----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Otto Syamsuddin Ishak:

                                IKON

     Kontroversi seputar publikasi TNI (Kapuspen) dan TNI-AD (Dandim
0102/Pidie) tentang tertembaknya Panglima AGAM telah menguak banyak hal.
Pertama, tentunya, menjelaskan betapa pentingya Abdullah Syafe'I, tidak
hanya bagi rakyat dan gerilyawan AGAM, melainkan juga bagi TNI sendiri.
Publikasi itu mengesakan di dalam TNI ada persaingan untuk memperoleh kredit
point dari nasib Abdullah Syafe'i. Mereka tak perduli terhadap perbedaan isi
publikasi yang sangat fatal bagi kredibilitas dan kapabilitas TNI.

     Kalaulah selama ini dipublikasikan bahwa operasi militer di Aceh berada
di bawah komando Kapolda (Polri) -dan hanya menggelar Operasi Rencong-- maka
pengetahuan demikian sangatlah keliru. Bila TNI mengatakan operasi militer
di Aceh bukan kebijakan Jakarta, maka juga harus dikoreksi. Sebab, berita
penembakan itu  menjelaskan bahwa TNI masih tetap memegang tanggungjawab
dalam setiap operasi pasukan. Apa yang dilakukan serdadu TNI di lapangan,
selalu sepengetahuan dari dan dilaporkan kepada petinggi TNI di Jakarta,
seperti halnya Kapuspen dengan Operasi TNI-AD di Jiem-jiem. Singkatnya, di
Aceh ada beragam jalur komando operasi militer, baik dari TNI dan Polri,
maupun yang bersifat terbuka dan siluman. Sedangkan operasi militer di
Jiem-jiem adalah operasi TNI-AD yang bersifat terbuka dan sepengetahuan
Maskas Besar TNI. Karena itu Dandim 0102 Pidie, Iskandar MS adalah aktor
lapangan yang bertanggungjawab (bila ada praktek kejahatan kemanusiaan
selama operasi tersebut).

     Sehubungan dengan itulah, kiranya DPRD Aceh atau Pidie bisa bersikap
agresif untuk meminta pertanggungjawaban publik  dari para pejabat militer
setiap usai sebuah operasi, atau secara periodik. Tapi, nampaknya para
anggota DPRD tersebut  belum memiliki kepekaan kemanusiaan yang memadai
untuk terdorong meminta pertanggungjawaban pejabat militer. Institusi
militer di Aceh seakan lepas dari sistem politik di daerah.

     Kontroversi bermula dari operasi  pengepungan dan penyerangan serdadu
TNI terhadap markas AGAM di Jiem-jiem pada 16 Januari 2000. Pertanyaan yang
muncul mengapa TNI gagal? Apakah TNI lemah dalam penguasaan medan dan taktik
gerilya. Kalau soal penguasaan medan tempur di Jiem-jiem, tentunya TNI punya
pengetahuan yang cukup. Jiem-jiem merupakan salah satu Pos Sattis TNI-AD
yang sangat brutal di masa DOM. Para serdadu TNI telah berhasil merubah pos
militer menjadi kamp penyiksaan rakyat. Saya kira keberadaan kamp penyiksaan
itu sudah menunjukkan bahwa TNI memiliki pengetahuan, kesempatan dan
pengalaman yang cukup untuk menguasai medan.

     Barangkali, kuncinya kegagalan terletak pada kata "kejahatan
kemanusiaan" TNI-AD di masa DOM. Mereka tidak pernah bisa memiliki hati
rakyat. Karena itu serdadu TNI hanya memperoleh informasi tentang
perkembangan Jiem-jiem dari seorang-dua-orang cuak yang kinipun sudah tidak
bebas lagi berkeliaran di masyarakat. Dan, saya pernah mendengar ucapan dari
seorang rakyat: "bahwa kami sudah pernah dipukul, disiksa dan diperlakukan
tidak manusiawi oleh serdadu TNI, tinggal tunggu kesyahidan saja!" Saya kira
ini sebuah cetusan suara hati yang mencerminkan dan mendefinisikan siapa TNI
bagi rakyat Jiem-jiem.  Sikap antipati rakyat ini semakin tertanam kokoh,
ketika para serdadu TNI melakukan kejahatan kemanusiaan berupa: bumi-hangus
harta benda, penangkapan dan penyiksaan rakyat serta ancaman agar tidak
mengungsi -sebagai obyek pelampiasan sikap frustasi atas kegagalan serdadu
dalam penyerangan Jiem-jiem.

     Begitulah, informasi mulut ke mulut rakyat mengatakan konon pertempuran
di Jiem-jiem hanya terjadi antara puluhan serdadu RI yang dilayani oleh 4
orang gerilyawan AGAM. Dan, tidak ada korban dari kedua belah pihak, apalagi
tertembaknya Panglima AGAM. Karena, di satu pihak, gerilyawan menempati
posisi yang strategis dan, di lain pihak para serdadu RI yang bermental
urban itu bersembunyi di balik batu besar untuk melindungi diri dari siraman
peluru gerilyawan.

     Bahkan, ketika serdadu TNI hendak melakukan pengepungan dan penyerangan
dari Bracan, mereka dicegat oleh gerilyawan. Dari sekitar 30 serdadu,
tinggal 6 serdadu dalam kondisi kritis. Bahkan mereka menjadi putus asa
karena 2 truk pasukan TNI tidak mau membantu rekannya, sebelum datang
bantuan pasukan yang lebih besar dari Aceh Utara. Di sini, nampaknya TNI
tidak lebih baik dari para gerilyawan dalam penguasaan medan.

     Terlepas dari cerita rakyat itu, tampaknya serdadu TNI sangat
mengabaikan hal yang paling penting dalam bergerilya, yakni menguasai medan,
memiliki taktik dan menguasai hati rakyat. Justru kebrutalan di masa DOM
masih terus dilanjutkan, seraya ditambah dengan modus baru, yakni praktek
bumi hangus. Perihal yang terakhir ini kerap digunakan rakyat sebagai
indikator untuk menaksir kegagalan TNI maupun Polri dalam sebuah operasi.
Semakin brutal serdadu TNI atau Polri maka mereka semakin terkalahkan dan
frustasi. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin TNI dapat menutupi
kejahatan kemanusiaan bumi hangus di wilayah pertempuran itu dan ingin
terkesan berwajah manusiawi dengan cara  menawarkan pengobatan bagi Abdullah
Syafe'I.

     Konon, sekembali dari lokasi pertempuran yang gagal itulah maka para
serdadu bersorak riuh di atas truk yang melaju kencang  dan menakutkan
rakyat: "Hore ... Abdullah Syafe'i tertembak!". Rumor terus berkembang
menjadi Abdullah Syafe'i tertembak di kaki sebagaimana kata Kapuspen, atau 3
lobang di dada seperti kata Dandim Pidie. Lalu, sikap yang dibaca rakyat
sebagai upaya menutupi kegagalan diri itu berkembang semakin kontroversial.

     Bagi TNI, mungkin memberitakan tertembaknya Abdullah Syafe'I bisa
berfungsi untuk menaikkan moral para serdadunya yang memang sedang frustasi
karena kegagalan itu. Di samping itu, publikasi juga berfungsi untuk
melakukan demoralisasi para gerilyawan AGAM. Dan, tentunya agar rakyat
berpikir ulang atau menjadi ragu terhadap kemampuan tempur para gerilyawan,
dan bahkan kemampuan Abdullah Syafe'i sendiri yang kini telah menjelma
sebagai ikon perjuangan.

     Sementara ada banyak kisah yang beredar dari mulut ke mulut rakyat yang
menunjukkan kekaguman mereka terhadap Abdullah Syafe'i. Dalam salah satu
rumor dikatakan bahwa Abdullah Syafe'i justru berangkat ke Aceh Barat
setelah pertempuran Jiem-jiem. Ia berhasil menembus titik-titik sweeping
yang digelar TNI dan Polri secara ketat bahkan cenderung brutal setiap pasca
pertempuran yang banyak menimbulkan korban di pihaknya.

     Nampaknya, menembak dan memanipulasi informasi tentang sosok yang bukan
lagi hanya sebagai Panglima bagi para gerilyawan, melainkan telah menjadi
ikon bagi rakyatnya -tidaklah gampang. Apalagi, konon Abdullah Syafe'I
telah meneken kontrak sebagai martir (syuhada) sebagaimana yang dilakukan
para indatunya pada masa kolonial. Karena itulah topeng humanis TNI menjadi
tak berarti apa-apa bagi Abdullah Syafe'i dan korban kejahatan kemanusiaan
di Jiem-jiem -dan bahkan seluruh rakyat Aceh dan warga dunia yang memiliki
kepekaan kemanusiaan yang tinggi. Tuhanlah yang maha Mengetahui!*

(Yogyakarta, Maret 2000)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Mar 2000 jam 11:15:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke