----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------
APAKAH 'MAJORITY NETWORK LINK' ORDE BARU
SUDAH TERPATAHKAN ?
Oleh : Ki Ageng Mangir
Tulisan ini diilhami dari tulisan penulis terdahulu
tentang kilas balik kemenangan GOLKAR secara
mutlak pada Pemilu '97 yang telah penulis kemukakan
disebabkan dukungan yang solid dari 'Majority Network
Link' atau dalam bahasa Indonesianya kira-kira adalah
'Jaringan yang saling mengikat dari Kelompok
Mayoritas'.
Kelompok 'Majority Network Link' dari orde baru adalah :
1. Kepala Negara saat itu yang sebagai simbol sentral
dari orde baru (bisa juga didebut Godfather).
2. Keluarga besar ABRI.
3. Keluarga besar Golkar.
4. Keluarga besar KORPRI (Korp Pegawai Negeri)
5. Keluarga besar Pamong Praja (Pejabat
pemerintahan pusat dan daerah).
6. Pengusaha Besar yang biasa disebut Konglomerat
baik pri ataupun non pri (non pri nya lebih banyak).
Kelompok mayoritas tersebut diatas yang membentuk
jaringan sarang laba-laba untuk dengan segala macam
cara, halal atau tidak halal, bersih atau tidak bersih,
yang penting bisa memenangkan pemilu agar
GOLKAR tetap menguasai mayoritas di DPR/MPR
sehingga kelangsungan kekuasaan orde baru bisa
langgeng sampai akhir zaman.
Manusia bisa merencanakan, hanya Allah SWT yang
berhak menentukan apakah bisa terlaksana atau tidak.
Secara teoritis sistim 'konstitutional' dari order baru
adalah sangat sempurna untuk melanggengkan
kekuasan Soeharto & Co untuk terus berkuasa, tapi
kenyataan yang terjadi tidak demikian.
Begitu banyak politisi kawakan yang mencoba untuk
mematahkan supremasi Soeharto sebagai simbol
sentral dari orde baru selama kekuasaannya 32 tahun
(peristiwa Malari, Petisi 50, PDI-Megawati, PUDI, dll.).
Ternyata yang mampu menggusur Soeharto adalah
para mahasiswa yang tidak punya pengalaman politik
apa-apa kecuali berlandaskan perjuangan moral dan
keberanian karena yang diperjuangkan adalah sesuatu
untuk menegakkan kebenaran untuk melakukan
perubahan atau 'reformasi total' menuju Indonesia Baru
yang lebih baik.
Apakah dengan 'lengsernya' Soeharto serta merta
kekuatan 'Majority Network Link' ini menyurut dan akan
menuju arah kehancurannya, marilah kita kaji satu
persatu:
1. Secara nyata setelah sang Godfather turun tahta,
dengan sendirinya secara moral kekuatan dari
'Majority Network Link' ini sangat terpukul (tenyata
konsep startegi perang traditional masih ampuh, yaitu
kalau kita ingin memenangkan peperangan, lumpuhkan
Panglimanya terlebih dahulu) walaupun penulis yakin
bahwa pengaruh sang Godfather masih cukup besar
terhadap pemerintahan saat ini - terutama unsur ABRI
yang tetap menganggap sang Godfather adalah
'Founding Father' dari order baru dan konsep 'Dwifungsi'
yang tetap harus dihormati dan didengar kata-katanya
apapun kesalahan yang telah diperbuat (terutama
masalah KKN yang menyangkut baik dirinya,
anak2-nya, dan keluarganya).
2. Keluarga besar ABRI - menurut pernyataannya
dalam Pemilu '99, ABRI akan bersikap netral. Tapi
melihat tingkah lakunya tidak mencerminkan sikap
pro-reformasi / pro demokrasi :
a. sangat represip menghadapi para demonstran yang
tidak bersenjata, dihadapi dengan senjata lengkap,
bahkan dengan panser segala, tidak segan-segan
melukai para demonstran bahkan juga terhadap kaum
wanita demonstran.
b. tidak seriusnya menangani para pembunuh
mahasiswa Trisakti maupun peristiwa Semangi.
c. tidak mampu menghadapi atau mengungkap
'provokator' pencetus kerusuhan antar etnis dan antar
agama yang berantai yang pasti ada unsur
kesengajaan. Dengan senjata 35 kursi yang diangkat
tanpa melalui Pemilu masih merupakan kekuatan yang
mungkin akan membantu 'status quo' (walaupun kalau
mau bisa juga membantu partai2 pro-reformasi). Walau
bagaimanapun, perkembangan saat ini, ABRI tidak lagi
bulat dan solid membela 'orde baru' seperti di masa2
yang lalu.
3. Keluarga besar Golkar - sudah jelas bahwa secara
internal Golkar sendiri juga mengalami perpecahan
dengan beberapa unsur organisasi pendukungnya
memisahkan diri seperti halnya: MKGR. Jadi Golkar
sebagai tiang utama dari 'orde baru' pun sudah mulai
goyang.
4. Keluarga besar KORPRI - kalau memang ditaati
bahwa Korp Pegawai Negeri tidak lagi harus bersikap
'mono loyalitas' dalam pengertian bebas memilih partai
politik apa saja, jelas merupakan pukulan telak atas
dukungannya terhadap 'order baru'.
5. Keluarga Pamong Praja yang dimotori oleh Menteri
Dalam Negeri - kelihatannya kelompok ini masih
cukup kuat dukungan terhadap 'orde baru' yang tidak
lain tidak bukan karena kelompok ini sangat 'vestet
interest' takut kehilangan posisi.
6. Para Pengusaha Besar (Konglomerat) - dengan
adanya peristiwa 13 Mei '97, dimana aparat keamanan
tidak mampu melindungi banyak kaum pengusaha non-
pri, sudah pasti mereka tidak mungkin mau mendukung
'order baru', kecuali sebagian kecil yang pada masa
'krismon' masih punya kesempatan melanjutakan KKN
rianya yang mengharapkan bisa terus berlangsung
apabila 'order baru' bisa memerintah lagi.
Dari kondisi diatas, tidak lagi beradanya 'Godfather'
sebagai 'master mind' orde baru dalam lingkup
kekuasaan formal, secara perlahan tapi pasti telah
terjadi perubahan sikap ABRI, perpecahan dalam
tubuh Golkar, Korpri tidak lagi harus 'mono loyalitas',
pengusaha yang kapok telah dikhianati dan tidak
dilindungi. Penulis bisa menyimpulkan 'network
majority link' sebetulnya sudah terpatahkan dan
berantakan yang hanya menunggu waktu yang tidak
lama akan tergusur dari percaturan kekuasaan di
Indonesia.
Dengan kondisi 'majority network link' yang babak
belur (dimana dimasa Pemilu2 yang lalu masih sangat
solid dan merupakan andalan utamanya), penulis
sendiri tidak yakin kalau Golkar bisa memperoleh 50%
dari suara pemilih dibandingkan Pemilu '97 yang
memperoleh 74% dari perolehan suara. Jadi kalau 50%
dari Pemilu '97 berarti kurang lebih 37%. Prediksi
penulis perolehan Golkar hanya akan berkisar 25% -
30%. Bahkan mungkin bisa lebih jelek apabila koalisi
PAN, PDI-Perjuangan, dan PKB bisa berjalan secara
solid untuk mempengaruhi masa mengambang untuk
memilih kelompok koalisi ini, dan 'money politic' bisa
ditekan sekecil mungkin.
Secara moral sebetulnya 'orde baru' sudah mengalami
kekalahan besar. Secara ril kekuasaan mereka pada
kondisi 'defensif' untuk sedapat mungkin bertahan
walaupun inipun akan sia-sia, karena arus perubahan
tidak mungkin bisa dihambat dimana rakyat sudah
muak dengan banyak 'trik-trik' atau tipuan para
pemimpin 'order baru' untuk membohongi rakyat
dengan janji2 palsu untuk menyejahterakan raktyat
yang kenyataannya hanya menyejahterakan para
pejabat, para kroni2-nya, dan keluarga pendukung
'orde baru' yang Golkar sebagai motor utamannya.
Kesimpulan.
Dengan terpatahkannya 'network majority link' yang
dimasa lalu sangat solid, ini adalah suatu gejala titik
terang bahwa 'reformasi total' telah bergulir dan tidak
mungkin bisa dihambat, walaupun dengan kekuatan
senjata ABRI sekalipun.
Kalau memang Pemilu '99 dijadikan sarana titik balik,
seyogyanya secara luas rakyat memilih dan
mendukung partai pro-reformasi (yang sudah jelas
adalah salah satu dari partai besar yang berkoalisi
yaitu PAN, PDI - Perjuangan, dan PKB) walaupun ada
juga beberapa partai yang lainnya.Yang penting tidak
memilih partai pro 'status quo' yang dimotori oleh
Golkar !
Mei '99
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 04:17:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++