----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

PERCIKAN BUDAYA
85/III/1999

CATATAN KECIL
Aini Patria

MENGAPA NEGERI INI MENJADI BEGINI?

Dalam percakapan, seorang kawan menyakan menangis mengamati situasi negeri
kita dewasa ini. Ia  melontarkan  perasaan yang bebentuk pcrtanyaan: Mengapa
negeri ini  liii menjadi begini? Dan menekankan: harga manusia sangat
rendah!
Sementara diantara mereka  yang berada di luar negeri, tidak sedikit yang
mengaku merasa 'malu' menjadi orang Indonesia dalam keadaan sekarang ini.
Tentu pernyataan mereka itu bisa dipahami, karena dalam pergaulan
antarbangsa, masyarakat dan manusia ada tatakramanya: antara lain ukurannya
peradaban.
Menghadapi pemerintahan (mungkin lebih tepat kekuasaan) yang amburadul,
di satu sisi  ngoceh tentang demokrasi dan reformasi, di sisi lain terus
mengembangkan praktek AJI MUMPUNG (mumpung kuasa) dengan munculnya
bermacam-macam kecurangan seperti kasus Andi Galib yang tak ditindaklanjuti,
kasus Bank Bali yang menyangkut nama lapisan atas penguasa. Rasanya
kejujuran  yang mestinya
bermukim  dalam hati manusia, apalagi kalau manusia itu menjadi pimpinan
negara sudah sirna. Mungkin benar juga omongan almarhum Subadio Sastrosatomo
yang mengatakan; sejak rejim Orde Baru berkuasa, di Indonesia sudah tidak
ada pemimpin lagi, yang ada penguasa.
Ketika catatan ini ditulis seluruh mata dunia mengarah ke Timor Timur, bekas
jajahan Portugal yang karena persekongkolan Amerika Serikat dengan rejim
militer Orde Baru,
duapuluh lima tahun yang lalu dianeksasi ke dalam negara Indonesia. Akibat
tingkah     gegabah pemerintahan Habibi yang bikin referendum tanpa
persiapan matang, rakyat wilayah itu ditimpa malapetaka. Karena yang pro
integrasi kalah, pembantaian dan
bumi hangus dilakukan oleh pihak pro integrasi di sana. Ada tangan-tangan
berlumuran darah lagi di Timor Loro Sae! Situasi ini diikuti rasa frustasi
oleh
sekelompok orang dengan mengamuk kesana kemari seperti 'jaran dor' makan
beling
dengan menyalahkan pihak-pihak lain. Agar situasi amburadul ini tidak
berlarut, sebaiknya kekuasaan Habibie segera diganti. Dan penggantinya
selain menyelesaikan
segudang pelanggaran hukum dan kemanusian yang terbengkelai, atas nama
bangsa
harus berani mawas diri. Mencari akar masalah, mengapa bangsa ini menjadi
begini.
Sejak kapankah keganasan ini dimulai dan dikembangkan? Siapa sajakah
aktor-aktornya? Akibat-akibatnya terhadap tahanan politik, ekonomi, budaya,
rasa kemanusiaan dsb.
Segala kebejatan itu perlu dikoreksi. Kejahatan rejim militer Orde Baru
sejak mengadakan pembunuhan massal (1965-l967), peristiwa Tanjungpriuk,
Aceh, Papua Barat, Lampung, Petrus dsb.; penculikan, perampasan hak milik
seperti rumah,
tanah dan barang-barang lain yang dilakukan penguasa atau oknum-oknum
militer,
harus segera dibenahi. Selain itu mungkin seluruh warga perlu mengadakan
reedukasi atau pendidikan kembali sebagai bentuk mawas diri, agar mereka
yang rasa keadilan dan rasa kemanusiaannya sadah tumpul menjadi peka.
Dulu sebelum rejim militer Orde Baru naik tahta kekuasaan, orang luar banyak
yang menjuluki kita sebagai 'bangsa yang bertanah air indah dengan
penduduknya yang ramah'. Tapi mengapa beberapa dekade belakangan ini
menampakkan diri sebagai  'drakula' pemakan darah?
Dalam catatan ini saya akan nengulang pendapat  yang mengatakan: DI DUNIA
INI ORANG JAHAT JUMLAHNYA  TIDAK BANYAK DIBANDING DENGAN YANG BAlK, TAPI
KALAU ORANG JAHAT (YANG JUMLAHNYA SEDIKIT) ITU BERKUASA, AKAN MENDATANGKAN
MALAPETAKA. Karena dengan
kekuasaan, mereka bisa mengembangkan kejahatan, dan karena berkuasa pula
bisa mempengaruhi atau memaksakan orang-orang baik untuk mengikuti kehendak
jahat mereka. Kemudian  kejahatan itu menjadi langgam kolektif dan melembaga
disusupkan menjadi sistem  untuk menguasai masyarakat. Bukankah macam-macam
rekayasa sudah 'membudaya' di kalangan elite kekuasaan negeri ini selama
rejim militer Orde Baru berkuasa sampai sekarang?  Di negeri ini,
militerisme sudah mengental di segala
bidang,  politik, ekonomi dan juga 'kebudayaan'. Sudah menjelma menjadi
sistem.
Melawan sistem militerisme untuk digantikan sistem demokrasi yang
mengutamakan
keadilan dan kemanusiaan, itulah tantangan bagi yang akan mengadakan
pembaruan.
Tanpa menjebol sistem lama penuh kebejatan, tak mungkin mengadakan
pembaruan.
Perjuangan ini selain tak mudah, juga akan makan waktu jangka panjang.
Karena militerisme itu sudah berakar dalam sistem masyarakat dan dalam otak
manusia.
Jadi sistem masyarakatnya perlu diubah dan otak manusianya perlu dicuci!.

September 1999
Aini Patria

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 04:14:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke