----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Stockholm, 23 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PENGARUH POLITIK NASIONALISME GUS DUR TERHADAP MALAYSIA
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Tanggapan untuk saudara Kamal Othman (USA).

Alhamdulillah, kesempatan untuk kali ini saya telah sempat membaca satu
tanggapan dan pertanyaan dari saudara Kamal Othman yang berasal dari
Malaysia dan sekarang tinggal di Amerika. Pada tanggal 21 Oktober 1999
saudara Kamal Othman telah menyampaikan isi pikirannya sebagai berikut:

"Assalamualaykum dari saya orang Malaysia di bumi US.
Saya enjoy membaca tulisan bapak. Sekarang Gus Dur sudah menjadi
president. Saya tahu dia seorang tokoh kontroversi. Apa pendapat bapak
impactnya ke Malaysian politics? Mana lebih baik antara Gus Dur dan
Mahathir pada pandangan bapak? Terima kasih"  ( Kamal Othman , Gus Dur
and impact to Msia, 21 Oktober 1999).

Baiklah saudara Kamal Othman.

Sebenarnya kalau kita teliti lebih dalam politik yang akan dijalankan
oleh Gus Dur adalah politik yang berdasarkan kepada idea nasionalisme
yang berati idea untuk mencintai bangsa dan negara sendiri yang
didasarkan kepada kebangsaan, yaitu ciri-ciri yang menandai golongan
bangsa, yang ada juga sedikit disinggung oleh Islam. Walaupun sebenarnya
Islam tidak mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjadi seorang
nasionalis.

Karena dasar atau landasan untuk dipakai dalam perjuangan menegakkan
Daulah, pemerintahan, hukum, aturan dalam Islam adalah aqidah Islam,
bukan idea atau paham nasionalisme. Paham nasionalisme akan menjurus dan
cenderung melahirkan paham rasisme, yaitu suatu paham yang menerapkan
penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik, seperti warna kulit, di
masyarakat.

Memang Islam mengakui adanya suku, kabilah, golongan, bangsa, tetapi
tidak berarti bahwa kesukuan, kekabilahan, golongan, kebangsaan harus
dijadikan sebagai landasan perjuangan dalam membangun daulah,
pemerintahan, masyarakat, bangsa, politik, ekonomi, sosial, sehingga
terpisah antara bangsa yang satu dari bangsa yang lain atau suku yang
satu dari suku yang lain, karena kalau demikian bukan seperti yang
dimaksudkan oleh ayat "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah
orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal."  (Al Hujurat,49:13). Jadi dengan
dijadikannya bangsa dan suku adalah untuk saling kenal mengenal, bukan
untuk dijadikan alat pemecah belah.

Nah kalau kita telusuri lebih dalam lagi maka sebenarnya ummat Islam
adalah "Sesungguhnya kamu adalah ummat yang satu, Aku adalah Tuhanmu,
maka sembahlah Aku" (An-Biyaa',21:92). "Dan sesungguhnya kamu adalah
ummat yang satu, Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku" (Al
Mu'minun,23:52 ). Jadi walaupun kita terdiri dari berbagai bangsa dan
suku tetapi ummat Islam adalah ummat yang satu dengan satu aqidah Islam
yang beribadah dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Karena itulah, ketika Rasulullah bersama kaum Yatsrib (kaum Anshar),
Kaum Muhajirin (kaum muslimin pendatang dari Mekkah) dan Kaum Yahudi
melahirkan Undang Undang Madinah, maka yang timbul didalamnya adalah
persatuan kaum Muslim dan non Muslim tanpa memandang nasionalitas,
kebangsaan, kesukuan dan ras yang hidup di Daulah Islam Rasulullah yang
berdasar aqidah Islam dibawah pimpinan Rasulullah yang apabila timbul
perbedaan pendapat di dalam suatu soal, maka penyelesaiannya
dikembalikan pada (hukum) Tuhan dan (keputusan) Muhammad SAW.

Nah sekarang, disinilah kesalahan menurut pemikiran saya kalau ada
muslim yang menjadikan dasar perjuangannya dengan memakai landasan paham
nasionalisme dan kebangsaan, bukan kepada landasan yang didasari dari
aqidah Islam.

Dan disinilah kesalahan sebagian kaum muslimin sekarang, bukan hanya
yang ada di Indonesia saja, melainkan yang ada di hampir seluruh dunia,
bahwa nasionalisme yang dijadikan sebagai landasan perjuangan mereka
untuk menyatukan umat.

Justru yang menurut saya, paham nasionalisme ini akan melahirkan sikap
kesukuan, kekabilahan, kebangsaan yang dalam, sehingga bisa melahirkan
paham rasisme. Dan inilah yang harus diberantas oleh kaum muslimin.

Kaum muslimin tidak menjadikan apa itu yang disebut kesukuan, ras,
nasionalitas, kebangsaan sebagai dasar perjuangan, yang dijadikan dasar
hubungan dan perjuangan adalah hanya aqidah Islam yang melahirkan
ukhuwah Islamiyah. Sehingga, apabila seorang muslim jumpa dengan muslim
lain, yang ditanya bukan darimana saudara asal, tetapi yang ditanya
adalah apakah saudara muslim? tanpa melihat apakah dia itu warna
kulitnya hitam, putih, kuning, sawo matang, yang penting adalah karena
adanya kesamaan dalam aqidah Islam sehingga lahirlah apa yang dinamakan
dengan ukhuwah Islamiyah.

Nah, apa pengaruhnya, politik nasionalisme Gus Dur yang didampingi
Megawati terhadap politik Malaysia?

Jawaban saya adalah, tidak banyak, selain masalah kestabilan keamanan
dan kestabilan ekonomi. Itupun dengan syarat yaitu, apabila Daulah
Pancasila dengan ideologi nasionalisme-pancasila-nya yang dijalankan Gus
Dur+Mega berhasil jalan baik, dimana kestabilan keamanan di lingkungan
daerah Indonesia terjaga, tidak ada lagi kelompok-kelompok yang ingin
memisahkan diri, seperti Aceh, Irian Barat, Maluku, Makasar Selatan,
maka keadaan yang stabil itu akan banyak mempengaruhi positif kepada
keadaan politik, ekonomi dan sosial Malaysia.

Akan tetapi, kalau timbul pergolakan seperti adanya keinginan sebagian
daerah untuk memisahkan diri, seperti Aceh, Irian Barat, Maluku, Makasar
Selatan (dan ini sekarang memang sedang berlangsung), maka ini sangat
besar pengaruh negatif-nya kepada situasi politik, keamanan, sosial dan
ekonomi Malaysia, dan bahkan bukan hanya Malaysia saja, tetapi seluruh
wilayah negara-negara di Asia-Pasifik, bahkan diseluruh dunia.

Jadi sekarang, saya melihat terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden dan
Megawati sebagai Wakil Presiden di Daulah Pancasila, ternyata masih
membangkitkan kekecewaan rakyat yang tinggal di bagian timur Indonesia,
seperti daerah Makasar, daerah Maluku, Irian Barat, tentu saja tidak
ketinggalan daerah Aceh.

Kalau keadaan ini terus berlangsung, maka saya sudah bayangkan kejadian
yang tidak stabil dalam keamanan, ekonomi, dan politik, yang akhirnya
akan mempengaruhi negatif kepada negara-negara tetangga disekitar
Indonesia.

Adapun masalah mana lebih baik antara Gus Dur dan Mahathir, seperti yang
saudara Kamal tanyakan, maka jawaban saya adalah, masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Tetapi yang sama adalah
masing-masing sama membawa paham nasionalisme-kebangsaan, bukan idea
yang didasarkan kepada aqidah Islam sebagai dasar persatuan.

Inilah sedikit tanggapan saya untuk saudara Kamal Othman (USA).

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Oct 1999 jam 20:45:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke