----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------
2000 Pasukan Tjut Nyak Dhien Serbu DPRD Aceh Selatan
BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Jum�at 19/11).
Lebih dari 2000 perempuan berjilbab yang menamakan diri �Pasukan Tjut
Nyak
Dhien�, Kamis siang (18/11) serbu gedung DPRD Tk-II Aceh Selatan di
kota
Tapak Tuan. Aksi demontrasi kaum perempuan yang digelar besar-besaran
itu
mengguncang Aceh Selatan, mereka mengutuk arogansi TNI dan aparat
Kepolisian
yang belakangan ini meresahkan warga dengan kembali masuk ke desa-desa
untuk
melakukan penggeledahan, pemukulan terhadap warga desa dan tak jarang
melepaskan tembangan udara untuk menciptakan ketakutan masyarakat.
Rekan Kurniawan dari Aceh Selatan melaporkan kepada Redaksi Radio
Nikoya-FM
sore harinya, bahwa aksi unjuk rasa ribuan kaum perempuan dari empat
kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan, yaitu, Pasiraja, Bakongan, Kluet
Utara
dan Kluet Selatan awalnya terjadi pada pukul 11.00, massa yang terdiri
dari
kaum ibu, siswi SMU dan SLTP berjilbab dari ke empat kecamatan itu
sebelum
menuju ke gedung DPRD Aceh Selatan, mereka terlebih dahulu melakukan
pawai
keliling kota Tapak Tuan dengan puluhan kendaraan truk, pik-up, dan
angkutan
umum, sambil meneriakkan yel-yel �Hidup Referendum� disepanjang
jalan-jalan
yang dilalui sembari meneriakkan takbir cukup keras, sementara itu
warga
masyarakat lainnya yang berada dipinggir jalan menyambut iring-irangan
�Pasukan Tjut Nyak Dhien� bagaikan pahlawan yang akan berangkat
berperang.
Setibanya di Gedung DPRD, ribuan demonstran diterima langsung oleh
sejumlah
Pejabat dan Muspida Aceh Selatan, diantaranya Bupati Aceh Selatan
Machsalmina dan Dandim 0107 Aceh Selatan Letkol Drs Sunarto serta
sejumlah
anggota dewan lainnya. Dihadapan para pejabat itu para pengunjuk rasa
yang
semuanya kaum peremouan itu, melakukan orasi-orasi sembari
mengungkapkan
kebobrokan aparat keamanan yang belakangan ini mulai meresahkan warga,
menyiksa warga dan mengintimidasi dalam melakukan sweeping beberapa
hari
lalu. Demontrasi besar-besaran kaum hawa ini dipicu oleh aksi sejumlah
pasukan TNI dan aparat Kepolisian yang sejak sepekan lalu masuk ke
desa-desa
dan melakukan penggeledahan ke setiap rumah penduduk. Menurut warga,
pasukan
itu juga sempat merampas bendera Aceh Merdeka dan merusak tulisan
�Referendum� yang terdapat disepanjang jalan di desa mereka. Alasan
penggeledahan rumah-rumah penduduk di Ujong Pulo Rayeuk dan beberapa
desa
lain di kecamatan Bakongan adalah, mereka mencari seorang tahanan
polisi
bernama Marwan, namun tutur seorang warga bernama Andisam, �Aparat
sudah
keterlaluan, saat menggeledah rumah kami, delapan TNI masuk dan
memukuli
empat anak kami dan merendamnya di dalam sumur, diangkat dan dipukuli
lagi�
katanya dengan nada sedih. Nasib serupa juga dialami oleh seorang
Keuchik
(Kepala Desa) Bakongan, Abdul Gani, ia menceritakan bagaimana sejumlah
aparat menggeledah rumahnya tanpa permisi dan langsung naik ke loteng
sambil
melepaskan tembakan, sehingga menimbulkan ketakutan anak dan istrinya.
Seorang ibu setengah baya, wakil dari pengunjuk rasa, dalam orasinya
dihadpan pejabat daerah itu dengan lantang, meneriakkan, �Pemerintah
jangan
hanya membual, Katanya pasukan non-organik sudah ditarik dari Serambi
Mekkah, tapi faktanya mereka masih berkeliaran di desa-desa kami dan
telah
meresahkan warga desa�. Dandim 0107 Aceh Selatan Letkol Drs Sunarto
ketika
dikonfirmasi wartawan, membantah bila anak buahnya telah melakukan
operasi
secara brutal seperti yang dituduhkan warga. �Operasi yang kami
lakukan,
justru untuk menciptakan keamanan dari gangguan kelompok tertentu yang
semakin meningkat,� katanya. Dandim juga menceritakan tentang kaburnya
seorang tahanan polisi yang ditangkap sewaktu melakukan sweeping
didapati
memiliki senjata api, �Inikan sudah tidak benar, orang sipil kok bawa
senjata, jadi oprasi yang lakukan anak buah kami dan polisi, hanyalah
ingin
mengamankan warga dari ganguan si Marwan itu, tambah Dandim Letkol Drs
Sunarto.
Akibat dari penggeledahan rumah-rumah penduduk yang dilakukan sejak
Minggu
lalu itu, menyebabkan warga di Desa Ujong Pulo Rayeuk dan beberapa
desa di
Bakongan-Aceh Selatan ketakutan. Dari data yang dihimpun relawan dari
Forkom, sebuah LSM di Aceh Selatan, lebih dari 2100 warga desa itu
kini
mengungsi di beberapa mesjid, kosentrasi pengungsi terbesar terdapat
di
Mesjid Baitul Halim, Kecamatan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan. Salah
satu
pengungsi bernama Abdul Latif, asal Desa Kayee Ujeun, mengatakan,
lebih
baik kami hidup dipengungsian dari pada tidak aman tinggal di rumah.
Kmai
baru akan kembali ke desa kalau TNI dan Polisi tidak berkeliaran lagi
di
desa kami, tuturnya. (Tim/Kum).
News Division
RADIO NIKOYA 106.15 FM
Banda Aceh Hit Radio Station
Jaringan Radio UNESCO-PBB
http://come.to/nikoyafm
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Nov 1999 jam 10:54:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++