yang sebenarnya. (B-1)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Oct 1999 jam 10:11:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke