----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

PUTERA FAJAR

Pengantar Penyunting:

Rangkaian cerita di bawah ini diterjemahkan dan disadur oleh Dini S.
Setyowati, dari sebuah buku berbahasa Jerman berjudul "Indonesien '65 -
Anatomie eines Putchs", oleh dua pengarang Jerman (Republik Demokrasi Jerman
ketika itu) yang lebih suka anonim, yang diterbitkan oleh Militaerverlag der
Deutchen Demokratischen Republik (1975; 295 hal.). Terjemahan ini
dipersembahkan bagi kaum muda Indonesia agar mengenal lebih banyak lagi
sejarah bangsanya. Tidak semua data yang ditulisnya andal, tetapi analisis
dan cara pandang yang ditawarkannya bisa merupakan masukan yang berharga.

Selamat membaca.

Redaksi
-------

Dini S. Setyowati:

PUTERA FAJAR

        SUATU pagi, dalam bulan Agustus tahun 1965. Seorang laki-laki
setengah umur berdiri di teras Istana Merdeka. Sebuah map yang diapitnya,
dia rapatkan ke dada seolah ingin menenangkan hatinya yang berdebar-debar.
     Itulah Kastur Rekso. Teman sekuliah Presiden Sukarno, sejak ketika
mereka bersama-sama belajar di THS (Technische Hooge School - sekarang ITB)
di Bandung. Sejak pergaulannya dengan Karno ketika itu - begitulah ia biasa
menyapa akrab Sukarno, baik di bangku kuliah maupun di kamar kos yang mereka
huni bersama - ia masih sering bertemu dengannya. Sekedar untuk mengobrol
dan mengenang romantika masa muda mereka. Tapi selama itu selalu terjadi di
warung atau rumah makan murahan. Tidak seperti kali ini. Di Istana Merdeka
yang megah, dan tidak dengan Karno kawan satu kos, tapi dengan Bung Karno
sebagai Presiden!
      Kastur Rekso sendiri masih tetap bekerja sebagai guru di salah satu
SMA dan hidup sederhana. Sedangkan Karno, sesuai dengan cita-citanya yang
telah ia dengar ketika indekos pada Keluarga Sanusi, telah mencapai
tujuannya. Yaitu menjadi pemimpin bangsa Indonesia.
      Pagi hari ini, sesudah sekian lama saling berpisah,  Kasto menjadi
tamu terhormat Bung Karno Bapak Presiden.
     Baru kemarin malam ia tiba di ibukota, naik kereta api Bandung -
Jakarta yang berjejal penuh sesak. Kesan pertama melihat suasana ibukota
membuat Kasto kaget. Sepanjang jalan yang dilaluinya tampak kotor dan
terbengkelai. Suramnya Jakarta tak tertutupi oleh kemegahan beberapa gedung
hotel dan kantor dinas. Begitu pula beberapa patung monumental, dan puncak
monumen nasional yang dipoles dengan warna emas kemilau, tidak berhasil
memperindah suasana. Adanya patung-patung itu terasa semu, di tengah
bertebarannya iklan-iklan yang meneriakkan  merk pasta gigi dan sabun.
Perasaan aneh timbul ketika ia menyusur jalanan lebar seperti Jalan Thamrin.
Di balik kemegahan mengintai kekumuhan. Juga manusia-manusianya. Di tengah
kesimpangsiuran dan kepadatan terasa anonimitas belaka.
     Suasana yang monoton dan kelabu ini terkadang pecah oleh keramaian
jalanan yang tiba-tiba: Barisan-barisan demonstrasi para pemuda dalam
pakaian warna-warni meneriakkan yel-yel "Hidup Bung Karno! Hidup Republik
Indonesia! Ganyang Malaysia! Hidup Nasakom!"
        Kasto mengenal demonstrasi semacam itu. Di seluruh negeri terlihat
suasana yang terasa dipaksakan seperti itu. Baginya semuanya itu tampak
seperti dagelan. Tapi ia tidak berani menyatakan pendapatnya secara
terang-terangan. Yang jelas slogan-slogan yang diteriakkan para demonstran
itu tidak menyuarakan problem masyarakat yang sebenarnya: ekonomi yang
terpuruk, harga pangan yang melambung, dan kesejahteraan yang merosot.
     Rasa takut terhadap masa depan dan ketidakpuasan terhadap haluan
kebijakan pemerintah yang hanya meneriakkan slogan-slogan nasionalis. Terasa
seluruh negeri berada dalam suasana tegang, yang suatu ketika pasti akan
meletus menjadi satu bencana.
     Tapi bukan untuk itu Kasto datang ke Jakarta. Juga bukan hal-hal
politik aktual yang hendak dibicarakannya dengan Presiden Bung Karno.
      Selama duapuluh tahun terakhir, sebagai guru, ia mengajar sejarah
nasional dan bahasa Indonesia. Jabatannya itu telah memberi peluang baginya
untuk menyusun sebuah naskah yang diberinya judul "Sejarah Bangsa
Indonesia". Dengan penuh ketekunan dikumpulkannya bahan-bahan, dan setiap
waktu luang dipakainya untuk menyusun semuanya itu menjadi sebuah naskah.
Kurang lebih satu setengah tahun ia bekerja untuk itu.
      Satu bendel tebal beberapa ratus halaman telah dikirimnya kepada
Presiden Sukarno untuk dinilai. Tentu bukan sekedar untuk mencari restu dan
kesetujuan Bung Karno untuk naskahnya itu, tapi terutama untuk mendengar
pendapat Bung Karno. Apakah cocok apa yang telah ditulisnya itu dengan
pengalaman Bung Karno, sahabatnya yang sangat dihormatinya itu. Bagaimanapun
juga, di mata Kasto, Bung Karno adalah pelopor besar dalam sejarah bangsanya.
     Dari pengalaman selagi masih di bangku kuliah, Bung Karno rajin
mempelajari sejarah, dan selalu menjadi teman diskusi yang objektif dan
berpandangan jernih. Sekarang Kasto ingin tahu, apakah Bung Karno yang
sekarang masih juga Kusno yang dikenalnya dahulu. Si Guru dari Bandung ini
merasa agak ciut hatinya ketika seorang perwira pengawal istana datang
menjemputnya, di sebuah losmen murahan tempat ia menginap.
     Ketika daun pintu jati dibukakan, ia masuk di sebuah ruangan yang luas.
Kasto duduk di depan akuarium yang besar. Seperti tanpa disadarinya sendiri,
ia berdiri dan membungkuk, mengamati ikan-ikan emas besar-besar di akuarium.
Mereka berenang bermalas-malas, bermandi cahaya matahari pagi yang
perlahan-lahan mulai memenuhi ruangan.
      Ternyata di sinilah tempat Presiden Sukarno sarapan. Sebuah meja
panjang sudah siap, ditutup dengan bermacam-macam hidangan makan pagi. Mulai
dari nasi goreng, sayur lalapan dan lele goreng. Santapan sederhana yang
dihidangkan dalam perabotan makan terbikin dari porselen mahal. Gelas-gelas
kristal gemerincing, dan sendok serta garpu perak yang berkilauan oleh sinar
pagi. Kecuali hidangan Indonesia tersedia juga hidangan ala Barat: roti,
mentega, keju, jam, dan kue-kue.
      Beberapa gadis berseragam masuk, membawa gelas-gelas besar berisi kopi
dan teh. Sesudah mengaturnya di atas meja, sekali lagi ditelitinya apakah
semuanya sudah lengkap, mereka mundur dari ruangan. Berdiri menunggu di
pintu masuk.
       Suasana masih terlalu pagi. Udara terasa sejuk.
       Presiden masih sibuk sembahyang subuh.
       Ruang sarapan yang luas ini mulai dipenuhi tamu-tamu. Memang sudah
menjadi kebiasaan Presiden, setiap pagi berlangsung acara
temu-wicara-sarapan bersama para tokoh pemerintahan, diplomat luar negeri
dan para wartawan dalam dan luar negeri. Hadir juga beberapa pemimpin partai
politik, di samping para menteri secara bergiliran dan teratur. Malahan juga
para seniman,  pelukis pematung dan penulis, baik dari dalam maupun luar
negeri. Temu wicara sambil sarapan itu lalu menjadi sebuah diskusi yang
hidup tentang segala aspek permasalahan. Biasanya diskusi ini berlangsung
sampai dua jam, atau terkadang lebih, bergantung  pada tamu yang datang dan
agenda Presiden pada hari itu. Baru sesudah berdiskusi panjang lebar tentang
situasi dalam dan luar negeri, Presiden memulai kesibukan hari kerjanya.
      Juga pada pagi hari ini. Tamu yang datang cukup banyak. Tapi yang
mencolok di mata Kasto sangat banyaknya tamu yang berseragam militer. Juga
termasuk para penjaga istana. Hanya tukang kebon dan pekerja dapur
barangkali tidak. Mereka bukan saja berseragam militer, tapi juga bersenjata
lengkap. Kasto tahu Indonesia memang menjalankan politik "dwifungsi" untuk
ABRI. Para perwira tinggi menduduki jabatan tinggi di bidang politik dan
ekonomi. Gejala sudah tampak, pada jabatan aparat birokrasi negara pun,
militer merajalela.
     Presiden sendiri selalu memakai pakaian seragam. Teringat oleh Kasto
sewaktu revolusi fisik. Dalam salah satu pidatonya pernah beliau
mengucapkan, bahwa bangsa Indonesia harus bisa memakai pakaian seragam.
Yaitu, kata beliau, untuk memperlihatkan kepribadian bangsa yang memberontak
terhadap bangsa-bangsa yang sekian lama telah menjajah, dan memperbudak
bangsa-bangsa jajahan sebagai "inlander-inlander yang bodoh". Tapi apakah
sekarang masih perlu begitu? Kasto bertanya-tanya dalam hati.
     Akhirnya Presiden masuk ruangan dengan langkah-langkah yang gagah.
Semua orang yang ada di situ berdiri dan memberi hormat. Presiden
menghampiri mereka dan menyalami satu demi satu. Kasto kembali
terheran-heran melihat pakaian Presiden dalam suasana setengah resmi pagi
ini. Kemeja putih dan celana abu-abu dari bahan katun, agak lebar, sehingga
terlihat sederhana dan santai. Satu-satunya yang tak ketinggalan tentu saja
kupiah hitamnya yang khas itu. Meskipun wajah beliau kelihatan segar sehabis
mandi dan bercukur rapih, tapi tak bisa menyembunyikan kelelahan yang
diakibatkan oleh fisiknya yang sakit. Sudah lama diketahui Presiden mengidap
penyakit ginjal yang agak parah. Beliau pernah dioperasi, sehingga tinggal
satu ginjal saja yang berfungsi, dan ini pun sekarang sudah mulai sakit pula.
      Selama Presiden menyalami, dan terkadang sambil menepuk bahu
tamu-tamunya - beberapa tamu wanita dikecup keningnya - di belakang terus
mengiringi dua wanita pengawal  yang cantik-cantik dan berpakaian seragam
Cakrabirawa. Dengan pandangan tajam mereka mengawasi suasana. Pada pinggang
mereka bergantung pistol dan pentungan karet. Seperti semua anggota pasukan
kawal Cakrabirawa, baik laki-laki maupun perempuan, mereka telah dilatih
secara istimewa. Bukan saja dalam kemahiran menembak, tapi juga ilmu bela
diri seperti karate dan judo. Begitu juga kepada mereka juga diajar tatacara
pergaulan diplomatik, bahkan sampai pada keterampilan menyiapkan jamuan koktil.
      "Nah, ini dia!" Seru Presiden ketika berhadapan dengan Kasto Rekso.
Langsung ia menyalami dan memeluknya. Sambil masih menggenggam tangan Kasto,
Presiden memperkenalkannya pada semua yang hadir.
     "Dia ini salah seorang sobatku yang paling lama. Kasto Rekso, guru dari
Bandung. Kami pernah bersama-sama kuliah, bersusah payah bersama, berbagi
periuk nasi dan tikar bersama, dan ... kalau aku tak salah ingat juga
mengejar satu gadis bersama! Ha-ha-ha!" Beliau tertawa dan Kasto menundukkan
kepala. Malu melihat para tamu mengangguk-angguk sambil tersenyum.
       Sementara itu Presiden melanjutkan.
       "Bandung! Kota yang indah penuh kenangan. Ketika itu kami masih
sangat muda. Waktu menghadapi penuh kesulitan. Jalannya perjuangan masih
lama untuk ditempuh. Tapi kami berani menghadapinya. Sahabatku ini
memutuskan untuk melakukan pekerjaan yang tidak gampang tapi mulia. Yaitu
menyusun karangan Sejarah Bangsa Indonesia, yang akan segera diterbitkannya."
      Presiden berpaling ke Kasto, dan berkata pelan.
      "Tulisanmu sudah kubaca. Nanti kita bicarakan bersama. Memang banyak
yang ingin kuceritakan."
      Berkata demikian sambil mendorong Kasto duduk di salah satu kursi, di
sekeliling meja panjang itu. Sarapan pagi dimulai. Para tamu mengikuti gaya
Presiden yang "main comot" saja. Presiden sendiri tak banyak makan.
Mencicipi sedikit nasi goreng, sepotong roti toast, minum kopi tubruk hitam
kesukaannya. Tapi di sela-sela itu juga diminumnya satu sendok madu berwarna
kuning emas dari sebuah lodong besar di depan tempat duduknya. Konon madu
ini dikirim dari Saudi Arabia sebagai salah satu di antara obat-obat yang
harus diminumnya.
       Sambil makan Kasto mendengarkan pembicaraan yang berlangsung antara
para tamu. Seorang jenderal mengabarkan tentang sebuah insiden yang terjadi
di perbatasan Brunei. Seorang pengusaha perlente memuji-muji mesin yang
tahan hawa lembab produksi sebuah perusahaan asing. Tiba-tiba Presiden
membanyol. Beliau memang suka, di tengah-tengah pembicaraan serius,
tiba-tiba melontarkan lelucon.
       Sukarno memang seorang yang berperangai santai dan penuh humor.
Pribadi yang spontan dengan gaya yang tidak dibikin-bikin, dan dengan
pancarannya yang memikat. Siapa yang melihat ketika beliau sedang duduk dan
ngobrol santai, tidak bisa tidak akan terpesona oleh karismanya. Sama
seperti ketika orang mendengar dan melihat beliau sedang berpidato di depan
lautan massa dengan suaranya yang menggelegar.
      "Memang! Ia benar-benar Penyambung Lidah Rakyat. Seorang pemimpin
besar yang dilahirkan oleh Indonesia." Berkata Kasto dalam hati, sambil
memandangi Presiden yang masih terus bergurau dengan para tamu.  "Dia tahu
benar tentang daya kekuatan kata-kata, sehingga bisa membuat manusia tak
berdaya melawan daya tariknya. Ia memiliki kemampuan menyampaikan hal-hal
yang rumit secara sederhana, dan selalu mencoba mencari jalan keluar dari
persoalan dengan jelas. Orang ini mampu mempesona, baik ketika sedang
ngobrol santai, maupun ketika di depan massa yang gegap gempita mendengarkan
pidato-pidatonya yaang berapi-api. Bukan begitu saja Sukarno menerima
sebutan Penyambung Lidah Rakyat. Tapi ini mencerminkan penghargaan rakyat
yang paling tinggi kepadanya, yang timbul dari kecintaan rakyat kepadanya."
      Sepanjang proses penyusunan karangannya, kenangan Kasto pada masa muda
bersama Sukarno, merupakan pertolongan dan pendorong yang sangat besar.
Sosok "Bung Karno" tidak bisa dipisahkan dengan derap langkah revolusi
Indonesia.

                                        ***

        SUDAH menjadi pengakuan umum Bung Karno dan Revolusi Indonesia tidak
bisa dipisahkan. Kenyataan ini merupakan kebanggaan Sukarno pribadi. Itu
memang haknya. Apalagi pada saat akhir-akhir, ketika kondisi kesehatannya
semakin mundur. Ketika saat-saat akhir baginya menikmati kehormatan sebagai
pahlawan bangsanya barangkali sudah semakin  mendekat. Belum terlalu lama
yang lalu Ibundanya mengatakan, bahwa suatu prahara akan terjadi di
Tanahair, dan bahwa dia lah justru tokoh utama di dalam prahara itu. Apakah
itu akan benar-benar terjadi? Ataukah sekedar dongeng khayalan belaka?
Sejarah masih akan memberikan bukti ...
      Ibunda Sukarno seorang Bali, keponakan raja Singaraja yang terakhir.
Mereka tergolong dalam kasta tertinggi: Brahmana. Gadis bangsawan Bali ini,
suatu ketika, bertemu dengan pemuda Jawa kebanyakan, guru sekolah dasar, dan
beragama Islam. Tetapi keduanya saling jatuh cinta, kemudian memutuskan
kawin lari, dan selanjutnya tinggal di Jawa.
      Pada tahun 1901 di kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia
ketika itu. Pada dini hari menjelang fajar lahirlah putera pertama mereka.
Anak yang lahir bersamaan dengan datangnya fajar menyingsing, ditentukan
oleh Takdir akan menjadi orang besar! Begitu ibunya sering berkata
kepadanya. Dan ia pun tidak pernah melupakan kata-kata ibundanya itu. Mereka
lama tinggal di Blitar, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Di sini lah juga
Karno kecil diasuh dan dibesarkan.
      Ketika Karno telah menginjak usia dewasa, ia pindah ke kota pelabuhan
Surabaya. Di sini ia meneruskan pendidikannya, di sebuah sekolah, yang hanya
anak-anak pribumi istimewa bisa masuk: AMS (Algemene Middelbare School). Ia
mondok di rumah teman dekat ayahnya, yaitu Keluarga Umar Said Cokroaminoto.
Dari rumah inilah pula pemuda Karno mengawali karirnya sebagai pemimpin
bangsa, di sebuah negeri yang paling padat penduduknya: Hindia Belanda
ketika itu.
      Pak Cokroaminoto seorang kyai, haji yang cendekiawan, dan juga seorang
politikus tangguh dan gigih. Semenjak sistem Tanam Paksa dihapus di Jawa,
tatanan ekonomi di Hindia Belanda mengalami perkembangan baru. Selain
terbentuk lapisan masyarakat tuan tanah dan petani kaya di desa, bersamaan
itu tentu saja lapisan tani miskin dan buruh tani. Di kota besar berkembang
sistem produksi baru. Di sana-sini muncul berbagai perusahaan kerajinan
tangan dan manufaktur. Juga terjadi sistem pelayanan birokrasi kota yang
belum dikenal sebelumnya. Lalu sejalan dengan itu, lahirlah golongan baru
dalam masyarakat, seperti golongan amtenar, pelajar dan mahasiswa. Tapi
bersamaan dengan itu juga kaum pengusaha, pedagang ekspor-impor, serta para
pemilik pabrik kecil.
      Tidak bisa dicegah tentu saja juga lahir lapisan kaum buruh. Kaum
proletar. Karena lahir sebagai kaum yang baru di masyarakat, mereka belum
mengenal organisasi dan belum mempunyai kesedaran ideologi dan politik.
Belum punya kesanggupan bangkit dan berswadaya. Walaupun begitu lahirnya
golongan baru dalam masyarakat ini menjadi landasan dan penyangga bagi
kehidupan politik negeri ini di masa depan.
      Pada awal abad ke-20 telah lahir beberapa organisasi yang berskala
nasional di Hindia Belanda. Walaupun umumnya kegiatannya terbatas sejauh
pengumpulan dana bagi usaha pendidikan bangsa. Tetapi lambat laun visi
mereka tentang perkembangan perjuangan politik semakin terbentuk dan semakin
jelas. Dalam hubungan ini besar peranan barometer politik internasional,
seperti misalnya peristiwa-peristiwa yang terjadi di Barat dan di Timur
dalam tahun 1905: Perang Jepang - Rusia, Revolusi Rusia yang pertama,
Revolusi nasional di Persia, Turki dan Cina. Semuanya itu bagaikan api yang
membakar dan menyalakan semangat dan harapan bagi tunas
organisasi-organisasi sosial-politik, yang segera tumbuh menjamur di Hindia
Belanda. Entah kapan, suatu ketika, mereka itulah yang akan bangkit
bertindak, menghapus rezim kolonial dari tanahair mereka.
      Kaum buruh kereta api mendirikan serikat buruh mereka (Staatspoor
Wegen Bond, SS Bond. Red.), sebuah organisasi modern yang pertama. Para
cendekiawan mendirikan Budi Utomo, yang belakangan menjadi organissai pemuda
dan mahasiswa yang bercita-cita Indonesia Merdeka.
      Di rumah Keluarga Umar Said Cokroaminoto, Pemuda Sukarno bukan sekedar
seorang pemondok - anak semang. Sukarno sekaligus hadir di depan
Cokroaminoto sebagai salah seorang muridnya yang tekun dan bersemangat. Umar
Said Cokroaminoto, selain seorang haji dan ulama, adalah juga guru
masyarakat yang ketika itu sangat terkenal di seluruh Jawa. Rumahnya tidak
pernah sepi. Selalu didatangi dan menjadi tempat berkumpul para pelajar dan
mahasiswa, pedagang dan seniman, yang kebanyakan beragama Islam. Kepada
mereka Umar Said memberikan pandangan-pandangan dan ajaran-ajarannya, yang
bernafas anti-penjajahan dan sarat dengan ide-ide patriotisme.
       Pada tahun 1912 pengikut ajaran Cokroaminoto ditaksir tak kurang dari
dua juta orang, yang bergabung di bawah bendera organisasi "Sarekat Islam".
Visi utama Sarekat Islam ialah nasionalisme yang bertolak dari pemahaman
Islam, dan persatuan nasional melalui budaya dan agama.
       Dua tahun sesudah Sarekat Islam berdiri, lahirlah satu organisasi
beraliran Marxis yang pertama dalam sejarah negeri ini, yaitu Indische
Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV). Meskipun namanya masih dalam
kata-kata Belanda, tetapi hampir seluruh anggotanya terdiri atas orang-orang
bumiputera.
       Proses pertumbuhan Sukarno muda berawal dari lingkungan organisasi
politik Islam Cokroaminoto. Selanjutnya berangsur-angsur ia bersentuhan
dengan orang-orang dari kelompok Marxis, yang tidak jarang keluar-masuk juga
di rumah kediaman Cokroaminoto. Dua pemuda Marxis yang sering singgah di
situ ialah Semaun dan Aliarkham. Sampai jauh malam mereka bertiga, termasuk
Sukarno, di bawah penerangan lampu minyak di atas meja, terlibat dalam
diskusi seru dengan Cokroaminoto. Tak ada lain yang menjadi tema
pembicaraan: mencari taktik dan merumuskan strategi perjuangan melawan
kolonialisme.
      Pada tahun 1918, terpengaruh oleh keberhasilan Revolusi Oktober 1917
di Rusia, para marxis di sekitar Cokroaminoto mulai memisahkan diri dari
Sarekat Islam. Alasan mereka karena tidak percaya lagi pada jalan perjuangan
melalui perundingan, sambil menunggu "kebaikan hati" pemerintah kolonial
Belanda. Sebagai ganti pandangan lunak demikian, kaum marxis ini mengobarkan
semangat perlawanan secara nyata. Mereka, kaum radikal ini, mengajukan
tuntutan agar pemerintah kolonial menyusun perundang-undangan khusus bagi
bangsa Indonesia, serta mendesak agar disusun satu parlemen melalui
pemilihan umum yang demokratis. Di tengah suasana seperti itulah Partai
Komunis Indonesia (PKI) lahir dalam tahun 1920.
       Sukarno tetap setia pada Sarekat Islam Cokroaminoto. Sebenarnya ia
mengerti benar, bahwa massa rakyat merupakan motor utama dalam mesin
revolusi pengenyahan kolonialisme dari bumi Indonesia. Terutama mereka yang
sekian lama telah ditindas dan dihisap, yaitu golongan petani kecil dan
buruh tani. Menyadari hal ini Sukarno melihat perlunya menggalang kerjasama
dengan organisasi partai politik yang mewakili suara kaum proletar yang
telah semakin berbentuk. Tetapi Sukarno tidak ingin terjadi, adanya
kepentingan klas yang berbeda akan dikobarkan menjadi motor penggerak ke
arah tujuan politik yang berbeda pula. Sukarno ingin berhenti pada ide dan
cita-cita, bahwa hanya persatuan nasional yang bertolak atas dasar
patriotisme akan mampu mengalahkan dan menghapus kolonialisme.
      Berangsur-angsur ia menjadi pengikut setia Cokroaminoto, dan tumbuh
menjadi seorang orator yang karismatik. Ia rajin mempelajari karya-karya
filsafat dunia. Pengarang-pengarang besar seperti Marx dan Engels bagi
Sukarno sama nilainya seperti juga Rousseau, Briand, Jefferson dan Lincoln.
       Ketika itu ia baru berumur dua puluh tahun. Tetapi ide-ide sosial dan
politiknya sudah mulai berbentuk. Dengan ide-idenya itulah ia berharap dan
bekerja untuk menolong bangsanya, Bangsa Indonesia, memerdekakan diri dari
penjajahan dan penindasan kolonial.
       Kasto tak sadar tersenyum. Ia teringat pada sebuah dongeng, yang
selalu diceritakan Sukarno, jika ia hendak menerangkan teorinya tentang apa
itu "rakyat Indonesia". Konon pada suatu hari di tengah perjalanan di atas
kereta api, ia berjumpa dan ngobrol dengan teman seperjalanan. Seorang
laki-laki biasa bernama Marhaen. Terkesan oleh kesahajaan laki-laki ini
tiba-tiba Sukarno mendapat ilham: Inilah lambang rakyat Indonesia. Ya, si
Marhaen inilah dia! Kemudian sejak itu lahirlah mitos tentang "Rakyat
Marhaen" dari buah pikiran seorang Sukarno.
      Teori Marhaenisme bertolak dari pemikiran, bahwa orang Indonesia
kebanyakan tidak memiliki apa-apa, bahkan juga selama itu tidak ada
kemungkinan bagi dia untuk memiliki apa pun! Dengan alat produksi paling
sederhanan miliknya ia hidup, tanpa merugikan siapa-siapa tapi sebaliknya
juga tanpa menguntungkan diri sendiri. Ia hanya sekedar bertahan hidup dan
melangsungkan jenisnya. Orang Indonesia kebanyakan ini tidak punya hasrat
menghisap orang sesama, karena mereka semua berada dalam satu derajat.
Inilah kenyataan sosial Indonesia. Ke sanalah sosialisme ala Indonesia menuju.
     Namun ada satu hal yang tidak pernah menjadi jelas bagi Kasto. Apakah
pandangan Sukarno ini tidak lebih jauh dari pandangan tentang "Wong Cilik",
karena terlalu terjerat pada mistik Jawa dan segala tradisinya? Ataukah
sebagai tantangan Sukarno terhadap teori-teori Barat, terutama teori tentang
analisa klas dalam masyarakat? Teori ini, di masa Sukarno muda, memang
tersebar luas di dunia. Banyak mendapat penganut, terutama  di kalangan kaum
komunis dan kaum sosial demokrat. Kasto tidak begitu banyak tahu tentang
proses perkembangan pemikiran politik Sukarno. Ia mengenal Sukarno hanya
ketika mereka masih bersama-sama duduk di bangku THS di Bandung. Sukarno
sudah lama menjadi pengikut pikiran Cokroaminoto ketika itu. Ia bahkan
menikahi salah seorang puteri gurunya itu. Namun kemudian diceraikannya,
justru karena anak perempuan itu masih terlalu muda untuk menjadi seorang
istri. Walaupun demikian kesetiaan Sukarro terhadap Cokroaminoto tidak
menjadi surut karenanya. Juga, ketika itu, ia sudah berani menunjukkan
"warna"-nya di depan pemerintah kolonial.
      Pada tahun 1918, sehubungan dengan makin pasangnya semangat perlawanan
kaum pemuda, terutama di pulau-pulau luar Jawa, pemerintah kolonial
memberlakukan peraturan baru untuk menyusun "badan perwakilan" yang bernama
"Volksraad". Ini merupakan langkah untuk menciptakan kesan, seolah-olah
bangsa pribumi juga ikut diberi kesempatan menetapkan haluan pemerintahan.
Dengan demikian gejolak perlawanan bisa dengan mudah dipantau, disalurkan
dan dikontrol dengan lebih mudah. Tetapi di dalam "dewan rakyat" ini
sebagian besar kursi disediakan untuk orang-orang Belanda dan beberapa orang
"Timur Asing", sedangkan "wakil-wakil pribumi" diberikan pada mereka yang
berjiwa kolaborasi dengan pemerintah kolonial. Perlu juga ditambahkan, bahwa
fungsi Volksraad sejatinya hanyalah sebagai penasihat bagi gubernur jenderal.
       Sukarno ketika itu pemrotes gigih terhadap Volksraad. Ketika masih di
Bandung, ketika mereka bersama-sama menumpang di rumah keluarga Sanusi,
sering masalah ini menjadi bahan diskusi. Ada kalanya berdua, Sukarno -
Kasto, tetapi tak jarang juga mereka bertiga: Sukarno - Kasto - Sanusi. Ya,
memang sangat banyak yang mereka perbuat bersama-sama ketika itu. Hampir
segala-galanya. Dan karena itulah juga Sukarno muda dan ibu-kos, Inggit
Garnasih, istri Sanusi, saling jatuh cinta. Tak lama kemudian Ibu Inggit
meninggalkan suaminya, dan sebagai istri hidup bersama Sukarno yang jauh
lebih muda darinya.
       "Hai Kasto!" Tiba-tiba berseru Presiden dari ujung lain meja itu.
"Kenapa kau tidak makan? Ayo ambil jam produksi imperialis ini. Jangan
segan-segan!"
       Si Guru bingung sejenak. Lalu diambilnya sepotong toast dan
menyemirnya dengan mentega. Para tamu tersenyum. Tetapi tak berapa lama
kemudian perhatian para hadirin berpindah ke pembicara baru, seorang
jenderal Angkatan Darat. Ia mengangkat masalah mengenai rencana
mempersenjatai kaum buruh dan tani, yang sudah disetujui juga oleh Presiden.
Lebih lanjut rencana itu menghendaki, agar kaum buruh dan tani bersenjata
ini dilibatkan aktif untuk menyokong ABRI dalam konfrontasi dengan Malaysia.
       Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa ABRI sejatinya menentang keras
rencana tersebut, dan nampaknya Presiden pun - walaupun sudah menyetujui -
sebenarnya belum begitu "sreg". Untuk kesekian kalinya beliau minta supaya
masalah ini didiskusikan lebih mendalam lagi, ditimbang dan ditinjau dari
segala sudut. Ketika salah seorang tamu mengingatkan, bahwa mayoritas buruh
dan tani kemungkinan besar berdiri di belakang PKI, Presiden tak bisa
menahan tertawanya. Sambil terbahak-bahak beliau menyahut: "Kenapa kalian
takut terhadap Komunis? Jangan penyakit komunisto-fobia menghinggapi kalian.
Memang banyak orang menuduh aku Komunis. Itu tidak benar. Aku hanya merasa
tidak perlu takut terhadap mereka. Kalian pun jangan takut tanpa alasan."
      Orang-orang Komunis. Kasto mengunyah sambil berpikir. Sudah tentu
benar: Sukarno bukan Komunis. Selama di Bandung, sambil belajar, seluruh
tenaga dan semangatnya dicurahkan untuk membangun Sarekat Islam. Sementara
itu tak kunjung lelah, ia terus-menerus berusaha melonggarkan ajaran-ajaran
Islam fundamental yang dinamainya "Islam Sontoloyo", yang baginya dirasa
terlalu menyesakkan, menyesatkan, dan tidak punya perspektif. Daya upayanya
untuk menyerap ide-ide sosialisme membawa hasil yang gemilang. Dalam
beberapa tahun kemudian tergalanglah gerakan massal, yang di dalamnya tidak
sedikit terdiri atas kaum buruh dan tani.
      Sementara itu gerakan Komunis juga semakin kuat. Suhu  situasi politik
di Hindia Belanda terasa meninggi dan menegangkan. Pemerintah kolonial
melihat, Hindia Belanda sedang menghadapi perombakan besar-besaran. Karena
itu kemungkinan sangat terbuka bagi tumbangnya sistem kolonial. Menghadapi
itu pemerintah tidak tinggal diam. Mata-mata disusupkan ke mana-mana,
terutama ke tubuh organ-organ PKI. Partai ini ketika itu masih lemah.
Anggotanya belum banyak. Bahkan belum bisa disamakan dengan
organisasi-organisasi gerakan kemerdekaan burjuasi nasional yang sudah lebih
meluas dan kuat. Kaum proletar Indonesia masih dalam tingkatan pemula,
sedangkan kaum tani miskin dan buruh tani masih belum menjadi sekutu yang
potensial.
       Ketika pada tahun 1926 terjadi pemberontakan dan pemogokan buruh
kereta api, Belanda yang sudah mengetahui adanya rencana demikian, dengan
mudah berhasil menumpasnya. PKI memimpin aksi itu. Tetapi
pengorganisasiannya masih jauh dari matang, karena belum adanya pengalaman.
Terutama pengalaman dalam menghadapi taktik-taktik militer Belanda. Ketika
Sukarno mempertahankan diplomasi insinyurnya di THS Bandung, di ujung lain
Pulau Jawa terjadi penangkapan dan pembunuhan terhadap para aktivis buruh
kereta api. Banyak yang dibunuh, dan ratusan dibuang ke Irian Barat, dan di
sana mereka perlahan-lahan mati satu demi satu.
       Gerakan revolusioner itu mengalami kekalahan besar. Organisasi Partai
Komunis Indonesia hancur. Hanya beberapa orang kader mereka yang
berpengalaman berhasil menyelamatkan diri ke luar negeri. Sukarno melihat
kesempatan terbuka di hadapannya. Dan ia tak mau membuang-buang waktu.
Dengan mantap ia bekerja keras untuk membangun partainya sendiri. Dua tahun
lamanya. Tahun-tahun yang berbahaya dan berat di bawah intaian mata
intel-intel politik pemerintah kolonial yang tajam. Tahun-tahun yang
dipenuhinya dengan kampanye dan propaganda tentang program gerakan nasional
Indonesia.
      Pada tahun 1926 berdirilah Partai Nasional Indonesia (PNI). Organisasi
politik ini menarik anggotanya dari kalangan kaum burjuasi nasional dan kaum
cendekiawan. Banyak di antara mereka yang semula berada di dalam organisasi
dan partai lain. Tapi karena karisma pemimpinnya, Sukarno, dan programnya
yang begitu jelas dan tegas, tanpa ragu-ragu banyak dari mereka yang masuk
bergabung di dalam PNI.  Dalam waktu singkat PNI tumbuh menjadi partai
massa. Tujuan utama partai ialah mencapai kemerdekaan Indonesia sepenuhnya.
      Segera sesudah PNI berdiri, bendera Merah Putih dirancang, dan lagu
Indonesia Raya disusun. Bendera dan lagu itu tidak pernah diperlihatkan dan
dinyanyikan di muka umum secara terbuka, tetapi selalu tidak pernah
ditinggalkan pada pertemuan-pertemuan PNI yang tertutup dan lepas dari
intaian polisi kolonial.
       Dengan berhasilnya PNI dalam tempo pendek menjadi partai politik
paling kuat, maka peran utama dalam perjuangan anti-kolonial beralih ke
tangan kaum burjuasi nasional. Ini berarti, bahwa golongan burjuasi nasional
ini jugalah yang sejak itu tampil sebagai pelopor. Golongan  burjuasi
nasional, dalam tubuh organisasi PNI, secara historis mewarnai sejarah
bangsanya sepanjang masa selanjutnya.
       Dengan caranya sendiri Sukarno memimpin gerakan perlawanan terhadap
kolonialisme. Taktik perlawanan bersenjata tidak pernah terlintas sedikit
pun di kepalanya. Perjuangan Sukarno dibangun di atas ide perjuangan pasif
dan tanpa kekerasan, menyuarakan tuntutan-tuntutan perjuangannya dengan
gigih dan pantang mundur. Ia yakin benar, suatu ketika pemerintah kolonial
Hindia Belanda akan mundur dan menyerah, menghadapi tekanan kedaulatan
nasional Indonesia yang bersatu.
       Tetapi ternyata Belanda menempuh jalan pikiran yang lain. Perlawanan
nasional dan kesadaran politik yang semakin meningkat, tentu saja semakin
menggelisahkan Belanda. Ia tidak mundur dan menyerah secara damai, tetapi
menggunakan metode represi yang klasik. Menangkapi para pimpinan politik,
dan menyingkirkan mereka di penjara atau pembuangan. Pada tahun 1929 Sukarno
ditangkap. Baru sesudah satu tahun berlalu ia diadili, dan dijatuhi hukuman
penjara empat tahun.
      Sementara itu pers dunia mengangkat kasus Sukarno. Ratusan protes yang
menyerang pemerintah kolonial Hindia Belanda datang dari berbagai penjuru.
Akibatnya, pada tahun 1931 Sukarno dibebaskan. Ketika itu Kasto ikut
menyambutnya di Bandung, bersama-sama ratusan orang pengagum Sukarno
bersorak-sorai sepanjang jalan.
       Pada waktu itu gerakan kaum buruh menjadi sasaran utama teror aparat
pemerintah kolonial. Lambat laun pemerintah merasa, bahwa gerakan ini
merupakan musuh potensial, terutama sesudah kaum buruh dan tani bersatu
dalam aksi-aksi militan untuk menghadapi kesewenang-wenangan pemerintah
kolonial. Jika seranganverbal Sukarno dan PNI saja sudah dianggap berbahaya,
apalagi aksi-aksi kongkret gerakan buruh yang menyerang hakikat kekuasaannya
...
       Pada tahun 1933 tiba-tiba terjadilah pemogokan dan pemberontakan awak
kapal Belanda "De Zeven Provincien" (Kapal Tujuh). Ini nama sebuah kapal
perang, milik angkatan laut pemerintah. Dengan begitu untuk pertama kali
terjadi aksi solidaritas antara pelaut Belanda dan Indonesia. Untuk beberapa
lama mereka berhasil menguasai kapal itu. Perlawanan mereka berhasil
dipatahkan sesudah dihadapi oleh satuan militer Belanda, yang tentu saja
menang dalam jumlah dan persenjataan. Tetapi kejadian ini telah mengundang
bangkitnya gelombang simpati dan setiakawan dari berbagai pelosok negeri.
Kegelisahan pemerintah kolonial semakin menjadi-jadi, karena mereka
menyadari bahwa peristiwa ini diwarnai oleh sikap setiakawan antara awak
kapal dari dua bangsa: Belanda dan Indonesia. Karena itu pemerintah terus
mempersempit ruang gerak kaum nasionalis, khususnya Sukarno setelah ia
kembali dari pembuangan dan meneruskan perjuangannya. Karena itu ia
ditangkap lagi pada tahun 1933. Mula pertama dibuang ke Pulau Flores. Tapi
sesudah Sukarno menderita sakit malaria, ia lalu dipindah ke Sumatra
Selatan, yaitu Bengkulu. Ini juga karena adanya protes keras dari pendapat
umum dunia. Syarat-syarat penahanan di tempat baru agak lunak. Sehingga
Sukarno bisa segera memulihkan kesehatannya, dan kembali bekerja keras di
gelanggang politik. Membuat pamflet-pamflet politik, menulis artikel-artikel
untuk koran, sudah menjadi acara kerjanya sehari-hari. Ibaratnya tidak ada
satu orang Indonesia pun yang tidak mengetahui di mana Sukarno berada.
Mereka menantikan kedatangannya kembali di tengah-tengah mereka. Sudah
menjadi kenyataan juga, bahwa rakyat jelata pun mulai menaruh harapan
kepadanya. Sejak itu Sukarno menjadi simbol perjuangan kemerdekaan, yang di
dalamnya terkandung janji mulia, kehidupan yang adil dan makmur, tanpa
kesengsaraan dan kesewenang-wenangan penguasa kolonial.
      Tahun 1942 Sukarno masih ditahan di Bengkulu. PNI sudah pecah, tetapi
belum mati sama sekali. Kenyataan menunjukkan, bahwa kehadiran Sukarno
sangat menentukan bagi hidup dan bersatunya kembali PNI. Tidak ada seorang
pun meragukan pengaruh Sukarno di tengah massa. Maka, seketika ia kembali
dari pengasingan, sesegera itu juga rakyat mengelu-elukan dan mengikutinya
beramai-ramai. Kenyataan seperti itu juga disadari oleh Jepang yang datang,
menyebut dirinya sebagai "saudara tua" bangsa Indonesia.
      Kasto Rekso masih termenung, ketika tiba-tiba ia tersentak oleh gelak
tawa para tamu. Ia tidak mengikuti jalannya pembicaraan yang berlangsung,
sehingga tidak mengerti mengapa mereka harus tertawa. Yang baginya jelas
yaitu, bahwa diskusi serius sudah beralih pada kesantaian dan humor. Seorang
ibu dibujuk agar menyanyi. Ibu ini berasal dari Kanada. Kasto tidak tahu,
mengapa ia ikut diundang dalam acara sarapan di kepresidenan ini. Selagi ibu
itu menyanyi, Kasto berusaha menahan geli. Tetapi Presiden tertawa lebar
ketika ia selesai menyanyikan lagunya.
       "Bagus, bagus!" Kata Presiden. "Nanti kalau ada acara ludruk di
istana, Anda akan aku ajukan."
       Yang diberi pujian tidak merasa tersinggung. Ia mengangguk hormat
sambil tersenyum. Dan minta tambah secangkir kopi ...
       Disusul salah seorang menteri bercerita. Sebuah anekdot tentang
perselisihan Uni Soviet dengan RRT. Presiden tersenyum kecut mendengar
lelucon murahan begitu. Sudah diketahui umum Presiden menaruh respek pada
Uni Soviet. Meskipun pada saat-saat belakangan ia mengambil sikap berjarak
terhadap haluan politik Uni Soviet, baik ke luar maupun ke dalam negeri
sendiri. "Tidak cocok itu untuk Indonesia sekarang!" Kata Sukarno. Ketika
itu Sukarno semakin mendekati RRT dan Mao Zedong, baik pribadi maupun
ajarannya. Pada kunjungan Sukarno terakhir ke RRT, sambutan sangat meriah
diberikan kepadanya. Dan perundingan yang berlangsung ketika itu
menghasilkan kesepakatan untuk semakin mempererat kerjasama antara kedua
negara dan rakyat.
      Ratna Sari Dewi, istri Presiden yang masih muda belia, duduk di
samping suaminya yang sudah tampak dimakan usia dan penyakit. Ia kelihatan
cantik dan segar. Beberapa tamu bertanya tentang rencana perjalanannya ke
luar negeri. Sambil tersenyum ia menjawab, sedikit mengelak: mungkin ke
Eropa Barat, Paris atau London ...
       Dewi berasal Jepang, tetapi masih keturunan Indonesia. Sukarno
bertemu dengannya pada salah satu kunjungannya ke negeri Sakura itu. Kisah
cinta mereka bukan merupakan rahasia umum lagi. Desas-desus mengatakan,
Sukarno memang cenderung lemah terhadap segala sesuatu yang berbau Jepang,
dan - kata mereka - selalu "membudak pada saudara tua" itu. Apakah benar
begitu? Kasto Rekso, teman Sukarno sejak muda, tidak melihat alasan untuk
membenarkannya.***(BERSAMBUNG)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Dec 1999 jam 09:32:21 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke