---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Republika, 23 Maret 2000 25 Kekeliruan Kalangan Islam Oleh: Eep Saefulloh Fatah Pada 1998, tak lama setelah Presiden Soeharto menyatakan berhenti, di sebuah masjid di Kampung Melayu, Jakarta Timur, saya memperoleh kesempatan membuat evaluasi tentang politik Islam. Lahirlah kemudian lebih dari dua puluh kekeliruan politik kalangan Islam yang sebetulnya menjadi sumber primer dari marjinalisasi umat Islam -- sementara soal rezimentasi dan konspirasi merupakan sumber-sumber sekunder dan tersier. Sudah lama saya menyimpan keinginan untuk merumuskan otokritik -- jangan lupa, saya sendiri merasa ada dan menjadi bagian dari objek yang saya kritik -- itu ke dalam tulisan yang eksploratif. Dan, saya tiba-tiba saja ingin mewujudkan keinginan itu sekarang. Tetapi celakanya, saya dilanda kebosanan luar biasa untuk banyak berkata-kata yang penuh kuah. Karena itu, saya susun saja daftar kekeliruan politik kalangan Islam berikut ini. 1. Senang membuat kerumunan, tidak rajin menggalang barisan. 2. Suka marah, tidak suka melakukan perlawanan. 3. Reaktif, bukan proaktif. 4. Suka terpesona oleh keaktoran, bukan oleh wacana atau isme yang diproduksi/dimiliki sang aktor. 5. Sibuk berurusan dengan kulit, tidak peka mengurusi isi. 6. Gemar membuat organisasi, kurang mampu membuat jaringan. 7. Cenderung memahami segala sesuatu secara simplistis, kurang suka dengan kerumitan-kecanggihan padahal inilah adanya segala sesuatu itu. 8. Sering berpikir linear tentang sejarah, kurang suka bersusah-susah memahami sejarah dengan rumus dialektika atau sinergi. 9. Enggan melihat diri sendiri sebagai tumpuan perubahan, sebaliknya cenderung berharap perubahan dari atas/para pemimpin. 10. Senang membuat program, kurang mampu membuat agenda. 11. Cenderung memahami dan menjalani segala sesuatu secara parsial, tidak secara integral (kaaffah). 12. Senang bergumul dengan soal-soal jangka pendek, kurang telaten mengurusi agenda jangka panjang. 13. Terus-menerus ''menyerang musuh'' di markas besarnya, abai pada prioritas pertama ''menyerang musuh'' pada gudang amunisinya. 14. Kerap menjadikan politik sebagai tujuan, bukan politik sebagai alat. 15. Senang mengandalkan dan memobilisasi orang banyak atau massa untuk segala sesuatu, abai pada fakta bahwa perubahan besar dalam sejarah selalu digarap pertama-tama oleh creative minority. (Ironisnya, ini justru secara spektakuler dicontohkan oleh Muhammad beserta lingkaran kecil di seputarnya di Mekkah serta kaum Muhajirin dan Anshar di Medinah). 16. Senang berpikir bagaimana memakmurkan masjid, kurang giat dan serius berpikir bagaimana memakmurkan jamaah masjid. 17. Senang menghapalkan tujuan sambil mengabaikan pentingnya metode, tidak berusaha memahami dengan baik tujuan itu sambil terus mengasah metode. 18. Senang merebut masa depan dengan meninggalkan hari ini atau merebut hari ini tanpa kerangka masa depan, bukannya merebut masa depan dengan mencoba merebut hari ini. 19. Sangat pandai membongkar dan membongkar, kurang pandai membongkar pasang. 20. Sangat cepat dan gegabah merumuskan musuh baru (dan lama), sangat lamban dan enggan merangkul kawan baru. 21. Gegap gempita di wilayah ritual, senyap di wilayah politik dan sosial. 22. Selalu ingin cepat meraih hasil, melupakan keharusan untuk bersabar. 23. Senang menawarkan program revolusioner tapi abai membangun infrastruktur revolusi. 24. Selalu berusaha membuat politik sebagai hitam putih, bukannya penuh warna tak terhingga. 25. Sangat pandai melihat kesalahan pada orang lain, kurang suka melakukan introspeksi. Ya. Daftar itu, kelihatannya sangat mirip catatan rencana belanja di pasar. Tetapi, sejatinya saya memang ingin mengajak Anda semua untuk memperlakukan daftar itu sebagai ''daftar belanjaan''. Mari kita hitung persediaan ''uang'' kita, memilih belanjaan mana yang bisa terbeli dan layak didahulukan sambil menyimpan rencana untuk berbelanja barang berikutnya suatu ketika. Saya harap Anda jangan sungkan membuang satu, dua, atau beberapa hal dari daftar itu jika memang barang itu terlampaui mahal, tak terbeli, atau Anda tak tertarik membelinya. Karena pada akhirnya selanjutnya memang terserah Anda. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Mar 2000 jam 04:32:04 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
