----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

NEGARA KESATUAN ATAU FEDERASI ?

Suasana "kebebasan" dalam rangka menegakkan demokrasi di Indonesia sekarang ini 
diwarnai pula dengan munculnya bermacam-macam
tuntutan. Di antaranya dilansirkan suatu gagasan pembentukan negara Federasi di 
Indonesia. Perdebatan mengenai hal ini di
koran-koran, TV dll sering mempertentangkan sistim negara Kesatuan yang dituduh 
otoriter, serba dikontrol, sedang sistim Federasi
seakan-akan yang baru dapat menyelesaikan masalah.
Sesungguhnya usaha pembentukan negara federasi bukanlah baru bagi Indonesia. 
Pemerintah kolonial Belanda yang disokong Inggris dan
Amerika Serikat pernah memaksakan pada wakil-wakil Indonesia dalam perjanjian KMB 1949 
membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).
Tapi politik devide et impera - pecah belah dan kuasai - yang selalu dimainkan Belanda 
membuat RIS tak populer. Puluhan ribu rakyat
Indonesia gugur jadi korban keganasan pasukan Westerling. Pejuang-pejuang kemerdekaan 
menolak dipertahankannya RIS, sehingga negara"
boneka" itu berusia "seumur jagung". Bahkan tokoh-tokoh yang masih menyuarakan negara 
Federasi ketika itu bisa dituduh rakyat
sebagai agen NICA.
Setelah di Indonesia tahun 1955 diadakan pemilihan umum yang demokratis, dimana keluar 
4 partai besar yaitu PNI, Masyumi, NU dan
PKI, maka terbukalah kemungkinan bagi rakyat luas untuk ikut serta mengatur dan 
mengontrol kehidupan bernegara dan berbangsa. Takut
akan meningkatnya peranan rakyat, dengan kedok melawan bahaya komunis, tokoh-tokoh 
politik yang ingin berkuasa sendiri dengan
disokong perwira-perwira Angkatan Darat yang korup, mulai melancarkan kampanye 
mempertentangkan daerah dengan pusat. Tahun 1956-1957
di Sumatera Utara muncul apa yang disebut Dewan gajah, Sumatera Tengah - Dewan 
Banteng, Sumatera Selatan - Dewan Garuda dan Sulawesi
Utara - Permesta. Puncak dari gerakan separatis itu adalah diproklamasikannya PRRI. 
Semula PRRI yang semboyannya akan memajukan
daerah, tapi pertama-tama melancarkan tindakan membunuh ratusan kader-kader daerah 
yang dicurigai kiri dan pro Sukarno. Lagi-lagi
golongan separatis terbuka kedoknya. Berkat kebulatan tekad rakyat Indonesia 
mempertahankan RI maka PRRI cepat dapat ditumpas.
Bukan rahasia, selama 32 tahun kekuasaan "Orba" telah berkembang benih ketidak puasan 
daerah terhadap pusat. Kekuasaan yang
sepenuhnya digenggam di tangan Presiden mengakibatkan keputusahn politik lebih banyak 
didominasi oleh diktator Suharto dan
pembantu-pembantunya. Hasil-hasil daerah dikuras dan diboyong kepusat. 
Perusahaan-perusahaan milik pejabat-pejabat KKN yang berpusat
di Jawa dan bersifat monopoli telah melumpuhkan perusahaan-perusahaan yang ada di 
daerah-daerah. Dengan politik "massa mengambang"
rakyat daerah dikekang kebebasannya dalam bersuara, berserikat dan bergerak, sehingga 
putra-putra daerah sukar untuk tampil menjadi
kader-kader bangsa di pusat. Penguasa militer yang umumnya terdiri dari perwira 
orang-orang Jawa dengan alasan mengawal negara
kesatuan telah bertindak sewenang-wenang dan kejam, sehingga dalam masyarakat mudah 
berkembang isyu "jawa menjajah". Kebobrokan
rezim Suharto itu dituduhkan sebagai kelemahan sistim negara kesatuan. Kroni-kroni 
Suharto maupun oleh tokoh-tokoh politik yang
merasa tak yakin akan menang dalam pemilihan umum yang akan datang memainkannya 
sebagai "bom waktu" untuk menyabot tujuan baik
reformasi.
Pelaku-pelaku tindakan adu-domba, aksi-aksi kekerasan, pembunuhan dan teror yang 
mengakibatkan jatuhnya banyak korban sampai saat
ini seperti di Maluku, Aceh, Jawa dll, bersembunyi. Sedangkan orang-orang yang 
berkoar-koar tentang Federasi bicara terbuka dalam
seminar, pernyataan pers dan pertemuan-pertemuan lainnya. Di antaranya Syarwan Hamid 
yang pernah menjadi panglima dan bertindak
lalim di Aceh dan ketika menduduki jabatan Menteri Dalam Negeri memimpim penyingkiran 
PDI Megawati, sekarang setelah kehilangan
kedudukan. Ia menganjurkan putra-putra daerah Riauw dll untuk merdeka dari RI. Adnan 
Buyung Nasution yang dulu pernah menjadi
anggota perumusan Ketetapan MPRS no.IX/1966 (yang isinya menyulap Super Semar untuk 
menjatuhkan presiden Sukarno dan membawa Suharto
ke tachta), karena ambisi yang tak kunjung tercapai, ikut aktif menyeret RI jalan 
Federasi. Amien Rais, Ketua MPR yang dalam
kata-kata anti Suharto, tapi dalam praktek memusuhi dan takut akan kebesaran PDI-P dan 
ditambah tidak suksesnya "poros tengah" yang
ditukanginya, maka Amien Rais dengan kalap bersifat "makar" terhadap bentuk negara 
kesatuan dengan terjun mengkampanyekan
pembentukan negara Federasi.
Sebagai tandingan dari politik pecah-belah, makin santer tuntutan agar Suharto, 
jendral-jendral yang terlibat pembunuhan massal dan
korup segera diseret kepengadilan supaya "Orba" dinyatakan sebagai bahaya laten bagi 
Indonesia. Begitu juga aparat-aparat sipil dan
militer agar dibersihkan dari penyabot-penyabot reformasi. DPR dengan suara terbanyak 
telah menyetujui pemberian otonomi yang
seluas-luasnya bagi daerah yang tercakup dalam UU no.22/1999. Menurut UU tersebut 
semua urusan daerah diserahkan pada daerah kecuali
pertahanan, luarnegeri, keuangan dan agama. Dalam UU no.22/1999 ditetapkan 75% hasil 
daerah dinikmati oleh daerah. Menurut
koran-koran dalam negeri, untuk mencegah munculnya diktator baru dengan KKN-nya, baik 
di pusat maupun daerah diperlukan secara
sungguh-sungguh tegaknya demokrasi, hak-hak asasi dan hukum.
Dalam sejarah RI munculnya gerakan separatis atau Federasi bukanlah merupakan 
keinginan yang dari massa luas rakyat tapi selalu
dipaksakan oleh sementara tokoh berserta sebagian perwira yang haus kekuasaan. Wajar, 
kalangan luas masyarakat menyambut hangat
tindakan berani dan tegas dari Presiden Abdul Rachman Wahid terhadap jendral Wiranto - 
Menko Polkam. Tanpa adanya penyegaran dan
pembersihan dikalangan elite politik di pusat, tak mungkin perjuangan melawan aksi 
adu-domba, pecah-belah, kekerasan dan teror yang
tengah berjangkit di banyak daerah akan berjalan sukses.

Oleh Arina Arman.
12 Februari 2000

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Feb 2000 jam 09:47:39 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke