----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 19 Januari 2000

Menyingkap Tabir Tewasnya Seorang Gadis Kosovo

Para penjaga perdamaian asal AS dikenal luas di kalangan warga
Kosovo sebagai pahlawan karena peran Washington dalam aksi pemboman
untuk menekan Presiden Slobodan Milosevic. Hingga Ahad lalu,
sekelompok anak-anak Kosovo tampak berkumpul di sekitar kendaraan
militer AS. Mereka tertawa, bercakap-cakap dan bercanda-ria dengan
para tentara AS.

Namun kemesraan ini tercoreng oleh sebuah tragedi tewasnya seorang
bocah Kosovo berusia sebelas tahun. Jenazah bocah perempuan
keturunan Albania tersebut ditemukan Kamis malam lalu di dekat kota
Vitina, 45 mil sebelah tenggara ibukota Kosovo, Pristina. Gadis
tanggung ini ditemukan dengan wajah memar sementara luka bekas
sebetan benda tajam terlihat di dahinya.

Di Vitina, ayah korban, Hamdi Shabiu, menunjukkan foto jenazah anak
gadisnya kepada para reporter. Dengan menanggung rasa duka, Shabiu
menuturkan bahwa ia terakhir kali melihat putrinya pada Kamis pagi
lalu ketika pamint hendak ke pasar. Namun ia tak menyangka, sang
putrinya ternyata tak pernah kembali.

Para tetangga di komplek apartemen yang terletak di seberang jalan
memberi tahu Shabiu bahwa putrinya dibunuh di lantai basement
bangunan mereka. Jaraknya hanya sekitar 18 meter dari rumahnya.

Tak dijelaskan bagaimana Sersan Frank Ronghi yang menjadi tersangka
pembunuhan tersebut. Pria berusia 35 tahun ini tengah bertugas
sebagai anggota pasuan penjaga perdamaian di Kosovo, KFOR setelah
NATO melancarkan serangan militernya di Yugoslavia. Ia kemudian
dipindahkan ke fasilitas tahanan militer di Mannheim, Jerman, pada
Ahad lalu.

"Tidak, bukan dia!" seru lou Ronghi, ketika diwawancara CNN mengenai
keterlibatan saudaranya, Sersan Frank J Rongi, dalam pembunuhan
bocah perempuan Kosovo berusia 11 tahun. "Ia pernah bertugas di Irak
dengan penghargaan," tambahnya.

Menurut Lou, membunuh seorang bocah cilik bukanlah karakter
saudaranya. Dan Frank, katanya, tidak pernah dituduh dalam kasus
serupa itu.

"Tak pernah hal serupa ini pernah terjadi dalam keuangan kami,"
tegas Lou. "Kami tidak bisa percaya. Tidak sama sekali," sambungnya
sambil menyebutkan bahwa keluarganya tidak pernah berhubungan dengan
tersangka dalam beberapa terakhir lalu.

Menurut pihak militer AS sendiri, tak ada bukti perkosaan atau
penganiayaan seksual hingga sejauh ini. Namun tuntutan mengenai
pekosaan memang didefinisikan lebih sempit dalam hukum militer AS
ketimbang dalam sistem sipil. Ini berarti, suatu aksi bisa dijerat
dalam sistem hukum sipil namun dapat lolos dalam sistem hukum
militer.

Insiden ini takurung mengancam hubungan mesra yang telah terjalin
antara tentara Amerika dalam KFOR dan warga sipil Kosovo. Untuk
pertama kalinya pula seorang tentara KFOR dituduh dalam kasus
seserius ini.

"Kami tak ingin mereka memberika kami keamnan jika mereka akan
melakukan ini," ujar Muharram Samakova, salah seorang tetangga
keluarga korban.

Namun NATO sendiri tampaknya tetap yakin bahwa insiden ini tak bakal
merusak hubungan baik antara Amerika dan etnis Albania. "Tidak ada
masalah dalam kebijakan NATO atau AS di Kosovo saat ini, jadi saya
yakin bahwa dalam hubungan kami dengan Kosovo Albania, kami mampu
mengatasi masalah ini dan terus melangkah," ujar juru bisara NATO,
Jamie Shea.

Sementara itu Militer AS sendiri akan menunjuk seorang penyelidik
untuk memimpin pemeriksaan para pengadilan. Frank bisa saja diadili
di hadapan hakim militer, jika Frank Ronghi diadili di pengadilan
akan berlangsung di Jerman atau AS, bukan di Kosovo.

Secara teknis, Kode Etik Pengadilan Militer memungkinkan hukuman
mati jika tersangka terbukti melakukan tindakan dalam kasus ini.
Namun pada prakteknya hukuman ini akan menjadi hukuman seumur hidup.

"Sungguh menyakitkan," kata paman Frank, yang juga bernama Frank
Ronghi. Di matanya, keponakannya sama seperti orang biasa lainnya
yang juga suka menyanyi. (cnn/yyn)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 10:24:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke