----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Investor Asing Antre Masuk ke Indonesia

Jakarta, Kompas
Wakil Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Andung Nitimihardjo,
mengatakan optimis persetujuan investasi tahun depan bisa mencapai dua kali
lipat dibandingkan tahun 1999. Saat ini, investor asing sudah antre untuk
masuk ke Indonesia dan sedang menunggu kepastian visi ekonomi pemerintah
serta kestabilan politik dan keamanan. Persetujuan investasi periode
Januari-30 September 1999 mencapai 9,2 milyar dollar AS.

Andung yang berbicara pada acara "Visi dan Kebijakan Investasi di Masa
Depan" dan "Relaunching Pameran Investasi di Singapura" (Ininvex '99) di
Jakarta, Rabu (3/11), menyebut investor Korsel, Taiwan, Jepang dan beberapa
negara Eropa, sebagai investor yang sudah siap untuk masuk kembali ke
Indonesia.

Dijelaskan, sebuah perusahaan konsultan dari Perancis sudah meminta BKPM
untuk mengirimkan daftar bidang usaha dan industri yang akan dapat
dikembangkan Indonesia. "Mereka sudah menyatakan kesediaannya untuk
mengontak investor Eropa untuk menanamkan modalnya di Indonesia sesuai
dengan keinginan pemerintah," kata Andung.

Selain penanaman modal baru, katanya, investor asing pada umumnya juga
tertarik untuk membeli industri nasional yang selama masa krisis
terbengkelai atau terpaksa tutup.

Selama tiga tahun terakhir, persetujuan investasi terus menurun dari 33,8
milyar dollar pada tahun 1997 menjadi 13,6 milyar dollar tahun 1998. Untuk
tahun 1999, hingga 30 September, mencapai 9,2 milyar dollar. Selama
Januari-30 September 1999, PMDN yang beralih status menjadi PMA nilainya
mencapai 1,2 milyar dollar.

Sementara itu, sekitar 200 pengusaha Singapura dilaporkan sudah menunggu
untuk bisa melakukan dialog langsung dengan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus
Dur), selama lawatan Gus Dur ke Singapura tanggal 6 November mendatang.

Menurut Kepala Bidang Penerangan KBRI Singapura, Nining S, sejumlah
pengusaha tampaknya juga sudah mulai bersiap-siap melakukan investasi ke
Indonesia, asal pemerintah memberikan jaminan kepastian hukum dan investasi
secara jelas.

Para diplomat dan pelaku bisnis Singapura mengatakan optimis bahwa di masa
mendatang arus investasi ke Indonesia akan meningkat bila pemerintah mampu
memberikan jaminan hukum dan kepastian stabilitas secara baik.

Ajak pengusaha Tionghoa

Secara terpisah, pengusaha Sofjan Wanandi yang baru menginjakkan kakinya
kembali di Indonesia, setelah berbulan-bulan bertahan di luar negeri,
mengatakan akan menginvestasikan keuntungan bisnis grup perusahaannya di
luar negeri ke Indonesia.

Ia juga mengatakan akan mengajak para pengusaha nasional keturunan Tionghoa
untuk kembali mengalirkan modal dan berinvestasi di Indonesia. Selain itu,
dia akan mengajak pula pengusaha-pengusaha besar AS, Eropa, Australia dan
Singapura untuk masuk ke Indonesia.

"Saya ingin pengusaha nonpri lain, yang terpaksa keluar dari Indonesia
akibat pecah kerusuhan Mei 1997, mencontoh saya. Kalau saya saja yang jadi
buronan berani pulang ke Indonesia, mereka pun harus berani," kata Sofjan,
yang pergi meninggalkan Indonesia 22 Oktober 1998 dan kembali ke Indonesia
22 Oktober 1999.

Ditambahkan, sat ini dia tidak akan berada di Indonesia jika yang terpilih
menjadi Presiden RI adalah BJ Habibie. Sofjan menuturkan, selama setahun
berada di luar negeri, dia banyak berkenalan dengan pengusaha di AS,
Jepang, Eropa, Australia, dan Singapura.

Katanya, pengusaha-pengusaha itu minta diberi tahu jika situasi di
Indonesia sudah membaik, dan selanjutnya mereka akan kembali berinvestasi
di Indonesia. "Pekan pertama Desember nanti, misalnya, Ketua Commerce
Chamber (Kamar Dagang dan Industri) AS akan datang. Dengan membaiknya hukum
dan stabilitas politik kita, saya bisa meyakinkan mereka untuk kembali ke
Indonesia," katanya.

Menurut perkiraan Sofjan, pada tahun pertama pemerintahan Gus Dur-Megawati
akan masuk investasi asing bernilai milyaran dollar AS. Sehubungan dengan
itu, ujarnya, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) harus cepat dan
menentukan kriteria penyelesaian utang-utang perusahaan besar yang
ditanganinya.

Mengenai jumlah capital outflow (mengalirnya modal ke luar negeri) oleh
pengusaha keturunan Tionghoa akibat kerusuhan Mei 1998 yang disebut-sebut
mencapai 80 milyar dollar AS, Sofjan menilai angka tersebut terlampau
dibesar-besarkan.

Ia memperkirakan angkanya hanya sekitar 10 milyar dollar, itu pun dia yakin
akan bisa kembali dalam satu-dua tahun jika pemerintahan Gus Dur-Megawati
mampu menciptakan kestabilan.

"Masuk sekitar 50 persen dari jumlah itu saja sudah akan sangat membantu
perekonomian untuk dipakai sebagai working capital (modal kerja)
pabrik-pabrik yang dulu mereka tinggalkan," tambahnya.

Menjawab pers, Sofjan mengaku sempat dua kali bertemu dengan pengusaha
Sudono Salim (Liem Sioe Liong/Oom Liem) di Singapura. "Oom Liem sudah
terlalu tua untuk kembali lagi, dan dia masih sedih rumahnya ikut dihabisin
pada peristiwa Mei 1998," ujarnya.

"Lagi pula, sejak 10-15 tahun lalu yang menjalankan perusahaannya adalah
anaknya, Anthony Salim, yang saya yakin ada di sini. Biarkanlah Oom Liem
tenang di masa tuanya, umurnya sudah 84, buat apa kita kejar-kejar, toh
semua perusahaannya ada di sini dan Anthony Salim yang bertanggung jawab,"
paparnya. (as/fey/ika/Antara)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Nov 1999 jam 05:52:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke