----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 13 Desember 1999 16:10 UTC

** TNI desak Gus Dur untuk memberlakukan darurat militer di Aceh

** PBB undang Gus Dur ke Timor Timur

** Kasus Nawaz Sharif ditangguhkan satu minggu

** WAPRES MEGAWATI SAMAKAN KETERLIBATAN PEMERINTAH PUSAT DALAM
KERUSUHAN DI AMBON DENGAN KONFLIK PDI

** KASUS AMBON, ACEH DAN PENGADILAN MILITER TESTCASE KEBERANIAN SIPIL

* TNI desak Gus Dur untuk memberlakukan darurat militer di Aceh

TNI menuduh Gerakan  Merdeka Atjeh GAM, melancarkan serangan-serangan
bersenjata akhir pekan lalu. Tiga orang dikabarkan tewas akibat
serangan tersebut. Menurut seorang kolonel setempat perjuangan
kemerdekaan Aceh semakin marak saja. Karena itulah TNI mendesak
Presiden Abdurrahman Wahid memberlakukan darurat militer di sana. Gus
Dur sejauh ini menolak permintaan TNI itu.

* PBB undang Gus Dur ke Timor Timur

Perserikatan Bangsa-Bangsa hari ini mengundang Presiden Abdurrahman
Wahid mengunjungi Timor Timur. Ketua pemerintah pimpinan PBB di Timor
Timur, Sergio Vieira de Mello,  seusai pertemuannya dengan Gus Dur di
Jakarta, mengatakan Gus Dur mudah-mudahan bisa bertolak ke Timor
Timur dalam waktu dekat. Pemimpin CNRT Xanana Gusmao dan Sekjen PBB
Kofi Annan mengharapkan hal yang sama.

* Gus Dur akan bertolak ke Papua Nugini

Presiden Abdurrahman Wahid akan bertolak ke  Papua Nugini tanggal 29
Desember mendatang. Tujuan kunjungannya ke Papua Nugini adalah
mencari tahu tentang perkembangan di sana sekaligus berkenalan dengan
para pemimpin. Apabila pemerintah di Port Moresby terlalu sibuk, maka
Gus Dur akan berangkat dari sana tanggal 30 Desember dan mengunjungi
Irian Jaya.

* Kasus Nawaz Sharif ditangguhkan satu minggu

Pengadilan Pakistan menangguhkan proses terhadap Perdana Mentri Nawaz
Sharif selama satu minggu. Dengan penangguhan ini pengadilan memberi
peluang bagi pihak pendakwa dan pengacara untuk menyelesaikan konflik
mengenai bahan-bahan bukti.  Mantan perdana mentri Sharif  dan lima
pejabat lainnya antara lain dituduh melakukan pengkhianatan. Apabila
dakwaan ini dinyatakan terbukti, mereka terancam hukuman mati.
Oktober silam Nawaz Sharif disingkirkan oleh panglima angkatan
bersenjata Pakistan Jenderal Pervez Musharraf. Sejak itu ia berada
dalam tahanan.

* Duma setujui usulan pemberian amnesti pembangkang Chechnya

Parlemen Rusia Duma menyetujui usulan pemberian amnesti bagi
pembangkang Chechnya. Mereka mendapat waktu sampai satu Februari
mendatang untuk meletakkan senjata. Mereka tidak akan diseret ke meja
hijau kalau terbukti tidak pernah melakukan kejahatan seperti
pembunuhan, pemboman dan penculikan. Sementara ini Rusia meningkatkan
serangan-serangan terhadap ibukota Chechnya Grozny. Ketika Rusia
menghentikan serangan mereka akhir pekan lalu, penduduk dalam jumlah
kecil hengkang dari Grozny. Diperkirakan 40 ribu warga sipil masih
berada di Grozny. Ketua OSCE, organisasi keamanan dan kerjasama di
Eropa, Knut Vollebaek, akan mengunjungi republik-republik tetangga
Chechnya hari-hari mendatang. Moskou sejauh ini masih belum
memberikan ijin kunjungan bagi daerah-daerah yang dilanda perang.

* Pembangkang Kolombia serbu pangkalan angkatan laut

Ratusan pembangkang Kolombia menyerbu pangkalan angkatan laut di
dekat daerah perbatasan dengan Panama. Dikabarkan 40 orang marinir
tewas sedangkan 40 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut.
Angkatan bersenjata Kolombia mengirim pasukan tambahan ke pangkalan
militer itu. Serangan pembangkang FARC di kota pantai Jurado
merupakan salah satu serangan gerilya terberat dalam satu tahun.
Ofensif itu bertepatan waktunya dengan persiapan serahterima terusan
Panama kepada Panama oleh Amerika Serikat akhir bulan ini.
Pemerintah di Washington prihatin pembangkang Kolombia akan
memindahkan serangan-serangan mereka ke wilayah Panama, apabila
pasukan Amerika telah hengkang dari terusan Panama itu.

* Hukum darurat diberlakukan di Sudan

Presiden Sudan Omar-el Beshir memberlakukan hukum darurat di
negerinya dan membubarkan parlemen. Dengan langkah itu Beshir
bermaksud menyingkirkan ketua parlemen Hassan al-Turabi. Dalam sebuah
pidato yang ditayangkan televisi Sudan, Beshir mengatakan tidak bisa
lagi mentolerir ulah Turabi. Presiden Sudan itu selama berbulan-bulan
terlibat perebutan kekuasaan dengan Turabi. Di Khartum, ibukota
Sudan, Turabi dianggap  sebagai orang kuat di balik layar. Beshir
melancarkan kudeta tahun 1989 ketika Sudan dilanda perang saudara.

* Duma tolak ratifikasi Start II

Parlemen Rusia, Duma, kembali menolak permintaan pemerintah untuk
meratifikasi perjanjian Start II dengan Amerika Serikat. Perjanjian
tertanggal 1993 itu mengurus pengurangan senjata nuklir kedua belah
pihak. Senat Amerika telah meratifikasi perjanjian itu tahun 1996.
Tetapi parlemen Rusia, Duma, yang didominasi komunis, bertahun-tahun
menghalangi ratifikasi. Alasan terpenting Duma adalah bahwa
pelaksanaan perjanjian Start II membahayakan keadaan keamanan Rusia.
Pemilihan parlemen baru akan dilangsungkan di Rusia Ahad mendatang.

* Korsika kembali dikejutkan serangkaian pemboman

Pulau Prancis Korsika kembali dikejutkan oleh serangkaian aksi
pemboman di berbagai gedung umum. Tiga ledakan tidak menelan korban
tewas tetapi, demikian polisi Korsika, kerusakan materiil luar biasa.
Sejauh ini masih belum ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab
atas aksi-aksi pemboman itu. Di masa lampau, gerakan-gerakan
separatis sering melancarkan aksi-aksi pemboman terhadap
gedung-gedung pemerintah di Korsika. Mereka ingin memisahkan Korsika
dari Prancis.  Aksi-aksi pemboman Ahad kemarin dilancarkan menjelang
perundingan antara Perdana Mentri Prancis Lionel Jospin dengan para
politisi Korsika.  Kedua belah pihak di Paris , Senin ini, berupaya
mencari pemecahan bagi kekerasan yang terus menerus melanda pulau
Prancis Korsika itu.

* Sikap Dunia Internasional ancam nasib anak-anak

Dunia internasional yang kurang sigap mengancam nasib anak-anak.
Demikian laporan tahunan Dana Anak-anak PBB, Unicef. Negara-negara
Barat , demikian Unicef dalam laporannya, kurang memperhatikan nasib
anak-anak di negara-negara berkembang. Tetapi negara-negara
berkembang  itu sendiri pun tidak berupaya sekuat tenaga memperbaiki
kondisi buruk kaum muda.  Perawatan kesehatan membaik, demikian
laporan Unicef. Jumlah anak yang kena menyakit polio menurun drastis
dan penyakit cacar sudah tidak ada lagi.  Pendidikan anak-anak juga
meningkat. Tahun 1960 kurang dari separo jumlah total anak-anak
sekolah, sedangkan jumlah itu sekarang meningkat menjadi 75%.

* WAPRES MEGAWATI SAMAKAN KETERLIBATAN PEMERINTAH PUSAT DALAM
KERUSUHAN DI AMBON DENGAN KONFLIK PDI

INTRO: Dalam kunjungannya di Ambon, akhir pekan lalu, Wapres Megawati
menyatakan bahwa kerusuhan di Maluku sama dengan kerusuhan yang
dialami PDI Perjuangan. Masyarakat Ambon memahami hal ini sebagai
campur tangan pemerintah pusat, dalam hal ini kalangan tentara. Gus
Dur sendiri, menariknya, tidak membantah hal itu. Rupanya Gus Dur
dengan arif tidak mau memperkeruh suasana. Demikian Samy Waileruni,
ketua tim advokasi gereja protestan Maranatha Ambon:

Samy Waileruni [SW]: Kemarin dalam pertemuan itu bersama dengan
presiden dan wakil presiden, wapres sendiri katakan bahwa
'saudara-saudara permasalahan yang saudara-saudara alami saya juga
pernah mengalaminya.' Nah itu berarti bahwa ada petunjuk bahwa apa
yang dilakukan di Maluku ini punya kaitan dengan di daerah-daerah
lain dan juga yang dialami oleh Megawati sendiri pada saat yang
bersangkutan menjadi ketua PDI, begitu lah. Dan itu menunjukkan bahwa
konflik yang terjadi di Maluku bukanlah semata-mata konflik lokal
atau konflik horisontal, tetapi ada kepentingan pihak di atas itu ya,
di Jakarta, yang turut bermain di Maluku. Untuk itu maka Gus Dur dia
sendiri katakan bahwa memang kita serahkan kepada orang Maluku untuk
menyelesaikannya, tetapi pemerintah pusat  punya kepentingan yang
sangat besar untuk memberikan dorongan dan upaya-upaya penyelesaian.
Jadi dengan demikian barangkali perlu ditindaklanjuti dengan kamauan
baik dari pemerintah pusat agar supaya paling sedikit mereka-mereka
yang terlibat pada tingkat pusat itu harus ya diberikan  peringatan
keras, gitu lah.

Radio Nederland [RN]: Jadi bisa ditarik kesimpulan atas ucapan Wakil
Presiden Megawati Soekarnoputri bahwa dalang utamanya adalah
pemerintah pusat.

SW : Iya kalau saya, bukan saya saja tapi banyak orang punya
pemikiran seperti itu. Dan itu memang dilihat dari kenyataan yang
berlaku di sini. Kemarin malahan ada yang bilang secara transparan,
dikatakan bahwa TNI terlibat menunjukkan dua peran. Yang pertama
peran TNI ditunjukkan dengan sikap yang tegas, netral dan adil itu
ditunjukkan oleh marinir dan Kostrad 411. Pada posisi yang lain TNI
terlibat dalam kerusuhan ini membantu penyerangan, membantu dalam
melakukan penjarahan, menembak orang yang tidak bersalah. Jadi TNI
terlibat dalam dua peran ini secara bersama. Nah, itu secara
transparan sudah diungkapkan dalam pertemuan kemarin.

RN: Selama kerusuhan di Ambon kan yang banyak dikritik adalah peran
dan campur tangan militer ya, tetapi dalam kunjungan Gus Dur ke Ambon
itu kabarnya tidak ada kesempatan untuk berdialog langsung dengan
Menkopolkam Wiranto. Apakah benar demikian?

SW : Iya betul. Jadi memang pada saat kunjungan Panglima TNI pertama
ke Ambon, itu juga kami sudah menyatakan penyesalan kami. Ini kan TNI
terlibat ini. Koq kenapa tidak diberikan kesempatan kepada masyarakat
untuk berdialog. Nah itu juga setelah kedatangan Gus Dur dengan
membawa rombongan antara lain juga Menkopolkam Wiranto dan Panglima
TNI, masyarakat juga tidak diberikan kesempatan untuk berdialog.
Padahal itu sebenarnya digunakan untuk mendapat input yang paling
jelas dari masyarakat secara langsung. Jadi kami melihat bahwa ya
moga-moga TNI lalu sadar gitu lah ya, supaya mereka mau bertindak itu
sebagai alat negera penjaga keamanan, bukan alat untuk kepentingan
kepentingan tertentu. Harus kepentingan bersama, mereka itu kan
digaji oleh rakyat, pakai senjata mereka. Jangan digunakan untuk
membunuh rakyat, gitu lah.

RN : Jadi kalau dari keterangan bapak jelas mengenai pandangan
Megawati atas kerusuhan di Ambon tentang  keterlibatan pemerintah
pusat dalam hal ini keterlibatan tentara, apakah itu dibenarkan oleh
Gus Dur?

SW : Gus Dur tidak memberikan bantahan. Jadi setelah Ibu Megawati
selesai bicara, Gus Dur juga tidak memberi tambahan terhadap itu. Gus
Dur itu memang saya lihat termasuk orang yang sangat bijaksana. Dia
berusaha untuk mengeliminir sejauh mungkin konflik ini sehingga tidak
bisa menjadi besar. Dengan sikap bijaksana itulah maka dia dengan
arif mencoba untuk tidak membuka lebih luas keterlibatan dari
mereka-mereka pada tingkat nasional. Mereka yang sudah secara
jelas-jelas terlibat dalam kerusuhan ini sebagaimana yang telah kami
laporkan juga diungkapkan oleh Gus Dur pada saat  sebelum ia menjadi
presiden itu khususnya ketua MUI Maluku dan juga saudara Letnan
Jenderal TNI Marasabesi. Itu kami mengharapkan agar mereka itu
diproseskan untuk dimintai tanggungjawabnya. Itu masalahnya.

Demikian Samy Waileruni, ketua tim advokasi gereja protestan
Maranatha Ambon.

* KASUS AMBON, ACEH DAN PENGADILAN MILITER TESTCASE KEBERANIAN SIPIL

INTRO: Kasus Ambon, Aceh maupun pemanggilan para jenderal merupakan
test case militer sampai dimana sipil berani bertindak. Sikap
ragu-ragu Gus Dur hanya akan memancing keberanian militer untuk
muncul kembali mengatur negara. Sesaat setelah di Ambon, Presiden
Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa rakyat Maluku harus  menyelesaikan
sendiri masalah di Maluku, maka muncul reaksi mantan Kasospol ABRI
Letjen Purnawirawan Bambang Triantoro. Kepada pers ia mengatakan
militer akan ambil alih Ambon jika rakyatnya gagal menyelesaikan
masalah mereka. Laporan koresponden Syahrir dari Jakarta:

"Rasanya kurang arif kalau pertikaian berkepanjangan di Ambon harus
diselesaikan oleh orang Ambon sendiri mengingat begitu kompleknya
masalah yang mereka hadapi. Tanpa dukungan total pemerintah pusat,
bukan tidak mungkin pertikaian menjadi semakin hebat", kata Bambang
Triantoro, bekas tangan kanan Benny Moerdani. Untuk menghindari
jatuhnya korban adalah dengan menegakkan hukum dan peraturan. Dan
komponen bangsa yang paling siap dan mampu melaksanakan itu adalah
militer. Caranya dengan mengambil alih dan mengendalikan Ambon.
Sebaliknya Astrid  Sutanto, wakil ketua tim DPR yang ditugaskan untuk
menyelidiki kasus Maluku
mengatakan bahwa menurut sejumlah tokoh Maluku, kasus di sana mudah
untuk diselesaikan jika para provokator ditindak.

Yang menjadi pertanyaan sekarang siapakah para provokator itu. Hampir
semua pihak setuju bahwa para provokator itu umumnya digerakkan
militer. Tetapi militer yang mana? Menurut seorang pakar suatu
lembaga studi militer, TNI sengaja membiarkan kasus Maluku dan Aceh
berlarut-larut untuk bisa mempersalahkan sipil dan mengambil alih
peran sipil jika ternyata gagal menyelesaikan kasus-kasus rawan
tersebut. Yang masih menjadi penghalang militer antara lain ialah
soal Undang-Undang PKB yang hingga kini belum bisa digunakan mereka
sebagai payung untuk menggebuk sipil, katanya.

Sikap militer hingga kini masih tetap menonjolkan kekerasan ketimbang
pendekatan musyawarah. Dengan bertambahnya korban polisi dan militer
di Aceh dan Ambon membenarkan mereka mengirim lebih banyak polisi
atau militer kesana. Mereka menghindari berdialog dengan orang-orang
yang tidak mau taat kepada pemerintah. Bagaimana pun juga  Mabes TNI
tidak mau berdialog dengan mereka yang mempersenjatai diri mereka
karena kecewa dengan keadaan. Padahal tentara semasa dipimpin oleh
Jenderal M Jusuf sempat melakukan perundingan dengan pihak Fretilin.

Tetapi sayangnya usaha itu digagalkan oleh pihak intelijen. Akibatnya
Timtim kini lepas dari Indonesia. Padahal dahulu  sebagian pemimpin
Fretilin sudah mau mengakui suatu pemerintahan sendiri yang dipayungi
Jakarta. Hingga kini ada kecenderungan elit militer untuk membungkam
kelompok-kelompok anti negara melalui  Undang-Undang Represif semacam
UU PKB yang jelas-jelas ditiru dari Malaysia dan Singapura yang tidak
demokratis. Padahal menurut seorang pakar dari Jepang, Indonesia saat
ini jauh lebih demokratis ketimbang negara-negara tersebut, yang
selalu berusaha membungkam golongan oposisi.

Negara-negara ini, sama dengan militer Indonesia tidak mau membiarkan
adanya partisipasi politik ilegal. Padahal partisipasi politik itu
bisa legal maupun ilegal. Karena selama ini kekerasan dilawan dengan
kekerasan maka, terjadilah  proses disintegrasi di Indonesia. Jika
militer sampai menguasai Ambon dan Aceh, jelas ini akan dijadikan
model di daerah-daerah lain bahkan di ibukota. Ini pernah mau
dipraktekkan oleh elit militer tertentu pada peristiwa
Ketapang. Proses transisi dari sistem otoriter ke sistem demokrasi
selalu diusahakan agar dapat dihentikan dengan cara kekerasan.

Habibie jelas-jelas gagal mengendalikan militer. Gus Dur pun
tampaknya akan mengalami nasib yang sama jika ia membiarkan kelompok
Wiranto merajalela  dengan alasan nasionalisme persatuan dan
kesatuan. Seolah-olah militer yang paling tahu rasa kebangsaan dan
paling mampu mempertahankan kesatuan bangsa. Namun kemarin Gus Dur
sudah mengatakan bahwa Wiranto akan tetap menjabat sebagai Menko
sebelum ia dibuktikan bersalah di pengadilan.

Para jenderal yang diduga telah melakukan pelanggaran hak-hak asasi
manusia di Timtim akan dimintai keterangan minggu ketiga bulan
Desember ini. Yang akan memanggil adalah Komisi Penyelidikan
Pelanggaran HAM atau KPP HAM. Maka KPP HAM pun oleh Buyung Nasution
telah dinyatakan tidak berhak memanggil para jenderal itu. Namun
Jaksa Agung Marzuki Darusman membantahnya karena KPP HAM dibentuk
oleh  Komnas HAM yang sah dan didukung oleh Undang-Undang.

"Hingga kini ABRI/TNI selalu menganggap demonstrasi  dan kerusuhan
bukan bagian tak terpisahkan dari hak-hak asasi rakyat untuk
melakukan partisipasi politik, melainkan suatu hal yang perlu
ditindak". Hal ini dinyatakan dalam suatu paper  tim peneliti The
Asia Foundation. Kini tampaknya, sejumlah elit TNI menganggap apa
yang dilakukan TNI di Timor Timur bukanlah suatu kejahatan terhadap
kemanusiaan. Hari Sabarno dari Fraksi TNI misalnya melihat tugas TNI
ke Timtim dahulu sesuai prosedur dan atas nama tugas negara.

Militer yang dikirim ke TNI, bukanlah pasukan liar, katanya kepada
pers. Mereka ke sana pasti atas dasar perintah yang berarti tugas
negara karena urusan pertahanan dan keamanan memang diserahkan ke
TNI. Dari keterangan Hari Sabarno ini jelas bahwa pembunuhan rakyat
sipil dan para rohaniwan serta pembakaran rumah-rumah bukanlah
tanggungjawab Wiranto tetapi Habibie yang ketika itu menjabat sebagai
Presiden. Yang juga menjadi pertanyaan banyak orang, mengapa Habibie
menjelang jajak pendapat tidak menyetujui usulan Wiranto agar pasukan
atau peninjau militer dari PBB ditambah.

Mungkinkah Habibie sengaja membiarkan Wiranto terjebak, karena ketika
itu Wiranto sudah santer disebut-sebut sebagai calon Presiden Golkar?
Menurut Hari Sabarno, tidak ada prajurit yang dengan bangga atau
senang ditugasi. "Saya pun tentara. Dan itu tidak enak", kata perwira
tersebut yang berusaha keras membela jenderal-jenderal yang akan
diperiksa. KPP HAM menyebut sejumlah jenderal yang bertanggungjawab
atas pelanggaran HAM di Timtim pasca jajak pendapat. Mereka antara
lain ialah Wiranto, Adam Damiri,
Sjafrie Syamsuddin, Zacky Anwar Makarim, Tono Suratman dan Timbul
Silaen.

Tetapi pihak KPP HAM sendiri sudah mengakui bahwa KPP HAM itu
didirikan untuk menyelamatkan para perwira TNI ini, agar tidak
dipanggil langsung oleh Tribunal Internasional. Kalau ini yang
terjadi Indonesia akan mengalami keadaan yang pernah dihadapi Lybia,
Serbia dan Rwanda. Ada jenderal yang disergap dan akhirnya tewas
ditembak di negaranya sendiri. Ada jenderal yang ditangkap ketika
berkunjung ke luar negeri, padahal dia tidak tahu apa-apa mengenai
rencana penangkapannya itu. Letjen Sintong Panjaitan sendiri juga
tidak mungkin ke Amerika lagi, karena pengadilan negara bagian
Massachussetts sudah menantikannya sehubungan dengan tewasnya seorang
warganegara Selandia Baru pada peristiwa Santa Cruz, Dili, November
91.

---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 17:22:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke