---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Pratiwi: CATATAN PERJALANAN DI BUMI LORO SA'E (19a) Dear Joko dan Riri, Hi ... kabar baik, ya. Sorry, kalau selama ini aku tak pernah berkabar pada kalian. Juga soal keberangkatanku ke Timor Lorosae, pada awal bulan lalu. Aku sempat ketemu dan ngobrol dengan beberapa kawan sebelum aku meninggalkan Jakarta. Melalui surat ini sesungguhnya begitu banyak yang ingin aku ceritakan pada kalian, tapi aku masih sulit merumuskan dari mana aku akan memulainya. Memang harus ada orang yang menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi di sini, karena aku tahu sangat sedikit berita tentang Timor Lorosae yang dimuat media di Indonesia setelah tentara dan milisi meluluh-lantakkan wilayah yang diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai provinsi ke-27 itu. Riri, ketika aku menginjakkan kakiku di Bumi Lorosae aku seperti bisu, tak sanggup berkata-kata. Aku kembali ke Dili tepat lima bulan setelah aku dipaksa meninggalkan Dili, pada awal September lalu oleh tentara Indonesia dan milisi. Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah sahabatku aku hanya melihat bangunan yang hitam dan porak-poranda. Puing-puing memang telah dibersihkan, tapi bangunan-bangunan itu telah menjadi saksi bahwa penghancuran atas wilayah Timor Lorosae memang maha dahsyat. Jadi, jangan percaya ketika ada seorang tokoh yang mengatakan, "tidak benar kota Dili hancur sampai delapan puluh persen." Ya, memang benar kehancuran itu tak tampak jika dilihat dari atas helikopter. Cobalah dia disuruh menyusuri kota Dili, pasti orang itu tak akan melontarkan pernyataan seperti itu. Pada hari-hari pertama aku berada di Dili, aku hanya mencari di mana para sahabatku kini tinggal atau bekerja. Mereka yang selalu menemani aku ketika aku melakukan penelitian sepanjang proses referendum lalu. Betapa bahagianya aku saat itu. Ternyata, kami saat masih diberi kesempatan untuk saling bertemu. Pasti aku mencari Manuel, Jose, Neves, Ronaldo dan yang lain-lain. Aku pun berhasil mencari Tia Flora di rumahnya. Ia dan keluarganya selamat setelah dibawa ke Atambua. Kami saling menceritakan pengalaman masing-masing, sebuah pengalaman yang kami anggap paling gila, ketika saat itu semua manusia yang berada di Timor Lorosae dipaksa segera meninggalkan wilayah itu untuk menyelamatkan diri. Kalian pun sudah tahu siapa yang melakukan semua itu. Ada yang menarik saat aku bertemu dengan teman-teman. Wajah mereka cerah-ceria, tampak rileks, dan jauh lebih muda. Ketika aku tanyakan pada mereka, tak ada seorang pun yang mau menjelaskan kenapa terjadi perubahan itu. Tapi, aku tahu. Setelah mayoritas rakyat di Timor Lorosae menolak tawaran otonomi dan tak ada lagi tentara Indonesia tentu saja mereka merasa terbebas dari belenggu yang menjerat selama lebih dari dua dasa warsa. Bisa kalian bayangkan selama itu mereka tak bebas tinggal di wilayahnya sendiri. Di mana-mana selalu saja ada tentara yang mengawasi gerak-gerik setiap orang dari hari ke hari. Aku pun merasakan satu "keanehan". Aku seperti berada di kota lain yang selama ini aman. Sekarang kita bisa bepergian kapan saja, siang maupun malam. Kita bisa duduk-duduk di tepi pantai yang ternyata sekarang terlihat jauh lebih menawan. Perubahan yang lain, di bandara kita harus menunjukkan paspor dan mendapatkan izin berapa lama kita boleh tinggal di sini. Aneh? Ah, aku sih biasa-biasa saja. Selama ini aku memang tak pernah menganggap Timor Lorosae sebagai bagian dari wilayah Indonesia. Pada awal kedatanganku tentu saja aku dipandang sinis oleh sebagian besar penduduk di sini. Ada yang memandang dengan penuh kecurigaan, tapi tak jarang ada yang menanyakan langsung kenapa aku -- sebagai orang Indonesia masih datang ke Timor Lorosae. "Apa yang akan Anda kerjakan di sini?" Pahit juga sih menghadapi kenyataan, bahwa sebagian besar rakyat di Timor Lorosae menyatakan secara terbuka kebencian mereka pada kita, orang Indonesia. Kalian pun tak perlu heran jika dalam berbagai kesempatan di mana-mana, mereka tak lagi menggunakan bahasa Indonesia. Bersyukurlah aku di sini. Semua orang dengan sabar mau mengajari aku, seorang asing yang tengah belajar berbicara dalam bahasa nasional mereka, bahasa Tetum. Pelan-pelan aku mulai bisa berkomunikasi dengan mereka. Saat ini, kehidupan sudah mulai beranjak normal kembali meski sangat lamban. Aku tak bisa membayangkan bagaimana pedih hati mereka ketika sebagian besar rakyat yang mengungsi ke hutan kembali ke tempatnya masing-masing. Mereka tak tahu harus tinggal di mana karena rumah mereka hangus terbakar, dan kalau tempat tinggal mereka masih utuh pasti isinya sudah raib. Ketika aku menyusuri kota Dili aku pun merasa aneh. Ada rumah yang habis dibakar tapi rumah di sebelahnya utuh. Beberapa bangunan tampak hancur lebur seperti bukan karena dibakar setelah disiram bensin. Dan, kini rumah-rumah yang terbakar itu hanya sedikit yang telah mereka perbaiki lagi. Karena itu sungguh sulit sekarang ini mencari rumah yang bisa disewa. Untuk sementara aku tinggal bersama seorang kawan. Meskipun roda kehidupan mulai berjalan, kalian jangan membayangkan segala sesuatunya mudah dan murah. Sejumlah barang-barang kebutuhan masih sulit didapatkan di sini. Kalaupun ada harganya pun menjulang tinggi. Joko dan Riri, aku memang belum bisa menceritakan bagaimana mereka bertahan hidup di saat-saat sulit seperti ini. Suatu kali nanti pasti aku akan ceritakan pada kalian setelah aku bisa ngobrol lagi dengan Manuel, Jose, Neves maupun Ronaldo. Dalam suratku kali ini aku akan menceritakan hal yang lain. Aku teringat pertanyaan salah seorang kawan, kenapa sih sebagian besar rakyat Timor Lorosae mau merdeka? Kawan yang lain pun heran setelah membaca berita, bahwa bukankah dunia internasional terlalu jauh mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Ya, itu semua dikarenakan selama ini informasi yang disajikan selalu keliru, kalau tak mau disebut menyesatkan. Aku teringat seorang kawan, Farid, yang berbicara dalam sebuah pelatihan bagi aktivis NGO di Timor Lorosae pada Maret, tepat satu tahun silam. Ia mengajak teman-teman memahami bagaimana pandangan Indonesia tentang persoalan Timor Lorosae. Sejak 1998, ada perhatian lebih besar terhadap masalah Timor Lorosae. Tokoh-tokoh politik yang pro-reformasi mulai menyatakan pendapat, khususnya setelah Menteri Luar Negeri Ali Alatas berbicara tentang adanya "opsi kedua" bagi Timor Lorosae. Pimpinan PDI Perjuangan, Megawati, dengan tegas menolak "opsi kedua" itu dan mengatakan, bahwa Timor Lorosae sudah menjadi bagian integral dari Indonesia yang disahkan melalui hukum. Sementara Amien Rais, ketua umum Partai Amanat Nasional sebaliknya mendukung hak menentukan nasib sendiri. Ia bahkan berbicara tentang kemungkinan negara federal untuk wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Pernyataan para tokoh ini kerap mengejutkan, karena "bertentangan" dengan sikap mereka selama ini yang menuntut "demokrasi", seperti Megawati atau sebaliknya justru berubah dari sikap yang keras terhadap Timor Lorosae menjadi pendukung hak menentukan nasib sendiri, misalnya Amien Rais. Hanya ada beberapa kalangan yang secara konsisten mendukung referendum bagi rakyat Timor Lorosae, dan memasukkan "penyelesaian masalah Timor Lorosae" ke dalam agenda organisasinya, seperti Partai Rakyat Demokratik [PRD], yang dipimpin oleh Budiman Sudjatmiko. Di samping itu, ada beberapa organisasi solidaritas yang sebelum ada euphoria reformasi juga telah mendukung hak rakyat Timor Lorosae untuk menentukan nasib sendiri. Di pihak lain, ada kelompok-kelompok yang secara konsisten menentang ide referendum. Alasan yang mereka kemukakan, kemerdekaan Timor Lorosae akan berakibat perpecahan negara kesatuan. Ditambahkan lagi bahwa perjuangan dan solidaritas internasional bagi Timor Lorosae adalah buah persekongkolan kekuatan "imperialis", "Yahudi" atau "non-Islam", yang tidak menginginkan Indonesia tumbuh menjadi negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam yang kuat. Sebagai counter mereka sering mengatakan, bahwa gerakan advokasi yang ada selama ini hanya mau mengangkat korban-korban non-Islam, tapi menutupi fakta, dan bahkan membiarkan penindasan terjadi terhadap orang-orang Islam. Namun, perlu diketahui bahwa pikiran-pikiran di atas hanya mewakili sebagian kecil pandangan masyarakat Indonesia. Saat itu dan mungkin sampai sekarang, boleh dibilang mayoritas orang tidak tahu dan tidak punya pendapat tentang masalah Timor Lorosae. Banyak persoalan lain yang lebih konkret dan langsung mereka alami, yang harus mereka tangani atau pikirkan, dan Timor Lorosae dalam hal ini mungkin hanya menarik sebagai obrolan selingan saja. Dalam pandangan Farid, hal ini adalah sebuah "kekeliruan" atau lebih tepatnya "kegagalan" dari mereka yang peduli untuk menyampaikan dan menjelaskan arti penting masalah Timor Lorosae bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Pendapat yang mengingkari hak rakyat menentukan nasib sendiri dan ketidaktahuan masyarakat pada umumnya, sebenarnya merugikan bagi gerakan pembebasan Timor Lorosae. Karena, di samping harus menghadapi persoalan-persoalan di lapangan, gerakan pembebasan juga harus berjuang keras memenangkan opini umum, untuk mendapat dukungan menghadapi musuh yang begitu besar. Contohnya adalah Kuwait yang "dibebaskan" dari pendudukan Irak melalui serangan pasukan PBB yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan mendapat dukungan opini umum karena kampanye besar-besaran di media massa. Opini umum dalam hal ini bisa membelokkan kebenaran, dalam arti mengubah yang benar menjadi salah, dan sebaliknya. Lalu, apa saja isi dari "opini umum" masyarakat Indonesia tentang masalah Timor Lorosae? "Opini umum" ini terutama dibentuk dari ketidaktahuan yang parah, baik mengenai sejarah, aspek hukum internasional maupun aspek politik dari masalah Timor Lorosae. Dari ketidaktahuan ini para tokoh Indonesia mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang akhirnya sangat kuat membentuk "opini umum" masyarakat Indonesia, dan bahkan masyarakat Timor Lorosae sendiri. Beberapa bukti ketidaktahuan masalah dan salah paham itu antara lain dikatakan bahwa, "rakyat Timor Lorosae tidak tahu terima kasih". Pernyataan ini sering terlontar dari mulut para tokoh dan juga pemberitaan media massa. Menurut mereka, rakyat Timor Lorosae tidak menghargai sedikit pun pembangunan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia, yang menurut mereka, jauh lebih baik daripada yang pernah diberikan oleh Portugal selama 450 tahun. Apa yang bisa kita lihat dari pernyataan para tokoh dan pemberitaan di media massa? Para tokoh dan pengamat itu tidak tahu atau tidak mau tahu, bahwa mayoritas rakyat Timor Lorosae tidak merasakan hasil pembangunan. Dan lebih penting lagi, bahwa proses pembangunan itu tidak dilaksanakan berdasarkan keinginan atau aspirasi rakyat, melainkan berdasarkan target yang ditetapkan dari pusat. Beberapa fakta menunjukkan, bahwa 20% orang terkaya di Timor Lorosae memperoleh 46.75% dari keseluruhan pendapatan, sementara 40% orang termiskin hanya memperoleh 15.58% [40% orang termiskin mendapat 15.58% itu dengan cara dibayar untuk menjadi mau'hu, atau yang kemudian direkrut menjadi milisi pro-otonomi]. Hal lain, dari milyaran rupiah yang dikeluarkan oleh pemerintah Jakarta "untuk Timor Lorosae", 20.4% digunakan untuk membiayai birokrasi [baca: aparat Pemda], 20% untuk pekerjaan umum [pembangunan jalan, bangunan pasar, dan jembatan], sementara hanya 1.8% untuk kesehatan dan 1.1% untuk bidang perdagangan [ini tentu tidak termasuk dana milyaran rupiah yang dikeluarkan setiap tahunnya untuk bidang pertahanan dan keamanan. Dana bagi penempatan pasukan, logistik dan pelaksanaan operasi, tidak pernah dimasukkan dalam APBD oleh pemerintah dan sampai saat ini tidak pernah diumumkan jumlahnya oleh pemerintah]. Sementara yang menikmati "pembangunan" selama ini adalah mereka yang berkuasa dan dengan sendirinya ingin mempertahankan "integrasi". Jadi yang patut disebut "tidak tahu terima kasih" adalah kalangan ini, bukan rakyat Timor Lorosae secara keseluruhan. Mereka ini lah yang sudah menghambur-hamburkan uang rakyat Indonesia, tanpa pertanggungjawaban dan hasil yang jelas. (diteruskan di CATATAN--- No. 19b) - ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Mar 2000 jam 07:12:44 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
