----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Merdeka, 13 Desember 1999

Virus Disintegrasi
Oleh: Januar Suriadi Hakim

RAKYAT Indonesia baru terbuka matanya, tatkala ada seorang
'public figure' yang sering menyuarakan persatuan dan kesatuan
berdiri di belakang gerakan Papua Barat Merdeka. Ia yang selama
ini licin bagai belut, akhirnya terbongkar juga kedoknya.

Konon, saat Rezim Orde Baru (Orba) sedang jaya-jayanya
bertengger, yang namanya Yorris Rawejai begitu aktif dan
sekaligus kesohor di kalangan Pemuda Pancasila (PP). Kata orang,
ia bak raja kecil di organisasi itu. Semua titahnya selalu
dilaksanakan anggotanya dengan sungguh-sungguh, walaupun berbau
kehitaman.

Namun tidak berapa lama setelah rezim Orba dilengserkan kekuatan
mahasiswa, maka yang namanya Yorris segera beraksi, kasak-kusuk,
berupaya masuk menjadi salah satu anggota Parpol yang sedang
'ngetop' tentunya. Tapi celakanya, ia selalu ditolak dengan
alasan yang sama. Ketika masuk untuk menjadi anggota Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), secara sontak ia ditolak. Begitu pula
ketika beralih menjadi aggota Partai Amanat Nasional (PAN),
lagi-lagi ketiban sial: tidak diterima.

Mencermati gejala ini, sebenarnya tidak aneh mengingat sosok
Yorris sudah dikenal dalam dunia kehitaman yang sering berurusan
dengan aparat kepolisian. Ia sudah beberapa kali tertangkap
tangan ketika sedang berjudi di suatu hotel, beking-bekingan dan
kekerasan. Sehingga pendek kata, tidak jarang ia berurusan
dengan hukum di negeri ini. Tapi berkat kepiawaian, kelicinan
dan ada yang memeliharanya secara khusus, lagi-lagi ia tak
tersentuh hukum alias tanpa cap terlibat. Ia kebal hukum, kata
orang, sehingga selalu bersih.

Sebagai 'public figure', memang tidak dipungkiri bahwa ia cukup
dikenal di kalangan pemuda. Namun bukan rahasia umum lagi bahwa
yang bersangkutan memiliki 'track record' yang terbilang tidak
bersih. Akibatnya, jelas berbuntut adanya penolakan oleh
beberapa Parpol terhadap Yorris di negeri ini dan hal ini
menurut para pakar politik merupakan tindakan yang tepat.
Pasalnya, bila ia diterima, akan menjadi bumerang bagi Parpol
dan bukan mustahil akan digugat para anggotanya, selanjutnya
bisa ditinggal pergi para simpatisannya.

Kasus demi kasus telah berlalu, tapi bukan Yorris namanya kalau
tidak aktif. Ternyata saat ini ia sedang getol-getolnya berdiri
di belakang kegiatan Papua Barat Merdeka dan konon menurut
khabar yang beredar di ibukota, ia salah satu sponsor utamanya.

Melihat kenyataan ini, bagi warga negara Indonesia yang peduli
terhadap nasib keutuhan bangsa, tentunya sangat menyayangkan
sikap dan ulah Yorris yang kontra produktif itu. Sehingga tidak
aneh jika banyak yang selalu bertanya-tanya dalam hati, siapakah
Yorris sebenarnya? Mengapa demikian? Karena siapapun rakyat
Indonesia yang memiliki hati nurani, pasti merasa dongkol
melihat tingkah polahnya yang selalu condong ke arah angin
bertiup.

Kemana angin bertiup, kesana ia ikut, tak peduli itu berbau
disintegrasi, yang penting menguntungkan dirinya. Pendek kata,
ia adalah sosok individu yang tidak punya pendirian alias
plintat-plintut, cari kesempatan dalam kesempitan, juga mau cari
selamat sendiri. "Bullshit," demikian kata orang Amerika.

Mencermati semua gelagat itu, timbul pertanyaan lain dalam hati,
betulkah ia seorang yang peduli terhadap Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI)? Rasa-rasanya, melihat fakta di atas
bisa ditebak bahwa ia tidak cinta 100 persen. Tetapi bisa
disebut sejenis "kutu loncat" yang selalu berpindah-pindah,
mencari untung sambil merusak yang akhirnya akan pergi dan
membahayakan persatuan dan kesatuan nasional. Ia tidak sadar
bahwa selama ini sudah malang-melintang dalam kesenangan di
NKRI.

Oleh karena itu, sudah seharusnya Anda mengabdi, bukan membawa
virus disintegrasi, apalagi memicu timbulnya kehancuran NKRI.
Memang bukan Anda saja yang bersikap demikian di era keterbukaan
ini, karena masih banyak yang belum terungkap. Tapi setidaknya
Anda sebagai pelopornya. Memalukan Pemuda Pancasila, itu sudah
pasti.***(Penulis adalah pemerhati masalah organisasi pemuda).

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Dec 1999 jam 09:37:19 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke