----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 26 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SEKULARISME ADALAH RACUN
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Tanggapan untuk saudara Ahmad Ramdani Salim.

Alhamdulillah, pada tanggal 26 Oktober 1999, saudara Ahmad Ramdani
Salim, yang tinggal di [EMAIL PROTECTED] , telah menyampaikan kembali
tanggapannya terhadap beberapa tulisan saya yang menyinggung masalah
sekuler.

Dimana saudara Ahmed mengambil subject "Sekuler dan Non ...
(A.Sudirman)", yang sebagian isinya menyimpulkan bahwa "Sesungguhnya
kaum yang memusuhi Islam setidaknya telah berbangga bahwa istilah
pemecah belah kelompok ideologi kenegaraan tersebut telah berhasil
ditanamkan secara baik dan tumbuh subur terutama mereka yang bersikukuh
bahwa ada kelompok sekuler dan non sekuler dalam menilai pemikiran dan
konsep produk hukum / perorangan" (Ahmad Ramdani Salim, Sekuler dan Non
... (A.Sudirman), 26 Oktober 1999).

Baiklah Saudara Ahmed Ramdani Salim.

Sebelum saya memberikan tanggapan kepada tulisan saudara Ahmed yang
ditujukan kepada saya dan beberapa rekan di maillis [EMAIL PROTECTED],
maka untuk memberikan sedikit gambaran apa itu yang disebut dengan
sekuler, sekularis dan sekularisme, maka saya tampilkan dulu apa itu
sekuler.

Sekuler artinya adalah bersifat dunia atau kebendaan yaitu bukan
bersifat keagamaan atau kerohanian. Orang yang
sekularis adalah orang yang menganut aliran filsafat yang menghendaki
agar kesusilaan atau budi pekerti tidak didasarkan pada ajaran agama.
Sedangkan sekularisme adalah paham atau pandangan filsafat yang
berpendirian bahwa
moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,
1988).

Nah, tidak perlu kita gali jauh-jauh mengenai pengertian sekuler,
sekularis dan sekularisme, karena sudah ada didepan hidung dan mata kita
di Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang sekuler.

Jadi, kalau saya membahas masalah sekuler, sekularis dan sekularisme
waktu sekarang-sekarang ini, sebenarnya sudah ada dan hidup di Daulah
Pancasila tanpa disadari. Karena itu, memang tidak benar kalau ada yang
mengatakan bahwa mereka telah dibagi-bagi menjadi golongan manusia
sekuler dan non sekuler oleh orang yang berpikiran dikotomi dan tidak
universal.

Justru menurut saya, karena telah dijadikannya dasar falsafah negara
pancasila yang sekuler itulah yang menyebabkan rakyat Daulah Pancasila
terbagi kedalam golongan sekularis dan non sekularis.

Jadi sebenarnya, menurut pemikiran saya, para pendiri Daulah Pancasila
yang telah berkomitment untuk menjadikan pancasila sebagai falsafah
negara, mereka itulah, baik disadari atau tidak, merupakan sumber
timbulnya sekularisme di Daulah Pancasila.

Mengapa saya mengatakan bahwa pancasila adalah falsafah negara yang
sekuler ?  Untuk, menjawabnya, telah saya tulis dalam tulisan-tulisan
saya beberapa hari yang lalu, diantaranya "Dasar negara dibicarakan" (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991018.htm ) dan tulisan "Masih dasar
negara dibicarakan" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991018a.htm ).

Hukum-hukum Islam yang terpancar adalah berdasarkan kaidah yang telah
ditetapkan oleh Allah swt, bukan yang telah ditetapkan oleh
kaidah-kaidah universal hasil pemikiran manusia, seperti yang terdapat
di negara-negara sekuler barat dan timur.

Memang dalam beberapa hal ada kesamaan keagungan konsep dan kaidah Islam
dengan konsep dan kaidah hasil pemikiran manusia, misalnya, masalah
pembunuhan, pencurian, penipuan, korupsi, pelanggaran hak asasi manusia,
ketidak adilan, tidak pegang amanah dan banyak lagi.

Tetapi, tidak berarti bahwa walaupun adanya kesamaan konsep dan kaedah
Islam dengan konsep dan kaedah hasil pemikiran manusia, maka yang
diambil oleh kaum muslimin adalah konsep dan kaedah hasil pemikiran
manusia, dan meninggalkan konsep dan kaedah Islam (Contohnya, mengambil
konsepsi pancasila).

Perpaduan dan penggabungan konsep dan kaedah Islam dengan konsep dan
kaedah hasil pemikiran manusia dalam hal-hal yang menyangkut aqidah
adalah tidak mungkin. Akan tetapi dalam masyalah kehidupan
bermasyarakat, bergaul, bernegara dan berpolitik, maka konsep dan kaedah
Islam bisa bertoleransi terhadap konsep dan kaedah hasil pemikiran
manusia.

Misalnya, dalam Daulah Islam Rasulullah yang berdasarkan aqidah Islam
dengan menghormati agama lain dan yang konstitusi-nya berdasarkan dari
Al Quran dan Sunnah, tidaklah melarang rakyatnya untuk meninggalkan dan
memaksakan agar agama yang dianutnya dibuang kemudian harus masuk Islam,
atau ditekannya kelompok minoritas, karena bebeda ideologi dengan
ideologi Islam.

Jadi, dengan menggunakan dasar Islam, bukan berarti hancurnya agama lain
dan hilangnya etnis lain, justru sebaliknya, dengan tampilnya Islam,
maka kerukunan agama bisa terjamin, karena memang Islam menghormati
agama lain, agama kamu untuk kamu, agama kami untuk kami, dalam Islam
tidak ada paksaan.

Karena itu, salah kalau ada orang, baik itu dari kalangan muslim ataupun
non muslim yang beranggapan apabila Islam menjadi dasar negara, maka
agama lain akan sirna, pengikut agama lain akan diintimidasi dan
kelompok minoritas akan hilang.

Pemikiran yang demikian, menurut saya adalah salah besar, dan
sebenarnya, itu hanya digembar-gemborkan oleh mereka yang tidak senang
kepada Islam dan tidak mengerti sebenarnya bagaimana menurut Islam yang
telah dipraktekan oleh Rasulullah saw dalam membangun Daulah Islam
Raulullah di Yatsrib dahulu dan yang telah dikembangkan dan diteruskan
oleh Khulafaur Rasyidin.

Nah sekarang, kita kembali ke Daulah Pancasila yang sekuler lagi.

Para elit politisi dan para pemimpin di Daulah Pancasila, baik dari
golongan Islam atau non Islam, apabila mereka mempunyai visi dan misi
yang menjurus kepada sekularisme, maka mereka sebenarnya sudah mempunyai
andil atau bagian untuk memperluas dan menyebarkan sekularisme lebih
luas lagi.

Janganlah kita silau dengan apa yang terjadi di dalam gedung MPR, ketika
Gus Dur terpilih menjadi presiden, dengan serentak sebagian anggota MPR
mengucapkan Allahu Akbar, kemudian ditafsirkan bahwa itu menunjukkan
para pelakon yang ingin menegakkan aturan-aturan, hukum-hukum Islam di
MPR.

Yang sebenarnya, menurut pemikiran saya, mereka hanyalah rasa
spontanitas, atas keberhasilan Gus Dur yang nasionalis-kebangsaan bisa
mengalahkan Mega yang nasionalis-pancasila. Bukan, berarti dengan
berteriak Allahu Akbar untuk tegaknya hukum-hukum Allah dan pemerintahan
serta Daulah Islam Rasulullah.

Jadi, tidak benar, apabila riuh gemuruh, suara takbir dan salawat di
dalam gedung MPR ketika Gus Dur terpilih jadi presiden Daulah Pancasila
dengan UUD 1945-nya yang sekuler, dengan perbedaan suara yang tidak jauh
berbeda dengan suara yang diperoleh Mega, menggambarkan akan tampilnya
Islam di bumi Indonesia.

Dengan adanya kebebasan berpolitik setelah hampir 32 tahun hidup dalam
cengkraman rezim militer diktator Soeharto yang
nasionalis-sukuis-pancasilais, ternyata tidak dipergunakan oleh para
elit politisi muslim untuk berusaha dengan visi membangun persatuan
dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk
beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT, dengan misi membangun
kembali satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan
pemerintahan dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan
menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah Islam
dengan menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari
Al Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan,
kesukuan dan ras.

Melainkan, masih tetap ingin berenang dan berendam dalam buih-buih
sekularisme yang telah diciptakan oleh pancasila dengan ditunjang oleh
UUD 1945-nya yang sekuler.

Inilah sedikit tanggapan saya untuk saudara Ahmad Ramdani Salim.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Oct 1999 jam 11:32:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke