----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------
From: KOALISI NGO HAM Aceh
Serambi Rabu, 20 Oktober 1999
Danrem 012/TU:
TNI Bukan Musuh rakyat
*Kapolres A Utara: Polisi Bukannya Takut
Serambi-Banda Aceh
Danrem 012/TU Kolonel Czi Syarifuddin Tippe menyatakan prihatin dan
sekaligus menyatakan komplain terhadap kelompok masyarakat yang tidak peduli
terhadap pembantaian dan penculikan anggota TNI dan Polri yang belakangan
ini semakin marak di Aceh.
"Saya sangat prihatin, kenapa kalau TNI ataupun Polri yang mati ditembak,
diculik orang bersenjata, tak satupun pihak yang memberikan komentar. Kan
TNI dan Polri juga manusia yang perlu hak hidup," katanya kepada para
wartawan dalam konprensi pers yang digelar di gedung PWI Aceh, kemarin
(19/10).
Menurut Tippe, sejak ditariknya TNI dari desa-desa di Aceh telah terjadi
penyerangan, penembakan, pembunuhan, dan penculikan terhadap TNI dan Polri
oleh kelompok bersenjata. Terhitung 24 Agustus sampai 18 Oktober 1999,
jumlah anggota TNI yang meninggal 13 orang, enam luka berat, dan tiga
hilang. Sedangkan dari Polri 12 meninggal, 10 luka berat, dan tiga hilang.
Menurut Tippe, ditariknya TNI dari desa-desa di Aceh untuk menyahuti
aspirasi rakyat. "Yang jelas TNI sangat menjunjung tinggi demokrasi, Tapi
itikad baik dari TNI ini telah pula dimanfaatkan pihak tertentu untuk terus
membuat kekacauan," katanya.
Maraknya pembunuhan dan penculikan terhadap TNI di Aceh, ketika anggota TNI
itu berada di tengah masyarakat dan tidak membawa senjata. Umumnya, mereka
dibantai ketika mengunjungi anak dan istrinya atau melihat orang tuanya yang
sakit. Dalam perjalanan, mereka ditembak ataupun diculik. "Tidak
bersenjatanya TNI di Aceh semata-mata mematuhi perintah pimpinan, dengan
tujuan agar keberadaan TNI tidak membawa keresahan bagi rakyat. Tapi ketika
mereka mengunjungi keluarganya, mereka dibantai," ujar Syarifuddin Tippe.
Bahkan ia menyayangkan manakala anggota TNI dan Polri berguguran, tak
seorangpun pengamat memberikan tanggapan, menoleh, ataupun mengomentarinya.
"Saya tidak menyatakan bahwa TNI tidak ada yang salah. Tapi tolong jangan
mendiskreditkan TNI dengan HAM. Tapi marilah kita lihat secara Islami."
Danrem menyatakan, kelompok bersenjata yang sedang bermain di Aceh saat ini,
bukanlah semata-mata dari pihak GAM, tapi juga sindikat kejahatan yang
mencari keuntungan bagi kelompok ataupun pribadinya.
Begitupun, Tippe tidak menolak terhadap adanya oknum TNI yang juga ikut
bermain. Tapi, katanya, yakinlah itu perbuatan oknum dan sama sekali tidak
tidak direstui pimpinan taupun kesatuannya. "Tolong beritahu saya, jika ada
oknum TNI yang terlibat dalam kejahatan apalagi bersama-sama dengan sindikat
kejahatan," harap Danrem.
Bukan takut
Sementara itu dari Lhokseumawe, Kapolres Aceh Utara Letkol Pol Drs Syafei
Aksal mengatakan pihak kepolisian dan aparat keamanan secara umum bukan
takut untuk melakukan gerakan pemberantasan dan penumpasan pelaku tindak
kriminalitas yang telah meresahkan masyarakat di wilayah hukumnya.
Sebaliknya, aparat selama ini masih menahan diri demi mengutamakan
keselamatan masyarakat luas.
Kendati demikian, menurut Kapolres, dalam wawancara khusus kemarin, kalau
pelaku-pelaku tindak kriminalitas seperti pemerasan, perampasan, dan
tindak-tindak gangguan Kamtibmas lainnya tidak segera menghentikan aksinya,
polisi akan bergerak ofensif.
Ia menggambarkan, bahwa saat ini tingkat keresahan masyarakat akibat aksi
sipil bersenjata yang melakukan serangkaian tindak kriminalitas sudah cukup
meresahkan masyarakat. "Sebagai pengayom masyarakat, polisi tidak akan
tinggal diam melihat keresahan itu. Sesuai semangat pengabdian yang diemban
polisi, kami akan segera bertindak untuk meredam keresahan."
Namun, ia mengingatkan, bahwa polisi tidak mungkin menjaga masyarakat secara
orang per orang. Karena itu, untuk membantu upaya pemberantasan dan
penumpasan, Kapolres menyerukan segenap lapisan masyarakat untuk tidak perlu
takut-takut menginformasikan setiap adanya upaya pemerasan dan perampasan
dari pelaku kriminalitas. Masyarakat, imbau Kapolres, tidak perlu takut
menginformasikannya.
Kepada para kriminalis yang selama ini telah memanfaatkan dan menikmati
keuntungan pribadi di balik ketidakmenentuan situasi Kamtibmas di Aceh,
dewasa ini, diingatkan Kapolres, untuk segera menghentikan aksinya.
Dalam peristiwa di komplek Pemda Aceh Utara selepas maghrib, Senin (18/10),
menurut kapolres, dua pemuda bersenjata api pistol FN tewas ditembak aparat
keamanan ketika hendak memeras dan merampas sepeda motor milik salah seorang
penghuni komplek itu.
Kapolres menjelaskan, kedua pemuda berbadan tegap yang mengendarai sepeda
motor GL Pro masuk ke komplek pegawai Pemda Aceh Utara itu sekitar pukul
18.15 WIB. Wajah kedua orang ini sudah cukup dikenal warga setempat karena
mereka acap mondar-mandir ke pemukiman tersebut.
Bahkan, Minggu (17/10) malam, dilaporkan, kedua pria yang diidentifikasi
bernama Zulkifli (25) dan Saiful (26), penduduk Kecamatan Meurah Mulia dan
Tanah Luas, Aceh Utara, melancarkan aksi pemerasan dan upaya perampasan
sepeda motor. Namun, warga yang hendak dirampas harta bendanya itu
bersitegang. Sehingga mereka kembali lagi Senin malam dengan membawa senjata
api.
Kedua pria yang tewas ditembak setelah membalas tembakan peringatan polisi
untuk menyerahkan diri dengan dua tembakan ke arah petugas, diungkapkan
kapolres, selama ini memang menjadi buruan kepolisian karena keterlibatannya
dalam serangkaian tindak pemerasan di Kecamatan Banda Sakti. (tim)
----------------------------------------------------------------------------
----
Di Tapaktuan, Penjara Dibobol 24 Napi Kabur
* Rumah Polisi Dimolotov
Serambi-Tapaktuan
Sedikitnya 24 penghuni rumah tahanan negara (Rutan) Tapaktuan, Selasa
(19/10)sore, melarikan diri setelah menyandera tiga penjaga (sipir). Pihak
kepolisian yang melakukan pengejaran, hingga tadi malam belum berhasil
menangkap kembali seorang pun dari napi yang kabur tersebut.
Sementara itu, Selasa dinihari, rumah kediaman Kopka Pol
Syamsulrijal --anggota Polsek Kluet Utara-- rusak setelah dibom molotov oleh
orang tak dikenal. Warga Kotafajar --ibukota kecamatan-- dilanda ketakutan
sehingga tak berani ke luar rumah begitu mendengar suara ledakan sebanyak
dua kali. Apalagi, beberapa saat setelah suara ledakan, terdengar retetan
letusan senjata yang dilepaskan aparat yang bermarkas di Polsek.
Peristiwa kaburnya tahanan dan napi di Rutan Tapaktuan terjadi sekitar pukul
15.15 WIB. Seperti biasa setelah shalat zuhur, tahanan dan napi berzikir
dalam masjid di kompleks penjara. Sebenarnya waktu itu, ada lima pegawai
yang bertugas jaga, namun seorang dilaporkan berhalangan. Dan, dari empat
petugas jaga yang tinggal, seorang di antaranya keluar untuk beli nasi.
Entah bagaimana, tiga petugas jaga itu bisa disandera di dalam kamar nomor
12. Drama penyenderaan petugas jaga penjara itu, menurut sebuah sumber
dimotori Afrizai, salah seorang tahanan asal Bakongan. Setelah menyandera
petugas jaga, puluhan tahanan dan napi meloloskan diri dengan melompati
tembok sebelah barat. Dari sini, mereka lari berpencar menuju kawasan gunung
di belakang penjara yang ditumbuhi pohon pala.
Menurut Plh Kepala Rutan Tapaktuan, Salda yang dihubungi Serambi tadi malam,
jumlah tahanan dan napi yang kabur sebanyak 24 orang, terdiri 20 tahanan dan
4 orang napi. Jumlah penghuni Rutan sebanyak 40 orang, terdiri 12
narapidana, dan 28 tahanan. Namun, dua orang tahanan sekitar pukul 14.00
WIB, kemarin, menurut Salda, terpaksa dilepas demi hukum, karena massa
tahanannya telah berakhir. Mereka, Muhammad Harun (22) dan Muhammad Jalil
(21).
Kedua tahanan tersebut harus dilepas demi hukum, setelah masa tahanan habis
masa berlaku. Sementara untuk memperpanjang masa tahanan tak dapat
dilakukan, lantaran seluruh hakim Pengadilan Negeri (PN)
Tapaktuan --termasuk ketua-- telah eksodos keluar daerah. "Karenanya, kedua
harus dilepas demi hukum," jelas Salda.
Ke-24 yang lolos, menurut Plh Kepala Rutan Tapaktuan, terdiri 20 orang
tahanan hakim dan jasa, sedangkan 4 lainnya merupakan napi yang tengah
menjalani hukuman. Kecuali nama-nama tahanan dan napi yang kabur (nama-nama
lihat daftar-red), sampai tadi malam, Salda belum dapat merincikan asal
daerah mereka, demikian jenis tindak kejahatan yang dilakukan.
Secara umum dijelaskan, mereka ditahan karena diduga terlibat tindak
kejahatan narkotika, pencurian, penggelapan, dan pengrusakan. Kasus tersebut
dalam proses persidangan, namun kegiatan persidangan terhenti selama satu
bulan, karena seluruh hakim mengungsi keluar daerah.
Begitu mendapat laporan bahwa puluhan tahanan dan napi Rutan Tapaktuan
kabur, Kapolres Aceh Selatan segera mengerahkan sejumlah putugas untuk
melakukan pengejaran. Aksi pengejaran di kawasan gunung bagian belakang
penjara itu, aparat polisi sempat melepaskan sejumlah tembakan.
Wakapolres Aceh Selatan, Mayor Pol Tassar yang dihubungi tadi malam
menjelaskan, dalam aksi pengejaran yang berlangsung selama beberapa jam
dengan menyisir kawasan pergunungan yang mengapit kota Tapaktuan, tak
berhasil menangkap kembali tahanan yang lari. Tadi malam, petugas terpaksa
ditarik, karena kondisi cuaca tak memungkinkan. Upaya pencarian dilanjutkan
pagi hari ini, karena berat dugaan mereka masih bersembunyi dalam kawasan
pergunungan itu.
Dibom
Dari Kluet Utara dilaporkan, rumah pribadi Kopka Pol Syamsurijal, anggota
Polsek setempat berlokasi di Kotafajar mengalami kerusakan akibat lemparan
bom molotov oleh orang tak dikenal. Sedikitnya, dua bom molotov yang
dilemparkan meledak di depan ruko anggota polisi itu sekitar pukul 04.00
WIB. Ledakan keras itu menghancurkan jendela kaca depan ruko polisi itu.
Demikian juga sejumlah perabotan di ruang tamu.
Tak ada korban jiwa dalam aksi pemboman itu, karena Kopka Pol Syamsurijal
bersama isteri dan anaknya dilaporkan telah mengungsi ke Mapolsek setempat
sekitar 300 meter dari lokasi. Ia mengungsi lantaran situasi keamanan
akhir-akhir ini. Hanya, beberapa menit setelah suara ledakan, terdengar pula
rentetan letusan senjata yang dilepaskan petugas Mapolsek Kluet Utara.
Tentang letusan senjata yang dilepaskan petugas, menurut Wakapolres Mayor
Pol Tassar, untuk membalas tembakan yang dilepas pelaku pembom. Namun,
katanya, tembakan itu tak menimbulkan korban jiwa.(tim)
----------------------------------------------------------------------------
----
Kampanye & Jaringan
Koalisi N.G.O-HAM Aceh
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Oct 1999 jam 03:21:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++