---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ISTIQLAL (12/11/99)# MENGGUNAKAN AGAMA SEBAGAI ALAT POLITIK, TELAH MEMUKUL HAMZAH HAZ SENDIRI Oleh: Sulangkang Suwalu Dr KH Said Aqiel Siradj, Wk Ketua Khatib Syuri'ah PBNU, mengemukakan bahwa NU jelas tidak akan menggunakan agama sebagai alat politik. Sebab, NU sudah belajar dari sejarah, kalau meletakkan agama untuk kepentingan politik, akan terjadi over konstitusi, artinya, dengan gampangnya yang lain akan dibabat. Demikian Aqiel menjawab pertanyaan pers, usai apel dan sarasehan Banser dan gerakan Pemuda Ansor se DI Yogyakarta, di Alun-alun Selatan dan gedung Sasono Hinggil Yogyakarta, Minggu (22/11/98). Menurut Aqiel, agama bukan untuk alat politik, melainkan untuk diamalkan, ditabligkan atau dida'wahkan. Sebab, kalau dipolitikkan akan timbul violence monopoly dan kekerasan horizontal. Menghadapi Pemilu 1999, kata Aqiel, maka resiko agama yang dipolitisir itu sangat berbahaya, dan sangat mengerikan. Kalau agama dipolitikkan, maka agama justru akan menjadi kekuatan yang lebih keras dan lebih sadis (Kompas, 23/11/98). Demikian Said Aqiel. Menjadi pertanyaan: apakah tidak mungkin pada suatu waktu pihak yang menggunakan agama sebagai alat politik, akan memukul dirinya sendiri, karena perkembangan politik yang tidak diduganya sebelumnya? Untuk mengetahui jawabannya, marilah kita ikuti perkembangannya seperti di bawah ini. MENGHADAPI PEMILU 1999 Menghadapi Pemilu 1999 sementara Partai yang memakai bendera lslam telah menggunakan agama sebagai alat politik. Mereka mengeluarkan fatwa bahwa umat Islam dalam pemilu harus memilih partai yang memakai bendera Islam, jangan memilih partai yang tidak mengibarkan bendera Islam. Partai Islam mana yang harus dipilih itu, tak disebutkan secara konkrit. Maklumlah, partai yang memakai bendera Islam itu banyak. Himbauan untuk memilih partai yang berbendera Islam itu, termasuk himbauan dari MUI, sangat kabur, karena tidak ada satu Partai Islam yang programnya terang-terangan yang hendak menjadikan kaum mustadhafin (yang tertindas dan miskin) menjadi pemimpin di bumi, seperti yang dijanjikan Tuhan dalam surat Al Qashas ayat 5-6, atau yang terang-terangan membela kaum mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya). Padahal dalam masyarakat terdapat dua kubu itu, yaitu mustadhafin dan mustakbirin. Sejalan dengan itu mulai dilansir bahwa Islam tidak membenarkan perempuan jadi pemimpin, menjadi presiden. Yang lurus menjadi pemimpin, ialah pria Muslim. Mereka manipulasi surat An Nisa ayat 34 yang mengatakan di rumah tangga yang jadi pemimpinnya ialah pria. Negara, mereka anggap itu adalah rumah tangga yang besar. Padahal dalam surat At Taubah 71 dibuka kemungkinan, juga bagi perempuan untuk jadi pemimpin. Masalahnya, masih khilafiah. Memanipulasi surat An Nisa ayat 34 itu semakin meningkat, setelah di dalam pemilu 7 Juni 1999, FDI-P yang dipimpin Megawati memperoleh suara yang terbesar, dibandingkan dengan partai-partai lain. Berbagai upaya dilancarkan olen partai yang berbendera Islam, agar Megawati, yang perempuan itu, jangan sampai terpilih jadi presiden. Yang paling giat dan tekun menentang Megawati jangan sampai jadi presiden itu, ialah Hamzah Haz, Ketua PPP, dengan dalih, sebagai alasannya: fatwa ulama-ulama PPP yang tidak membolehkan perempuan jadi pemimpin. MENGHADAPI SU MPR 1999 Menghadapi akan berlangsungnya SU MPR, di mana nanti akan dilakukan pemilihan presiden dan wakil presiden, maka muncullah apa yang dinamakan Poros Tengah. Yang paling dominan dalam Poros Tengah itu ialah PPP, yang diketuai Hamzah Haz. Amien Rais, yang ambisinya menjadi presiden menjelang pemilu begitu besar, sampai mengatakan tak mau jadi orang nomor dua di Republik ini, segera "terdiam" sejenak, setelah mengetahui perolehan suara PAN hanya kecil, menjadi partai yang kelima. Dengan demikian sirnalah harapannya untuk jadi presiden dalam SU MPR 1999. Tetapi Amien Rais bukan orang bodoh. Ia cerdik. Dia menghalalkan gegala cara demi tujuan. Untuk mencapai tujuannya bisa berkuasa, maka dengan menggunakan nama Poros Tengah dicalonkannya Gus Dur sebagai sebagai calon presiden. Meskipun Amien Rais tahu benar, Gus Dur telah berulang kali mengatakan mendukung pencalonan Megawati sebagai calon presiden. Ya, karena Amien Rais lebih tahu lagi, PPP dan Golkar pasti lebih suka memilih Gus Dur ketimbang Megawati. Pencalonan Gus Dur oleh Amien Rais, tujuan utamanya memang untuk menjegal Megawati. Dalam perhitungan Amien Rais, sekiranya Gus Dur menolak dicalonkan, diperkirakannya, PPP akan lebih suka mencalonkan Amien Rais sebagai calon presiden, ketimbang memilih Megawati. Dengan kata lain, bila Gus Dur menolak dicalonkan, terbuka kembali bagi dirinya untuk jadi calon presiden. Tampaknya Gus Dur juga berambisi jadi presiden, hanya malu-malu kucing untuk mengumumkannya, terutama karena faktor kesehatannya. Karena itu Gus Dur menyambut dengan senang hati telah dicalonkan oleh Poros Tengah. Supaya jangan kelihatan ambisinya ingin jadi presiden, maka Gus Dur mengatakannya: dirinya dicalonkan. Bukan dirinya yang mencalonkan. Tentu tidak baik menolak penghargaan yang diberikan pihak lain. Dengan dirinya telah dijadikan sebagai calon presiden, maka dengan sendirinya dukungannya kepada Megawati menjadi tidak berarti apa-apa lagi. Gus Dur tentu akan menolak bila ada yang mengatakan ia mencla-mencle, atau tak menetapi janji yang telah diikrarkannya mendukung Megawati sebelumnya. Orang bisa saja menilai Gus Dur sebagai munafik. Tampaknya Gus Dur yang telah merasa berhutang budi pada Amien Rais, yang mencalonkan dirinya sebagai presiden, ingin membalas budinya Amien Rais tsb. Karena itu didukungnya pencalonan Amien Rais menjadi Ketua MPR. Berkat "dagang sapi" yang dilakukan Amien Rais dengan pihak Golkar, maka Amien Rais dapat mengalahkan Matori Abdul Djalil dari PKB, sehingga Amien Rais yang terpilih sebagai Ketua MPR. Sesudah ini, dengan dukungan Amien Rais, maka terpilihlah Akbar Tanjung (dari Golkar) sebagai Ketua DPR. Melihat perkembangan situasi yang demikian, sudah bisa diperkirakan Poros Tengah dan Golkar akan memberikan suaranya pada Gus Dur untuk menjadi presiden. Megawati akan dikalahkan. Dan benar saja terjadi hal yang demikian. Mengetahui idola mereka, Megawati, dikalahkan oleh Gus Dur dalam pemilihan presiden dalam SU MRR, massa PDI-P di sementara daerah melancarkan aksi yang keras. Balaikota Solo diratakan. Kerusakan lebih besar lagi di Bali. Mengetahui situasi yang demikian, jika Megawati tetap dijegal untuk masuk dalam kekuasaan, situasi mungkin akan lebih parah lagi dan bisa tidak terkendalikan. Agar situasi jangan lebih memburuk lagi, maka untuk menebus dosanya yang telah meninggalkan Megawati pada saat-saat terakhir, maka PKB mengajukan Megawati sebagai calon Wakil Presiden. Untuk menggolkan supaya Megawati bisa jadi Wapres, maka Akbar Tanjung (Golkar) dan Wiranto (TNI) mencabut diri mereka masing-masing sebasai calon Wapres. Yang tetap bertahan sebagai calon Wapres, hanya Hamzah Haz (Ketua PPP), yang terus menerus mengibarkan fatwa ulama PPP bahwa perempuan tidak boleh jadi pemimpin. Hamzah Haz tidak memperdulikan situasi apa yang akan terjadi, sekiranya dirinya dapat pula mengalahkan Megawati. Hamzah Haz tampaknya nekat, dengan tidak memperhatikan perobahan sikap Golkar dan TNI terhadap Megawati. Dan hasilnya tentu saja mengecewakan Hamzah Haz. Ia dikalahkan Megawati dengan sangat meyakinkan. Megawati terpilih sebagai Wakil Presiden. PELANTIKAN DAN PENGAMBILAN SUMPAH PARA MENTERI OLEH WAPRES MEGAWATI Pada tanggal 26 Oktober 1999, Gus Dur selaku Presiden mengumunkan susunan pemerintahannya. Gus Dur tidak memberi nama pada kabinetnya. Namun umum ada yang menyebutnya sebagai kabinet "persatuan nasional", kabinet "Pelangi", kabinet "kompromistis" dsb. Yang istimewa dari susunan kabinet Gus Dur ini, semua menteri bisa jadi menteri karena garansi 5 orang (Gus Dur, Megawati, Amien Rais, Akbar Tanjung dan Wiranto). Jadi kabinet ini adalah bikinan 5 orang. Tentu saja yang mereka garansi itu adalah kroni-kroninya di bidang politik. Dengan demikian kabinet ini bisa disebut "5 serangkai". Kabinet hasil kompromi antara kelompok reformasi dengan status quo. Jadi, kelompok status quo melalui kabinet ini diperpanjang hak hidupnya. Dengan kata lain kabinet "5 serangkai" ini adalah pencerminan kemenangan status quo atas reformasi. Kemenangan status quo ini dimungkinkan, dengan "pengkhianatan" Amien Rais atas gerakan reformasi, melalui "dagang sapi" dengan status quo, asal Megawati bisa dijegal dan dirinya menduduki suatu jabatan penting. Pada tanggal 29 Oktober 1999, pelantikan dan pengambilan sumpah para menteri baru dilakukan, meskipun sebelumnya bertubi-tubi tuntutan agar Gus Dur meninjau susunan kabinetnya. Gus Dur jalan terus. Tuntutan-tuntutan tsb dianggapnya sebagai angin lalu, masuk di telinga kanan, keluar di telinga kiri. Atau dengan ungkapan lain: biarkan anjing menggonggong, kafilah berjalan terus. Gus Dur dalam kata pengantar untuk pelantikan dan pengambilan sumpah tsb antara lain mengatakan, karena dirinya tidak bisa baca, dan karena kabinet ini bikinan 5 orang, maka yang akan melantik dan mengambil sumpah para menteri ialah Wapres Megawati. Sesuai dengan kedudukannya sebagai Wapres, Megawati segera melakukan pengambilan sumpah tsb. HAMZAH HAZ TAK MALU? Yang menarik, ialah Hamzah Haz, bersedia diambil sumpahnya oleh Megawati, yang perempuan itu. Padahal sebelumnya ia selalu sesumbar: tolak perempuan jadi pemimpin. Itu fatwa dari ulama PPP. Sekarang yang mengambil sumpahnya itu, ialah perempuan, yang ditolaknya jadi pemimpin. Apakah Hamzah Haz tidak malu, seakan menjilati kembali air ludah yang sudah jatuh ke tanah? Tampaknya, Hamzah Haz tidak menduga akan terjadi perkembangan politik yang demikian. Dikiranya yang akan melantik dan