----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

GUS DUR DI USULKAN DIALOG DENGAN HASAN TIRO
ACEH OTONOMI TOTAL DENGAN PRESIDEN SENDIRI

BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Kamis 11/11).
Tuntutan Referendum memang telah sangat mengental di Aceh, hal itu
ditunjukkan dengan terhimpunnya 1,5 juta lebih massa dalam pelaksanaan
Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU-MPR Aceh) Senin, (8/11)
lalu.
Bahkan rakyat Aceh memberikan batas waktu bagi pemerintahan Gus Dur
untuk
pelaksanaan referendum hingga 4 Desember 1999 mendatang, jika
referendum tak
terlaksana rakyat Aceh sudah siap dengan segala konsekuensinya, walau
harus
berhadapan dengan mesin perang Gus Dur sekalipun, mayoritas rakyat
Aceh
memang sudah sangat nekad dan siap berjihad fisabilillah, hal itu
wajar saja
terjadi, karena siapapun yang terus menerus ditekan dan ditindas, maka
lama-lama kelamaan pasti akan melawan. Banyak kalangan mengkhawatirkan
akan
terjadi revolusi sosial kedua dalam sejarah Indonesia.

Rencana Presiden Gus Dur bersama Wapres Megawati akan berkunjung ke
Aceh
sekembalinya dari Amerika, untuk berdialog dengan seluruh komponen
masyarakat Aceh, mendapat tanggapan dari banyak tokoh di Aceh. Maimul
Fidar,
tokoh Pembela Hak Asasi Manusia dari Koalisi NGO HAM Aceh, kepada
Radio
Nikoya-FM, mengatakan, dialog Presiden di Aceh itu yang lebih pas,
sebagaimana banyak usulan-usulan selama ini, dihadirkan juga Wali
Negara
Aceh Merdeka, Teuku Hasan Di Tiro, jadi Hasan Tiro datang dan ia tidak
dikejar-kejar lagi oleh militer, lalu orang-orang GAM juga harus turun
dari
gunung semua, setelah itu kita duduk bersama untuk kita bicarakan
dengan
komponen lainnya, sebab persoalan sekarang adalah persoalan antara
Pemerintah RI dengan GAM, rakyat Aceh hanya sebagai pendukungnya, kata
Maimul.

Kesabaran rakyat Aceh sudah pada titik kulminasi atau puncaknya, janji
Gus
Dur memberikan referendum, di tentukan oleh rakyat Aceh harus
terlaksana
paling lambat 4 Desember, jika tidak, diduga akan terjadi revolusi
sosial
besar-besaran di Aceh, agar tidak terjadi pertumpahan darah lebih
banyak
lagi, Tokoh Pembela HAM Aceh, Maimul Fidar ini, menambahkan, kalau
Presiden
mau bikin dialog lagi, semua komponen-komponen rakyat Aceh itu harus
dikumpulkan, seperti Teuku Hasan Di Tiro, Abdullah Safe'i Panglima
GAM,
Ulama, Mahasiswa Aceh, Taliban, dan komponen masyarakat Aceh lainnya,
lalu
baru kita tenangkan rakyat agar jangan saling membunuh, artinya jika
rakyat
berjumpa militer, biarkan saja, begitu juga kalau militer berjumpa GAM
jangan main tangkap atau saling tembak, jadi ada semacam masa rujuk
seperti
zaman DI/TII dahulu, yang penting ada sebuah jaminan dari pemerintah
agar
tokoh-tokoh GAM dari luar negeri itu tidak ditangkap, kemudian barulah
kita
bicarakan bagaimana penyelesaian masalah Aceh ini, jadi jangan
ditunda-tunda
lagi, karena suasana akan semakin buruk, tuturnya.

Munculnya usulan-usulan agar Presiden Gus Dur dapat berdialog dengan
Wali
Negara Hasan Di Tiro yang sama-sama tokoh ulama ini, diperkirakan
banyak
pihak akan mampu mencairkan konflik Aceh yang terlalu ruwet ini.
Sekali lagi
menurut Maimul Fidar, dalam dialog itu dapat disertai juga
lembaga-lembaga
Internasional di PBB, seperti UNDP, UNHCR dan lainnya, lalu Dubes
negara-negara asing sebagai peninjaunya. Jadi seminggu sebelum dialog
itu
dapat segera di umumkan agar rakyat tidak melakukan tindakan-tindakan
anarkis, lalu semua keputusan dialog itu kita sosialisasikan kepada
masyarakat dan selesailah persoalannya.

Lain halnya dengan pendapat Risman, Deputy Direktur WALHI Aceh, ia
mengatakan, MPR/DPR harus memiliki kearifan politik dalam melihat
persoalan
Aceh, karena persoalan Aceh tidak bisa disama ratakan dengan persoalan
daerah lain, jadi logika bahwa masyarakat daerah lain punya pengalaman
yang
sama dengan Aceh dibawah pemerintahan Orde Baru, itu tidak bisa disama
ratakan, persoalan Aceh sangat spesifik dan sangat mendalam persoalan
yang
dihadapinya, salah satu alternatif yang dapat dibawa dalam dialog itu
adalah, tidak boleh menganggap enteng apa yang menjadi tuntutan rakyat
Aceh
lewat referendum, mungkin bisa saja di tawarkan kepada rakyat Aceh
diberikan
Otonomi Total, dalam pengertian seluruh pengelolaan pemerintahan di
Aceh
tidak ada turut campur Jakarta, di Aceh juga harus ada Presiden-nya
dan
semua perangkat-perangkat pemerintahan, tetapi tetap dalam kerangka
Indonesia, seperti yang ada di Moro - Philipina, misalnya. Namun kata,
Risman, keputusannya tetap kepada rakyat Aceh bisa menerima atau
tidak.
Dalam dialog itu nanti, LSM tetap pada posisi berpihak kepada rakyat
dan
tidak bisa mengambil sikap menentukan masa depan rakyat, karena LSM
tidak
memiliki hak apapun menentukan masa depan rakyat Aceh.

Dilain pihak, Wali Negara Aceh Merdeka, Teuku Hasan Di Tiro dari
Stockholm,
Swedia, kepada kantor berita AFP mengatakan, menolak setiap bentuk
dialog
yang ditawarkan oleh Jakarta, menurut Hasan Di Tiro, mengadakan dialog
adalah bodoh, kami tidak perlu dialog, kami ingin merdeka, Indonesia
paling
tidak akan segera menjadi lima negara berbeda dalam waktu tidak
terlalu
lama,  kata Presiden Front Pembebasan Nasional Sumatera/Aceh
(Aceh/Sumatra
National Liberation Front) yang berpusat di Norsborg, Swedia.

Banyak kalangan di Jawa keberatan dengan referendum di Aceh, seorang
wartawan harian De Volkshrant Belanda saat meliput SU-MPR Aceh Senin
(8/11)
lalu, menuturkan, tak mungkin Aceh yang kaya raya ini dilepaskan
Jakarta,
karena Jawa sangat bergantung kepada hasil dari luar pulau Jawa
termasuk
Aceh. Sementara itu Ketua MPR Amien Rais yang pernah berjanji
memperjuangkan
referendum saat kampanye PAN di lapangan Neusu Banda Aceh dahulu,
kemarin
mengatakan, jika Aceh lepas, maka Indonesia akan bubar, namun Amien
menekankan perlu memberi kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh
rakyat
Aceh, termasuk GAM, bahkan GAM pun kalau akan mengadakan Ulang Tahun 4
Desember nanti diberikan pula kesempatan. Hanya setelah itu, mari kita
duduk
bersama sebagai anak-anak bangsa, membicarakan masalah dari segala
plus-minusnya. Kita cari pemecahan terbaik," kata Amien di Jakarta.
Ketua
DPR Akbar Tanjung juga mendesak pemerintah untuk segera berdialog
dengan
pimpinan GAM.

Selain referendum, tampaknya memang sulit mencari solusi penyelesaian
konflik di Serambi Mekkah yang memiliki penghasilan 28 trilyun rupiah
pertahun dari Gas Alam Cair, itu belum lagi kekayaan Gas Alam yang
belum
dieksplorasi di lepas pantai Aceh Timur serta minyak bumi yang belum
tergali
dan hasil tambang lainnya, juga kekayaan hasil hutan. Aceh memang
bagaikan
dara cantik yang memikat banyak pemuda, untuk menyuntingnya, Orde Baru
perlu
harus membunuh ribuan anak negeri, lantaran mereka menuntut sedikit
saja
dari seluruh haknya. (Tim).

News Division
RADIO NIKOYA 106.15 FM
Banda Aceh Hit Radio Station
URL 1 : http://come.to/nikoyafm

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Nov 1999 jam 06:16:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke