----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.republika.co.id/9910/20/28295.htm

Megawati Soekarnoputri

Kemungkinan dukungan suara dari anggota fraksi:FPDIP, FPG, FPKB, FPDKB,
FKKI, FUG ''Aku takkan melupakan peristiwa di malam tanggal 23 Januari itu.
Di malam itu guntur seperti hendak membelah angkasa. Istriku terbaring di
kamar tidur yang telah disediakan oleh rumah sakit. Tiba-tiba lampu padam,
atap di atas kamar runtuh, mega yang gelap dan berat melepaskan bebannya dan
air hujan mengalir ke dalam kamar seperti sungai. Dokter dan juru rawat-juru
rawat mengangkat Fatmawati ke kamar tidurnya sendiri. Dia basah kuyup
seperti juga perkakas dokter, kain sprei, pendeknya semua. Di dalam
kegelapan dengan cahaya pelita lahirlah putri kami. Kami menamakannya
Megawati.''

Begitulah Bung Karno menggambarkan kisah kelahiran putri pertamanya,
Megawati Soekarnoputri, di Yogyakarta, sebagaimana tertulis di dalam buku
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat.

Tanpa mengecilkan kiprahnya sendiri, sosok Megawati kerap dilekatkan pada
sosok sang ayah, presiden pertama RI. Kehadiran Mbak Ega -- demikian
panggilan akrabnya -- di dalam kancah politik boleh dibilang diawali dengan
maraknya simbol-simbol Soekarno dalam kampanye PDI tahun 1987. Kedekatan itu
juga tecermin dari kerapnya Mega diajak mengikuti berbagai acara kenegaraan
dan kunjungan resmi ke negara lain, atau berdiskusi tentang masalah politik.
Percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno (Peristiwa Cikini) membekas kuat di
benak Megawati yang ketika itu ada di lokasi kejadian.

Pada 1972 -- seperti ditulis Majalah Tempo 22 Juli l972 -- Megawati menikah
dengan Hassan Gamal Ahmed Hassan, bekas diplomat pada Kedubes Mesir.
Pernikahan itu tidak disetujui oleh keluarga Megawati karena saat itu ia
masih dianggap sebagai istri sah dari suaminya terdahulu, Surindro
Supriarso, seorang penerbang TNI-AU. Supriarso dikabarkan tewas pada
kecelakaan pesawat terbang di Irian Jaya pada 1971. Setelah perkawinannya
dengan Hassan Gamal Ahmed Hassan dibatalkan pengadilan, Megawati kemudian
menikah dengan Taufik Kiemas, yang kini juga menjadi anggota DPR/MPR dari
Fraksi PDI-P. Dari pernikahannya dengan Taufik Kiemas, Mega beroleh tiga
anak.

Semasa mahasiswa, Mega pernah aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
(GMNI). Memang, meskipun tidak sampai menyelesaikan studinya, Mega sempat
mengenyam bangku kuliah di dua perguruan tinggi: Fakultas Pertanian
Universitas Padjadjaran (1965-1967) dan Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia (1970-1972).

Kiprahnya di panggung politik nasional dimulai tahun 1987. Ketika itu
menjelang pemilu, PDI di bawah Soerjadi sedang mencari figur yang efektif
menarik massa. PDI juga mencoba membangkitkan sentuhan emosional para
pendukung Soekarno. Pilihan pun tertuju pada keterlibatan keluarga Soekarno.
Sulit sebetulnya bagi keluarga Soekarno untuk memenuhi permintaan itu. Sebab
mereka telah bertekad sejak 1982 tidak terlibat dalam kekuatan politik
manapun. Akhirnya Megawati menjawab "tantangan" Soerjadi itu dan bergabung
dalam PDI, hingga terpilih menjadi anggota DPR periode 1987-1992.

Kongres PDI 1993 di Medan yang sarat konflik internal antara kubu Soerjadi
dengan kubu Alex Asmasoebrata, telah memunculkan Megawati sebagai tokoh
alternatif calon kuat Ketua Umum (Ketum) PDI. Mega dinilai sebagai figur
yang bisa menjembatani konflik intern partai ketika itu. Nama Megawati pun
muncul sebagai calon kuat Ketum PDI. Tapi jalan Mega ke kursi ketua partai
tidaklah mudah. Kongres PDI di Medan macet. Dilanjutkan dengan Kongres Luar
Biasa di Surabaya. Dalam KLB yang juga tidak mulus, Mega didaulat sebagai
Ketum PDI setelah 256 dari 305 cabang mendukungnya. Megawati lalu mendaulat
dirinya sebagai Ketum PDI de facto. Secara de jure, kepemimpinan Mega
dikukuhkan dalam Munas di Jakarta. Jadilah Megawati Ketum PDI 1993-1998.

Tahun 1996, konflik intern partai memaksa Mega berhadapan dengan gugatan
warganya sendiri. Beberapa cabang menghadap pemerintah menuntut penyelesaian
konflik melalui kongres. Lewat kongres yang kembali ricuh dan kuatnya
intervensi pemerintah itu, Ketum PDI kembali ke tangan Soerjadi.

Peristiwa ini menimbulkan pertentangan keras dalam tubuh partai. Megawati
dan pendukungnya tetap mengganggap sah memimpin PDI. Jalur hukum pun
ditempuh Mega dalam mencari penyelesaian konflik. Di tengah keraguan
terhadap kinerja hukum dan kuatnya kepentingan kekuasaan saat itu, langkah
tersebut mendapat simpati yang luas dari masyarakat.

Arus reformasi yang membebaskan pembentukan partai politik, akhirnya
mendorong Megawati untuk membentuk partai sendiri. Maka, pada 10 Januari
1999 Megawati mendeklarasikan pembentukan PDI Perjuangan. Dan, melalui
partai baru inilah Megawati akhirnya berhasil tampil menjadi calon presiden

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 06:59:21 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke