---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 04/III/6-12 Pebruari 2000 ------------------------------ MUSUH BARU KAPITALISME (EKONOMI): LSM dihujat karena mengancam kapitalisme. Mengapa mereka lebih berperan ketimbang Bank Dunia? Percayalah, LSM (lembaga swadaya masyarakat) kini sedang ditakuti. Demo besar-besaran LSM bersamaan dengan penyelenggaraan konferensi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Seattle pada penghujung tahun 1999 serta "unjuk kekuatan" mereka di Davos, Swiss dalam World Economic Forum belum lama berselang, telah membuat para pembuat kebijakan ekonomi ketar-ketir. Presiden AS, Bill Clinton dalam pidatonya di Davos jadi ekstra hati-hati -bahkan menyatakan setuju dengan apa yang dicita-citakan oleh para demonstran. Tak cuma Clinton, para tokoh pemerintahan dan bisnis dunia yang hadir pun tak berani tampil dengan berbagai pernyataan kontroversial. Sehingga, pertemuan itu tak ubahnya sebuah pameran besar. Tak ada solusi, bahkan tak ada persoalan dibicarakan. Benarlah apa yang dikemukakan Craig Johnstone, senior vice president Kamar Dagang AS, tak lama setelah kerusuhan Seattle, "Sekarang, yang lebih menentukan (kebijakan perdagangan internasional) adalah suara yang terdengar di jalan." Sebelumnya, "kebijakan perdagangan AS hanya ditentukan oleh para elit di Washington." Tak pelak lagi, shocktherapy yang digelar para demonstran di Seattle telah mempengaruhi kepekaan para birokrat dan perwakilan negara-negara yang hadir di Davos. Angin yang berhembus dari Seattle dan Davos ternyata juga menerpa Jakarta. Ribuan massa LSM, termasuk masyarakat binaannya, yang tergabung dalam Koalisi Anti Utang, awal bulan ini (2/2), menggelar demo di sela-sela penyelenggaraan Sidang ke-9 Consultative Group on Indonesia (CGI). Baru untuk pertama kali inilah, sebuah demonstrasi LSM di Jakarta dihadiri ribuan massa. Makin terorganisirnya gerakan-gerakan LSM belakangan ini, bagi sebagian orang merupakan berita memggembirakan. Sebab, inilah salah satu bukti kemajuan usaha pemberdayaan masyarakat. Namun, bagi pihak tertentu, khususnya kaum kapitalis besar yang merupakan motor perdagangan dunia, ini adalah ancaman besar bagi kepentingan mereka. Karena itulah, di berbagai media massa internasional, banyak bermunculan tulisan yang bernada mengecam ulah para aktifis LSM. Tulisan-tulisan tersebut berupa opini pengamat, kolom komentar kalangan masyarakat bisnis, sampai pada artikel yang ditulis pihak redaksi media massa. Mingguan The Economist, dalam edisi akhir Januari lalu menurunkan artikel lumayan panjang dengan judul agak sinis, "Sins of Secular Missionaries" (dosa para misionaris sekuler). Artikel itu sendiri, juga menampilkan sisi-sisi baik dari kegiatan-kegiatan LSM di berbagai belahan dunia. Namun, ketika membahas sisi-sisi "buruk" LSM, majalah terkemuka ini memberi rekomendasi cukup keras: "bubarkan, bila programnya sudah rampung." Memang, dengan membiarkan LSM bekerja dengan banyak program, peluangnya menggalang kekuatan makin membesar. "Ini sebuah peringatan," ujar seorang aktifis LSM mengomentari The Economist. Menurutnya, aktifis LSM tak boleh besar kepala. Sebab, perhatian para kapitalis sedang tertuju pada mereka. Sedikit saja berbuat kesalahan, akan besar sekali dampak yang timbul. Apalagi, dalam kenyataannya, banyak LSM yang "kropos" dan prilakunya jauh beda dengan misi yang diembannya (dalam hal ini, apa yang dipaparkan oleh The Economist juga memiliki dasar kuat). Bagaimanapun LSM bukan laskar malaikat. Boleh dibilang, nyaris seluruh LSM di Indonesia, hidupnya tergantung dari lembaga-lembaga donor, khususnya dari Amerika Serikat dan Eropa. Ketergantungan ini sesungguhnya rentan. Sebab, meskipun para donor selalu mengatakan bahwa mereka takkan campur tangan terlalu jauh, tetap saja LSM ada dalam posisi inferior. Hal lain adalah besarnya peluang LSM untuk melakukan peyimpangan keuangan. Sudah bukan rahasia kalau kebanyakan LSM di Indonesia, karena struktur organisasinya yang loose, punya hobi me-mark up biaya program yang dijalankannya -biasanya dengan alasan untuk membiayai sejumlah pengeluaran tak terduga. Bahkan, dalam Pemilu 1999 lalu, beberapa organisasi pemantau pemilu dadakan, lebih sibuk "merapikan" laporan keuangan ketimbang menjalankan program. Tak usah heran pula jika ada LSM yang hobinya meraih liputan televisi untuk menyenang-nyenangkan donornya. Kendati punya banyak dosa -dan potensi dosa- bukan berarti LSM tak punya jasa. Justru banyak hal sudah mereka lakukan. Pada 1995, berdasarkan data OECD, berbagai organisasi non-profit (termasuk LSM) menyediakan 12% lapangan kerja di Belanda, 8% di AS dan 6% di Inggris. Yang terpenting, LSM lebih cepat dalam melakukan aktifitas yang sifatnya crash program, terutama dalam proyek untuk mengatasi krisis maupun musibah kemanusiaan. Tahun lalu, program distribusi makanan di Albania yang diprakarsai World Food Programme dari PBB, sebetulnya, secara teknis pelaksanaannya dilakukan LSM yang bekerja di kamp-kamp pengungsian. Efisiensi dan kecepatan kerjanya -dibandingkan institusi formal pemerintahan- telah membuat Uni Eropa meningkatkan penyaluran dana kemanusiaan melalui LSM dari 47% jadi 67% antara 1990 hingga 1994. Berdasarkan hitungan Palang Merah Internasional, LSM lebih banyak menyebarkan dana ketimbang Bank Dunia. Melihat pentingnya peran yang dijalankannya, hampir dapat pasti gerakan para aktifis LSM akan terus menguat. Sedangkan di Indonesia para aktifis LSM -bersama-sama pemerintah dan wakil rakyat- harus mau memikirkan format LSM yang independen dan "bersih", sehingga tak memungkinkan didikte asing serta tidak menjadi korup. Nah, mari berbenah. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Feb 2000 jam 08:40:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
