----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

-----------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 22 November 1999 15:50 UTC

** INDONESIA HARUS PERCEPAT PEMULANGAN PENGUNGSI TIMOR TIMUR

** LIMA NELAYAN INDONESIA DIHUKUM PENGADILAN AUSTRALIA

** KONGLOMERAT NISSAN MERUGI BESAR

** TOPIK GEMA WARTA: GUS DUR KE TIMUR TENGAH SEMENTARA ACEH TERUS
MEMBARA

** TOPIK GEMA WARTA: TNI HARUS HENTIKAN INTIMIDASI TERHADAP PENGUNGSI
TIMOR TIMUR

* INDONESIA HARUS PERCEPAT PEMULANGAN PENGUNGSI TIMOR TIMUR
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Richard Holbrooke mendesak
pemerintah Indonesia agar mempercepat pemulangan pengungsi Timor Timur.
Demikian Holbrooke setelah mengunjungi sebuah kamp penampungan di Timor
Barat. Menurut Duta Besar Amerika untuk PBB ini banyak pengungsi yang
tidak berani pulang ke Timor Timur, antara lain karena tersebar berita
bahwa tentara multi-nasional Interfet, membunuhi wanita dan anak-anak.
Menurut Holbrooke pemerintah Jakarta justru harus memberi informasi yang
benar mengenai situasi di Timor Timur. Selain itu para pemimpin TimTim
harus menyerukan kepada para pengungsi untuk kembali. Hingga sekarang
hanya beberapa ribu dari 250.000 pengungsi Timor Timur yang telah
kembali ke tempat tinggal mereka.

* LIMA NELAYAN INDONESIA DIHUKUM PENGADILAN AUSTRALIA
Sebuah pengadilan di kota Darwin, Australia, menjatuhkan hukuman penjara
hingga dua tahun kepada lima nelayan Indonesia, karena membantu sejumlah
imigran gelap masuk negara tersebut. Para nelayan mendrop 36 imigran
gelap asal Afganistan, Irak dan Srilanka di sebuah pulau terpencil, 600
kilometer di baratdaya pantai Australia. Hakim menyatakan, kelima
nelayan ini tidak dihukum karena menyelundupkan para imigran, karena
secara terang-terangan mendrop mereka di sebuah pulau milik Australia.
Berdasarkan undang-undang Australia seseorang bisa dihukum penjara
hingga 20 tahun, apabila terbukti menyelundupkan manusia. Tahun ini
pemerintah Australia dikagetkan dengan arus imigran gelap dalam jumlah
besar, terutama yang berasal dari Timur Tengah dan Cina. Untuk
mengurangi jumlah tersebut, hukuman yang dijatuhkan kepada para
penyelundup semakin diperberat.

* KONGLOMERAT NISSAN MERUGI BESAR
Konglomerat Jepang Nissan merugi besar tahun ini. Pada paruh pertama
1999 Nissan merugi hampir lima milyar dolar. Perusahaan tersebut sedang
sibuk melaksanakan reorganisasi, yang harus mengurangi ongkos produksi
dalam jumlah besar. Oktober lalu diberitakan Nissan menutup lima pabrik
di Jepang, dan 20.000 pegawai kehilangan pekerjaan mereka. Operasi
penghematan ini dipimpin Carlos Ghosn, yang ditunjuk konglomerat mobil
Prancis, Rennault, sebagai orang kedua di Nissan, yang harus
menyelamatkan perusahaan tersebut. Kepemimpinan Nissan berada sepenuhnya
di tangan Renault sejak beberapa bulan terakhir.

* PERTEMPURAN ANTARA TENTARA FILIPINA DAN PEMBERONTAK MORO
Senin ini di Pulau Mindanao, Filipina, sedikitnya 10 orang pemberontak
tewas dalam pertempuran antara tentara pemerintah dengan pemberontak
muslim. Menurut seorang juru bicara militer, para pemberontak Front
Pembebasan Islam Moro menyerang dua kamp tentara, yang dibalas dengan
serangan udara terhadap sejumlah kantong pertahanan Moro. Sudah 20 tahun
lamanya, Front Pembebasan Moro memperjuangkan sebuah negara Islam
merdeka di Mindanao. Pertikaian kembali pecah beberapa hari terakhir,
yang menewaskan 40 penjuang muslim dan dua tentara Filipina. Ribuan
penduduk terpaksa melarikan diri. Pemerintah Filipina menganjurkan semua
warga asing untuk tidak masuk ke pulau tersebut, sehubungan ancaman
penculikan.

* KAMPANYE UNTUK MELINDUNGI PARA TURIS DI MUANGTHAI
Polisi Muangthai memulai kampanye yang harus melindungi para turis dari
tangan-tangan kriminal. Aksi ini antara lain bertujuan untuk
memperingatkan para turis akan bahaya tur operator ilegal. Menurut
pemerintah Muangthai belakangan ini banyak turis menjadi sasaran
tindakan kriminal, tetapi tidak ada angka resmi. Sejak Senin ini
polisi-polisi khusus berpatroli di pusat-pusat pariwisata. Korps polisi
khusus ini dibentuk sehubungan perayaan ulang tahun ke-72 Raja Bhumibol
Adulyadej, tanggal 5 Desember mendatang. Pemerintah Bangkok
memperkirakan ribuan orang akan datang ke ibukota untuk memeriahkan
perayaan.

* PERDANA MENTERI BELANDA BERKUNJUNG KE INDIA
Perdana Menteri Belanda Wim Kok, Senin ini memulai kunjungan resmi tiga
hari di India. Kok antara lain akan berbicara dengan Perdana Menteri
Atal Behari Vajpayee dan pemimpin oposisi Sonia Gandhi. Tema pembicaraan
terpenting adalah kudeta di Pakistan dan hubungan dagang antara Belanda
dan India. Perdana Menteri Belanda didampingi oleh Menteri Kerjasama
Pembangunan Eveline Herfkens, yang menggantikan Menteri Luar Negeri
Jozias van Aartsen, yang sedang menghadiri pertemuan tingkat tinggi Uni
Eropa di Luxemburg. Sementara itu Kementrian Luar Negeri mengumumkan,
Menteri Herfkens akan berkunjung ke Indonesia tanggal 25 November
mendatang.

* PASANGAN KERAJAAN BELANDA MENGUNJUNGI PULAU SABA DAN SINT EUSTATIUS
Pemerintah Belanda akan membangun kembali terminal bandara Pulau Sint
Maarten, karena angin topan Lenny telah menghancurkan terminal yang
lama. Ratu Belanda Beatrix dan suaminya Pangeran Claus, Senin ini
mengunjungi Pulau Saba dan Sint Eustatius. Kerugian yang diderita Pulau
Saba diberitakan sangat besar. Aliran listrik masih belum diperbaiki dan
jalan penghubung terpenting di pulau tersebut ditutup batu karang besar.
Ahad kemarin pasangan kerajaan Belanda mengunjungi Sint Maarten, dan
memantau situasi di sana. Terutama sektor pariwisata di Sint Maarten
menderita kerugian besar, karena banyak hotel yang rusak berat.

* KUNJUNGAN SATU HARI CLINTON DI BULGARIA
Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menjanjikan bantuan ekonomi,
politik dan militer kepada Bulgaria. Hal ini dinyatakan sewaktu
kunjungan satu hari presiden Amerika ke negara tersebut, Senin ini.
Clinton disambut oleh Presiden Bulgaria Peter Stoyanov, di ibukota
Sofia. Amerika Serikat menyediakan dana 25 juta dolar untuk mengurangi
beban utang dan memperbaiki sistem perundang-undangan Bulgaria.
Kunjungan Clinton antara lain untuk mengucapkan terima kasih atas
dukungan yang diberikan Bulgaria sewaktu serangan udara Pakta Pertahanan
NATO di Yugoslavia dan Kosovo.

* TUJUH PAKAP PRANCIS SELAMAT DIKELUARKAN DARI GUA BAWAH TANAH
Tujuh orang pakar speleologi Prancis, atau pakar gua-gua karang, yang
terkurung di sebuah gua bawah tanah di Prancis baratdaya selama 10 hari,
berhasil diselamatkan. Regu-regu penolong berhasil membebaskan para
pakar setelah melubangi gua tersebut, dan mengangkat ketujuh pakar
dengan tali panjang. Pakar speleologi ini meninjau gua tersebut 10 hari
lalu dan terkurung akibat curah hujan deras. Regu penolong berhasil
menemukan lokasi mereka Ahad kemarin, yang terletak sekitar empat
kilometer dari lubang masuk gua.

* GUS  DUR KE TIMUR TENGAH SEMENTARA ACEH TERUS MEMBARA
INTRO: Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono berpendapat bentuk akhir
perjuangan yang dilakukan saat ini adalah terwujudnya supremasi sipil.
Namun jika kehidupan politik yang sehat tidak dibenahi, maka besar
kemungkinan dalam waktu lambat atau cepat peranan militer akan kembali.
Sementara itu Aceh masih tetap bergolak dan orangpun bertanya mengapa
Gus Dur belum berangkat ke Aceh? Laporan koresponden Syahrir dari
Jakarta:

Presiden Abdurrahman Wahid hari Senin kemarin tiba di Kuwait dalam
perjalanannya ke beberapa negara Timur Tengah. Selain Kuwait ia pun akan
mengunjungi Yordania dan Qatar. Sementara kalangan politik di Jakarta
menganggap keberangkatan Gus Dur ke luar negeri itu hanyalah sebagai
"pelarian". Gus Dur menghindar dari persoalan besar yang dihadapinya,
kata seorang pemimpin politik yang selama beberapa bulan terakhir ini
sering bertemu Gus Dur.

Ketika berbicara di depan Sidang Paripurna DPR RI baru-baru ini, Gus Dur
mengakui bahwa masalah yang paling memusingkannya adalah persoalan Aceh.
Tampaknya ia memang tidak merasa mampu mengatasi soal Aceh dengan
ancaman referendumnya. Mengadili prajurit berbintang saja ia belum
berani, apalagi kalau harus berdialog dengan rakyat Aceh. TNI jelas-
jelas sudah berseberangan dengan presiden dari Poros Tengah ini. Padahal
mayoritas pendukung Poros Tengah merupakan orang-orang TNI, kata seorang
pengamat. Kalau melihat gelagat pemerintahan Gus Dur akhir-akhir ini,
masyarakat awam pun mulai meragukan kemampuannya mempertahankan Aceh
sebagai bagian Republik Indonesia. Gus Dur tampaknya hanya mampu
mencegah kemerdekaan Aceh dengan mengerahkan 15 ribu tentara yang dahulu
bertugas di Timor Timur.

Harian Umum Media Indonesia yang banyak menerbitkan berita Aceh, dalam
suatu editorialnya kemarin menulis antara lain: "Pemerintah kelihatan
hanya mampu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Ketika Aceh menuntut
referendum, yang menurut mereka artinya merdeka, kita hanya mampu
bertanya: Apa betul mereka ingin merdeka? Ketika Aceh menghendaki
keistimewaan, kita bertanya, keistimewaan model apa lagi? Bukankah Aceh
menyandang predikat istimewa? Dan ketika Aceh menuntut agar pelanggaran
hak-hak asasi manusia diadili, kita juga bertanya, "Bukankah sudah
pernah ada penyelidikan dan penyidikan?" Malah jawabannya juga linear.
Mengirim Menteri Negara Urusan HAM ke Aceh.

Harian ini lebih lanjut melihat Jakarta seperti kumpulan orang-orang
teler. Terhuyung-huyung tetapi masih menghibur diri dengan idealisasi
dan fantasi. Mengaku Aceh sebagai bagian tak terpisahkan dari republik,
tetapi otoritas yang merupakan manifestasi kendali Jakarta sudah hancur.
Gubernur dikejar-kejar, malah dipaksa menandatangani deklarasi
referendum. Polisi yang seharusnya menjaga keamanan, malah lebih dulu
menjadi pengungsi. Tentara Nasional Indonesia yang memiliki tugas suci
menjaga keutuhan wilayah Nusantara, hanya menjadi penonton ketika
militer Aceh Merdeka mengajar anak-anak Aceh menggunakan senjata tempur
AK-47. Maka wajarlah jika sebagian pers melihat Gus Dur terus menerus
menghindar untuk pergi ke Aceh. Padahal ia sudah berjanji setelah
kembali dari Amerika akan segera ke Aceh.

Yang justru masih punya 'sense of crisis' adalah Amien Rais. Ialah yang
justru pergi ke Aceh. Bahkan ia pun berangkat ke Sulawesi Selatan Ahad
kemarin, meski sesungguhnya yang ditugaskan untuk menjelajahi Indonesia
Timur adalah Wakil Presiden Megawati. Mau tak mau orang pun menarik
kesimpulan bahwa Megawati takut pergi ke daerah-daerah yang rawan
seperti Ambon, Irian Jaya dan Tidore. Bahkan ke tempat-tempat para
pengungsi seperti di Kupang dan Manado Mega, sebagai wakil presiden,
juga belum bersedia. Sama seperti Gus Dur ia pun menunda-nunda
keberangkatannya. Entah di mana penasehat-penasehat mereka saat ini.
Yang jelas orang bisa merasakan adanya keragu-raguan untuk bertindak.

Gus Dur sendiri sudah mengaku di depan DPR bahwa ia tidak menduga akan
menjadi presiden. Ia sedang belajar, katanya. Tetapi Megawati adalah
orang yang paling siap menjadi presiden, sehingga jauh-jauh hari ia
sudah punya rencana 100 hari pertama. Konsepnya ini seharusnya dapat
ditawarkannya kepada Gus Dur yang nampak sangat mengharapkan dukungan
kubu Megawati. Bahkan sebenarnya untuk masalah Aceh pun Gus Dur berharap
Mega yang akan bertindak. Kalau pun Mega mengambil langkah yang salah,
jelas Gus Dur sebagai orang nomor satu di republik ini dapat meralatnya.
Tetapi entah mengapa Mega tetap berdiam diri saja kecuali sibuk menerima
tamu-tamu di rumahnya.

Sementara itu Aceh terus bergelora. Kantor Pemda Aceh dibom. Sebanyak 11
gedung sekolah dan kantor pemerintah di beberapa kecamatan wilayah Aceh
Tengah dibakar orang tak dikenal, pada hari Minggu malam. Karena sekitar
923 kepala desa di kabupaten Pidie sudah menyerahkan stempel mereka atau
mengundurkan diri maka praktis pemerintahan RI secara de facto sudah
tidak berfungsi di sana. Selain di kabupaten Pidie, Aceh Utara,
lembaga-lembaga pemerintahan di sebagian wilayah Aceh Selatan dan Aceh
Barat pun tak berfungsi secara normal. Maka rakyat pun mulai membentuk
pemerintahan daerah mereka sendiri. Struktur pemerintahan yang dibentuk
itu mirip zaman kerajaan Aceh dahulu.

Beberapa juru penerangan Gerakan Aceh Merdeka pun mulai giat melakukan
kampanye mengenai bentuk pemerintahan negara. Maka apa yang akan terjadi
di Aceh bulan depan tidak sulit diramalkan, karena kebijakan Jakarta
sekarang sangat tergantung pada sikap Gus Dur yang berubah-ubah setiap
waktu.

* TNI HARUS HENTIKAN INTIMDASI TERHADAP PENGUNGSI TIMTIM
Intro : Untuk mempercepat pemulangan pengungsi Timtim yang masih berada
di NTT, pemerintah Indonesia, terutama TNI, harus menghentikan
intimidasi dan penyebarluasan informasi yang menyesatkan tentang situasi
di Timtim. Itu lebih effektif ketimbang imbauan Duta Besar Amerika
Serikat untuk PBB, Richard Holbrooke kepada pemerintah Indonesia agar
mempercepat pemulangan pengungsi Timtim. Demikian Sylvia Fangidae dari
Posko Penanggulangan Bencana di Kupang, NTT.

SYLVIA FANGIDAE [SF]: Kalau sepengamatan saya dan teman-teman yang
bekerja untuk pengungsi, itu secara formal pemerintah Indonesia memang
malah mendesak pengungsi TimTim untuk segera pulang. Terutama yang bukan
keluarga tentara. Tetapi di lapangan, kontrol dan intimidasi dari milisi
pro-integrasi masih cukup kuat, terutama di wilayah-wilayah perbatasan
yang berbatasan langsung dengan TimTim dan di kamp-kamp pengungsian yang
mayoritas keluarga tentara dan keluarga milisi. Jadi walaupun secara
formal mereka dijamin untuk boleh kembali, kalau mau, tapi para
pengungsi sendiri takut untuk menyatakan keinginan untuk kembali kepada
UNHCR atau kepada posko Satlak di tempat-tempat pengungsian itu.

Karena kalau mereka menyatakan keinginan untuk kembali, mereka langsung
terancam. Dan sampai dua hari lalu pun masih ada pembunuhan dengan motif
seperti itu di Kabupaten Belu. Jadi memang mendesak pemerintah Indonesia
untuk memberikan ijin formal, itu saya rasa tidak terlalu efektif. Yang
lebih efektif adalah mendesak mungkin TNI, dan pemerintah Indonesia
untuk tidak mengizinkan milisi pro-integrasi untuk memakai wilayah
Indonesia sebagai basis kegiatan mereka. Dan dengan demikian de facto
mereka menguasai pengungsi-pengungsi yang ada di wilayah NTT.

Dan juga kami dari lapangan itu mendapatkan banyak sekali cerita dari
orang-orang yang katanya baru kembali dari TimTim, terutama dari Dili.
Bahwa di sana terjadi pemisahan kamp-kamp. Perempuan muda, satu kamp
sendiri, lalu terjadi sejenis kerja paksa di mana katanya Interfet
sangat tidak berperi kemanusiaan. Memaksa pemuda-pemuda TimTim yang
masih ada di TimTim atau yang baru kembali dari NTT untuk kerja-kerja
kasar melewati batas-batas kemanusiaan.

Tapi yah, berita-berita ini ada beberapa verifikasi yang kami lakukan
juga dengan teman-teman yang dari Dili atau yang masih berad di Dili dan
banyak yang membantah. Terutama pemisahan kamp, pamisahan yang perempuan
katanya dipisah sendiri untuk di 'rape' (perkosa, Red.) oleh tentara
Interfet. Tapi umumnya kalau dari informan-informan yang kami percaya,
katanya itu tidak terjadi. Sementara kalau kerja paksa, yah saya tidak
tahu apa-apa. Apakah ini dibesar-besarkan untuk kepentingan pro-
integrasi atau memang ada kebetulan orang-orang yang kembali lagi ke
NTT, karena dibilang harus kerja paksa di sana. Sifatnya 'personal'
(pribadi, Red.) atau mungkin malas, atau saya tidak tahu apa. Saya lebih
cenderung bahwa ini ada satu pola untuk memanipulasi informasi tentang
kondisi TimTim.

RADIO NEDERLAND [RN]: Selain informasi yang menyesatkan, informasi yang
salah mengenai situasi di TimTim, apakah pihak militer Indonesia juga
memberikan pengamanan kepada pengungsi TimTim yang mau kembali?

SF: Pengawalan selalu ada. Penghadangan-penghadangan dalam proses
pemulangan itu relatif tidak ada. Tapi yang menjadi masalah adalah
intimidasi untuk mereka menyampaikan kemauan untuk pulang. Sekarang
masih tertinggal di wilayah Belu. Belu itu kabupaten yang berbatasan
langsung dengan TimTim, masih sekitar 100.000-an orang. Di Kupang masih
ada 20.000-an orang. Dan itu memang di wilayah-wilayah yang konsentrasi
milisinya tinggi. Jadi memang intimidasi untuk pengungsi supaya tidak
pulang itu juga tinggi.

RN: Bagaimana situasi dan kondisi para pengungsi di Timor Timur yang
saat ini masih berada di kamp-kamp NTT itu?

SF: Menurut penilaian saya, sudah banyak sekali "emergency released
agency" (organisasi-organisasi pemberi bantuan, Red.) yang masuk. Tapi
sekarang ini sudah masuk musim hujan, dan musim hujan berarti semua
perlindungan yang di musim panas cukup, sudah tidak cukup. Itu seperti
tempat penampungan darurat, dan sumber air yang bersih, itu biasanya di
awal musim hujan kan menjadi keruh. Kita lihat yang paling murni dalam
penanganan kali ini adalah masalah air dan sanitasi. Kalau makanan
secara umum cukup. Karena WFP bekerja melalui berbagai lembaga untuk
menyalurkan beras. Begitu juga kebutuhan-kebutuhan lain. Tetapi sarana
air bersih dan kesehatan, relatif kurang. Karena 'coverage' (besarnya,
Red.) wilayahnya itu terlalu luas.

-----------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui [EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
-----------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Nov 1999 jam 02:28:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke