----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

From: Anto Santiago

Saya tinggal di Jakarta dan bukan orang Irian.
Tapi telephone yang saya baru saja terima dari seorang teman asli Irian yang
bekerja sebagai "Gembala Jemaat" di pedalaman Irian membuat saya makin
terenyuh......

Saya terkenang akan kampungnya yang sangat sederhana dengan sanitasi yang
memprihantinkan, butuh waktu berjam2 berjalan untuk mencapainya dari batas
angkutan pedesaan.
Kawan saya ini sedang membangun gereja kecil, sekolah kecil untuk pusat
belajar dan kegiatan kepemudaan dan mengharapkan saya untuk membantu dia
mewujudkan impian warga kampungnya.....

Bukan main, dengan modal semangat kawan ini sudah merintis kerjanya sejak
setahun lalu dengan bantuan seadanya dari rekan2 sendiri, dia betul2
berbakti bagi kampungnya dan percaya bahwa apa yang dia lakukan akan sangat
bermanfaat bagi  masa depan warga kampungnya.

Kampung kawan saya itu hanyalah satu kampung diantara sekian ribu kampung
Irian lainnya yang teramat sangat memprihantinkan,  sementara disekitar
mereka pompa-pompa pemboran minyak bekerja aktif 24 jam menyedot minyak dari
bumi Irian  atau perusahaan asing lain yang membor dan membongkar perut
Irian untuk mengambil deposit emas terbesar di dunia........

Kalau sedemikian kaya tempat dia tinggal,  kenapa kawan saya itu  "mengemis"
  minta bantuan;   atau  seorang kawan lain, juga dari Irian,  yang minta
dicarikan orang tua asuh untuk anak-anaknya yang pinter tapi beli buku saja
dia  ngga mampu..........

Dari beberapa kali  ke Irian,  pemandangan mengharukan selalu saja saya
temui, tentang orang Irian yang tinggal di rumah RSSKD (rumah sangat
sederhana kasian deh...)  - yang semestinya tidak layak dikatakan
"perumahan";   hanya beberapa ratus meter dari batas suatu kota;  atau
tersebar di pemukiman2 kumuh di suatu kota di Irian,  atau yang
terbengong-bengong melihat mobil lalu lalang  dan  "window shopping"
setengah telanjang dengan menenteng noken di pasar-pasar......

Beberapa tahun lalu, pada saat musibah kekeringan di Irian, saya ketemu
seorang Bapak yang baru pulang dari misi kemanusiaan di Irian;  saya
menyampaikan keprihatinan saya tentang ratusan orang yang meninggal karena
bencana tsb,   dengan enteng Bapak itu bilang:  "Ahh...itu semua hanya
dibesar2kan saja,  sudah  "biasa" koq di Irian, setiap tahun pada musim
kering ada ratusan orang tewas karena kelaparan atau penyakit....."

Tulisan ini hanya secuil cerita dari realita orang Irian yang saya lihat
langsung;  saya mengerti kalau sekarang orang Irian meradang atas semua
akumulasi persoalan yang mereka terima secara tidak adil.

Semoga dialog yang setara, fair dan bijaksana bisa dibangun dengan saudara2
dari Irian,  sehingga mereka akhirnya percaya dan kembali mau bergandeng
tangan dengan rakyat dari pulau2 yang lain dalam kerangka Republik Indonesia
tercinta.......

Tapi kalau dialog hanya satu arah dari Jakarta saja, dengan segala rekayasa
atau  kesombongan  gaya bangsawan yang merasa berhak "menjarah Irian"  untuk
kenyamanan anak cucu  atau  merasa paling tahu  apa ynag orang Irian butuh,
maka saya pesimis masalah Irian akan selesai dengan damai......

Peace,
ANTO

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Nov 1999 jam 08:47:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke