---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- PERCIKAN BUDAYA 98/III/1999 ============== UJIAN TERHADAP EKSISTENSI KEDAULATAN NEGARA INDONESIA Oleh Ki Gareng Pamungkas Sekali lagi harus dibikin jelas jemelas bahwa segala kesengsaraan rakyat Indonesia dewasa ini adalah akibat kekuasaan rezim Orba di bawah pimpinan jenderal Suharto. Kesengsaraan di segala bidang ini sedang mencekam seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya rakyat Aceh, Irian Jaya, Maluku, tapi juga Jawa, Bali, Lampung, Kalimantan dan lain-lainnya. Jangan dimanupulasi, seakan-akan hanya rakyat Aceh saja yang menderita. Perlu disadari: bahwa rakyat Jawa telah menderita lebih dari rakyat lain-lainnya. Selain itu, jangan sekali-kali mengindentikkan rakyat Jawa dengan Rezim Orba yang kebetulan dipimpin diktator Jawa jenderal Suharto. Apa lagi rezim Orba dulu itu bukan semata-mata rezim Jawa, tetapi rezim dari bermacam-macam suku (Makasar: Habibie, Baramuli, Bedu Amang; Batak: Feisal Tanjung; Riau: Syarwan Hamid; dll.). Maka dari itu seharusnya segala hujatan dan tuntutan harus ditujukan kepada rezim Orde Baru. Bukan kepada orang Jawa. Bukan kepada pemerintah Gus Dur-Mega sekarang ini. Kita sekarang ini mempunyai pemerintah baru yang berjuang melawan kerusakan-kerusakan akibat rezim Orde Baru. Jadi seharusnya kita rakyat Indonesia yang sedang menderita kesengsaraan ini bersama-sama pemerintah Gus Dur-Mega berjuang melawan sisa-sisa sistem Orde Baru dan berjuang membenahi kerusakan-kerusakan negara dan bangsa. (Lih. M.D.Kartaprawira: Gerakan Pembebasan Nasional Melawan Kolonialisme Sistem Orde Baru; Indonesia-l, Thu, 4 Nov 1999). Tidak malah sebaliknya: menuntut kemerdekaan, menggencarkan aksi separatisme. Ini berarti memperkeruh situasi yang sudah keruh. Ini berarti mengeskalasi kekacauan yang telah ditimbulkan oleh rezim diktator Orde Baru. Ini berarti akan lebih menjerumuskan Negara dan Bangsa ke jurang malapetaka yang lebih dalam lagi. Kalau setiap suku bangsa menuntut merdeka, bisa dibayangkan Negara Indonesia ini akan jadi apa. Indonesia akan lenyap. Ini kan gila beneran! Absurd, sekali lagi absurd. Mungkin bagi orang-orang yang anti Indonesia mereka akan bertepuk tangan. Dan juga mereka yang berpendapat "Indonesia bestaat niet" (Indonesia itu tidak ada), akan riang gembira. Gilanya hal ini diucapkan oleh orang yang mengaku 'orang Indonesia'. Dan mereka yang sok pahlawan pembela rakyat daerah, dengan dalilnya "hak menentukan nasib sendiri", akan puas melihat Indonesia berantakan. Mudah-mudahan impian orang-orang tak bertanggung-jawab ini tetap hanya sebagai impian belaka. Tuntutan-tuntutan untuk merdeka sama saja dengan pengingkaran terhadap kedaulatan Negara Republik Indonesia. Maka dari titik pandang ini persoalannya akan menjadi serius. Pemerintah Gus Dur-Mega harus mengambil kebijaksanaan politik yang menguntungkan semua pihak, tanpa menggunakan metode kediktatoran seperti Orba dulu. Jadi antara Pusat dan Daerah harus bermusyawarah untuk tercapai kompromi. Tapi di pihak lain, tuntutan "merdeka" oleh daerah juga harus disingkirkan. Sebab tuntutan "merdeka" adalah penghalang terjadinya musyawarah antara Pemerintah dan Daerah (Aceh dll.). Tapi kalau Daerah (Aceh, misalnya) tetap menuntut referendum dengan dicantumkannya opsi merdeka, berarti telah mengabaikan kedaulatan negara Indonesia. Selama tuntutan merdeka tersebut hanya sebagai tuntutan, tidak ada masalah. Tapi kalau tuntutan itu sudah disertai pengerahan kekuatan, maka tindakan itu sudah dapat dikwalifikasikan sebagai makar, pemberontakan melawan pemerintah syah. Di sinilah situasinya akan sangat berbahaya, sebab di mana saja di dunia ini, segala pemberontakan akan dihadapi oleh pemerintah. Dan akibatnya rakyat yang kini sedang menderita akan menjadi lebih menderita lagi. Sangat diharapkan tidak akan terjadi pertumpahan darah. Dan inilah tugas berat pemerintah Gus Dur-Mega untuk mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia tanpa adanya pertumpahan darah. Dan inilah pula ujian terhadap eksistensi kedaulatan (soevereiniteit) Negara Indonesia, yang telah dibayar dengan darah dan air mata oleh para founding fathers dan para pejuang kemerdekaan kita. Gunung Gandhul, 20 Nopember 1999 Peringatan: Jangan coba-coba menggoyang Plintheng Semar (batu besar yang nongkrong di tempat tinggi, tidak jauh dari Gunung Gandhul). Bisa apes lho akibatnya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Nov 1999 jam 08:48:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
