----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 22 Januari 2000

Bukan Kami

BELAKANGAN, tokoh-tokoh penting dalam perkembangan demokrasi
mengkhawatirkan munculnya gejala mob politic. Cak Nur, panggilan
akbar Nurcholish Madjid, satu ketika menyatakan bahwa sekarang
gejala itu tengah muncul. Menurut Cak Nur, kecenderungan
ditandai dengan munculnya sikap mengedepankan otot untuk
menanggapi perbedaan.

Diam-diam atau terang-terangan, analisis ini juga dikembangkan
oleh pemerhati politik lainnya. Sulit dipungkiri, bahwa
pemikiran ini diilhami oleh peristiwa politik yang belum lama
muncul. Yakni ketika sejumlah massa PDI Perjuangan mendemo Ketua
MPR Amien Rais yang mereka nilai suka menyampaikan pernyataan
provokatif. Dalam demo ini, demikian dicatat sejumlah media,
keluar ungkapan-ungkapan tidak sopan terhadap Amien.

Entah karena Amien layak didemo, atau memang demo itu
keterlaluan maka munculah sejumlah tanggapan. Termasuk yang
dibungkus dengan analisis tengah munculnya budaya politik
tawuran.

Sejumlah politisi PDI Perjuangan sendiri, ketika ditanya soal
ini berusaha memberikan analisis yang kurang lebih sama. Sophan
Sophiaan, misalnya.Tokoh muda PDI Perjuangan ini menyatakan
memang sudah melihat ada kelompok-kelompok yang menonjolkan
diri. Menurutnya, mereka harus dihindarkan dari sikap anarkis
dan mengedepankan kekuatan fisik.

"Sebenarnya, cara untuk itu sederhana saja. Mari kita semua
lebih berpikir ke arah masa depan bangsa secara menyeluruh.
Memandang semua komponen sebagai saudara dan bagian dari
bangsa," katanya.

Sophan menambahkan, fenomena ini muncul karena dalam diri rakyat
kita belum hadir kesadaran bersama untuk melihat persoalan yang
ada sebagai persoalan bersama. Terlalu banyak orang dan kelompok
yang berfikir hanya untuk dirinya sendiri. Hingga kemudian,
fokus kegiatannya mereka juga hanya untuk kepentingan
kelompoknya masing-masing.

"Ini tugas berat para elit politiknya, para pemimpinnya.
Pertanyaannya, dari mana budaya politik tawuran ini berawal?
Menurut saya,sejauh yang bisa saya baca, ada kelompok-kelompok
tertentu yang memulainya, lalu menimbulkan reaksi. Jadi yang
muncul berikutnya sekadar respons saja," katanya. Tapi ia
menolak menyebutkan kelompok mana yang dimaksud. Hanya berkali-
kali ditegaskan, bahwa gejala ini harus segera dicegah bersama.
Sebab dari kecenderungan inilah berawal kerusuhan-kerusuhan yang
terus berlangsung dan sulit dicegah. Sophan juga menolak tuduhan
bahwa yang dimaksud adalah massa PDI Perjuangan, di mana ia
turut aktif.

"Ah tapi saya lihat tidak demikian. Selama ini partai kami tidak
mengadakan aksi apa-apa. Paling-paling kami sekadar melakukan
counter saja," tegasnya.

Akhirnya, soal siapa yang "tertuduh" dalam hal ini mungkin
tidaklah terlalu penting. Sebab jika itu yang dianggap penting,
sama saja kita menjadi bagian yang tengah mendorong terjadi
konflik dan berkembangnya mob politic.

Hanya saja, karena masalah ini berulangkali disinyalir tengah
berkembang sebaiknya semua pihak siaga mencegah berkembangnya
sikap ini. Sebab bangsa yang beradab hanya bisa dibangun dengan
otak dan hati nurani. Bukan otot dan kekebalan fisik.
Wallahua'lam.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Jan 2000 jam 04:02:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke