----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Senin, 14 Februari 2000

Kalau Ingin Maju, Rombak Fungsionaris DPP PDIP

Salatiga, Kompas
Anggota DPR RI yang juga fungsionaris DPP PDI Perjuangan (PDIP), Prof Dr
Mochtar Buchori, menyatakan, fungsionaris DPP PDIP yang ada sekarang ini
harus dirombak besar-besaran dan diganti dengan tokoh yang baru. Jika tidak,
PDIP akan mengalami kemunduran.

"Melihat kinerja DPP PDIP saat ini, saya merasa perlu ada peremajaan,
penyegaran, dan kekuatan baru. Namun, ini hanya mungkin dilakukan kalau saat
kongres nanti masuk tokoh yang baru dalam jajaran fungsionaris DPP PDIP,"
jelasnya ketika tampil berbicara pada Diskusi Panel: "Mendukung Pemerintahan
Gus Dur-Megawati Secara Kritis Konstruktif", Sabtu (12/2), di Salatiga
(Jateng).

Menurut Mochtar Buchori, perombakan fungsionaris dalam partai berlambang
banteng ini tidak bisa ditunda lagi. Dia menyoroti kinerja pengurus DPP saat
ini, yang tidak mampu menjalankan fungsi public relation. Karena itu, ia
mengharapkan, pada kongres mendatang, PDIP harus memilih orang baru yang
mengerti tentang pengarsipan dan surat-menyurat.

"Saat ini arsipnya amburadul. Tidak seharusnya partai yang besar seperti
PDIP administrasinya seperti itu. Kalau tidak diperbaiki, organisasi akan
makin kacau. Ini sangat memalukan," tandas Mochtar Buchori.

Dia mencontohkan, sejumlah kasus kesalahpahaman yang terjadi di kalangan
internal PDIP sampai ke tingkat daerah, akibat surat-menyurat bahkan
rekomendasi yang tumpang tindih yang dikeluarkan DPP PDIP.

Selain itu, pada kongres tersebut AD/ART PDIP yang selama ini masih mengacu
pada Partai Demokrasi Indonesia (PDI) harus direvisi, terutama mengenai
pengakuan Dwi Fungsi ABRI. "Sekarang ini 'kan zamannya sudah berubah.
Militer harus menyesuaikan diri dengan lingkungan demokrasi. Karena itu,
peranan militer dalam kehidupan politik harus ditinjau kembali," katanya.

Senada dengan Mochtar, Eros Djarot menilai selain lemahnya pengelolaan
organisasi dan administrasi partai. Saat ini PDIP memiliki kelemahan lain
seperti kurang jelasnya keinginan politik di kalangan kader PDIP, kurangnya
terbina komunikasi politik di lembaga internal partai dan lembaga di luar
partai serta masalah sumber daya manusia.

Konflik intern

Sementara itu, dalam sarasehan politik di Semarang, Sabtu, Ketua PDIP Prof
Dr Dimyati Hartono mengemukakan, sebagai partai politik pemenang Pemilu 1999
lalu, PDI Perjuangan saat ini dihadapkan begitu banyak terjadi konflik
intern mulai dari persoalan ekses pemilihan bupati sampai pengingkaran surat
rekomendasi yang dikeluarkan ketua umum DPP.

"Kalau konflik intern itu terus dibiarkan maka tidak ada lain kecuali PDI
Perjuangan tinggal menunggu lonceng kematiannya saja. Untuk itu, watak PDI
Perjuangan yang biasanya siap berjuang harus diubah menjadi simpatik agar
tetap dicintai masyarakat," kata Dimyati.

Secara terpisah, pengamat politik Dr Hermawan Sulistyo mengemukakan,
tantangan PDI Perjuangan ke masa depan haruslah dapat menciptakan kultur
politik yang lebih matang dibanding era sebelumnya. Kehidupan politik perlu
membedakan secara tegas pembagian kekuasaan legislatif dengan eksekutif.

Disebutkan, tokoh-tokoh partai politik sedini mungkin untuk menyadari bahwa
mereka jangan berpikir untuk beralih menjadi birokrat ketika partai
politiknya menang dalam pemilu. (ano)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Feb 2000 jam 09:46:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke