---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Ada yang mengganjal otak saya belakangan ini, yaitu kesadaran bahwa : Manusia Indonesia tidak pernah kapok untuk melakukan kesalahan yang sama terus menerus. Sejak Gus Dur menjadi Presiden, hampir semua koran, majalah, newsgroup,milis internet,komentar analis,obrolan ringan berisi puja-puji tentang kehebatan Gus Dur, kearifan Gus Dur, Kepiawaian sepak terjangnya, keluasan wawasan nya,keperduliannya pada orang kecil..bla..bla..obladi..oblada.. bahkan beberapa tokoh NU membuat mitos baru bahwa Gus Dur adalah keturunan wali suci yang mampu membaca masa depan dan punya daya ingat maha tinggi ( sanggup menghapal ribuan nomor telepon ) seperti yang bisa anda baca di Koran Suara Merdeka. Gus Dur memang membawa angin segar perubahan, tapi anda harus ingat..cara-cara memuja muji begini adalah persis seperti cara-cara manusia Indonesia ketika memuja Suharto pada awal orde baru, sehingga sang "Tuhan Jawa" ini menjadi hilang ingatan dan mangkak, dan merasa berhak memerintah seumur hidup , menyusul Sukarno yang juga kita berhalai sebagai proklamator,orator jenius,yang akhirnya juga menggila dengan mengangkat dirinya sendiri sebagai " Presiden seumur hidup " (Dekrit Presiden 1959). Apakah kita tidak pernah kapok dengan terus menerus menciptakan diktator? Apakah kita mesti ditabok berkali-kali agar sadar bahwa jaman idol sudah lama punah? sekarang kamu dan saya, kita semua berada dalam jaman pengetahuan empiris.. Gus Dur memang lebih baik dari Suharto ( Presiden for 32 years ) Juga lebih baik dari Sukarno ( Presiden for 21 years ), ide negara setengah federasinya juga layak dicermati, kesederhanaanya juga perlu kita berikan respek, tapi ingat,Dua Presiden Indonesia pertama juga dulu mengawali eranya dengan sikap sederhana.. Jaman sekarang yang kita perlukan adalah sikap oposisi, membiarkan Gus Dur busuk dalam pujian tanpa ada semacam kontrol oposisi adalah sebuah fallacy. Jika ini terjadi sejarah lama yang pedih jelas akan punya kemungkinan terulang kembali. Manusia menjadi cerdas lantaran pengalaman, seorang jagoan empiris seperti Locke bilang " All knowledge is experiential " penganut Budhist bilang " Meditation is experiential ". Tapi pengalaman apa yang telah diserap oleh manusia Indonesia selama ini selain dukungan, menjagokan, pujian, pada semua pemimpin perubahan, pada semua pemimpin orde ? Kita mengetahui dan mengalami bahwa 2 orde yang lewat selama ini cuma menghasilkan diktator,koruptor,budaya peras,dan kultur slogan. Era " Bapak Pembangunan " menghasilkan kemiskinan, Era " Penyambung lidah rakyat " memproduk kebrutalan dan penindasan masyarakat. Era Reformasi.. ? Sebuah demokrasi tidak berjalan bila tidak ada sebuah kekuatan pengontrol bernama oposisi, dan oposisi tidak akan lahir dari manusia penyembah idol dan tidak mau belajar dari kesalahan. Membiarkan sebuah lembaga kepresidenan menyetir semua aspek kehidupan, berlindung pada UUD 45,punya hak veto mengangkat atau menggagalkan semua Gubernur dan semua Rektor Universitas negri sambil membelai-belai TNI adalah seperti membiarkan seorang pendeta Aztec membunuh perawan di altar mereka yang penuh idol menjijikan. Barangkali orang Indonesia sebenarnya tidak bodoh, Tapi kita tidak punya perangkat mental yang kuat untuk mau mempelajari sejarah.. Gus Dur boleh jadi seorang Presiden tuna netra, Tapi saya khawatir..yang lebih buta dari dia sebenarnya justru kita semua. Para penyembah idol yang selama ini cuma mencari sensasi religious ecstasy, kepuasaan sesaat,penghamba-hambaan pada simbol para manusia suci,nabi dan wali. Ciri-ciri sebuah tradisi masyarakat monolith penyembah batu yang sebenarnya sudah ditenggelamkan jaman.. Hasan Basri October 24, 1999 ( Ganisha, sang creator website http://proletar.8m.com/ telah menutup guest book dan menggantikannya dengan milis diskusi. Terus terang saya jadi kehilangan bahan koreksi dan input dari para netter.. Tanpa bermaksud promosi , walaupun saya sebenarnya kurang sreg dengan milis dikusi yang bernama "Proletar " ( seolah Proletar adalah berhala intelektual yang sakti mandraguna ), saya mengundang anda untuk bergabung dalam milis ini untuk berdebat bebas, berhujat-hujat adu memaki,adu argumentasi ilmiah atau sekedar ngebacot,komunis atau fanatik regilious, anarkis atau nasionalis,eks konglomerat atau anak tukang tahu,cina atau arab, homosex atau hetrosex, hemaprodit atau tidak bekelamin, PHD atau dukun Tarrot, Pemilik pabrik jamu atau tukang jamu. Milis ini akan saya jadikan sebagai pengajian bebas universalis yang merangkum semua hal, dari sekularis, ortodokisme agama, filsafat , cerbersal Bonang,laporan jalan-jalan,surat-surat cengeng versi netter penggemar film India, puisi para penyair yang gagal ngetop nyaingin Rendra, para sufi baik yang geblek atau yang sekedar goblok( semua sufi geblek ) Para perjaka atau dara yang mengintai jodoh, dan yang paling terpenting... Kita semua bisa saling kenal dan mudah-mudahan bisa makin pintar.. Silahkan subcribe dengan mengisi email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Danke ..Thanks..Makasih ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Oct 1999 jam 00:05:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