mengambil sumpah itu akan dilakukan sendiri oleh Gus Dur. Mungkin saja sebelum Megawati mengambil sumpahnya, timbul pergolakan dalam dirinya. Bersedia atau tidak diambil sumpahnya oleh Megawati yang sebelumnya, ditolaknya atas nama agama untuk jadi pemimpin. Jika tidak bersedia, apa artinya dan jika menolak bagaimana pula akibatnya. Jika Hamzah Haz tidak bersedia diambil sumpahnya oleh Megawati, maka statusnya sebagai menteri bisa tertunda dan itu akan merugikan dirinya sendiri. Di samping itu, dirinya juga harus bertanggungjawab atas perkembangan politik sehingga terbentuk suatu kabinet pelangi oleh 5 orang tokoh, yang merupakan lima serangkai. Jika dirinya bersedia diambil sumpahnya oleh Wapres Megawati, tentu akan bersilang telunjuk di hidungnya sebagai ejekan, orang yang tidak konsisten dengan pendirian dan ucapannya. Di mulut mengatakan menolak perempuan jadi presiden, dalam perbuatan menerima perempuan jadi presiden. Suatu sikap yang munafik. Tudingan munafik tsb mungkin saja tidak diucapkan secara terbuka kepada Hamzah Haz. Tetapi di belakang Hamzah Haz akan dicibirkannya. Tampaknya bagi Hamzah Haz kedudukannya sebagai menteri, lebih penting dari kesetiaannya pada fatwa ulama PPP yang menolak perempuan jadi pemimpin, maka diikutinyalah pengambilan sumpah oleh Wapres Megawati, yang perempuan itu. Ya, agama bagi Hamzah Haz tampaknya hanya sebagai alat politik untuk mencari kedudukan. Yang tidak satu kata dengan perbuatan itu, tampaknya tidak hanya Hamzah Haz, tetapi termasuk juga sementara ulama yang telah mengeluarkan fatwa harus ditolak perempuan jadi pemimpin. Sebab, ternyata setelah perempuan yang mereka tolak jadi pemimpin, benar-benar jadi Wapres, mereka diam dalam seribu bahasa. Mereka tidak menyatakan penolakannya. Apakah mereka telah menyadari kekeliruannya mengeluarkan fatwa yang isinya menggunakan agama sebagai alat politik, atau karena takut akan berhadapan dengan kekuasaannya Gus Dur? Hal ini hanya menjatuhkan citra ulama sendiri dengan fatwa-fatwanya, yang menggunakan agama sebagai alat politik. KESIMPULAN Sekiranya Hamzah Haz menyadari, bahwa ia telah bersifat munafik dalam menolak perempuan sebagai pemimpin, dan kemudian diterima dan diakuinya kepemimpinan perempuan itu tatkala hendak diambil sumpahnya sebagai menteri, mungkin ia akan membela diri, dengan mengatakan; hal itu terjadi, karena presiden Gus Dur menyerahkan pelantikan dan pengambilan sumpah itu kepada Wapres Megawati. Jadi, yang bertanggungjawab atas kemunafikan yang dilakukannya, ialah Gus Dur. Tentu saja Gus Dur akan menolak tudingan yang demikian. Gus Dur dengan mudah bisa mengatakan: sudah jelas mata saya kurang baik, tidak bisa membaca, kok dicalonkan dan dipilih sebagai presiden. Jadi, yang salah ialah yang mencalonkan dan yang memilihnya jadi presiden. Dengan kata lain Amien Rais dan Hamzah Haz sendiri dari Poros Tengah, yang harus bertanggungjawab atas kemunafikan yang dilakukan Hamzah Haz. Kemunafikan yang dilakukan Hamzah Haz dan sementara ulama yang menolak perempuan jadi pemimpin, jadi presiden, tentu akan tercatat dalam sejarah Indonesia. Ya, pintu taubat masih terbuka bagi mereka. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Nov 1999 jam 03:19:05 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
