----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 18 Januari 2000

Prof Sri Soemantri, Pakar Hukum Tata Negara:
Hidupkan Lagi Dewan Jabatan

Gejala politisasi jabatan karier, menurut saya merupakan
dampak kuatnya kedudukan partai politik dalam negara.
Dan ini juga merupakan konsekuensi dari sistem multipartai
yang dianut sekarang. Sehingga apa saja yang digariskan
Menpan bisa berantakan semua kalau politisasi jabatan
karier itu dibiarkan saja.

Sejarah Orde Lama, saya lihat bisa terulang lagi kalau
terus begini. Dulu kan kalau menterinya dari partai A,
maka pejabat di departemen itu dari partai A semua.
Sehingga yang menjadi pertimbangan bukan
profesionalisme tapi justru kelompok politik. Kita harus
perhatikan betul praktek-praktek seperti ini agar tidak
terus berlangsung. Dampaknya bisa sangat berbahaya.

Bayangkan saja, kalau jabatan-jabatan karier dipolitisasi
ketidakstabilan birokrasi terancam. Sebab kalau
presidennya ganti dari partai lain, nanti susunan
birokrasinya berubah lagi. Kemudian kalau ganti lagi
presidennya dari partai lain lagi, susunannya
birokrasinya juga menyesuaikan. Kalau begini yang
terjadi, birokrasi pemerintahan kan menjadi tidak stabil.

Ini sudah pernah terjadi pada masa Orde Lama. Waktu itu
kan pernah menganut sistem parlementer. Sehingga
departemen-departemen diwarnai dengan kekuatan
politik. Dulu misalnya Depdagri dikuasai oleh PNI.
Kemudian departemen lain, dari partai lain. Ini perlu kita
perhatikan sungguh-sungguh.

Dulu kita pernah mengenal lembaga yang bernama
Dewan Jabatan. Lembaga ini bertugas menyeleksi atau
menyaring pejabat-pejabat yang akan menduduki eselon I
dan eselon II. Di masa lalu, lembaga ini dipimpin oleh
wakil presiden dan anggotanya beberapa menteri. Menpan
termasuk anggota dewan jabatan ini. Dan lembaga ini
punya peraturan yang mendasarinya.

Saya tidak tahu apa sekarang ini masih ada apa tidak.
Kalau di militer kan masih ada. Saya kira kalau sudah
tidak ada, perlu diaktifkan lagi. Sehingga pejabat-pejabat
yang muncul bisa terseleksi oleh dewan ini. Sekarang ini,
kan tiba-tiba pejabat baru muncul menggantikan pejabat
lama. Tidak jelas apa mereka sudah diseleksi oleh dewan
jabatan apa belum.

Tentu saja, Dewan Jabatan ini harus dibersihkan dari
kepentingan-kepentingan politik. Dia harus menegakkan
standar profesionalisme dengan persyaratan-persyaratan
yang ketat. Misalnya kalau mereka yang mau diorbitkan
ke eselon I atau eselon II itu kan ada Spati, Spada, juga
ada Lemhanas. Mestinya Dewan Jabatan juga
mempertimbangkan sistem ini.

Sebaiknya, Dewan Jabatan ini memang menjadi lembaga
independen. Tapi dia tetap harus berada di bawah
pemerintah. Sehingga bertanggung jawab kepada
presiden. Sebab yang mereka tangani itu kan memang
jabatan-jabatan yang berada di bawah pemerintah. (irf)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 03:27:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke