---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Mega Oh Mega kenapa mengecewakan PENDUKUNG bahkan sebagian tokoh PDIP kecewa pada Megawati. Selama 100 hari pertama menjadi wapres (Jumat 28 Januari ini), ia nyaris tak membuat gebrakan cukup berarti, kecuali berlibur bersama keluarga ke Hongkong. Benarkah Mega ditinggalkan penasihat politiknya (Eros Djarot dkk) dan tim ahlinya (Kwik dan Laksamana)" SYAFIK mengaku sulit menilai kemampuan Megawati Soekarnoputri. Aktivis Famred, organ mahasiswa yang paling getol mendemo mantan Presiden Habibie, itu mengaku tak mengenal wakil presiden (wapres) secara dekat. Namun Syafik masih ingat pidato politik tertulis Megawati sewaktu menjadi tokoh oposisi utama Habibie. Dari pidato itu, Syafik menilai kualitas Megawati tidak jelek banget. "Pidatonya cukup bagus," ucapnya. Sebetulnya, di balik pidato dramatis itu ada sutradara. Mereka ini tim penasihat politik Ketua Umum DPP PDIP. Menurut sumber Bangkit, penulis pidato adalah seniman dan wartawan tenar, Eros Djarot. Di barisan ini ada Haryanto Taslam, bekas korban penculikan oknum Kopassus. Untuk urusan ekonomi, ada Kwik Kian Gie dan Laksamana Sukardi serta sejumlah tokoh-tokoh gaek di PDIP. Belakangan, sumber di PDIP mengungkapkan, penasihat politik Megawati sudah berubah. Mega kabarnya lebih percaya kepada suaminya, Taufiq Kiemas dan tokoh militer Mayjen (Purn) Theo Syafei. Indikasi keretakan itu dapat dibaca dari kasus Texmaco. Lazim diketahui, skandal ini pertama kali dibongkar Menteri PBUMN, Laksamana Sukardi. Skenarionya disusun sedemikian rupa dan dibongkar sewaktu rapat kerja dengan Komisi IX. Sukowaluyo, Ketua Komisi IX yang kebetulan dari PDIP, dikontak untuk memuluskan skenario. Tapi, konon ia "enggan" setelah dikontak Taufiq. Di intern PDIP yang mengetahui, terbongkarnya kasus Texmaco dianggap tamparan hebat buat Taufiq. Pasalnya, anggota DPR RI itu dikenal sebagai teman dekat Marimutu Sinivasan, bos Texmaco. Kwik termasuk yang berang dengan Texmaco. Kwik menyindir, Texmaco perusahaan banyak duit, sehingga bisa menyuap siapa saja. Eros sendiri kabarnya siap bertarung melawan Mega pada Kongres PDIP Maret nanti di Semarang. "Prestasi" 100 hari pertama wapres Megawati tak urung mengecewakan para pemujanya. Tak terkecuali aktivis PDIP. "Rakyat nanti akan tahu, oh, sampai di situlah kemampuan Ibu," tutur seorang pengurus DPP PDIP. Ia keberatan disebut namanya. Kekecewaan terhadap Megawati bukan cuma soal prestasinya. Pembagian jabatan di kalangan tokoh partai pemenang pemilu pun dirasa mengecewakan. Ini tampak sejak penyusunan kabinet. Prof Dimyati Hartono, Ketua DPP, pernah terang-terangan menyatakan perasaannya ketika Megawati merekomendasikan Prakosa dan Sonny Keraf, masing-masing sebagai Menteri Pertanian dan Menteri Lingkungan Hidup. Kedua tokoh itu dianggap Dimyati bukan "kader" PDIP. Masalahnya kian menumpuk, karena tokoh-tokoh yang selama ini merasa berjuang mati-matian bersama PDIP tak kebagian jabatan. Diantara yang dikecewakan Megawati, menurut sumber Bangkit, adalah Sabam Sirait. Tokoh senior ini dianggap pantas menduduki kursi Kwik sebagai Wakil Ketua MPR. Tapi, konon, tak mendapat restu Megawati. Kendati begitu, Sabam yang dikonfirmasi mengaku tidak kecewa. Di luar kemelut intern itu, Megawati menghadapi tugas kenegaraan yang berat. Salah satunya, menyelesaian pertikaian berdarah di Maluku dan tuntutan kemerdekaan di Papua. Papua sepertinya mau antri menuntut. Sehingga Megawati cukup punya waktu mengurai benang kusut Maluku. Toh, itu tak membuat Megawati bisa bernapas lega. Pasalnya, kekecewaan sebagian umat Islam atas kinerjanya sulit dibungkus. Saban hari, umat Islam di Jakarta mendemo kasus Maluku. Sebagian bahkan nekat menembus Istana Wakil Presiden. Umat Islam, bahkan umat Kristiani, sebetulnya pantas kecewa. Tiga bulan menjadi wapres dan diberi tugas menghentikan "perang" di Maluku, Megawati seperti tak bisa berbuat banyak. Kecuali membentuk tim ini dan tim itu. Rapornya kian merah setelah Presiden Gus Dur terkesan mengambilalih tugasnya. Misalnya, ketika Gus Dur terpaksa harus ikut repot ke Maluku dan Papua. "Kesannya, Megawati tidak bekerja," ujar mantan Kassospol ABRI, Letjen (Purn) Bambang Triantoro. Nilai terburuk Mega dicetak menjelang pergantian tahun. Ia "sembari melobi para pengusaha Hongkong" bersama suami dan anak-anaknya berlibur ke Hongkong. Padahal, ketika itu, pertikaian di Maluku sedang memanas. KINERJA Megawati tadi menjadi senjata pamungkas lawan-lawan politiknya. Kemampuan pribadi putri Bung Karno itu pun turut diragukan. "Ya, kelihatannya begitu. Indikasinya, kemampuannya selama ini. Seperti diberi tugas Ambon, Intim, semuanya nggak satupun yang bisa diselesaikan," tandas anggota DPR dari PBB, Hartono Mardjono. Politisi senior ini menilai, tugas presiden yang diembankan ke Mega "sama sekali nggak jalan". Namun begitu, menyalahkan Mega sendiri rasanya kurang fair. Sebab, kata Prof Dr Azyumardi Azra, masalah Ambon harus diselesaikan seluruh komponen bangsa. "Boleh saja Megawati ditugaskan oleh presiden, tapi saya kira Megawati harus kita dukung untuk menyelesaikan itu," kata Rektor IAIN Syarif Hidayatullah ini. Sebagai wakil presiden, Megawati tidak leluasa bergerak. Faktor ini dianggap Bambang Triantoro sebagai kendala mengembangkan kepemimpinannya. "Menteri lebih leluasa daripada wakil presiden," ujarnya. Megawati sebagai "leher" amat tergantung pada "kepala", Presiden Gus Dur. Lagi pula, fair-nya, penyelesaian konflik di Maluku tak semudah membalik telapak tangan. "Perang" telah berumur setahun. Sementara, Megawati baru sekitar 100 hari menanganinya. Jadi, "Jangan cepat mencak-mencak," tambah Bambang. Citra Mega yang kurang mesra dengan kelompok Islam menjadi batu sandungan tersendiri. Bagi PDIP, kasus Maluku bukan tanggungjawab wakil presiden. "Wapres hanya membantu apa yang diminta presiden," komentar Suparlan SH, Ketua DPP PDIP. Tak lupa, Suparlan membantah rumor tentang adanya kalangan PDIP yang kecewa pada Megawati. Rekan Suparlan, Aberson Marle Sihaloho, mendudukan persoalannya dengan menyitir UUD 45. Pasal 2 ayat 4, katanya, menyebutkan presiden dibantu wapres. Wapres tak lazim mengambil kebijakan sendiri. Konsekuensinya, andaipun presiden jatuh, wapres tidak. "Karena wakil presiden dibentuk sebagai presiden cadangan. Itu sistemnya," tandas Aberson. Demo ke Istana Wapres, katanya, salah sasaran. Mestinya yang didatangi pengunjukrasa adalah Istana Presiden. Terlepas dari debat tadi, Megawati harus memperbaiki citra dirinya. Ini kalau ia masih ngebet meraih tiket ke kursi presiden pada pemilihan 2004. Untuk itu, faktor terpenting terkadang bukan apa yang sudah dilakukan. Tapi, bagaimana persepsi publik terhadap apa yang dilakukannya. "Ini bukan soal fakta bahwa dia sudah atau belum melakukan. Tapi soal persepsi umum bahwa dia belum cukup melakukan. Sebab politik kan sebenarnya soal persepsi saja dan kredibilitas dari persepsi," ujar Dr Kusnanto Anggoro, peneliti dari CSIS. Celakanya, persepsi sebagian publik melihat, Mega belum melakukan apa-apa. Mega, oh Mega. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Feb 2000 jam 08:46:11 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
