---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PUTERA FAJAR Pengantar Penyunting: Rangkaian cerita di bawah ini diterjemahkan dan disadur oleh Dini S. Setyowati, dari sebuah buku berbahasa Jerman berjudul "Indonesien '65 - Anatomie eines Putchs", oleh dua pengarang Jerman (Republik Demokrasi Jerman ketika itu) yang lebih suka anonim, yang diterbitkan oleh Militaerverlag der Deutchen Demokratischen Republik (1975; 295 hal.). Terjemahan ini dipersembahkan bagi kaum muda Indonesia agar mengenal lebih banyak lagi sejarah bangsanya. Tidak semua data yang ditulisnya andal, tetapi analisis dan cara pandang yang ditawarkannya bisa merupakan masukan yang berharga. Selamat membaca. Redaksi ------- Dini S. Setyowati: PUTERA FAJAR SUATU pagi, dalam bulan Agustus tahun 1965. Seorang laki-laki setengah umur berdiri di teras Istana Merdeka. Sebuah map yang diapitnya, dia rapatkan ke dada seolah ingin menenangkan hatinya yang berdebar-debar. Itulah Kastur Rekso. Teman sekuliah Presiden Sukarno, sejak ketika mereka bersama-sama belajar di THS (Technische Hooge School - sekarang ITB) di Bandung. Sejak pergaulannya dengan Karno ketika itu - begitulah ia biasa menyapa akrab Sukarno, baik di bangku kuliah maupun di kamar kos yang mereka huni bersama - ia masih sering bertemu dengannya. Sekedar untuk mengobrol dan mengenang romantika masa muda mereka. Tapi selama itu selalu terjadi di warung atau rumah makan murahan. Tidak seperti kali ini. Di Istana Merdeka yang megah, dan tidak dengan Karno kawan satu kos, tapi dengan Bung Karno sebagai Presiden! Kastur Rekso sendiri masih tetap bekerja sebagai guru di salah satu SMA dan hidup sederhana. Sedangkan Karno, sesuai dengan cita-citanya yang telah ia dengar ketika indekos pada Keluarga Sanusi, telah mencapai tujuannya. Yaitu menjadi pemimpin bangsa Indonesia. Pagi hari ini, sesudah sekian lama saling berpisah, Kasto menjadi tamu terhormat Bung Karno Bapak Presiden. Baru kemarin malam ia tiba di ibukota, naik kereta api Bandung - Jakarta yang berjejal penuh sesak. Kesan pertama melihat suasana ibukota membuat Kasto kaget. Sepanjang jalan yang dilaluinya tampak kotor dan terbengkelai. Suramnya Jakarta tak tertutupi oleh kemegahan beberapa gedung hotel dan kantor dinas. Begitu pula beberapa patung monumental, dan puncak monumen nasional yang dipoles dengan warna emas kemilau, tidak berhasil memperindah suasana. Adanya patung-patung itu terasa semu, di tengah bertebarannya iklan-iklan yang meneriakkan merk pasta gigi dan sabun. Perasaan aneh timbul ketika ia menyusur jalanan lebar seperti Jalan Thamrin. Di balik kemegahan mengintai kekumuhan. Juga manusia-manusianya. Di tengah kesimpangsiuran dan kepadatan terasa anonimitas belaka. Suasana yang monoton dan kelabu ini terkadang pecah oleh keramaian jalanan yang tiba-tiba: Barisan-barisan demonstrasi para pemuda dalam pakaian warna-warni meneriakkan yel-yel "Hidup Bung Karno! Hidup Republik Indonesia! Ganyang Malaysia! Hidup Nasakom!" Kasto mengenal demonstrasi semacam itu. Di seluruh negeri terlihat suasana yang terasa dipaksakan seperti itu. Baginya semuanya itu tampak seperti dagelan. Tapi ia tidak berani menyatakan pendapatnya secara terang-terangan. Yang jelas slogan-slogan yang diteriakkan para demonstran itu tidak menyuarakan problem masyarakat yang sebenarnya: ekonomi yang terpuruk, harga pangan yang melambung, dan kesejahteraan yang merosot. Rasa takut terhadap masa depan dan ketidakpuasan terhadap haluan kebijakan pemerintah yang hanya meneriakkan slogan-slogan nasionalis. Terasa seluruh negeri berada dalam suasana tegang, yang suatu ketika pasti akan meletus menjadi satu bencana. Tapi bukan untuk itu Kasto datang ke Jakarta. Juga bukan hal-hal politik aktual yang hendak dibicarakannya dengan Presiden Bung Karno. Selama duapuluh tahun terakhir, sebagai guru, ia mengajar sejarah nasional dan bahasa Indonesia. Jabatannya itu telah memberi peluang baginya untuk menyusun sebuah naskah yang diberinya judul "Sejarah Bangsa Indonesia". Dengan penuh ketekunan dikumpulkannya bahan-bahan, dan setiap waktu luang dipakainya untuk menyusun semuanya itu menjadi sebuah naskah. Kurang lebih satu setengah tahun ia bekerja untuk itu. Satu bendel tebal beberapa ratus halaman telah dikirimnya kepada Presiden Sukarno untuk dinilai. Tentu bukan sekedar untuk mencari restu dan kesetujuan Bung Karno untuk naskahnya itu, tapi terutama untuk mendengar pendapat Bung Karno. Apakah cocok apa yang telah ditulisnya itu dengan pengalaman Bung Karno, sahabatnya yang sangat dihormatinya itu. Bagaimanapun juga, di mata Kasto, Bung Karno adalah pelopor besar dalam sejarah bangsanya. Dari pengalaman selagi masih di bangku kuliah, Bung Karno rajin mempelajari sejarah, dan selalu menjadi teman diskusi yang objektif dan berpandangan jernih. Sekarang Kasto ingin tahu, apakah Bung Karno yang sekarang masih juga Kusno yang dikenalnya dahulu. Si Guru dari Bandung ini merasa agak ciut hatinya ketika seorang perwira pengawal istana datang menjemputnya, di sebuah losmen murahan tempat ia menginap. Ketika daun pintu jati dibukakan, ia masuk di sebuah ruangan yang luas. Kasto duduk di depan akuarium yang besar. Seperti tanpa disadarinya sendiri, ia berdiri dan membungkuk, mengamati ikan-ikan emas besar-besar di akuarium. Mereka berenang bermalas-malas, bermandi cahaya matahari pagi yang perlahan-lahan mulai memenuhi ruangan. Ternyata di sinilah tempat Presiden Sukarno sarapan. Sebuah meja panjang sudah siap, ditutup dengan bermacam-macam hidangan makan pagi. Mulai dari nasi goreng, sayur lalapan dan lele goreng. Santapan sederhana yang dihidangkan dalam perabotan makan terbikin dari porselen mahal. Gelas-gelas kristal gemerincing, dan sendok serta garpu perak yang berkilauan oleh sinar pagi. Kecuali hidangan Indonesia tersedia juga hidangan ala Barat: roti, mentega, keju, jam, dan kue-kue. Beberapa gadis berseragam masuk, membawa gelas-gelas besar berisi kopi dan teh. Sesudah mengaturnya di atas meja, sekali lagi ditelitinya apakah semuanya sudah lengkap, mereka mundur dari ruangan. Berdiri menunggu di pintu masuk. Suasana masih terlalu pagi. Udara terasa sejuk. Presiden masih sibuk sembahyang subuh. Ruang sarapan yang luas ini mulai dipenuhi tamu-tamu. Memang sudah menjadi kebiasaan Presiden, setiap pagi berlangsung acara temu-wicara-sarapan bersama para tokoh pemerintahan, diplomat luar negeri dan para wartawan dalam dan luar negeri. Hadir juga beberapa pemimpin partai politik, di samping para menteri secara bergiliran dan teratur. Malahan juga para seniman, pelukis pematung dan penulis, baik dari dalam maupun luar negeri. Temu wicara sambil sarapan itu lalu menjadi sebuah diskusi yang hidup tentang segala aspek permasalahan. Biasanya diskusi ini berlangsung sampai dua jam, atau terkadang lebih, bergantung pada tamu yang datang dan agenda Presiden pada hari itu. Baru sesudah berdiskusi panjang lebar tentang situasi dalam dan luar negeri, Presiden memulai kesibukan hari kerjanya. Juga pada pagi hari ini. Tamu yang datang cukup banyak. Tapi yang mencolok di mata Kasto sangat banyaknya tamu yang berseragam militer. Juga termasuk para penjaga istana. Hanya tukang kebon dan pekerja dapur barangkali tidak. Mereka bukan saja berseragam militer, tapi juga bersenjata lengkap. Kasto tahu Indonesia memang menjalankan politik "dwifungsi" untuk ABRI. Para perwira tinggi menduduki jabatan tinggi di bidang politik dan ekonomi. Gejala sudah tampak, pada jabatan aparat birokrasi negara pun, militer merajalela. Presiden sendiri selalu memakai pakaian seragam. Teringat oleh Kasto sewaktu revolusi fisik. Dalam salah satu pidatonya pernah beliau mengucapkan, bahwa bangsa Indonesia harus bisa memakai pakaian seragam. Yaitu, kata beliau, untuk memperlihatkan kepribadian bangsa yang memberontak terhadap bangsa-bangsa yang sekian lama telah menjajah, dan memperbudak bangsa-bangsa jajahan sebagai "inlander-inlander yang bodoh". Tapi apakah sekarang masih perlu begitu? Kasto bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya Presiden masuk ruangan dengan langkah-langkah yang gagah. Semua orang yang ada di situ berdiri dan memberi hormat. Presiden menghampiri mereka dan menyalami satu demi satu. Kasto kembali terheran-heran melihat pakaian Presiden dalam suasana setengah resmi pagi ini. Kemeja putih dan celana abu-abu dari bahan katun, agak lebar, sehingga terlihat sederhana dan santai. Satu-satunya yang tak ketinggalan tentu saja kupiah hitamnya yang khas itu. Meskipun wajah beliau kelihatan segar sehabis mandi dan bercukur rapih, tapi tak bisa menyembunyikan kelelahan yang diakibatkan oleh fisiknya yang sakit. Sudah lama diketahui Presiden mengidap penyakit ginjal yang agak parah. Beliau pernah dioperasi, sehingga tinggal satu ginjal saja yang berfungsi, dan ini pun sekarang sudah mulai sakit pula. Selama Presiden menyalami, dan terkadang sambil menepuk bahu tamu-tamunya - beberapa tamu wanita dikecup keningnya - di belakang terus mengiringi dua wanita pengawal yang cantik-cantik dan berpakaian seragam Cakrabirawa. Dengan pandangan tajam mereka mengawasi suasana. Pada pinggang mereka bergantung pistol dan pentungan karet. Seperti semua anggota pasukan kawal Cakrabirawa, baik laki-laki maupun perempuan, mereka telah dilatih secara istimewa. Bukan saja dalam kemahiran menembak, tapi juga ilmu bela diri seperti karate dan judo. Begitu juga kepada mereka juga diajar tatacara pergaulan diplomatik, bahkan sampai pada keterampilan menyiapkan jamuan koktil. "Nah, ini dia!" Seru Presiden ketika berhadapan dengan Kasto Rekso. Langsung ia menyalami dan memeluknya. Sambil masih menggenggam tangan Kasto, Presiden memperkenalkannya pada semua yang hadir. "Dia ini salah seorang sobatku yang paling lama. Kasto Rekso, guru dari Bandung. Kami pernah bersama-sama kuliah, bersusah payah bersama, berbagi periuk nasi dan tikar bersama, dan ... kalau aku tak salah ingat juga mengejar satu gadis bersama! Ha-ha-ha!" Beliau tertawa dan Kasto menundukkan kepala. Malu melihat para tamu mengangguk-angguk sambil tersenyum. Sementara itu Presiden melanjutkan. "Bandung! Kota yang indah penuh kenangan. Ketika itu kami masih sangat muda. Waktu menghadapi penuh kesulitan. Jalannya perjuangan masih lama untuk ditempuh. Tapi kami berani menghadapinya. Sahabatku ini memutuskan untuk melakukan pekerjaan yang tidak gampang tapi mulia. Yaitu menyusun karangan Sejarah Bangsa Indonesia, yang akan segera diterbitkannya." Presiden berpaling ke Kasto, dan berkata pelan. "Tulisanmu sudah kubaca. Nanti kita bicarakan bersama. Memang banyak yang ingin kuceritakan." Berkata demikian sambil mendorong Kasto duduk di salah satu kursi, di sekeliling meja panjang itu. Sarapan pagi dimulai. Para tamu mengikuti gaya Presiden yang "main comot" saja. Presiden sendiri tak banyak makan. Mencicipi sedikit nasi goreng, sepotong roti toast, minum kopi tubruk hitam kesukaannya. Tapi di sela-sela itu juga diminumnya satu sendok madu berwarna kuning emas dari sebuah lodong besar di depan tempat duduknya. Konon madu ini dikirim dari Saudi Arabia sebagai salah satu di antara obat-obat yang harus diminumnya. Sambil makan Kasto mendengarkan pembicaraan yang berlangsung antara para tamu. Seorang jenderal mengabarkan tentang sebuah insiden yang terjadi di perbatasan Brunei. Seorang pengusaha perlente memuji-muji mesin yang tahan hawa lembab produksi sebuah perusahaan asing. Tiba-tiba Presiden membanyol. Beliau memang suka, di tengah-tengah pembicaraan serius, tiba-tiba melontarkan lelucon. Sukarno memang seorang yang berperangai santai dan penuh humor. Pribadi yang spontan dengan gaya yang tidak dibikin-bikin, dan dengan pancarannya yang memikat. Siapa yang melihat ketika beliau sedang duduk dan ngobrol santai, tidak bisa tidak akan terpesona oleh karismanya. Sama seperti ketika orang mendengar dan melihat beliau sedang berpidato di depan lautan massa dengan suaranya yang menggelegar. "Memang! Ia benar-benar Penyambung Lidah Rakyat. Seorang pemimpin besar yang dilahirkan oleh Indonesia." Berkata Kasto dalam hati, sambil memandangi Presiden yang masih terus bergurau dengan para tamu. "Dia tahu benar tentang daya kekuatan kata-kata, sehingga bisa membuat manusia tak berdaya melawan daya tariknya. Ia memiliki kemampuan menyampaikan hal-hal yang rumit secara sederhana, dan selalu mencoba mencari jalan keluar dari persoalan dengan jelas. Orang ini mampu mempesona, baik ketika sedang ngobrol santai, maupun ketika di depan massa yang gegap gempita mendengarkan pidato-pidatonya yaang berapi-api. Bukan begitu saja Sukarno menerima sebutan Penyambung Lidah Rakyat. Tapi ini mencerminkan penghargaan rakyat yang paling tinggi kepadanya, yang timbul dari kecintaan rakyat kepadanya." Sepanjang proses penyusunan karangannya, kenangan Kasto pada masa muda bersama Sukarno, merupakan pertolongan dan pendorong yang sangat besar. Sosok "Bung Karno" tidak bisa dipisahkan dengan derap langkah revolusi Indonesia. *** SUDAH menjadi pengakuan umum Bung Karno dan Revolusi Indonesia tidak bisa dipisahkan. Kenyataan ini merupakan kebanggaan Sukarno pribadi. Itu memang haknya. Apalagi pada saat akhir-akhir, ketika kondisi kesehatannya semakin mundur. Ketika saat-saat akhir baginya menikmati kehormatan sebagai pahlawan bangsanya barangkali sudah semakin mendekat. Belum terlalu lama yang lalu Ibundanya mengatakan, bahwa suatu prahara akan terjadi di Tanahair, dan bahwa dia lah justru tokoh utama di dalam prahara itu. Apakah itu akan benar-benar terjadi? Ataukah sekedar dongeng khayalan belaka? Sejarah masih akan memberikan bukti ... Ibunda Sukarno seorang Bali, keponakan raja Singaraja yang terakhir. Mereka tergolong dalam kasta tertinggi: Brahmana. Gadis bangsawan Bali ini, suatu ketika, bertemu dengan pemuda Jawa kebanyakan, guru sekolah dasar, dan beragama Islam. Tetapi keduanya saling jatuh cinta, kemudian memutuskan kawin lari, dan selanjutnya tinggal di Jawa. Pada tahun 1901 di kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia ketika itu. Pada dini hari menjelang fajar lahirlah putera pertama mereka. Anak yang lahir bersamaan dengan datangnya fajar menyingsing, ditentukan oleh Takdir akan menjadi orang besar! Begitu ibunya sering berkata kepadanya. Dan ia pun tidak pernah melupakan kata-kata ibundanya itu. Mereka lama tinggal di Blitar, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Di sini lah juga Karno kecil diasuh dan dibesarkan. Ketika Karno telah menginjak usia dewasa, ia pindah ke kota pelabuhan Surabaya. Di sini ia meneruskan pendidikannya, di sebuah sekolah, yang hanya anak-anak pribumi istimewa bisa masuk: AMS (Algemene Middelbare School). Ia mondok di rumah teman dekat ayahnya, yaitu Keluarga Umar Said Cokroaminoto. Dari rumah inilah pula pemuda Karno mengawali karirnya sebagai pemimpin bangsa, di sebuah negeri yang paling padat penduduknya: Hindia Belanda ketika itu. Pak Cokroaminoto seorang kyai, haji yang cendekiawan, dan juga seorang politikus tangguh dan gigih. Semenjak sistem Tanam Paksa dihapus di Jawa, tatanan ekonomi di Hindia Belanda mengalami perkembangan baru. Selain terbentuk lapisan masyarakat tuan tanah dan petani kaya di desa, bersamaan itu tentu saja lapisan tani miskin dan buruh tani. Di kota besar berkembang sistem produksi baru. Di sana-sini muncul berbagai perusahaan kerajinan tangan dan manufaktur. Juga terjadi sistem pelayanan birokrasi kota yang belum dikenal sebelumnya. Lalu sejalan dengan itu, lahirlah golongan baru dalam masyarakat, seperti golongan amtenar, pelajar dan mahasiswa. Tapi bersamaan dengan itu juga kaum pengusaha, pedagang ekspor-impor, serta para pemilik pabrik kecil. Tidak bisa dicegah tentu saja juga lahir lapisan kaum buruh. Kaum proletar. Karena lahir sebagai kaum yang baru di masyarakat, mereka belum mengenal organisasi dan belum mempunyai kesedaran ideologi dan politik. Belum punya kesanggupan bangkit dan berswadaya. Walaupun begitu lahirnya golongan baru dalam masyarakat ini menjadi landasan dan penyangga bagi kehidupan politik negeri ini di masa depan. Pada awal abad ke-20 telah lahir beberapa organisasi yang berskala nasional di Hindia Belanda. Walaupun umumnya kegiatannya terbatas sejauh pengumpulan dana bagi usaha pendidikan bangsa. Tetapi lambat laun visi mereka tentang perkembangan perjuangan politik semakin terbentuk dan semakin jelas. Dalam hubungan ini besar peranan barometer politik internasional, seperti misalnya peristiwa-peristiwa yang terjadi di Barat dan di Timur dalam tahun 1905: Perang Jepang - Rusia, Revolusi Rusia yang pertama, Revolusi nasional di Persia, Turki dan Cina. Semuanya itu bagaikan api yang membakar dan menyalakan semangat dan harapan bagi tunas organisasi-organisasi sosial-politik, yang segera tumbuh menjamur di Hindia Belanda. Entah kapan, suatu ketika, mereka itulah yang akan bangkit bertindak, menghapus rezim kolonial dari tanahair mereka. Kaum buruh kereta api mendirikan serikat buruh mereka (Staatspoor Wegen Bond, SS Bond. Red.), sebuah organisasi modern yang pertama. Para cendekiawan mendirikan Budi Utomo, yang belakangan menjadi organissai pemuda dan mahasiswa yang bercita-cita Indonesia Merdeka. Di rumah Keluarga Umar Said Cokroaminoto, Pemuda Sukarno bukan sekedar seorang pemondok - anak semang. Sukarno sekaligus hadir di depan Cokroaminoto sebagai salah seorang muridnya yang tekun dan bersemangat. Umar Said Cokroaminoto, selain seorang haji dan ulama, adalah juga guru masyarakat yang ketika itu sangat terkenal di seluruh Jawa. Rumahnya tidak pernah sepi. Selalu didatangi dan menjadi tempat berkumpul para pelajar dan mahasiswa, pedagang dan seniman, yang kebanyakan beragama Islam. Kepada mereka Umar Said memberikan pandangan-pandangan dan ajaran-ajarannya, yang bernafas anti-penjajahan dan sarat dengan ide-ide patriotisme. Pada tahun 1912 pengikut ajaran Cokroaminoto ditaksir tak kurang dari dua juta orang, yang bergabung di bawah bendera organisasi "Sarekat Islam". Visi utama Sarekat Islam ialah nasionalisme yang bertolak dari pemahaman Islam, dan persatuan nasional melalui budaya dan agama. Dua tahun sesudah Sarekat Islam berdiri, lahirlah satu organisasi beraliran Marxis yang pertama dalam sejarah negeri ini, yaitu Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV). Meskipun namanya masih dalam kata-kata Belanda, tetapi hampir seluruh anggotanya terdiri atas orang-orang bumiputera. Proses pertumbuhan Sukarno muda berawal dari lingkungan organisasi politik Islam Cokroaminoto. Selanjutnya berangsur-angsur ia bersentuhan dengan orang-orang dari kelompok Marxis, yang tidak jarang keluar-masuk juga di rumah kediaman Cokroaminoto. Dua pemuda Marxis yang sering singgah di situ ialah Semaun dan Aliarkham. Sampai jauh malam mereka bertiga, termasuk Sukarno, di bawah penerangan lampu minyak di atas meja, terlibat dalam diskusi seru dengan Cokroaminoto. Tak ada lain yang menjadi tema pembicaraan: mencari taktik dan merumuskan strategi perjuangan melawan kolonialisme. Pada tahun 1918, terpengaruh oleh keberhasilan Revolusi Oktober 1917 di Rusia, para marxis di sekitar Cokroaminoto mulai memisahkan diri dari Sarekat Islam. Alasan mereka karena tidak percaya lagi pada jalan perjuangan melalui perundingan, sambil menunggu "kebaikan hati" pemerintah kolonial Belanda. Sebagai ganti pandangan lunak demikian, kaum marxis ini mengobarkan semangat perlawanan secara nyata. Mereka, kaum radikal ini, mengajukan tuntutan agar pemerintah kolonial menyusun perundang-undangan khusus bagi bangsa Indonesia, serta mendesak agar disusun satu parlemen melalui pemilihan umum yang demokratis. Di tengah suasana seperti itulah Partai Komunis Indonesia (PKI) lahir dalam tahun 1920. Sukarno tetap setia pada Sarekat Islam Cokroaminoto. Sebenarnya ia mengerti benar, bahwa massa rakyat merupakan motor utama dalam mesin revolusi pengenyahan kolonialisme dari bumi Indonesia. Terutama mereka yang sekian lama telah ditindas dan dihisap, yaitu golongan petani kecil dan buruh tani. Menyadari hal ini Sukarno melihat perlunya menggalang kerjasama dengan organisasi partai politik yang mewakili suara kaum proletar yang telah semakin berbentuk. Tetapi Sukarno tidak ingin terjadi, adanya kepentingan klas yang berbeda akan dikobarkan menjadi motor penggerak ke arah tujuan politik yang berbeda pula. Sukarno ingin berhenti pada ide dan cita-cita, bahwa hanya persatuan nasional yang bertolak atas dasar patriotisme akan mampu mengalahkan dan menghapus kolonialisme. Berangsur-angsur ia menjadi pengikut setia Cokroaminoto, dan tumbuh menjadi seorang orator yang karismatik. Ia rajin mempelajari karya-karya filsafat dunia. Pengarang-pengarang besar seperti Marx dan Engels bagi Sukarno sama nilainya seperti juga Rousseau, Briand, Jefferson dan Lincoln. Ketika itu ia baru berumur dua puluh tahun. Tetapi ide-ide sosial dan politiknya sudah mulai berbentuk. Dengan ide-idenya itulah ia berharap dan bekerja untuk menolong bangsanya, Bangsa Indonesia, memerdekakan diri dari penjajahan dan penindasan kolonial. Kasto tak sadar tersenyum. Ia teringat pada sebuah dongeng, yang selalu diceritakan Sukarno, jika ia hendak menerangkan teorinya tentang apa itu "rakyat Indonesia". Konon pada suatu hari di tengah perjalanan di atas kereta api, ia berjumpa dan ngobrol dengan teman seperjalanan. Seorang laki-laki biasa bernama Marhaen. Terkesan oleh kesahajaan laki-laki ini tiba-tiba Sukarno mendapat ilham: Inilah lambang rakyat Indonesia. Ya, si Marhaen inilah dia! Kemudian sejak itu lahirlah mitos tentang "Rakyat Marhaen" dari buah pikiran seorang Sukarno. Teori Marhaenisme bertolak dari pemikiran, bahwa orang Indonesia kebanyakan tidak memiliki apa-apa, bahkan juga selama itu tidak ada kemungkinan bagi dia untuk memiliki apa pun! Dengan alat produksi paling sederhanan miliknya ia hidup, tanpa merugikan siapa-siapa tapi sebaliknya juga tanpa menguntungkan diri sendiri. Ia hanya sekedar bertahan hidup dan melangsungkan jenisnya. Orang Indonesia kebanyakan ini tidak punya hasrat menghisap orang sesama, karena mereka semua berada dalam satu derajat. Inilah kenyataan sosial Indonesia. Ke sanalah sosialisme ala Indonesia menuju. Namun ada satu hal yang tidak pernah menjadi jelas bagi Kasto. Apakah pandangan Sukarno ini tidak lebih jauh dari pandangan tentang "Wong Cilik", karena terlalu terjerat pada mistik Jawa dan segala tradisinya? Ataukah sebagai tantangan Sukarno terhadap teori-teori Barat, terutama teori tentang analisa klas dalam masyarakat? Teori ini, di masa Sukarno muda, memang tersebar luas di dunia. Banyak mendapat penganut, terutama di kalangan kaum komunis dan kaum sosial demokrat. Kasto tidak begitu banyak tahu tentang proses perkembangan pemikiran politik Sukarno. Ia mengenal Sukarno hanya ketika mereka masih bersama-sama duduk di bangku THS di Bandung. Sukarno sudah lama menjadi pengikut pikiran Cokroaminoto ketika itu. Ia bahkan menikahi salah seorang puteri gurunya itu. Namun kemudian diceraikannya, justru karena anak perempuan itu masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri. Walaupun demikian kesetiaan Sukarro terhadap Cokroaminoto tidak menjadi surut karenanya. Juga, ketika itu, ia sudah berani menunjukkan "warna"-nya di depan pemerintah kolonial. Pada tahun 1918, sehubungan dengan makin pasangnya semangat perlawanan kaum pemuda, terutama di pulau-pulau luar Jawa, pemerintah kolonial memberlakukan peraturan baru untuk menyusun "badan perwakilan" yang bernama "Volksraad". Ini merupakan langkah untuk menciptakan kesan, seolah-olah bangsa pribumi juga ikut diberi kesempatan menetapkan haluan pemerintahan. Dengan demikian gejolak perlawanan bisa dengan mudah dipantau, disalurkan dan dikontrol dengan lebih mudah. Tetapi di dalam "dewan rakyat" ini sebagian besar kursi disediakan untuk orang-orang Belanda dan beberapa orang "Timur Asing", sedangkan "wakil-wakil pribumi" diberikan pada mereka yang berjiwa kolaborasi dengan pemerintah kolonial. Perlu juga ditambahkan, bahwa fungsi Volksraad sejatinya hanyalah sebagai penasihat bagi gubernur jenderal. Sukarno ketika itu pemrotes gigih terhadap Volksraad. Ketika masih di Bandung, ketika mereka bersama-sama menumpang di rumah keluarga Sanusi, sering masalah ini menjadi bahan diskusi. Ada kalanya berdua, Sukarno - Kasto, tetapi tak jarang juga mereka bertiga: Sukarno - Kasto - Sanusi. Ya, memang sangat banyak yang mereka perbuat bersama-sama ketika itu. Hampir segala-galanya. Dan karena itulah juga Sukarno muda dan ibu-kos, Inggit Garnasih, istri Sanusi, saling jatuh cinta. Tak lama kemudian Ibu Inggit meninggalkan suaminya, dan sebagai istri hidup bersama Sukarno yang jauh lebih muda darinya. "Hai Kasto!" Tiba-tiba berseru Presiden dari ujung lain meja itu. "Kenapa kau tidak makan? Ayo ambil jam produksi imperialis ini. Jangan segan-segan!" Si Guru bingung sejenak. Lalu diambilnya sepotong toast dan menyemirnya dengan mentega. Para tamu tersenyum. Tetapi tak berapa lama kemudian perhatian para hadirin berpindah ke pembicara baru, seorang jenderal Angkatan Darat. Ia mengangkat masalah mengenai rencana mempersenjatai kaum buruh dan tani, yang sudah disetujui juga oleh Presiden. Lebih lanjut rencana itu menghendaki, agar kaum buruh dan tani bersenjata ini dilibatkan aktif untuk menyokong ABRI dalam konfrontasi dengan Malaysia. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa ABRI sejatinya menentang keras rencana tersebut, dan nampaknya Presiden pun - walaupun sudah menyetujui - sebenarnya belum begitu "sreg". Untuk kesekian kalinya beliau minta supaya masalah ini didiskusikan lebih mendalam lagi, ditimbang dan ditinjau dari segala sudut. Ketika salah seorang tamu mengingatkan, bahwa mayoritas buruh dan tani kemungkinan besar berdiri di belakang PKI, Presiden tak bisa menahan tertawanya. Sambil terbahak-bahak beliau menyahut: "Kenapa kalian takut terhadap Komunis? Jangan penyakit komunisto-fobia menghinggapi kalian. Memang banyak orang menuduh aku Komunis. Itu tidak benar. Aku hanya merasa tidak perlu takut terhadap mereka. Kalian pun jangan takut tanpa alasan." Orang-orang Komunis. Kasto mengunyah sambil berpikir. Sudah tentu benar: Sukarno bukan Komunis. Selama di Bandung, sambil belajar, seluruh tenaga dan semangatnya dicurahkan untuk membangun Sarekat Islam. Sementara itu tak kunjung lelah, ia terus-menerus berusaha melonggarkan ajaran-ajaran Islam fundamental yang dinamainya "Islam Sontoloyo", yang baginya dirasa terlalu menyesakkan, menyesatkan, dan tidak punya perspektif. Daya upayanya untuk menyerap ide-ide sosialisme membawa hasil yang gemilang. Dalam beberapa tahun kemudian tergalanglah gerakan massal, yang di dalamnya tidak sedikit terdiri atas kaum buruh dan tani. Sementara itu gerakan Komunis juga semakin kuat. Suhu situasi politik di Hindia Belanda terasa meninggi dan menegangkan. Pemerintah kolonial melihat, Hindia Belanda sedang menghadapi perombakan besar-besaran. Karena itu kemungkinan sangat terbuka bagi tumbangnya sistem kolonial. Menghadapi itu pemerintah tidak tinggal diam. Mata-mata disusupkan ke mana-mana, terutama ke tubuh organ-organ PKI. Partai ini ketika itu masih lemah. Anggotanya belum banyak. Bahkan belum bisa disamakan dengan organisasi-organisasi gerakan kemerdekaan burjuasi nasional yang sudah lebih meluas dan kuat. Kaum proletar Indonesia masih dalam tingkatan pemula, sedangkan kaum tani miskin dan buruh tani masih belum menjadi sekutu yang potensial. Ketika pada tahun 1926 terjadi pemberontakan dan pemogokan buruh kereta api, Belanda yang sudah mengetahui adanya rencana demikian, dengan mudah berhasil menumpasnya. PKI memimpin aksi itu. Tetapi pengorganisasiannya masih jauh dari matang, karena belum adanya pengalaman. Terutama pengalaman dalam menghadapi taktik-taktik militer Belanda. Ketika Sukarno mempertahankan diplomasi insinyurnya di THS Bandung, di ujung lain Pulau Jawa terjadi penangkapan dan pembunuhan terhadap para aktivis buruh kereta api. Banyak yang dibunuh, dan ratusan dibuang ke Irian Barat, dan di sana mereka perlahan-lahan mati satu demi satu. Gerakan revolusioner itu mengalami kekalahan besar. Organisasi Partai Komunis Indonesia hancur. Hanya beberapa orang kader mereka yang berpengalaman berhasil menyelamatkan diri ke luar negeri. Sukarno melihat kesempatan terbuka di hadapannya. Dan ia tak mau membuang-buang waktu. Dengan mantap ia bekerja keras untuk membangun partainya sendiri. Dua tahun lamanya. Tahun-tahun yang berbahaya dan berat di bawah intaian mata intel-intel politik pemerintah kolonial yang tajam. Tahun-tahun yang dipenuhinya dengan kampanye dan propaganda tentang program gerakan nasional Indonesia. Pada tahun 1926 berdirilah Partai Nasional Indonesia (PNI). Organisasi politik ini menarik anggotanya dari kalangan kaum burjuasi nasional dan kaum cendekiawan. Banyak di antara mereka yang semula berada di dalam organisasi dan partai lain. Tapi karena karisma pemimpinnya, Sukarno, dan programnya yang begitu jelas dan tegas, tanpa ragu-ragu banyak dari mereka yang masuk bergabung di dalam PNI. Dalam waktu singkat PNI tumbuh menjadi partai massa. Tujuan utama partai ialah mencapai kemerdekaan Indonesia sepenuhnya. Segera sesudah PNI berdiri, bendera Merah Putih dirancang, dan lagu Indonesia Raya disusun. Bendera dan lagu itu tidak pernah diperlihatkan dan dinyanyikan di muka umum secara terbuka, tetapi selalu tidak pernah ditinggalkan pada pertemuan-pertemuan PNI yang tertutup dan lepas dari intaian polisi kolonial. Dengan berhasilnya PNI dalam tempo pendek menjadi partai politik paling kuat, maka peran utama dalam perjuangan anti-kolonial beralih ke tangan kaum burjuasi nasional. Ini berarti, bahwa golongan burjuasi nasional ini jugalah yang sejak itu tampil sebagai pelopor. Golongan burjuasi nasional, dalam tubuh organisasi PNI, secara historis mewarnai sejarah bangsanya sepanjang masa selanjutnya. Dengan caranya sendiri Sukarno memimpin gerakan perlawanan terhadap kolonialisme. Taktik perlawanan bersenjata tidak pernah terlintas sedikit pun di kepalanya. Perjuangan Sukarno dibangun di atas ide perjuangan pasif dan tanpa kekerasan, menyuarakan tuntutan-tuntutan perjuangannya dengan gigih dan pantang mundur. Ia yakin benar, suatu ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda akan mundur dan menyerah, menghadapi tekanan kedaulatan nasional Indonesia yang bersatu. Tetapi ternyata Belanda menempuh jalan pikiran yang lain. Perlawanan nasional dan kesadaran politik yang semakin meningkat, tentu saja semakin menggelisahkan Belanda. Ia tidak mundur dan menyerah secara damai, tetapi menggunakan metode represi yang klasik. Menangkapi para pimpinan politik, dan menyingkirkan mereka di penjara atau pembuangan. Pada tahun 1929 Sukarno ditangkap. Baru sesudah satu tahun berlalu ia diadili, dan dijatuhi hukuman penjara empat tahun. Sementara itu pers dunia mengangkat kasus Sukarno. Ratusan protes yang menyerang pemerintah kolonial Hindia Belanda datang dari berbagai penjuru. Akibatnya, pada tahun 1931 Sukarno dibebaskan. Ketika itu Kasto ikut menyambutnya di Bandung, bersama-sama ratusan orang pengagum Sukarno bersorak-sorai sepanjang jalan. Pada waktu itu gerakan kaum buruh menjadi sasaran utama teror aparat pemerintah kolonial. Lambat laun pemerintah merasa, bahwa gerakan ini merupakan musuh potensial, terutama sesudah kaum buruh dan tani bersatu dalam aksi-aksi militan untuk menghadapi kesewenang-wenangan pemerintah kolonial. Jika seranganverbal Sukarno dan PNI saja sudah dianggap berbahaya, apalagi aksi-aksi kongkret gerakan buruh yang menyerang hakikat kekuasaannya ... Pada tahun 1933 tiba-tiba terjadilah pemogokan dan pemberontakan awak kapal Belanda "De Zeven Provincien" (Kapal Tujuh). Ini nama sebuah kapal perang, milik angkatan laut pemerintah. Dengan begitu untuk pertama kali terjadi aksi solidaritas antara pelaut Belanda dan Indonesia. Untuk beberapa lama mereka berhasil menguasai kapal itu. Perlawanan mereka berhasil dipatahkan sesudah dihadapi oleh satuan militer Belanda, yang tentu saja menang dalam jumlah dan persenjataan. Tetapi kejadian ini telah mengundang bangkitnya gelombang simpati dan setiakawan dari berbagai pelosok negeri. Kegelisahan pemerintah kolonial semakin menjadi-jadi, karena mereka menyadari bahwa peristiwa ini diwarnai oleh sikap setiakawan antara awak kapal dari dua bangsa: Belanda dan Indonesia. Karena itu pemerintah terus mempersempit ruang gerak kaum nasionalis, khususnya Sukarno setelah ia kembali dari pembuangan dan meneruskan perjuangannya. Karena itu ia ditangkap lagi pada tahun 1933. Mula pertama dibuang ke Pulau Flores. Tapi sesudah Sukarno menderita sakit malaria, ia lalu dipindah ke Sumatra Selatan, yaitu Bengkulu. Ini juga karena adanya protes keras dari pendapat umum dunia. Syarat-syarat penahanan di tempat baru agak lunak. Sehingga Sukarno bisa segera memulihkan kesehatannya, dan kembali bekerja keras di gelanggang politik. Membuat pamflet-pamflet politik, menulis artikel-artikel untuk koran, sudah menjadi acara kerjanya sehari-hari. Ibaratnya tidak ada satu orang Indonesia pun yang tidak mengetahui di mana Sukarno berada. Mereka menantikan kedatangannya kembali di tengah-tengah mereka. Sudah menjadi kenyataan juga, bahwa rakyat jelata pun mulai menaruh harapan kepadanya. Sejak itu Sukarno menjadi simbol perjuangan kemerdekaan, yang di dalamnya terkandung janji mulia, kehidupan yang adil dan makmur, tanpa kesengsaraan dan kesewenang-wenangan penguasa kolonial. Tahun 1942 Sukarno masih ditahan di Bengkulu. PNI sudah pecah, tetapi belum mati sama sekali. Kenyataan menunjukkan, bahwa kehadiran Sukarno sangat menentukan bagi hidup dan bersatunya kembali PNI. Tidak ada seorang pun meragukan pengaruh Sukarno di tengah massa. Maka, seketika ia kembali dari pengasingan, sesegera itu juga rakyat mengelu-elukan dan mengikutinya beramai-ramai. Kenyataan seperti itu juga disadari oleh Jepang yang datang, menyebut dirinya sebagai "saudara tua" bangsa Indonesia. Kasto Rekso masih termenung, ketika tiba-tiba ia tersentak oleh gelak tawa para tamu. Ia tidak mengikuti jalannya pembicaraan yang berlangsung, sehingga tidak mengerti mengapa mereka harus tertawa. Yang baginya jelas yaitu, bahwa diskusi serius sudah beralih pada kesantaian dan humor. Seorang ibu dibujuk agar menyanyi. Ibu ini berasal dari Kanada. Kasto tidak tahu, mengapa ia ikut diundang dalam acara sarapan di kepresidenan ini. Selagi ibu itu menyanyi, Kasto berusaha menahan geli. Tetapi Presiden tertawa lebar ketika ia selesai menyanyikan lagunya. "Bagus, bagus!" Kata Presiden. "Nanti kalau ada acara ludruk di istana, Anda akan aku ajukan." Yang diberi pujian tidak merasa tersinggung. Ia mengangguk hormat sambil tersenyum. Dan minta tambah secangkir kopi ... Disusul salah seorang menteri bercerita. Sebuah anekdot tentang perselisihan Uni Soviet dengan RRT. Presiden tersenyum kecut mendengar lelucon murahan begitu. Sudah diketahui umum Presiden menaruh respek pada Uni Soviet. Meskipun pada saat-saat belakangan ia mengambil sikap berjarak terhadap haluan politik Uni Soviet, baik ke luar maupun ke dalam negeri sendiri. "Tidak cocok itu untuk Indonesia sekarang!" Kata Sukarno. Ketika itu Sukarno semakin mendekati RRT dan Mao Zedong, baik pribadi maupun ajarannya. Pada kunjungan Sukarno terakhir ke RRT, sambutan sangat meriah diberikan kepadanya. Dan perundingan yang berlangsung ketika itu menghasilkan kesepakatan untuk semakin mempererat kerjasama antara kedua negara dan rakyat. Ratna Sari Dewi, istri Presiden yang masih muda belia, duduk di samping suaminya yang sudah tampak dimakan usia dan penyakit. Ia kelihatan cantik dan segar. Beberapa tamu bertanya tentang rencana perjalanannya ke luar negeri. Sambil tersenyum ia menjawab, sedikit mengelak: mungkin ke Eropa Barat, Paris atau London ... Dewi berasal Jepang, tetapi masih keturunan Indonesia. Sukarno bertemu dengannya pada salah satu kunjungannya ke negeri Sakura itu. Kisah cinta mereka bukan merupakan rahasia umum lagi. Desas-desus mengatakan, Sukarno memang cenderung lemah terhadap segala sesuatu yang berbau Jepang, dan - kata mereka - selalu "membudak pada saudara tua" itu. Apakah benar begitu? Kasto Rekso, teman Sukarno sejak muda, tidak melihat alasan untuk membenarkannya.***(BERSAMBUNG) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Dec 1999 jam 09:32:21 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
