----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 27 Januari 2000

Mengganyang PKI lewat Tritura
Suplemen - Realitas (1/27/00)

Sejumlah eksponen Angkatan `66 melihat ada keinginan sementara
kalangan untuk menghidupkan kembali komunisme di Indonesia. Itu
yang antara lain terlihat dari upaya mencabut Tap MPRS
No.XXV/1966.

Sikap kritis aktivis Angkatan `66 tak bisa dipisahkan dari
situasi dan kondisi buruk ketika itu, berkait dengan
merajalelanya komunisme. Seperti disebut eksponen Angkatan `66
HR. Soemarno Dipodisastro, awalnya gerakan mahasiswa tahun 1966
itu untuk membubarkan PKI (Partai Komunis Indonesia). Soalnya,
PKI telah membuat rakyat menderita, dan sengsara sepanjang masa.

"Sayangnya, Bung Karno menolak membubarkan PKI, tanpa alasan
jelas. Karena itu, tekanan massa makin kuat, sampai akhirnya
Bung Karno tumbang dari kursi kekuasaannya," kata anggota
barisan KAPP (Kesatuan Aksi Pengganyangan Pemberontakan)
Gestapu/PKI, Februari 1966, ini.

Secara umum bisa dibilang, munculnya demonstrasi mahasiswa di
tahun 1966, membawa misi seperti yang kemudian dikenal sebagai
Tritura (tiga tuntutan rakyat). Semua, merupakan kulminasi
ketidaksabaran rakyat Indonesia terhadap buruknya kondisi
perekonomian. Selain karena tidak adanya penyelesaian politik
akibat pemberontakan PKI dengan G-30-S/PKI. Di luar itu, karena
dalam kabinet masih saja ada tokoh PKI, beserta pendukung dan
simpatisannya.

Dalam pandangan Soemarno, jika diamati secara cermat, esensi
Tritura itu ada dua: antikomunisme, dan antikemiskinan. Itulah
yang terangkum dalam demonstrasi mahasiswa yang mengusung
Tritura. Pertama, menuntut agar PKI dibubarkan. Kedua, meminta
Bung Karno mengganti menteri-menteri komunis dalam kabinetnya.
Lalu, karena inflasi melambung, dan harga barang-barang
kebutuhan pokok sangat tinggi, maka demonstrasi juga menuntut
harga-harga diturunkan.

Karena itulah, H. Darmansyah Sabaruddin, eksponen Angkatan `66
lainnya sampai pada kesimpulan, eksistensi Tritura --yang
diperingati setiap 10 Januari (1966)-- tetap relevan
dikedepankan. Dengan begitu, lulusan Fakultas Kedokteran UI
tahun 1967 ini berharap, generasi muda tidak diombang-ambingkan
oleh usaha `pelusuran sejarah` seperti dikembangkan sementara
pihak akhir-akhir ini.

Darmansyah menunjuk `tuntutan pembubaran PKI` yang
dilatarbelakangi kenyataan sejarah tentang betapa kenyalnya
semangat hidup komunisme. Menurut Laksamana Muda (TNI-AL) ini,
PKI boleh saja hancur karena pengganyangan di tahun 1966/1967
oleh mahasiswa, militer dengan dukungan rakyat, tapi secara
ideologis komunis tak pernah mati.

Setumpuk fakta bisa jadi pegangan. Di antaranya kegagalan
pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun. Pemberontakan yang
memproklamasikan `Soviet Republik Indonesia` itu berhasil
ditumpas ABRI bersama rakyat. Bahkan sejumlah tokoh pentingnya,
seperti Amir Syarifuddin, Musso, dan Maruto Darusman dihukum
mati di Solo. Lainnya, Aidit, Lukman, Nyoto melarikan diri ke
Vietnam dan Cina.

Kenyataannya, hanya dalam waktu kurang dari 7 tahun, dalam
Pemilu 1955, PKI berhasil duduk di urutan ke-4 dan meraih 6,2
juta suara, di bawah PNI, Masyumi, dan Partai NU. Malah, 1 Mei
1965 yang diperingati sebagai Hari Buruh, bos PKI DN. Aidit
menyatakan kader partainya mencapai 20 juta orang.

"Sisa-sisa PKI itu tiarap, merayap, lalu kini bisa saja bangkit
untuk melakukan agitasi propaganda," kata Darmansyah, bekas Biro
Sekuriti Laskar Ampera Arief Rachman Hakim.

Tap MPRS N0.XXV/MPRS/1966

Maka, wajar saja kalau Darmansyah Sabaruddin dan Soemarno
Dipodisastro sampai terkaget-kaget ketika ramainya keinginan
meninjau kembali Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966. Ketetapan Majelis
yang dikeluarkan 5 Juli 1966 ini, memuat tentang pembubaran PKI,
selain menyatakan PKI, dengan seluruh onderbouw-nya, sebagai
organisasi terlarang di Indonesia. Ini disertai larangan setiap
kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran
Komunisme/Marxisme-Leninisme.

Keinginan mencabut Tap MPRS itu, bergulir dalam pertemuan `120
orang Indonesia dengan Menteri Hukum dan Perundang-undangan
Prof. Yusril Ihza Mahendra. Dalam acara yang digelar di Kedubes
RI di Belanda, 17 Januari 2000 itu, Ibrahim Isa, salah seorang
peserta meminta Menteri Yusril mencabut ketetapan tersebut. Ia
berargumen, Tap MPRS itu lahir di era Orde Baru, dan secara
faktual, tidak sesuai demokrasi.

"Sebagai bangsa, kita seharusnya tetap waspada terhadap usul
seperti itu," kata Darmansyah Sabaruddin.

Reaksi keras juga ditunjukkan Partai Golkar, seperti disuarakan
Agung Laksono. Menurut salah satu ketua `Partai Beringin` ini,
partainya tetap menolak keberadaan paham komunis di Indonesia,
apalagi jika itu bakal menjadikan PKI berkembang dan diterima
kembali.

Agung Laksono bilang, munculnya pemikiran untuk mencabut Tap
MPRS No. XXV/MPRS/1966 tersebut tidak relevan dan perlu
diwaspadai. Apalagi karena menurut mantan Menpora ini, pemikiran
seperti itu muncul di saat negara kita sedang rawan, termasuk
karena ancaman disintegrasi.

"Pengalaman mengajarkan, jika paham komunis dibolehkan, selalu
ada keinginan mengganti ideologi negara. Tap MPRS tersebut tidak
perlu dicabut," kata Agung Laksono yang juga dikenal sebagai
pengusaha.

Kekhawatiran Partai Golkar tersebut, juga didasarkan pada
kondisi perekonomian nasional yang terpuruk, setelah dilanda
krisis berkepanjangan sejak pertengahan tahun 1997. Sesuai tesis
yang ada, disebutkan deraan kemiskinan ditambah maraknya beragam
konflik adalah lahan subur bagi tumbuhnya komunisme.

Komunis berkuasa lagi

Dahsyatnya lagi, karena di negara asalnya, Rusia, komunis yang
beberapa tahun lalu dinyatakan `kolaps`, kini berkuasa kembali.
Dari hasil pemilu di bekas negara adidaya itu, Partai Komunis
ternyata muncul sebagai pemenang. Lalu, partai ini, bersama
partai pemerintah, mendudukkan `Putin` sebagai kepala
pemerintahan. Belum lagi Ketua Duma (Parlemen Rusia) yang juga
berasal dari Partai Komunis.

Menurut Darmansyah dan Soemarno, komunis selalu memiliki cara
untuk kembali `unjuk gigi` lalu `naik panggung` dan `menancapkan
taringnya`. Ketika kembali dari pelariannya di Moskow, gembong
PKI DN. Aidit memunculkan konsep baru yang disebutnya `jalan
demokrasi rakyat bagi Indonesia`. Konsep ini ternyata menegaskan
cara-cara revolusioner di samping parlementer. Ini
dikombinasikan dengan strategi politik PKI yang menjalankan
`Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan` (MKTBP).

Kombinasi tiga bentuk perjuangan PKI itu meliputi, organisasi
legal dan formal, lalu penyusupan/infiltrasi ke dalam instansi
atau lembaga pemerintah, parpol, dan LSM. Lainnya, gerakan di
bawah tanah dengan melakukan agitasi dan propaganda (agitrop).
Caranya, dengan provokasi, pertentangan kelas, SARA, proses
pemiskinan masyarakat sampai proses menghancurkan rohani bangsa.

Seperti diceritakan Darmansyah, di era demokrasi terpimpinnya
Presiden Soekarno, PKI melakukan ofensif manipolis, dilanjutkan
dengan ofensif revolusioner. Waktu itu, segala pendapat yang
berbeda dengan PKI dianggap kontrarevolusi. "Puncak dari sikap
ofensif itu, pemberontakan PKI atau G-30-S/PKI, yang diawali
penculikan dan pembunuhan perwira-perwira TNI," katanya.

(Tim Media)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Jan 2000 jam 09:55:30 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke