----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

CATATAN:

     Untuk menyambut seruan, dan sebagai ucapan terimakasih,
pada Presiden Abdurahman Wahid, kami turunkan kembali cerpen
lama karangan Ruth Havelaar, nama pena Jitske Mulder, seperti
dimuat dalam "Selamat Tinggal Indonesia - kisah hidup seorang
perempuan belanda" (Lentera, 1995). Presiden Gus Dur, seperti
kita ketahui bersama, pada 9 Desember 1999 lalu telah menutup
abad dengan sebuah Pernyataan Kemanusiaan yang luhur, dan
dengan itu membuka kembali Pintu Gerbang Indonesia bagi anak-
anak Tanahair yang tersingkirkan selama lebih satu generasi.
Mudah-mudahan seruan Presiden Abdurahman Wahid itu akan segera
bisa mengakhiri abad kegelapan di Indonesia kita.

     Cerpen berjudul "Sungat Brantas" (hal. 116-121) sengaja
kami edarkan kembali, sebagai pernyataan terimakasih, karena
bagian akhir cerpen ini menyerukan harapannya yang indah
terhadap Indonesia kita. Harapan Ruth Havelaar, harapan kami,
dan harapan kita bersama.

     Melalui Redaksi "Iqra-SiaR", dengan rendah hati kami,
sekali lagi, mengucapkan terimakasih. Kepada Presiden
Abdurahman Wahid terutama, tetapi juga kepada Wakil Presiden
dan semua pembesar pemerintah, para Abdi Bangsa pada umumnya.

(Ken + Setiawan Hersri)

Ruth Havelaar:

                        SUNGAI BRANTAS

SETENGAH tahun sesudah keberangkatan kami, aku kembali lagi ke
Indonesia. Untuk menemui tabib tradisional di Kediri,
barangkali saja ia bisa menolong membebaskan aku dari kanker.
Aku kembali masuk Indonesia. Tapi kali ini sekedar seperti
turis. Tidak sebagai istri seorang warga negara Indonesia.
     Dalam beberapa menit, setiba di bandara, visa kudapat.
Tanpa keluar uang dan tanpa pertanyaan-pertanyaan yang bikin
perut mual. Hanya beberapa menit sesudah pesawat mendarat. Ya,
benar-benar: Selamat Datang!

     Perasaan bebas turun dari langit masuk ke dalam diriku.
Kali ini aku seorang turis. Bukan istri seorang tapol.
     Hari-hari pertama kunjunganku ini benar-benar sangat
menyenangkan. Becak-becak, pasar, hamparan sawah, anak-anak,
bis-bis yang kian ke mari, semua membawa aku kembali ke
sekitar delapan tahun lalu. Ketika itulah aku untuk pertama
kali mengunjungi Indonesia. Dan seketika itu juga aku mulai
mencintainya.

     Di "Warung Pojok" aku menikmati cendol, sambil menghirup
hiruk-pikuk dan suara Surabaya. Hampir-hampir aku terlupa,
untuk tujuan apa aku ke sini. Semacam kebebasan kuperoleh.
Kebebasan yang telah hilang selama tujuh tahun aku tinggal di
negeri ini.
     Aku pun senang di sepanjang perjalanan dalam bis menuju
Kediri.
     Di kota ini aku tinggal dua minggu. Kediri, ibukota
propinsi, yang terletak di pinggir kali yang indah. Kali
Brantas.
     Hal-hal yang aneh terjadi. Misalnya laki-laki berseragam,
yang kali ini tidak lagi merupakan ancaman terhadapku. Lain
dari apa yang pernah kualami. Bahkan sekarang terasa, aku bisa
membedakan antara satpam, polisi, atau orang-orang yang
berseragam lainnya.
     Aku bahkan berani tak ambil peduli terhadap seorang
polisi yang ingin tahu, dari mana asalku dan hendak ke mana
tujuanku. Dan di mana pula aku tinggal! Sambil membeli majalah-
majalah berbahasa Indonesia dan ngobrol dengan penjualnya, aku
sengaja tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaannya itu. Biarlah
dia mengulang dan mengulang pertanyaannya, sampai akhirnya
menjadi bosan sendiri. Kali ini aku bisa berpikir: Ah, kamu
hanya orang sok pengin tahu! Tidak lebih. Seragammu tidak lagi
punya arti bagiku. Dan ingat! Petugas imigrasimu sudah
mengijinkan aku masuk. Apa sekarang yang kau cari-cari?

     Di masa lalu, selama tinggal di Indonesia, tidak pernah
aku berbuat demikian. Selalu berusaha sopan dalam keadaan
bagaimanapun. Sedikit banyak juga ingin menyembunyikan diri
sebagai istri tapol. Agar supaya tidak dihadapkan pada banyak
soal yang tak kumengerti. Ketika itu tidak pernah terlintas di
kepalaku, untuk mengenal perbedaan antara berbagai macam
seragam itu.
     Mengapa semua itu dulu bisa terjadi? Karena rasa takut.
Alat pemerintah melempar laki-laki yang kemudian menjadi
suamiku itu ke penjara, kemudian mendudukkannya sebagai
seorang tapol disepanjang sisa hidupnya. Dan kanker
militerisme itu pun bahkan mengancam hidup anak kami.
     Ya. Ketakutan itulah sebabnya! Mengapa aku menjadi pernah
tidak mampu membeda-bedakan antara berbagai seragam itu.
     Aku yakin, suasana batin semacam itu pastilah tidak
terjadi pada diriku saja. Melainkan terjadi pada sebagian
rakyat kebanyakan. Hanyalah orang-orang dengan status yang
cukup bagi pandangan mata pejabat, mereka akan berani
mengabaikan pertanyaan-pertanyaan orang berseragam. Polisi,
tentara, imigrasi, bahkan satpam atau hansip dan orang-orang
berseragam lainnya.

PADA hari-hari pertama kunjungan kali ini, aku pun pergi ke
toko buku sana-sini. Di situ kujumpai tapol suamiku, karena
buku-buku hasil terjemahannya juga dipajang. Berapa banyak jam
dan berapa banyak hari telah dia habiskan untuk menerjemahkan
buku-buku itu, dari kata ke kata, dari kalimat ke kalimat.
Dengan terkadang juga minta bantuanku untuk menangkap makna
yang terkandung dalam kata-kata atau kalimat-kalimat itu.
     Apabila naskah-naskah terjemahan itu sudah diterbitkan,
penerbit akan selalu mengirim kepadanya beberapa eksemplar.
Nama dia, sebagai penerjemah, tidak pernah tercantum di dalam
buku. Itu tidak boleh! Karena dari penerjemah subversif hanya
akan lahir hasil kerja yang subversif pula. Bukan terjemahan
yang baik, walaupun dicetak ulang!
     Siapa mengerti ini? Aku tidak!
     Walaupun semua itu aku sudah tahu, penasaran juga aku
untuk membukai buku-buku itu. Dan mencari-cari namanya. Semata-
mata karena aku masih yakin, bahwa penghinaan bisa suatu saat
berakhir.
     Tapi justru karena keyakinanku yang seperti itu, maka aku
pun dibikin kembali sedih. Nama dia belum juga terbaca. Sampai
kapankah harapan dan kesedihan akan terus saling bergandengan
demikian?

DILIHAT sepintas lalu minggu-minggu ini aku adalah turis.
Tetapi toh aku punya larangan. Tidak bisa menengok rumah kami
di Bogor, di Jalan Pondok Rumput 19. Di sana buku-buku,
perabot rumah, kucing-kucing anakku, dan lain-lain masih
menunggu kami. Aku juga tidak bisa menengok teman-temanku.
Justru karena pada saat-saat itu pemerintah sedang sibuk
menghitung kembali tapol-tapolnya. Ia ingin tahu, di mana
tapol-tapol itu masing-masing berada. Ini perlu, mengingat
bahwa mereka - karena sebab ini dan itu - merupakan bahaya
laten. Atau bacalah itu sebagai berarti: Komunisme tetap
merupakan kambing hitam untuk segala masalah, yang bisa
mengakibatkan terjadinya perubahan kekuasaan.

     Setiap hari kubeli koran-koran yang beredar di Kediri,
seperti Jawa Pos dan Kompas. Setiap hari selalu terbaca berita
tentang tapol, tentang pemerintah yang bersih dan berita-
berita sebangsanya. Perlahan-lahan tapi pasti, akhirnya aku
batal sebagai turis. Aku kembali lagi menjadi orang dalam. Dan
sebagai orang dalam kubeli mingguan Tempo. Dengarlah, apa yang
ditulisnya? "Di Surabaya semua tapol harus mendaftar ulang".
     Apa itu artinya? Mengisi kolom-kolom formulir dengan
nama, tempat dan tanggal lahir, agama, kebangsaan, alamat,
pekerjaan dahulu, pekerjaan sekarang, jika kawin dengan siapa
kawin, nama-nama orang tua dan mertua, nama-nama anak atau
anak-anak. Juga kolom-kolom selanjutnya: tinggi berapa, warna
kulit, berat badan, keadaan rambut, mata, hidung, apakah
berwatak gampang terpengaruh, pendidikan, kapan ditangkap,
kapan "dibebaskan" ... Pendek kata, komplit!
     Pada kartu penduduk mereka, setiap tapol mendapat tanda
"ET". Jika formulir isian itu sudah lengkap dan diserahkan,
semuanya akan disusun menjadi satu. Dan jadilah berkas-berkas
kertas, masing-masing dilengkapi dengan pasfoto terakhir tapol
bersangkutan. Berkas-berkas ini kemudian dimasukkan di dalam
arsip, di bawah label yang bertuliskan: "Bendel OT". Huruf-
huruf kependekan dari kata-kata "Orang Tahanan".
     Demikianlah garis perjalanan tapol: Tapol - Eks-Tapol -
Tahanan.
     Membaca berita itu perutku menjadi mulas. Jantung
berdegap-degup, dan kepala seperti terbakar.
     Aku ingin lari seketika itu juga. Lari demi hidupku.
Melintasi perbatasan Indonesia secepat-cepatnya. Bersyukurlah
aku, bahwa anak dan suamiku tidak ada di negeri ini. Aku
bahkan berterimakasih kepada Tuhan, justru karena dunia telah
membuat dosanya sendiri dengan memecah belah umat manusia
dalam banyak bangsa-bangsa. Seandainya tidak, di mana pun
tidak akan ada tempat bagi para pemberontak untuk berlindung.
Sehingga akibatnya akan lebih banyak lagi pembunuhan dan
ketidakadilan terjadi di dunia.
     Ah! Bahkan penyakitku pun timbul lagi pada saatnya yang
tepat. Dan karenanya kami telah meninggalkan negeri ini.
     Tapi pada saat ini kupikir tidak ada jalan keluar apa pun
yang bisa kutemukan ...

KAMAR hotelku terasa menjadi terlalu kecil, terlalu gelap dan
terlalu sesak. Aku berjalan-jalan keluar, sampai ke Kali
Brantas. Alangkah indah pemandangannya. Gunung-gunung, bukit-
bukit, dan sungai yang teramat lebar.
     Aku berjalan terus menyusuri tebingnya. Dan berhenti di
depan sebuah rumah. Di sana kakak iparku pernah tinggal, di
masa sekitar peristiwa '65. Aku mencoba membayangkan, apa yang
tentunya pernah dilihatnya selama tahun itu. Juga di sepanjang
tahun-tahun berikutnya. Ia pasti pernah melihat, betapa kali
ini suatu ketika berwarna darah. Darah yang tumpah. Darah
orang-orang yang tak bersalah. Sementara ia melihat itu,
pastilah menjadi timbul rasa cemas akan nyawa suaminya, anak-
anaknya, dan tentu saja juga nyawa dirinya sendiri.
     Korban-korban untuk apakah itu?
     Mayat-mayat direnteng dengan batang bambu. Seperti tikus-
tikus. Dan kemudian dihanyutkan ke muara kali ini. Arus Kali
Brantas membawa tragedi itu sampai ke Surabaya. Di sana Kali
Brantas masuk ke Laut Jawa.
     Aku bisa membayangkan, jika kakak ipar itu tidak tahan
menyaksikan pemandangan yang demikian. Juga tidak tahan
merasakan ketakutan di dalam hatinya. Akibatnya ia bertubuh
kurus kering, menderita sakit di sepanjang sisa hidupnya.
Tanpa tahu, penyakit apa yang diidapnya.
     Ketakutan merajai dirinya. Ketakutan akan nasib suami,
anak-anak, dan bahkan cucu-cucunya yang belum lagi lahir!
Karena itulah selama ini ia tidak pernah mau mengaku sebagai
kakak iparku, kepada barang siapa saja yang tidak termasuk
dalam bilangan keluarga dekat. Ia tidak berani. Karena bahaya
mengancam di mana-mana. Kali Brantas telah mengotori hidupnya
selama-lamanya. Dia, kakak iparku, hanya satu orang di tengah
orang-orang lain yang tak terbilang banyaknya.
     Satu dua jurus kupejamkan mataku. Lalu kupandangi lagi
arus kali itu. Hatiku menjadi tenang karenanya. Kini tidak ada
lagi bangkai-bangkai hanyut. Arusnya pun tidak lagi berwarna
darah. Ia tinggal sebuah sungai belaka, mengalir di tengah-
tengah indahnya pemandangan.

     Kelak suatu hari sungai ini akan menumbuhkan bunga-bunga.
Bunga-bunga merah dan putih. Sebanyak seperti bangkai-bangkai
tak terbilang, yang dibawa hanyut oleh arusnya ke Laut Jawa.
Anak-anak akan mandi bersimburan di sana, dan menghiasi diri
dengan bunga-bunga merah dan putih itu, serta saling bisik-
membisiki: Tragedi telah hilang. Kebenaran telah datang.
Lihatlah itu kembang-kembang!

SELAMAT TINGGAL INDONESIA. KUSAMPAIKAN BAGIMU HARAPANKU,
AIRMATAKU, DAN CINTAKU ....

Kockengen 1988

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Jan 2000 jam 09:18:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke