----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Laporan Divisi Kampanye & Jaringan Koalisi N.G.O-HAM Aceh (N.G.O's Coalition for Human 
Rights)
--------------------------------------------------------------------------------

Kondisi Keamanan di Aceh Tidak Menentu, Penculikan Dan Pembunuhan Meningkat

Mapolsek Digranat dan Polisi di Culik

Sebuah ledakan granat yang dilemparkan orang tak dikenal kearah Mapolsek Krueng Sabe, 
Aceh Barat, Minggu (24/10) malam mengakibatkan beberapa aparat keamanan dan Kamra yang 
berada di tempat tersebut mengalami luka-luka ringan. Sementara itu pembunuhan dan 
penculikan,baik terhadap warga sipil maupun aparat kepolisian terus meningkat di 
beberapa wilayah di Aceh.

Kapolres Aceh Barat, Letkol. Pol. Her Aris Sumarman, Senin (24/10) kepada wartawan 
mengatakan, ia sudah berada di lokasi kejadian 10 menit setelah kejadian. 
Dikatakannya, tidak ada yang tewas ataupun mengalami luka seius dalam insiden itu. 
"Korban hanya mengalami luka lecet akibat terkena pecahan ledakan granat," ujarnya. 
Tetapi ia tidak merinci nama dan jumlah anggota polisi serta Kamra yang menjadi korban.

Sedangkan menurut Sumber Koalisi N.G.O-HAM Aceh di Meulaboh, Aceh Barat, para penduduk 
di sekitar Mapolsek menginformasikan, mereka sempat melihat sejumlah aparat kepolisian 
dan Kamra yang terluka dilarikan ke Puskesmas Calang, setelah kejadian itu. "Dua orang 
diantaranya dalam keadaan kritis katas," sumber masyarakat.

Sumber di Polres Aceh Barat mengatakan, akibat ledakan telah merusakkan bagian ruangan 
radio, sel dan ruan pemeriksaan. Pihak kepolisian juga mengatakan, ketika ledakan 
terjadi sejumlah aparat keamanan sedang berada di bagian depan. Sementara ledakan 
terjadi di bagian belakang dimana seorang Kamra sedang bertugas. "granat itu 
dilemparkan dari arah belakang dan pelakunya langsung kabur," tambah Kapolres.

Sementara itu, dari Aceh Utara diperoleh kabar, Bukhari Ali anggota Polsek Peudada, 
Kabupaten Aceh Jeumpa yang baru terbentuk, Minggu (24/10) malam diculik orang tak 
dikenal setelah sebelumnya dihubungi seseorang melalui telepon untuk datang ke suatu 
tempat. Menurut Kapolres Aceh Utara, Letkol. Pol. Drs. Syafei Askal, dengan demikian 
pada bulan Oktober ini sudah tiga orang anggota Polri di jajaran kepolisian Aceh Utara 
yang hilang diculik dan tidak diketahui nasibnya.

Sedangkan dari Sigli dilaporkan, Iskandar A Wahab (40), seorang petugas UPTD (Pajak) 
Kecamatan Kota Bhakti, Pidie, Senin (25/10) sekitar pukul 21.30 Wib tewas ditembak 
dengan empat lubang peluru ditubuhnya di kawasan Peusanggrahan, Seulawah, Aceh Besar, 
45 KM dari Banda Aceh. Sebelum meninggal, ia ditemukan dipinggir jalan dalam kadaan 
merintih karena luka yang parah, sementara sepeda motornya tergeletak di sampingnya. 
Ia ditembak ketika sedang dalam perjalanan dari Sigli ke Banda Aceh untuk suatu 
keperluan.

Di Banda Aceh Senin (25/10) malam kepada wartawan, Danrem 012/Teuku Umar (TU), 
Kolonel. Czi. Syarifuddin Tippe memyampaikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang 
selama ini melakukan tindakan pelanggaran hukum yang terus-menerus di Aceh. Ia 
mengingatkan sikap sabar yang telah ditunjukkan TNI selama ini jangan dibalas tuba. 
"Hampir setiap hari seorang TNI ataupun Polri yang tewas dibunuh di Aceh. Hal ini 
sangat meresahkan masyarakat," katanya. Karena itu, Danrem mengingatkan agar tidak 
memaksa TNI mengambil tindakan keras.

Menurut Danrem, aksi pembunuhan dan penculikan terhadap TNI yang dilakukan oleh 
kelompok bersenjata itu telah sangat meresahkan masyarakat. Harus disadari, kata 
Danrem bahwa TNI di Aceh itu bukan penjajah,l tetapi merupakan alat pemersatu bangsa. 
"TNI sekarang tidak lagi mengutakamakan kekuasaan," katanya.

Tetapi kalangan LSM di Aceh yang berbicara kepada pers mengatakan, keresahan yang 
dialami oleh rakyat sipil akibat adanya pembunuhan serta penculikan yang tidak pernah 
bisa ditangani secara hukum oleh pihak keamanan jauh lebih menakutkan dilihat dari 
segi kualitas dan kuantitasnya. Justru rakyat yang sudah terlalu sabar terhadap 
tindakan kekerasan yang dilakukan TNI."Lihat saja daftar kekerasan TNI di Aceh, 
sebenarnya siapa yang harus dicemaskan. Seharusnya pejabat keamanan jauh lebih 
mementingkan penderitaan rakyat daripada mengeluhkan risiko personilnya yang memang 
bertugas dengan risiko itu," ujar seorang aktivis mengomentari pernyataan Danrem. 
(Div.K&J/K-NGO HAM)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Oct 1999 jam 15:32:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke