----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

PDIP-Golkar Perang Mulut di DPR
Tuduhan Suap Kwik Dianggap Selesai

Jakarta, JAWA POS.-
Jumat, 17/12/1999

Peristiwa menarik terjadi dalam rapat kerja Menko Ekuin Kwik Kian Gie dengan
Komisi IX DPR RI di DPR tadi malam. Rapat yang agendanya membahas rencana
pemerintah menerbitkan surat utang negara (obligasi) untuk rekapitalisasi
Bank Mandiri itu berubah menjadi arena perang mulut antara Fraksi PDI
Perjuangan dan Fraksi Golkar.

Komisi IX memang sudah menunggu-nunggu rapat dengan Kwik tersebut. Sebab,
sudah lama mereka ngempet untuk meminta klarifikasi tuduhan suap yang
dilontarkan Kwik terhadap DPR. Namun, sebelum klarifikasi mulai, anggota
FPDI-P memancing emosi dengan melontarkan kecaman terhadap anggota DPR dari
Golkar di komisi tersebut.

Pemancingnya adalah Ariady Ahmad. Tiba-tiba, dia melontarkan pernyataan yang
memojokkan Golkar. ''Saya mendukung langkah yang dilakukan oleh Menko Ekuin
Kwik Kian Gie untuk membongkar skandal Texmaco. Tapi, ternyata ada orang
Golkar yang kupingnya merah dengan langkah transparansi yang ditempuh Pak
Kwik ini,'' ujar pria yang akrab dipanggil Didi ini.

Begitu selesai melontarkan pernyataan itu, Eki Syachrudin dari FP Golkar
langsung interupsi. Dia lantas minta waktu kepada pemimpin sidang Sukowaluyo
Mintorahardjo. ''Saya ingin menanggapi pernyataan Pak Ariady. Pertama, belum
apa-apa anggota DPR kok sudah membela Pak Kwik. Kedua, tolong Pak Didi
mencabut pernyataan bahwa orang Golkar kupingnya merah atas sikap
transparansi Menko Ekuin. Jika tidak, maka urusannya panjang,'' tegas Eki
dengan nada tinggi.

Tak hanya itu. Yang dipersoalkan pengasuh talk show di TV itu juga melebar.
Dia mempersoalkan anggota DPR yang telah menandatangani cek kosong untuk
biaya perjalanan dinas dalam rangka masa reses DPR, mulai minggu depan.
''Saya ingatkan kepada anggota dewan sekalian bahwa dalam masa reses
kunjungan ke daerah, jangan sekali-kali menerima amplop,'' ujar Eki.

Terang saja, pernyataan Eki ini membuat gaduh rapat Komisi IX dengan Menko
Ekuin ini. Agenda pembahasan rapat pun mulai menyimpang. Kwik yang hadir di
rapat itu pun tampak sempat bingung dan berbisik kepada stafnya. Apalagi
posisi duduk Eki dan Ariady yang sedang berseteru tersebut berseberangan
sehingga tampak jelas keduanya saling melotot dan saling menuding.

Melihat gelagat yang tak baik itu, pemimpin sidang Sukowaluyo berusaha
menengahi. Dia menyatakan bahwa persoalan yang sesungguhnya adalah minta
klarifikasi tuduhan suap oleh Menko Ekuin Kwik Kian Gie. ''Mungkin itu yang
perlu dijelaskan Kwik dulu,'' kata wakil rakyat dari PDI-P ini singkat.

Mendapat kesempatan bicara, Kwik lantas menjelaskan secara kronologis
statemennya pada 8 Desember 1999, saat dia mendampingi Presiden Gus Dur
berkonsultasi dengan pemimpin dewan. Meski diakui acara ini secara khusus
membahas rencana pemerintah menerbitkan obligasi, tetapi tidak ada masalah
kalau dimanfaatkan untuk menjelaskan tuduhan suap tersebut.

''Saya gembira karena sidang pembuka ini justru memberikan kesempatan kepada
saya untuk menjelaskan kalimat yang saya sampaikan 8 Desember lalu,'' ujar
Kwik. Dia lantas menjelaskan latar belakang KKN yang telah mengakar dan
membudaya di Indonesia. Kwik mencoba menerangkan kembali rekaman ucapannya
sampai dipersepsikan telah menuduh DPR menerima suap dari pengusaha itu.

Dia bilang, dalam pernyataannya saat itu, tidak ada spirit sedikit pun
menuduh para anggota dewan. Kwik mengaku, dirinya telah meminta penjelasan
ahli hukum tentang kalimat yang diucapkannya saat itu. Dan ternyata, kalimat
tersebut tidak bisa ditafsirkan sebagai tuduhan. ''Justru spiritnya
mengandung konotasi permisi ke DPR,'' tegas Kwik.

Mendapat jawaban ini, anggota DPR dari FPG Eki Syachrudin dan Taufikurrahman
Saleh dari FPKB menyatakan menerima klarifikasi Kwik. Intinya, mereka tidak
akan mempermasalahkan lagi kalimat Kwik tersebut. ''Saya anggap dengan
penjelasan Kwik ini, maka tidak ada lagi persoalan,'' tegas Eki.

Taufikurrahman justru mecoba menengahi perseteruan ini dengan mengambil
hikmahnya. Kasus Kwik dengan DPR bisa menjadi proses pendewasaan anggota
dewan. ''Jangan terlalu mengabadikan statemen yang ada di koran sebagai
sesuatu yang mutlak. Ini yang perlu didewasakan kepada para elite di DPR,''
tegas Taufik yang seolah mengkritik dirinya sendiri.

Ekki lalu menjelaskan, dirinya sejak awal memang sering berintonasi tinggi.
Tapi, Ekki keberatan jika nada tingginya diartikan sebagai sikap tersinggung
atas penjelasan Kwik Kian Gie.

''Soal yang kotor-kotor saya tidak biasa, tapi selalu berintonasi tinggi.
Itu, bukan berarti kuping saya merah,''tegas Ekki.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Dec 1999 jam 10:23:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke