----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 18 Januari 2000

Patrialis Akbar, Anggota Komisi II DPR:
Itu Pengkhianatan pada Bangsa

Mengenai politisasi dalam jabatan karir ini yang paling
penting harus dilihat dari dua sisi. Pertama, dari segi
aturan apakah ini memungkinkan atau tidak. Faktor
kedua dan tidak dapat dipisahkan dari faktor pertama
adalah mengenai kapabilitas orang tersebut. Jadi apakah
orang itu punya kapasitas atau tidak untuk menduduki
jabatan itu.

Artinya seseorang itu menduduki jabatan tidak
semata-mata berdasarkan pada konsep politisasi tapi
harus cenderung pada etika profesi pejabat yang
bersangkutan. Karena tanpa sikap profesional itu, artinya
suatu hal yang berupa penghianatan kepada bangsa.
Kenapa demikian? Karena itu sudah menempatkan
seseorang yang tidak cocook dengan kapasitasnya dan itu
akan menghancurkan.

Namun jika seseorang politikus dan dia cocok dalam arti
memiliki kemampuan di bidangnya, maka tidak ada
salahnya dia duduk disana sejauh jabatan itu memang
bukan jabatan karir. Jadi harus dibedakan di sini antara
jabatan karir dan jabatan politis.

Maksud saya kalau jabatan karir diisi oleh politikus, ini
yang tidak boleh. Itu sama saja dengan menghancurkan
orang lain yang sejogyanya duduk di posisi itu. Yang harus
diperhatikan adalah dalam jabatan karir tentu sesorang
sudah meniti karirnya dari bawah, ini yang harus
dihormati.

Dalam hal ini wajar kalau ada yang kecewa karena
mereka sudah meniti karir dari bawah tapi ternyata tidak
diberi tempat yang semestinya dia tempati.

Ini berbeda dengan jabatan politis. Kalau jabatan politis
dia tentu sudah berusaha juga untuk melakukan berbagai
perubahan. Misalnya dengan aktifnya dia di salah satu
partai politik dan dia memiliki kemampuan di bidang itu.
Kalau ini terjadi di jabatan karir, ini bukan saja sulit
diterima tapi ini tentu saja tidak boleh terjadi.

Tapi bukan berarti kalau itu jabatan politis maka rakyat
tidak boleh mengkritik kalau memang dia tidak mampu.
Dalam hal ini, jika seseorang menempati jabatan politis
dan setelah diberi kesempatan beberapa waktu tidak juga
memperlihatkan kemampuannya maka sudah saatnya
rakyat berteriak. Orang seperti ini tidak bisa
dipertahankan lagi menduduki jabatan itu.

Jadi saya harapkan janganlah menunjuk seseorang
untuk duduk dalam jabatan tertentu karena faktor
koncoisme (pertemanan). Koncoisme ini adalah
menempatkan orang-orangnya tidak pada posisi
profesional tapi hanya pada perkawanan saja. Saya juga
aneh kalau tiba-tiba ada mereka-mereka yang duduk di
satu jabatan, dijadikan pegawai negeri. Harusnya tidak
usahlah begitu.

Menurut saya jika ini terjadi, yaitu politisasi jabatan
karir dengan menempatkan seseorang hanya
berdasarkan koncoisme, atau menempatkan seseorang
pada posisi yang tidak pada tempatnya maka yang akan
terjadi adalah kehancuran. Kemudian dengan sendirinya
itu akan mempengaruhi koordinasi di tempat tersebut.

Dalam Islam juga diajarkan begitu, jelas sekali. Hadis
Rasulullah SAW jelas mengatakan bahwa kita harus
menempatkan seseorang yang mampu dan tepat pada
posisinya yang tepat. Jadi jangan sampai kejadian di
masa-masa lalu itu terulang kembali. (mag)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 03:27:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke