---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- WATAK DAN PERAN KAUM INTELEKTUAL Oleh : Samson Rahman Mahasiswa Pasca sarjana International Islamic University Islamabad Kaum intelektual adalah sekelompok masyarakat yang memiliki watak dan peran yang sangat berbeda dari kelompok masyarakat yang lain. Karena kaum intelektual memiliki kapasitas dan muatan keilmuan yang jauh melewati masyarakat biasa. Mereka adalah kaum tercerahkan yang telah dengan sangat baik mempergunakan anugerah Tuhan sehingga bisa menangkap hal-hal yang tidak tersentuh oleh masyarakat lain di sekitarnya. Kaum intelektual, karena keberbedaannya dalam muatan dan kapasitas keilmuan yang demikian, akan secara pasti memposisikan diri mereka sesuai dengan kapasitas mereka. Kaum intelektual dalam masyarakat dilukiskan sebagai pantulan manusia-manusia peduli terhadap manusia, masyarakat, lingkungan dan kosmos dengan frekwensi yang sangat tinggi. Kepedulian mereka terhadap alam, manusia lingkungan serta kosmos berasal dari tingkat apresiasi yang sangat intens pada hal-hal tersebut. Keberadaan kaum intelektual dijadikan tumpuan dan harapan masyarakat dalam banyak hal. Mereka menginginkan agar peran yang seharusnya dilakonkan kaum intelektual menjadi sangat optimal. Intelektual dalam definisinya yang sangat kaku adalah : orang-orang yang peran dan fungsinya adalah melibatkan diri dalam usaha pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan dengan artikulasi nilai-nilai pada masyarakat tertentu( The Social Science Encyclopdia, Adam Kupper and Jessica Kupper, 1985, hal. 401 dalam entry Intelectuals oleh Max Bellof). Dalam sejarahnya kaum intelektual selalu memberikan peran yang sangat besar bagi tumbuhnya sebuah perubahan pada arah yang lebih baik. Karena watak kaum intelektual selalu berada pada sebuah ruang yang yang dilanda kegelisahan yang terus-menerus untuk pencarian dan pencapaian kondisi terbaik ilmu pengetahuan, kultur serta peradaban. Kegelisahan yang terus melanda kaum intelektual ini mempunyai akibat yang sangat penting sebagai alat picu untuk menajamkan rasa sensibilitas dan kepekaan serta kekomitmeman mereka pada sebuah nilai yang diyakini kebenarannya. Kaum intelektual sebagai sebuah komunitas dengan identitas tersendiri dan posisi terhormatnya telah pula mengalami gelombang kontroversial bagaimana sebaiknya mereka memerankan diri terutama sekali jika berhadapan dengan para penguasa. Sebab para intelektual diklaim sebagai para moralis yang brfungsi sebagai alat kontrol yang yang seharusnya menjaga jarak dengan para penguasa. Keterlibatan mereka dalam roda kekuasaan hanya akan menumpulkan dan memandulkan daya kritis yang mereka miliki. Keterlibatan kaum intlektual dalam kekuasaan sering kali digunakan sebagai daya kooptatif dan sangkar emas pemerintah untuk meminimalkan atau jika mungkin mematikan semua daya kritis mereka. Maka tak heran jika para intelektual yang terlibat langsung dalam politik praktis seringkali mendapat ejekan yang tidak sedap dan sangat diremehkan. Julien Benda , seorang intelektual kritis asal Perancis, dalam bukunya yang sangat terkenal La Trahison des Clercs {The Treason of the Intelectuals} mengibaratkan intensitas keterlibatan kaum intelektual dengan regim merupakan gambaran pengkhianatan terhadap misi utama kaum intelektual. Keterlibatan mereka dengan kekuasaan dianggap sebagai sebuah ketidak patutan yang menghambat peran dan misi utama mereka sebagai kelompok penyadar. Dan manakala kelompok ini terlibat semakin dalam lingkaran kekuasaan maka akan semakin pudarlah harapan masyarakat terhadap intelektual yang diidealkan sebagai ujung tombak kontrol terhadap regim. Sebagai libertas philosophandi mereka dianggap memiliki kebebasan sipil untuk melakukan kritik terhadap kebejatan kekuasaan yang tidak dimiliki oleh kalangan rakyat biasa. Tugas mereka adalah membersihkan borok-borok yang bertebaran di tubuh pemerintahan. Mereka adalah kelompok manusia yang selalu melakukan pemihakan pada nilai-nilai keadilan, kemanusiaan dan kebenaran. Sebagai komunitas yang tercerahkan tugas mereka adalah menebarkan pencerahan-pencerahan tersebut pada komunitas-komunitas lain di luar dirinya. Mereka akan selalu mengusahakan terlahirnya 'the ultimate right' yang didambakan masyarakat. Keberadaan para intelektual diharapakan akan menjadi agen transformasi yang menawarkan alternatif-alternatif terbaik bagi terlahir dan terujudnya sebuah masyarakat berbudaya yang melek dunia. Tentu saja dari definisi Max Beloff di atas antara intelektual, saintis serta para pemikir(scholar) tidak memiliki perbedaan yang jelas dan signifikan. Namun pada hakikatnya sebagai pemikir bebas dan independen batasan yang dilakukan Bellof menjadi kehilangan nuansa. Masyarakat Perancis membedakan antara scholar, saintis dan intelektual. Karena pada kenyataannya ketergantungan para saintis dan scholar terhadap negara begitu sangat kuatnya. Padahal untuk menjadi intelektual murni ketergantungan seringkali menjadi alat yang menghambat progresifitas dan kreasi para intelektual. Jika misalnya terjadi 'penjagalan' oleh regim dan kekuasaan serta pembatasan ruang kebebasan bersuara karena dianggap sangat kritis maka itu merupakan pantulan akan betapa besarnya kontrol pemerintah terhadap idealisme kaum yang peduli tersebut dan sekaligus betapa riskannya pelibatan dalam putaran kekuasaan. Malah tidak enaknya lagi tatkala kaum intelektual memasuki arena yang penuh dengan trik dan kecurangan mereka dipergunakan sebagai '"tukang-tukang" yang pandai untuk mengelabuhi opini publik. Kaum intlelektual tukang yang membawa bendera kepentingan kelompok tertentu yang kontra-intelektual murni akan banyak menghadapi cibiran dari kaum mereka sendiri karena telah melakukan aksi yang mencoreng morengkan wajah bersih kaum intelektual. Kaum intlektual akan selalu mengedepankan kemanusiaan dan kedamaian dunia dengan nilai-nilai moral yang tidak diperjual belikan. Seseorang barulah dianggap sebagai intelektual jika ia dengan artikulatif bisa menyuarakan suara dan nurani kemanusiaan. Albert Einstein baru dianggap sebagai intelektual-setelah sebelumnya dianggap hanya seorang saintis berkat teori relativitasnya yang kesohor- tatkala dengan garang dan lantang dia menentang rencana Presiden Truman untuk mengembangkan bom hidrogen. Einstein dengan gagahnya memposisikan dirinya sebagai kelompok kaum peduli yang menganggap bahwa pengembangan bom hidrogen hanya akan membawa bencana dan mnghancurkan umat manusia. Dan sekaligus akan menghanncurkan kemanusiaan. Yang tentu saja bertentangan dengan misi intelektual yang menginginkan dunia damai dan tentram. Dilihat dari protes Einstein yang demikian tentu intelektual bukan hanya seorang ilmuwan yang yang hanya melibatkan diri pada data dan gagasan analitis, serta bukan pula seorang teknokrat yang hanya bergelut dengan penerapan praktis, atau seorang moralis yang menginginkan tegaknya sebuah norma. Intelektual adalah gabungan semua itu. Seorang intlektual bisa lahir dari sastrawan, bisa dari ilmuwan teknik, bisa dari budayawan, bisa dari ahli hukum dan seterusnya. Yang penting adalah mereka selalu mengusahakan agar terlahir pencerahan, demi wujudnya sumbangan praktis yang bisa dinikmati masyarakat dengan penghargaan pada nilai-nilai yang diagungkannya. Kaum intelektual pada hakikatnya adalah "pembebas" masyarakat dari segala bentuk keterbelakangan : moral, politik, sosial, budaya, peradaban, dan lainnya pada sebuah tarap yang lebih maju. Berdasarkan pada ketidak puasan yang terus-menerus pada para intlektual untuk melahirkan sesuatu yang baru maka bisa dipastikan bahwa mereka akan selalu anti kemapanan. Bagi para intelektual kemapanan dan status quo hanya akan mematikan sebuah bangsa sebesar apapun bangsa itu. Sebab manakala kemapanan telah dianggap sebagai titik puncak pencapaian sebuah bangsa maka saat itu pula bangsa itu akan mengalami kemandulan dinamisme dan kreatifias sebagai salah satu ciri utama cara berpikir maju dan futuristik. Tatkala sebuah bangsa menganggap bahwa apa yang dicapai saat ini merupakan hasil final saat itu pula dia telah mengunci diri pada setiap kritik dan akan selalu dianggap sebagai usaha melawan kemapanan. Maka tak jarang para intlektual seringkali berbenturan dengan para penguasa yang seringkali cepat puas terhadap apa yang telah berhasil mereka capai serta lupa diri bahwa kemapanan merupakan penyakit yang meruntuhkan pertahanan diri mereka sendiri. Kritik para kaum peduli yang sering tajam dan menusuk memang sering dianggap sebagai lontaran pemikiran yang "kurang sopan" karena seringkali diuangkap dengan cara yang sangat vulgar. Namun sebagai pemikir bebas yang tak menggantungkan hidup pada para penguasa kekritisan mereka sangatlah wajar dan beralasan. Karena mereka menginginkan sebuah perbaikan dengan target 'nol besar'. Kaum intelektual kritis pembebas dan penyadar akan selalu mempersiapkan diri mereka sebagai pioner dan bahkan tumbal terhadap ide-ide yang mereka utarakan. Mereka rela mengorbankan jiwa mereka untuk menangnya sebuah nilai, untuk menangnya tata moral yang agung dan dibanggakan. Tatkala tinta mereka tidak lagi mampu memberikan apa-apa mereka menyiapkan darah mereka yang seringkali lebih membekas dari pada hanya sebuah tinta. Kenangan manis pada merekapun akan senantiasa lebih abadi karena pengorbanan yang mereka berikan juga lebih besar. Untuk kasus kasus demikian rasanya tak perlu diutarakan. Sebagai kaum yang merdeka dan memerdekan kaum intelektual harus selalu siap menghambakan diri pada apa yang mereka yakini dengan tanpa pamrih. Dan sekaligus harus disadari bahwa untuk menjadi intlektual murni akan selalu menghadapi banyak resiko, tantangan dan gugatan-gugatan yang tentu membutuhkan daya tahan yang menguras energi. Tanpa menyadari bahwa resiko berat akan menghadang mereka dan dengan persiapan yang sangat minimal seorang intelektual hanya akan meghadapi persoalan rumit dalam diri mereka sendiri. Kerapuhan psiko-intelelektual akan melahirkan penipuan-penipuan terhadap kawan-kawan mereka sendiri yang dengan gagah memperjuangkan apa yang mereka anggap sebagai misi mereka. Persiapan diri untuk menjadi intelektual sejati adalah dengan selalu berusaha menjadikan misi intelektual "mewatak" dalam dirinya. Sehingga misi itu tidak akan lagi bisa digoyang dan digeser dengan nilai nilai lain yang yang sebenarnya sangat bertentangan dengan watak para kaum peduli. Dengan menajamkan persepsi dan paradigma yang berkelanjutan para intelektual akan bisa selamat dari jerat-jerat yang dipasang untuk mereka agar tidak lagi bisa mengartikulasikan tugas mereka. Intelektual murni, penyadar, pendobrak, pemerdeka, pembebas tentu saja adalah idealisme kaum intelektual. Namun kita sadar bahwa dalam alam nyata idealisme sering kali terkalahkan oleh tuntutan-tuntutan dan realita-realita yang sulit mereka hindari. Kejamnya realita telah pula menjadikan para intelektual tersudutkan pada pojok yang naif: orang-orang utopis. Orang-orang realis menganggap mereka sebagai para pengkhayal. Namun melihat munculnya para intelektual yang bisa menggulingkan rezim Soeharto di Indonesia sebagai kasus paling aktual, dan banyak lagi sebelumnya, peran intelektual murni nampaknya masih akan mendapat tempat dan ruang. Dan para intelektual tentu saja tidak akan pernah pesimis apa lagi putus asa memperjuangkan dan menawarkan perjuangan intelektual mereka demi sebuah dunia yang lebih tercerahkan dan berperadaban. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 09:27:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
