----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

From: Stephen Low

Lebih Baik Merdeka Daripada Dijajah!

Semmy Littik
Dosen Universitas Pattimura, Ambon
Mahasiswa Program Ph.D. di James Cook University, Australia.

Pendapat saudara Sulistya Putra merupakan cerminan pendapat tipikal
masyarakat yang tidak hidup dan merasakan langsung dampak kekuasaan
pusat yang otoriter dan selalu mendahulukan kepentingan elit di
Jakarta.  Sebab itu, dia tidak mampu memahami tuntutan hati nurani
rakyat di daerah-daerah itu sebagai tuntutan yang wajar dan perlu
segera
diselesaikan secara terhormat dan demokratis.

Secara politis, tuntutan kemerdekaan dari berbagai daerah di Indonesia
menunjukkan makin kuatnya penolakan daerah terhadap dominasi elit
politik di Jakarta.  Penjajahan pusat atas daerah-daerah bisa dilihat
antara lain pada orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan politis
strategis, yang umumnya berasal dari suku Jawa.  Padahal kalau tiap
daerah merdeka, maka setiap daerah akan memiliki Kepala Negara dan
Menteri-Menteri serta pejabat-pejabat tinggi yang berasal dari daerah
sendiri.  Lihat saja, Kabinet Persatuan Nasional saat ini tidak
mewakili
semua Propinsi di Indonesia, padahal semua Propinsi  memiliki putra
daerah yang patut dan mampu menjabat Menteri, bahkan Presiden
sekalipun.

Penjajahan ekonomi juga terasa sebab sulitnya rakyat di daerah
melakukan
monitoring dan kontrol terhadap elit-elit pemerintah yang berada jauh
di
Jakarta.  Jika elit kekuasaan dipindahkan ke tangan pemerintah daerah,
yang notabene dikuasai oleh putra-putri daerah setempat, maka
monitorting dan kontrol terhadap aliran uang lebih mudah dilakukan
karena terjangkau oleh rakyat setempat.  Kekuatiran terhadap korupsi
dan
kolusi di tingkat lokal memang wajar, namun tidak perlu dijadikan
alasan
menolak permintaan rakyat di suatu daerah yang ingin melepaskan diri
dari NKRI.  Isu korupsi dan kolusi di daerah tentunya akan lebih mudah
ditangani sebab yang terlibat adalah putra-putri daerah sendiri yang
nota bene merasa malu terhadap masyarakat adat dan keluarga mereka di
daerah tersebut.  Kedekatan adat dan keluarga tidak lagi terasa kalau
pejabat yang korup itu berada di pusat dan bukan putra daerah
setempat,
sehingga rasa malu mereka juga tidak ada.  Coba lihat, tidak ada
pejabat
pemerintah di Jakarta yang malu atas perbuatan mereka di Aceh, Irja,
Riau, Kaltim, Maluku, dan daerah-daerah lainnya.

Penjajahan birokrasi juga bisa dihentikan di daerah-daerah yang
menuntut
kemerdekaan.  Bayangkan untuk menduduki suatu jabatan saja ditentukan
berbagai persyaratan yang menyusahkan rakyat di daerah-daerah luar
Jawa
untuk lolos seleksi.  Padahal untuk mengikuti seleksi itu saja ada
uang
pelicin yang disetor ke pejabat pusat.  Sedangkan untuk mengikuti
pelatihan-pelatihan, termasuk pendidikan di Lemhanas, guna menaikkan
jabatan seseorang, sulit sekali bagi pegawai-pegawai daerah-daerah di
luar Jawa untuk lolos.  Jadi tidak mengherankan jika yang diangkat
menjadi pejabat penting di pusat sampai ke daerah umumnya orang Jawa.
Contoh lain, dalam pengurusan berbagai perijinan di berbagai
Departemen,
selalu merujuk ke Jakarta.  Dengan demikian, para elit pemerintah di
Jakarta makin leluasa melakukan 'pemerasan' lewat upeti terselubung,
sedangkan orang-orang dari daerah harus mengeluarkan biaya ekstra guna
menjamin kelancaran urursan mereka.  Coba lihat, untuk akreditasi
ijazah
dari luar negeri saja perlu dikirim ke Jakarta, padahal ada ratusan
Profesor dan Doktor tamatan luar negeri di daerah-daerah di seluruh
Indonesia yang dapat melakukan verifikasi terhadap ijazah-ijazah
tersebut.  Penjajahan birokrasi seperti ini bisa diatasi kalau
kekuasaan
pemerintah ada di daerah sehingga mudah diawasi oleh rakyat setempat.

Penjajahan rohani juga terasa manakala kita mengamati adanya dominasi
agama tertentu dalam pemerintahan nasional.  Maka pengangkatan pejabat
pun disaring secara diam-diam dengan memakai saringan agama kandidat
pejabat.  Dengan begitu tidak heran kita melihat begitu banyak tokoh
potensial yang tidak pernah menduduki jabatan strategis sebab isu
agama.  Pejabat Kakanwil Departemen Agama, misalnya, selalu diduduki
oleh orang-orang dari agama tertentu walaupun agama itu tidak dominan
di
suatu daerah.  Dengan kemerdekaan yang sejati, daerah-daerah tertentu
dapat mengorbitkan tokoh-tokoh mereka menjadi pimpinan nasional tanpa
hambatan agama.

Penjajahan militer juga terus dilakukan walaupun kita sudah memasuki
masa Orde Persatuan Nasional.  Lihat saja kasus Aceh, Irja, dan
Maluku,
hingga saat ini belum ada satupun pejabat sipil dan militer yang
ditahan, diinterogasi dan atau diajukan ke pengadilan secara terbuka.
Padahal kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sudah jelas menunjukkan
kegagalan kepemimpinan mereka.  Kalau orang-orang gagal tersebut terus
dipertahankan oleh pemerintah, maka tidak heran makin banyak daerah
yang
akan menuntut lepas dari NKRI sebab dalam negara NKRI ini kepentingan
elit pusat yang diutamakan, bukan kehendak rakyat di daerah-daerah.

Jadi kesimpulan saya, kalau ada daerah yang minta referendum dengan
opsi
otonomi, federasi atau merdeka, maka selayaknya kita dukung supaya
bangsa ini makin demokratis dan penjajahan-penjajahan di atas dapat
segera ditumbangkan.  Kalau diajak merenung terus, maka sudah
kadaluwarsa sebab penderitaan sudah terlalu berat dan sudah banyak
janji
yang memuakkan dan menimbulkan kejengkelan rakyat di daerah-daerah di
luar Jawa.

Terima kasih!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Nov 1999 jam 08:38:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke