----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Dini S. Setyowati:

                          PUTRA FAJAR
                              (6)

        MENUJU MEJA PERUNDINGAN DAN  MEDAN PERTEMPURAN

AKHIRNYA aksi bumi hangus dilancarkan.
Tiap menyerang desa tentara Belanda menjalankan sistem
"sisir". Penduduk dihalau keluar, dan rumah-rumah digeledah
atau langsung dibakar. Orang menamainya aksi "pembersihan".
Tiap orang muda yang, atas dasar laporan mata-mata mereka,
dicurigai sebagai "Pemuda" ditangkap dan dipukuli, terkadang
langsung ditembak dari belakang tanpa peringatan. Di masa
bersiap ketika itu sepatah kata "pemuda", bagi pihak
Republiken berarti "pemuda" atau "pejuang" atau "gerilyawan";
tapi bagi pihak Nica berarti "ekstremis" atau "pengacau
masyarakat".
     Semuanya itu mengakibatkan semangat perlawanan rakyat
terhadap tentara Belanda semakin meningkat. Rakyat yang semula
lebih cenderung percaya pada jalan perundingan atau
penyelesaian secara politik, akhirnya menjadi lebih suka
menempuh jalan perlawanan bersenjata.

     Melewati siaran-siaran kantor berita terdengar kabar,
bahwa tentera Jepang yang telah dilucuti dan ditahan, sekarang
dilepas dari tahanan dan dipersenjatai. Kemudian mereka
diangkut ke Sumatra dan Bali, untuk menghancurkan gerakan
perlawanan kaum gerilyawan kemerdekaan di dua pulau itu. Di
Jawa tentara Inggris dan Belanda berhasil menduduki Bandung,
setelah melalui perlawanan sengit para Pemuda. Api peperangan
berkobar di Bandung, Surabaya, Semarang, Ambarawa, dan di mana-
mana. Dan di mana-mana rakyat bangkit mempersenjatai diri
dengan senjata apa saja serta semangat kesiapan bertempur yang
sangat tinggi.
     Republik muda Indonesia memang sedang diancam bahaya
serangan musuh-musuh kemerdekaan yang berbahaya. Mereka
mempunyai persenjataan yang lebih modern dan lengkap, mereka
anggota tentara reguler yang tersusun dan terorganisasi dengan
baik, mereka mempunyai pengalaman menghadapi peperangan yang
besar. Tapi satu kekurangan dan kelemahan mereka: mereka tidak
tahu, berperang untuk apa dan siapa; dan mereka itu pun baru
saja keluar dari medan Perang Dunia II yang melelahkan.

     SURABAYA!
     Surabaya ibukota Provinsi Jawa Timur, berpenduduk sekitar
300.000 orang, merupakan kota terpadat di Indonesia ketika
itu. Juga suasana kota ini menjadi tegang dan panas seketika.
Di mana saja mendarat tentara pendudukan Inggris dan Belanda,
sebagai wakil Sekutu, di sana segera timbul ketegangan. Ini
tidak sulit dimengerti. Rakyat Indonesia yang merasa dirinya
telah merdeka, tentu saja tidak mengingini lagi adanya tentara
asing di negerinya. Maka pendudukan gedung-gedung di kota
Surabaya oleh tentera Sekutu pun segera menimbulkan bentrokan-
bentrokan bersenjata.

     Pada 23 September 1945 seorang kapten bernama Huyer, dari
Armada Laut Kerajaan Belanda, muncul di pelabuhan Tanjung
Perak Surabaya. Ia mendapat tugas panglima perang Sekutu untuk
memeriksa pelabuhan. Tugas dilaksanakan Kapten Huyer dengan
sangat teliti. Bahkan geladak setiap kapal yang berlabuh tak
luput dari pemeriksaannya. Usai pemeriksaan ia menghilang
selama beberapa hari, kembali ke Jakarta. Tapi tiba-tiba ia
muncul kembali di Surabaya dengan satu tuntutan yang tak
terduga dan tak masuk akal: Seluruh urusan pelabuhan harus
diserahkan kepadanya!
     Sikap congkak Huyer segera dijawab para Pemuda dengan
sikap gagah yang tentu juga tak terduga olehnya. Huyer
ditangkap dan disandera oleh para pemuda (Lihat Lampiran:
Peristiwa Kapten Laut P.J.G. Huyer). Pasukan-pasukan Jepang
yang telah dimobilisasi kembali oleh Sekutu, dan dijadikan
sebagai tameng dalam menghadapi lasykar bersenjata rakyat
Indonesia, diserbu oleh para Pemuda dan dirampas persenjataan
mereka.  Pohon-pohon di sepanjang jalan raya ditebangi,
barikade-barikade dibangun, dan kota Surabaya di ambang
pertempuran dahsyat.
     Apalagi sebelum sikap congkak Huyer yang menantang
kemarahan pemuda itu terjadi, telah terjadi pula satu
peristiwa yang belakangan terkenal dengan sebutan "Insiden
Bendera". Peristiwa ini terjadi pada 19 September 1945, ketika
Belanda mengibarkan kembali Merah-Putih-Biru di atas gedung
hotel "Yamato" di Jalan Tunjungan. Para pemuda segera datang
beramai-ramai mengepung hotel, dan beberapa orang pemuda
memanjat ke atap hotel, si Tiga Warna diturunkan dan disobek
warna birunya, dan berkibarlah Sang Dwi Warna di bawah tepuk
tangan gemuruh rakyat dan para pemuda.
     Pada 25 Oktober satu pasukan Gurkha dari Brigade
Infanteri Ke-49 didaratkan di Surabaya. Pendaratan itu sendiri
berjalan tanpa insiden. Brigadir Jenderal Mallaby, Komandan
Brigade tersebut dan Komandan tentera Serikat di Surabaya,
berunding dengan utusan pihak pemuda. Kesepakatan dicapai,
sandera dibebaskan. Dua hari berikut sesudah itu suasana aman.
Walaupun ketegangan masih tetap terasa menggelantung.
     Pada hari ketiga sesudah kesepakatan tercapai, tiba-tiba
pesawat-pesawat terbang Inggris menderu-deru di langit
Surabaya. Penduduk yang terkejut berlarian keluar rumah,
mencari tempat berlindung untuk menyelamatkan diri dari
kemungkinan hujan peluru dan bom.  Tetapi ketika mereka
menengadah ke langit, bukan peluru dan bom yang berhambur
melainkan selebaran-selebaran kertas bertebaran menutupi
pemandangan. Surat selebaran itu atas nama Brigadir Jendral
Mansergh dari Tentara Sekutu, berisi ultimatum yang terkenal
dalam sejarah Indonesia.
     Itu terjadi pada 31 Oktober 1945. Justru dua hari sesudah
Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Amir datang ke Surabaya, atas
permintaan Inggris yang pasukannya sudah dalam keadaan
terjepit, untuk memberi perintah penghentian pertempuran.
Seketika itu juga pertempuran memang berhenti. Satu batu uji
sekaligus bukti ketaatan rakyat dan pemuda pada Bung Karno.
Bunyi ultimatum itu antara lain: "Kalau pada tanggal 10
November jam 6 pagi pembunuh Mallaby tidak diserahkan, maka
angkatan darat, laut dan udara akan dikerahkan!" Tewasnya
Brigadir Jendral Mallaby dipakai sebagai dalih. Tetapi, siapa
sebenarnya pembunuh Mallaby?  Apakah bukan provokasi yang
mereka rekayasa sendiri, untuk memberi alasan perang kolonial?

     Sudah barang tentu tidak ada satu orang Indonesia pun
yang mau menaati perintah ultimatum itu. Pada waktu itu orang
tahu membedakan antara tentera Nica yang membonceng Sekutu,
dengan kesatuan-kesatuan lain di dalam pasukan Sekutu.
Walaupun ultimatum itu diserukan atasnama Brigadir Jendral
Mansergh, tetapi orang mencium bau kolonial di balik skenario
sandiwara ini. Itulah awal perang kolonial yang direkayasa
Belanda, yang ingin menguasai kembali bekas jajahannya yang
telah menyatakan kemerdekaannya.
     Pemuda Surabaya tidak sabar menunggu sampai jam enam
pagi, ketika pasukan Inggris dan Belanda akan menghujani
mereka dengan bom dan peluru. Lasykar rakyat dan pemuda
mendahului melancarkan serangan.
     10 November 1945.
     Sangkakala perang kemerdekaan telah ditiup. Dari Surabaya
rakyat Indonesia, dengan tekad pantang menyerah, bangkit
bersatu padu melawan kaum agresor ...
                              ***

Lampiran:

             Peristiwa Kapten Laut P.J.G. Huyer(1)

BAHWA kekerasan militer bukan merupakan jalan penyelesaian
konflik antara Indonesia dan Belanda, sebenarnya juga
dirasakan dan menjadi pendirian pihak Sekutu. Ini bisa dilihat
dari ucapan Lord Mountbatten, Panglima Tertinggi Sekutu di
Asia Tenggara (1943-46), yang menghendaki penyelesaian konflik
di meja perundingan antara dua negara sahabat Inggris. Begitu
juga laporan Laksamana Muda Tadashi Maeda kepada Sekutu, pada
26 September 1945, sudah memberi peringatan antara lain:
     "Keadaan gerakan kemerdekaan di Indonesia sebelum Perang
Pasifik tidak bisa disamakan dengan sekarang, baik dari sudut
luasnya, organisasinya, dan kesadarannya. Rasa kebencian
terhadap Belanda selama Perang Dunia telah menimbulkan
perubahan yang sangat mendasar di bidang politik dan sosial di
Indonesia. ... (Maka), menurut pendapat saya, harus dilihat
oleh para penguasa untuk penyelesaian secara damai atas
keadaan yang terjadi sekarang ini".
     Tetapi pemerintah Belanda, yang bersikeras hendak merebut
kembali tanah jajahannya yang telah terlepas, tidak mau
mendengarkan saran-saran akal sehat itu.
     Sejak ditinggalkan diam-diam oleh para pembesar Jepang,
dan di atas gedung Keresidenan Surabaya berkibar megah bendera
Merah Putih, Surabaya merupakan bagian negara Republik
Indonesia yang telah menjadi kenyataan secara de jure dan de
facto. Belanda cemas melihatnya. Ini bisa dimengerti,
mengingat kota ini merupakan kunci pertahanan maritim yang
sangat strategis. Persenjataan Jepang saat itu masih utuh,
sehingga kalau jatuh ke tangan kaum Republiken akan sangat
membahayakan kedudukannya. Karenanya Belanda sangat aktif
berusaha, agar kaum Republiken Surabaya tidak sempat
memperkuat diri, khususnya dari segi kemiliteran.
     Untuk itu Kapten Laut P.J.G Huyer, selaku "utusan"
Laksamana Muda Patterson, dikirim ke Surabaya dan tiba di sini
pada 23 September 1945. Dengan legalitas surat Patterson
bertanggal 22 September 1945, Huyer menghubungi Laksamana
Shibata. Surat secarik itu berbunyi (terjemahan kami):

                   Kepada yang Bersangkutan
     Dengan ini dinyatakan, bahwa saya telah memerintahkan
Kapten P.J.G. Huyer pergi ke Surabaya, untuk memeriksa
bangunan-bangunan pelabuhan dan semua instalasi Angkatan Laut
di Tg. Perak.
                            (Tertanda)
                         Laksamana Muda
                      Panglima Skuadron Penjelajah Kelima
                      Atasnama Panglima Tertinggi Sekutu

     Hari-hari berikutnya Huyer melakukan pemeriksaan
pangkalan laut, dan mempersiapkan pemakaian kembali pangkalan
itu secepatnya, serta pemeliharaan hukum dan ketertiban.
Kemudian ia kembali ke Jakarta, untuk melapor pada Laksda
Patterson di kapal HMS Cumberland.
     Pada 29 September 1945 Huyer kembali lagi ke Surabaya,
dengan membawa surat perintah baru dari Patterson. Surat itu
berbunyi:

                                        H.M.S. Cumberland.
                                Batavia, 28 September 1945.

     Dengan ini dinyatakan, bahwa saya telah memerintahkan
Kapten P.J.G. Huyer pergi ke Surabaya, untuk menyiapkan
pendudukan kembali Surabaya. Ia akan bersama Letkol Roelofson,
Perwira Jurubahasa Hulseve, Residen Maasen, Mayor Laut Dokter
Timmers, dan Letnan Dokter Van der Groot, yang semuanya
termasuk staf saya.
                                (Tertanda)
                              Laksamana Muda
                          Panglima Skuadron Penjelajah Kelima
                            Atasnama Panglima Tertinggi Sekutu

     Tiba di Surabaya keadaan sudah berubah dari beberapa hari
sebelumnya. Orang-orang asing tampak dalam suasana gelisah dan
cemas. Para komandan pasukan Jepang setuju untuk memperkuat
penjagaan kamp tawanan perempuan dengan tiga ratus tentera
Kenpetai. Tapi pasukan itu tak pernah dikirim.
     Bagaimana Kapten Huyer melaksanakan tugas yang
dipercayakan atasannya, bisa diketahui sekedarnya melalui
sebuah laporan dari sumber Jepang. Laporan ini berupa dokumen
tertulis tanpa judul dari S. Tanaka, seorang perwira staf
brigade Jepang di Jawa Timur. Halaman 37-38 naskah laporan ini
berbunyi sebagai berikut:

     Hari ini ada permintaan dari Kolonel Huyer untuk menemui
Komandan Brigade di markas brigade. Bersama semua anggota staf
kami menunggu, termasuk juga Tuan Mayjen Masaomi Yasuoka,
Residen Surabaya, yang baru saja datang dari Jakarta.
     Begitu Kol. Huyer tiba, ia langsung minta minum anggur.
Tentu untuk menenangkan hati atau membangun keberanian. Lalu,
ketika ia mulai membuka pembicaraan, terdengar kata-katanya:
     "Sekarang tentara Jepang di Surabaya sudah kehilangan
kekuatan perangnya sama sekali."
     "O, tidak!" Jawab Mayor Jendral Iwabe. "Tidak benar.
Korps Okabe dan kami masih tetap utuh."
      "Setelah saya di Surabaya ada lebih tiga ribu orang
Jepang, termasuk enam admiral, dipenjarakan oleh Indonesia.
Dan nanti malam orang-orang Indonesia akan serentak menyerang
markas angkatan darat dan angkatan laut Jepang. Tapi rencana
itu dapat digagalkan, dan keamanan dapat dijamin, jika tuan-
tuan resmi bersedia menyerah pada saya. Artinya, semua benda
perbekalan yang di tangan Jepang akan jatuh ke tangan Sekutu.
Dan segala apa yang sudah diambil alih Sekutu, tidak boleh
diambil lagi oleh siapa pun dari pihak mana pun. Tentang ini
sudah ada persetujuan antara saya dengan Tuan Sudirman,
pemimpin tertinggi pihak Indonesia. Karena itu saya minta Tuan
bersedia menyerahkan pedang Tuan kepada saya sebagai tanda
menyerah kalah. Pedang itu perlu untuk saya perlihatkan pada
Tuan Sudirman. Selain itu saya minta supaya tentara Jepang
dilarang keras melakukan penembakan."
     Sekalipun kurang menangkap apa yang dimaksud Huyer.
Mayjen Iwabe menjawab: "Saya mengerti maksud Tuan. Tapi saya
perlu bicara dengan atasan untuk minta petunjuk."
     "Tidak ada waktu lagi!" Sahut Huyer sambil melihat
arlojinya. "Saya tunggu lima menit!"
     Dalam kesempatan sesempit itu Mayjen Iwabe berunding
dengan Yasuoka. Ia menyarankan agar tuntutan Huyer diterima.
Tepat jam 16:30 waktu Tokio Mayjen Iwabe mengangkat pedangnya
ke atas, dan menyerahkannya pada Huyer. Selesailah upacara
penyerahan. Kemudian Mayjen Iwabe pamit untuk pergi menemui
dua laksamana Gubernur Daerah Angkatan Laut. Saya dengar di
sana ia juga mengambil tindakan yang sama, seperti yang
dilakukan oleh Angkatan Darat.
     Tentang apa yang terjadi di Jawa Timur ini segera
dilaporkan dengan telegram ke Markas Tentara di Jawa. Juga
dengan telegram kepada pasukan-pasukan di bawah komandonya
diperintahkan, agar untuk sementara waktu tidak menggunakan
kekuatan senjata; dan diberitahukan, bahwa masalah penyerahan
senjata dan perbekalan ke pihak Indonesia, serta masalah
keamanan yang timbul bersamaan dengan serah terima tersebut,
menjadi tanggung jawab pihak Indonesia.

     Demikian itu laporan dari sumber Jepang. Berikut ini
laporan Letnan Kolonel Roelofson, yang ikut menyertai
penugasan Huyer di Surabaya.

     Tanggal 1 Oktober petang hari Surabaya menjadi sangat
tidak tenang. Sejumlah kendaraan bermotor penuh orang-orang
dari golongan rakyat jelata  penduduk kota Surabaya, masing-
masing membawa berbagai senjata, berkeliling kota sambil
berteriak-teriak: "Merdeka!"
     Di Jalan Raya Darmo saya melihat patroli Jepang
menghentikan sebuah truk. Dengan mudahnya orang-orang
Indonesia penumpang truk itu, disuruh turun. Bamburuncing
senjata mereka dikumpulkan, dan truk disuruhnya mereka dorong
ke pos keamanan, lalu orang-orang itu diusir pergi. Menurut
penglihatan saya orang Indonesia masih takut terhadap Jepang,
sikap mereka juga masih lugu. Senjata api tidak ada di tangan
rakyat sepucuk pun.
     Tapi pada tanggal 2 Oktober, dan hari-hari berikutnya
mereka melucuti tentera Jepang dan memenjarakan mereka. Mula-
mula menyergap pos-pos terpencil dan kecil, kemudian satuan-
satuan pengawal, akhirnya menyerbu ke markas-markas kesatuan
dan pemusatan pasukan. Jepang hampir tidak melakukan
perlawanan. Kecuali perlawanan semu pada peristiwa-peristiwa
tertentu. Sejak itu massa berani merebut senjata tajam dan
senjata api, kemudian senapan mesin dan sebagainya. Akhirnya
bahkan berani merebut panser dan tank, yang kemudian mereka
kendarai masuk kota dengan kecepatan tinggi.
     Tanggal 2 Oktober pemberontakan umum pecah di Surabaya.
Komodor Udara RAF Groom mengantar tiga orang wakil Sudirman,
yaitu  Mr. Dwidjosewojo, dr. Angka Nitisastra, dan satu orang
lagi untuk bertemu dengan Huyer. Ketiga utusan Sudirman
menjelaskan, bahwa pengambil-alihan kekuasaan dari pihak
Jepang sudah dimulai. Sedang Huyer menegaskan, bahwa pihak
yang telah melakukan ambil alih harus bertanggungjawab atas
pengamanan selanjutnya. Bukan hanya persenjataan dan
perbekalan militer, tetapi juga gedung pemerintah, gudang dan
sebagainya, karena semuanya itu menjadi milik Komando
Tertinggi Sekutu.
     Tanggal 4 Oktober sebagian besar tentara Jepang sudah
dilucuti dan dipenjarakan oleh massa. Juga pengawalan untuk
Huyer dkk di Hotel "Oranye" tidak oleh tentara Jepang, tapi
oleh Polisi RI.

     Lain lagi laporan Letnan Satu Laut P.G. de Back yang
datang di Surabaya sebagai wakil RAPWI (Recovery of Allied
Prisoners of War and Internees; Pemulihan Tawanan Perang dan
Interniran Sekutu) di Surabaya. Laporan yang berjudul Reports
on Events in Soerabaja From 21st to 27th October 1945 itu,
melalui Laksamana Helfrich, dikirim ke Laksamana Mountbatten.

     Sore hari tanggal 3 Oktober 1945 Kapten Laut P.J.G.
Huyer, yang ingin mendapat gambaran tentang keadaan di kota,
minta pengawalan Indonesia. Pengawalan Kenpeitai di hotel
telah diganti dengan Polisi Indonesia berseragam. Dua hari
kemudian juga penghubung Jepang, juru bahasa Matsuda, dan
supir-supir Jepang ditarik, dan diganti oleh tenaga-tenaga
Indonesia.
     Atas permintaan Huyer saya ikut dalam perjalanan keliling
kota itu. Kami di atas kendaraan berbendera putih, dan
bertuliskan "Allied Command". Polisi Indonesia bersenjata
mengawal kami di atas sepeda motor, di depan dan di belakang.
     Kemudian kami menuju lapangan terbang (Sekarang Juanda,
Perak. Red.). Di sana beberapa orang Jepang ditahan dalam sel.
Dari sana kami menuju gubernuran untuk bertemu Sudirman.
Kepada Sudirman dan stafnya Huyer menegaskan, bahwa pemerintah
RI yang mengambil alih tawanan dan melucuti tentara Jepang
berlawanan dengan perintah Komando Tertinggi Sekutu.
Sudirman harus bertanggung jawab penuh atas perdamaian,
ketertiban dan keselamatan semua orang yang bersangkutan.
Selanjutnya dikatakan Huyer, bahwa Jepang merupakan tawanan
perang yang harus diserahkan pada Sekutu, dan bahwa kedatangan-
nya di Surabaya adalah sebagai wakil Sekutu itu. Huyer memper-
lihatkan instruksi Laksamana Patterson, yaitu untuk memper-
siapkan kedatangan tentara pendudukan Sekutu di Surabaya.
     Untuk melaksanakan itu, dikatakan Huyer pada Sudirman, ia
harus mengatur dinas penyapu ranjau Jepang dan menyiapkan
pangkalan, hubungan udara dengan Semarang dan Malang dengan
pesawat dan pilot Jepang dibuka lagi. Untuk itu pilot Jepang
yang ditahan harus dibebaskan, lapangan terbang dan pesawat
terbang diserahkan pada Huyer.
     Sudirman menyetujui, dan akan mengambil tindakan
seperlunya. Kemudian Kapten Huyer, berkata pada Sudirman, akan
menemui panglima angkatan laut dan angkatan darat Jepang,
untuk memerintahkan mereka menyerahkan diri, dan selanjutnya
akan diperlakukan sebagai tawanan.
     Saya mengikuti Kapten Huyer dalam tugas itu. Tapi pada
malam hari ia bercerita, telah menerima pedang komando dari
panglima angkatan laut dan darat tersebut, sebagai tanda bukti
penyerahan diri mereka. Tentang ini Huyer telah melaporkannya
pada Laksamana Patterson, melalui pemancar radio di salah satu
kamar Hotel "Oranje". Jelas penyerahan angkatan darat dan
angkatan laut Jepang terjadi sesudah semua orang Jepang di
Surabaya dilucuti dan ditahan.
     Sebelum Kapten Huyer ke markas angkatan laut dan angkatan
darat Jepang, kami lebih dahulu mengunjungi penjara di mana
sekitar 4000 orang Jepang ditahan. Di sana Kapten Huyer saya
tinggalkan, bersama juru bahasa Letnan Hulseve yang datang
kemudian.
     Selama Huyer berunding dengan Sudirman, saya diam-diam
bicara dengan Masmoein, Komisaris Polisi Indonesia. Katanya,
ia merasa agak susah untuk tidak membukakan rahasia sendiri.
Sudirman dan stafnya akan menghadapi sangat banyak kesulitan.
Mereka mulai kehilangan kendali kekuasaannya terhadap kaum
"ekstremis".

Demikianlah.
Sepanjang akhir September dan awal Oktober 1945 Surabaya
memang telah menjadi panas, seperti sudah digambarkan oleh
Roelofson dan de Back. Setelah peristiwa 19 September 1945
para pemuda telah "mencium bau darah". Sasaran ancaman para
pemuda ditujukan pada orang-orang NICA, tetapi dalam praktek
menjadi semua orang Belanda, Indo, dan orang-orang yang
bersimpati pada mereka.
     Saat itu mereka menyebutnya sebagai "siap tijd", karena
siang malam pemuda giat melakukan aksi pembersihan terhadap
setiap elemen penghalang kemerdekaan Republik. Sementara itu
desas-desus tersiar, bahwa Huyer telah mendrop uang jutaan
gulden untuk membiayai kegiatan mereka. Para pemuda semakin
giat melakukan pembersihan. Gerak-gerik orang-orang NICA
semakin diamati, sehingga akhirnya kedok NICA tersingkap.
Huyer diusir dari Surabaya. Tapi kemudian ia ditangkap, ketika
di tengah perjalanan dengan kereta api antara Jombang dan
Mojokerto, dan dimasukkan di penjara Kalisosok. Pemancar radio
dan dokumen-dokumen rahasia Belanda, yang disimpan di Hotel
"Oranje" terbongkar dan disita oleh para pemuda.***

(ed.: hersri)

Keterangan:

(1) Tentang pangkat Kapten Huyer. Dalam angkatan darat, kapten
adalah pangkat di atas letnan satu dan di bawah mayor;
di Indonesia termasuk ke dalam golongan "perwira pertama"
atau "pama". Tapi dalam angkatan laut (bukan AL Indonesia),
kapten adalah pangkat perwira di bawah komodor dan di atas
"commander" (jadi setara dengan kolonel di AL Indonesia).
Dalam hal Huyer pasti pangkat yang tersebut akhir, karena ia
dari Armada Laut Kerajaan Belanda.
(2) Yang dimaksud Sudirman di sini bukan Panglima Sudirman,
tapi R. Sudirman; di jaman Jepang Wakil Residen (Fuku
Syuchokan) Surabaya merangkap Kepala Bagian Pemerintahan
(Naiseibucho). Sesudah proklamasi ia diangkat pemerintah pusat
sebagai Residen Surabaya.
(3). Untuk bab ini dipakai tambahan bahan acuan:
* Lukisan Revolusi Rakjat Indonesia 1945-1949; Kementerian
Penerangan R.I., Yogyakarta 1949.
* Barlan Setiadijaya, 10 November '45 Gelora Kepahlawanan
Indonesia; Yayasan Dwiwarna, Jakarta; Cetakan Pertama 1991.
* D.G.E. Hall, A History of South-East Asia; The Macmillan
Press Ltd., London and Basingstoke, 1976.
* Mary C. van Delden, Bersiap in Bandoeng; Kockengen 1989.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Feb 2000 jam 07:51:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke