---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk MENGGUGAT MAKNA SANG MERAH PUTIH Sarah Lery Mboeik, aktivis organisasi hak asasi manusia PIAR dari Kupang, bersama pejuang HAM suku Amungme Mama Yosefa Alomang menerima penghargaan tertinggi HAM Indonesia Anugerah Yap Thiam Hien 1999. Upacara pemberian penghargaan yang dihadiri oleh Presiden Gus Dur serta beberapa menteri dan para aktivis ornop tersebut berlangsung tepat pada peringatan Hari Hak Assi Manusia Sedunia, 10 Desember 1999 di Hotel Santika. Lery Mboeik menggugat makna Merah Putih yang telah dipakai sebagai alat intimidasi oleh mereka yang menamkan dirinya milisi pro integrasi Timor Timur. Gugatan Lery Mboeik yang dibacakannya segera setelah menerima penghargaan HAM ini, kami muat secara utuh dengan pertimbangan bahwa maknanya penting untuk kita renungkan bersama. Redaksi SiaR ------------ TIMOR TIMUR DAN KEMANUSIAAN KITA Saudara-saudara dan hadirin yang terhormat, Bukan hari peringatan 17 Agustus, bukan juga hari besar lainnya. Namun apabila saudara-saudara berkendaraan dari Kupang ke Atambua, saudara-saudara akan melihat pancangan Merah Putih di atas tiang sederhana di depan deret gubuk-gubuk pengungsi, berkibar setiap hari. Bagi banyak orang di lain tempat, Merah Putih bisa berarti keharuan dan romantisme masa lalu; bagi yang lain lagi Merah Putih bisa juga berarti patriotisme dan kecintaan yang sungguh buat Tanah Air. Tapi apa arti Merah Putih untuk pengungsi di sekitar Kupang serta banyak orang Timor Timur lainnya? Berbeda dengan ungkapan-ungkapan yang disampaikan melalui televisi belakangan ini, banyak pengungsi menyampaikan ketakutan dan keinginan rasa aman sehingga "terpaksa" memasang bendera di muka-muka gubuknya. Ketakutan ini rupanya, berkaitan dengan bagaimana orang-orang bersenjata menyeret ribuan orang dari Tanah Air mereka untuk di"indonesiakan", begitu jajak pendapat selesai diumumkan. Gejala ini juga berkaitan dengan dirampasnya segala sesuatu yang berkaitan atau berbau Timor Timur hingga di jalan-jalan Kupang. Yang lebih dahsyat lagi adalah gejala ini juga berkaitan dengan penghancuran dan pemusnahan segala sesuatu di Timor Timur dengan alasan karena itu dulu semua milik Indonesia, harta benda, dan jiwa. Hadirin sekalian, Demikian lah, sebuah diskursus baru tentang "Dwi Warna" dihidupkan tetapi bukan dalam makna dan pengertian yang selama ini diajarkan kepada anak-anak kita: Merah Berarti Berani, Putih Berarti Suci". Oleh sebagian dari kita, orang Indonesia, makna Merah --- <naskah tidak jelas, Red.> ---- ada dimanapun masih juga belum puas dan mengerti sehingga masih perlu diajarkan terus menerus oleh sejarah. Sejarah, perjuangan, dan sikap manusia Timor Timur menjadi pelajaran penting untuk kita orang Indonesia, dalam memulai sejarah baru kita sendiri. Pertama-tama mungkin, dalam soal menilai danmerefleksikan pendirian kebangsaan kita, integrasi mental dan sosial kita selama ini yang dibangun melalui senjata dan kekerasan ternyata gagal menghadapi tantangan jaman. Kita memerlukan pemaknaan solidaritas sosial yang baru, yang bukan senjata tetapi pengertian tentang kebebasan. Kita diharuskan untuk memasang jati diri kebangsaan kita bukan dengan kekerasan tetapi dengan rasa hormat kita kepada kemanusiaan. Nasiobalisme kita harus bergerak dan berubah seiring dengan hadirnya jaman dan situasi baru; bukan lagi nasionalisme purba yang mengagung-agungkan negara dan atribut-atributnya sebagai berhala yang harus dipikul dan dipuja-puja, melainkan endorong negara untuk menjadi alat yang santun dalam mengabdi kepada kemanusiaan sejati. Hadirin sekalian, Sejarah eksistensi kita telah menampar diri kita sendiri akibat tindakan memalukan yang telah dibuat sebagian dari kita. Ini semua semoga mengajarkan kita mengenai satu hal yakni bhawa selama kita menginginkan memancang Merah Putih di halaman rumah kita, maka selama itu pula kita harus memegang teguh pengertian mengenai keberanian sejati dan kesucian. Keberanian sejati adalah melindungi yang lemah, bukan dengan kekuatanyang menghancurkan dan membinasakan. Kesucian berarti penghargaan kepada sifat-sifat ilahi dalam diri setiap pribadi; pribadi orang Timor Timur, pribadi orang Aceh, pribadi segala orang di segala bangsa. Sekian, terima kasih. Kupang, 30 November 1999 S. Lery Mboeik. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Dec 1999 jam 08:33:03 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
