---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Republika, 1 Mei 2000 Anthek Asing atau .... Gejolak perekonomian nasional belum juga sirna setelah selama tiga tahun lamanya menderita. Gonjang-ganjing ekonomi ini sebetulnya bukan monopoli Indonesia saja. Beberapa negara Asia lainnya juga terkena dampak krisis yang tak kalah hebat. Bedanya, sebagian besar mereka kini telah bangkit. Malahan negeri tetangga Malaysia bisa menyelesaikan goncangan ekonomi itu walau tanpa bantuan pihak lain. Krisis yang melanda Indonesia tak melulu persoalan ekonomi. Namun, seperti lyaknya orang sakit, krisis ini merupakan komplikasi bersamaan dengan munculnya krisis politik dan pemerintahan. Karenanya, krisis multidimensi ini memerlukan penanganan yang serius. Salah bentuk keseriusan mungkin juga ketidakmampuan menangani krisis adalah dengan mengundang pihak asing yang dalam hal ini direpresentasikan oleh kehadiran Dana Moneter internasional (IMF). Lembaga yang dianggap sebagai dewa penyelemat itu-pun langsung menancapkan kukunya di Indonesia dengan membuat beberapa kesepakatan (50 dan 42 butir) yang tertuang dalam LoI. Kehadiran IMF yang tak hanya memberikan bantuan teknis tapi juga soal dana itu memang diharapkan bisa menjadi penawar bagi luka menganga perekonomian kita. Tampaknya harapan itu belum bisa sepenuhnya terpenuhi, paling tidak sampai saat ini. Tanda-tanda kebangkitan ekonomi kita dari kebangkrutan belum juga menyembul. Sebagian pihak malah mendendangkan nada pesimismenya. Dan salah satu pihak yang ikut dituding sebagai biang keladi keterpurukan perekonomian ini siapa lagi kalau bukan IMF. Lembaga donor ini diminta ikut bertanggung jawab atas situasi buruk yang tak kunjung redadi negara kita. Diakui atau tidak, menurut beberapa pengamat, IMF punya andil dalam kebangkrutan ini. Yang kita tak pernah tahu, niat IMF atau lembaga donor lain untuk membantu mengatasi krisis itu dilakukan sepenuh hati atau ada muatan politik komersial yang terkandung di dalamnya. Beberapa ada data dan hasil penelitian yang dilakukan beberapa pihak mungkin bisa dijadikan rujukan untuk menilai tindakan IMF. Simak saja hasil penelitian Jude Wanniski, seorang konsultan bisnis di Amerika Serikat (Markus H Dipo 1998) yang sekaligus mantan editor harian ekonomi AS The Wall Street Journal dan mantan penasehat ekonomi Presiden AS Ronald Reagen dan Goerge Bush. Dari hasil pengamatannya, Wanniski mengungkapkan, adanya tangan "jahat" yang patut diduga ikut membuat keruh pelaksanaan program bantuan IMF. Indikasi ini bisa dilacak dari ramuan- ramuan standar yang selalu disampaikan IMF pada negara pasiennya : pengetatan anggaran, devaluasi mata uang, peningkatan pajak, atau pengurangan subsidi. Ironisnya, resep itu malah membuat beberapa negara yang dibantu mengalami keterpurukan ekonomi dan mendekati jurang kehancuran. Meksiko, Rusia, negara-negara Amerika Latin dan beberapa negara di Afrika merupakan bukti nyata. Wanniski pun curiga, terhadap tangan "jahat" yang di dalamnya. Ia lantas menunjuk hidung beberapa pejabat penting di IMF dan Bank Dunia yang dinilai ikut bermain di lantai bursa saham AS. Inilah daftar kepanjangan tangan para pejabat AS tersebut dalam lembaga donor. James Wolfensohn (presiden Bank Dunia) adalah pendiri Bank Investasi di AS yang telah merjer dengan Bank Trust yang sering berkutat di transaksi derivatif serta valas. Menkeu AS Robert Rubin, merupakan mantan co-chairman bank investasi Goldman Sachs. Belum lagi nama Lawrence Summers (wakil menkeu AS0 Robert McNamara (mantan presiden Bank Dunia) dan Paul Vocker (mantan gubernurbank sentral AS). Mereka semua itu memiliki hubungan yang erat dengan lembaga donor tersebut. Lantaran itu, Wanniski berani menyimpulkan bahwa keputusan- keputusan yang dibuat IMF jelas dipengaruhi pialang di Wall Street. Itu pula yang membuat pengusaha muda Irman Gusman geram. Menurutnya, ada kecenderungan kuat setiap keputusan IMF mengarah pada upaya penciptaan pasar bagi kepentingan asing atau negeri barat. Saya kira, IMF dan lembaga donor lain merupakan kepanjangan tangan dari perusahaan multinasional yang selalu mengincar pasar di negara dunia ketiga. Perhatikan saja, setiap terobosan dan langkah IMF'kan selalu dalam usaha mencari pasar. Ini dilakukan dalam rangka memperluas jaringan pasar mereka demi menggelembungkan pundui-pundi bisnisnya. Keraguan atas niat tulus IMF juga untuk menyelesaikan krisis suatu negara kian mendekati kenyataan, bila dilihat dari keluaran (output) program mereka. Sebuah studi menunjukkan, dari 89 penerima bantuan IMF antara tahun 1965-1995, sebanyak 48 negara tak lebih makmur dari kondisi sebelumnya. Sebanyak 32 negara lainnya bahkan jatuh lebih miskin ketimbang sebleum menerima bantuan. Dari data itu banyak pihak curiga, jangan-jangan IMF memang kepanjangan tangan atau anthek asing. Walau begitu, pertanyaan tersebut dibantah oleh Direktur Pelaksana IMF yang baru, Stanley Fischer. "kami bukan agen perusahaan besar yang ingin memborong saham perusahaan Indonesia dengan harga murah." Petinggi IMF itu berdalih, upaya yang dilakukan untuk mendorong percepatan penjualan aset perusahaan Indonesia semata-mata hanya bermaksud agar krisis Indonesiasegera berakhir. Bukti lain yang dilontarkan IMF untuk menepis tudingan sebagai anthek asing adalah usahanya agar setiap proses pelaksanaan program LoI berjalan transparan. Apa pun, nampaknya IMF perlu melakukan refromasi dirinya. Baik dari segi peran maupun pendekatan yang dilakukan untuk ikut mengatasi krisis. (arif s) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 May 2000 jam 06:28:37 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
