----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, Selasa 29 Februari 2000

Rekonsiliasi Kulit Putih dan Aborigin Ditunda.
Tokoh Aborigin Kecam Howard.

SYDNEY - PM Australia John Howard mendapat "serangan" dari para
pemimpin suku Aborigin dan lawan politiknya kemarin.

Pasalnya, dia mengumumkan bahwa Australia gagal mencapai
rekonsiliasi ras antar kulit putih dengan warga Aborigin,
penduduk asli benua tersebut.

Untuk pertama kalinya, Howard menyebutkan bahwa pemerintah
secara resmi telah mengabaikan tenggat waktu simbolis bagi
rekonsiliasi pada 31 Desember 2000. Ketentuan tenggat waktu
yang bermakna simbolis ini ditetapkan pada 1991 oleh Dewan untuk
Rekonsiliasi Aborigin.

Seorang pemimpin Aborigin, Charles Perkins, menggambarkan
komentar Howard tersebut "tidak bisa dipercaya". Menurutnya,
hanya perubahan kepemimpinan yang memungkinkan proses
rekonsiliasi berjalan. "Menurut saya, ia (Howard) harus mundur,"
tutur Perkins.

Komentar Howard juga menjadi makanan empuk bagi kubu oposisi.
Pemimpin partai buruh, Kim Beazley, menuduh Howard "jelas-jelas
pengecut". Menurutnya, adalah tragis jika Howard mengabaikan
tenggat waktu tersebut.

"John Howard mematikan proses rekonsiliasi dengan seribu
penundaan dan pemotongan dengan memastikan bahwa setiap kata
mengurangi rasa bersalahnya secara pribadi," tuding Beazley.

Howard mengakui penolakannya untuk menyatakan permintaan maaf
pemerintahnya atas kesalahan kaum kulit putih di masa lalu
menjadi penghalang utama rekonsiliasi tersebut. Rekonsiliasi
tersebut diharapkan dapat menghapus luka lama warga Aborigin
Australia atas kasus penculikan anak-anak Aborigin.

Dia memang menolak untuk meminta maaf atas perlakuan kepada
anak-anak Aborigin yang secara paksa dipisahkan dari orang
tuanya ('stolen generation') oleh pemerintahan kulit putih
Australia tahun 1960-an. Namun Howard sendiri berdalih
pernyataan yang pernah dikeluarkannya - "Anda tidak perlu minta
maaf atas sesuatu yang bukan dilakukan oleh Anda sendiri" -
mendapat dukungan luas.

Harian 'The Australian' menuduh John Howard tidak konsisten
dengan janjinya sendiri saat menang pemilu untuk kedua kalinya
Oktober 1998. Saat itu Howard dengan lantang menyuarakan program
pemerintahnya yang memprioritaskan rekonsiliasi dengan Aborigin.

Howard saat memenangkan pemilu dulu berjanji untuk membuat
rekonsiliasi dengan warga Aborigin sebelum akhir tahun 2000.

Berbeda dengan janji waktu pemilu, Howard dalam wawancara dengan
The Australian menolak terikat dengan batas waktu rekonsiliasi
Aborigin.

Howard bahkan menyebutkan jika menjadi perdana menteri sejak
1991, dia akan menolak tenggat waktu resmi tersebut. Menurutnya,
rekonsiliasi membutuhkan beberapa negosiasi.

"Proses rekonsiliasi akan memakan waktu lama dan baru akan
terbuka lebih dari beberapa tahun," dalihnya.

Negosiasi yang dimaksud dalam dokumen rekonsiliasi antara lain
Hari Nasional 27 Mei, peran serta warga Aborigin dalam Olimpiade
Sydney dan tenggat waktu negosiasi. Rakyat Aborigin Tidak
mengakui "Australia Day" yang diperingati setiap 26 Januari.

Bagi Aborigin tanggal tersebut - diambil dari pelaut Inggris
Kapten Arthur Philip pertama kali berlabuh di daratan Australia
26 Januari 1788 - merupakan awal perampasan tanah mereka
(Australia) oleh pendatang kulit putih.

Howard mendukung jika warga Aborigin akan melakukan berbagai
kegiatan pada setiap tanggal 27 Mei. Namun ia menolak bahwa
seluruh proses negosiasi tersebut harus sudah selesai sebelum 31
Desember tahun ini. Nasib dan kesejahteraan warga Aborigin
Australia hingga kini jauh tertinggal dibandingkan kulit putih
Australia. Tak urung, warga Aborigin sering diidentikkan dengan
kemiskinan dan kriminalitas.

Beberapa negara bagian Australia malah memberlakukan undang-
undang berbau rasialis untuk menghukum anak-anak dan remaja
Aborigin yang sering mencuri. Langkah ini terjadi di Northern
Territory dan West Australia dengan memberlakukan 'mandatory
sentencing laws'. (afp/ant/yyn)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Mar 2000 jam 05:57:22 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke