---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 16/III/15-21 Mei 2000 - ---------------------------------------- LASKAR-LASKAR TAK BERGUNA (PERISTIWA): Keberadaan laskar-laskar sudah dalam tingkat meresahkan. Hanya saja, sebagian dari mereka merasa mendapat dukungan dari aparat keamanan. /Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, tidak berguna,/ /diganti saja dengan Menwa, ya sama saja,/ /lebih baik diganti pramuka.../ /Naik bis kota tak pernah bayar, apalagi makan di warung tegal.../ Sepenggal lagu "himne" para demonstran itu selalu diperdengarkan setiap mereka melakukan demonstrasi menjatuhkan Soeharto beberapa waktu silam. Lagu itu merupakan ujud kemuakan para mahasiswa terhadap sikap militer Indonesia di bawah Soeharto yang sangat angkuh dan tidak manusiawi, dan terlepas dari masyarakatnya. Karenanya, dalam para mahasiswa selain menuntut mundurnya Soeharto juga minta dihapuskannya dwifungsi ABRI (sekarang TNI). Namun sekarang, setelah gerakan reformasi berhasil menjatuhkan Soeharto, tuntutan pencabutan dwifungsi TNI tidak juga segera direalisasikan. Bahkan di masyarakat telah terjangkiti penyakit militeristik yang mengandalkan uniform dan penyelesaian kasus dengan menggunakan kekerasan. Dimana-mana berdiri kelompok-kelompok para militer, perilakunya mirip militer dan sebagian memang dididik oleh militer. Dalam catatan Xpos, sekarang sedikitnya terdapat 30 kelompok yang dikategorikan sebagai milisi yang berada di tengah masyarakat. Milisi-milisi itu memang sudah ada sejak dibangun oleh Orde Baru, maupun kelompok-kelompok yang lahir setelah tumbangnya Soeharto. Masih ingat kampanye Pemilu di jaman Soeharto? Pasukan loreng merah kekuning-kuningan itu selalu setia mengamankan setiap kampanye Golkar, di jalan, di gedung maupun di lapangan terbuka. Mereka bak tentara yang sok gagah itu siap meladeni siapa pun yang ingin melawannya. Mereka itu adalah Pemuda Pancasila atau disingkat PP. Sebuah milisi binaan Golkar yang belakangan hilang pamornya karena tabiatnya yang sering bertindak tak etis di masyarakat --pendek kata, semua ladang preman dikuasai PP. Dari pengedar proposal sumbangan untuk kegiatan tertentu, pungutan di gang-gang hingga tukang kutip di pasar maupun parkiran. Memang, pada jaman itu tidak hanya Golkar, PPP dan PDI juga punya milisi walaupun tidak sehebat Golkar dengan PPnya. Misalnya saja PPP punya pasukan doreng hijau begitu pula PDI dengan pasukan doreng merahnya (sulit membedakan mana PDI dan mana PP). Bahkan di jaman itu, Golkar masih dibantu dengan kelompok milisi lain seperti AMPI dan Pemuda Panca Marga serta FKPPI. Ketiga kelompok tersebut juga memakai atribut dan pakaian doreng, walaupun warnanya kecoklatan. Pada waktu itu, apapun yang dilakukan Golkar tampak tak menjadi banyak persoalan. Bahkan jabatan sebagai anggota PP saja, misalnya bisa menghidupi dirinya, alat memalak. Jika PP tumbuh menjadi besar karena pemerintah dan Golkar, sebaliknya Satgas PDI-P tumbuh pesat karena tekanan yang hebat terhadap kelompok Megawati. Saat ini Satgas PDI-P jumlahnya cukup besar, walaupun tak sebesar Banser yang diperkirakan mencapai 500 ribu personil. Di beberapa tempat Satgas PDI-P bak jawara. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan PDI-P (pimpinan) mereka siap menggeruduk. Termasuk kasus perusakan kantor harian Pos Metro di Batam dan harian Radar Bogor. Kemunculan Satgas PDI-P inilah yang menurut kalangan Ustadz Jaffar Umar Thalib, pimpinan besar Laskar Jihad Alhussunah Wal Jamaah mendorong tumbuhnya sejumlah laskar-laskar di kalangan Islam radikal. "Tapi terhadap satgas PDIP kita tetap akan keras, supaya mereka tak petentang-petenteng," katanya. Banser Anshor, memang telah ada sejak lama. Mereka pernah bersama-sama Soeharto menggulung PKI dan simpatisannya. Bahkan menurut pengakuan Gus Dur sendiri, Banser ikut serta membunuh para anggota PKI atau keluarganya. Sedangkan laskar-laskar Islam garis keras ini mulai muncul ketika Habibie ingin mempertahankan kekuasaannya. Mereka semua dimobilisir untuk membentengi pemerintahan Habibie dari demonstrasi massa. Aksi-aksi massa tanpa senjata dihadapi oleh milisi Pam Swakarsa dengan menggunakan senjata tajam dan pentungan. Bahkan sebelum munculnya Pam Swakarsa, telah muncul milisi Pesilat Banten dan sekelompok umat Islam yang menamakan diri Gerakan Pemuda Islam (GPI) yang dipakai oleh pemerintahan Soeharto untuk mengusir mahasiswa dari Gedung MPR. Kelompok ini terus dipelihara sebagai bamper kelompok penerus Soeharto, ya Habibie dalam mempertahankan kekuasaan. Selanjutnya muncul sejumlah kelompok "laskar hijau" lainnya. Misalnya Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Forum Masyarakat (Formas), Ababil, Sabilillah, Hisbullah, Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS), Pemuda Potensi Masyarakat (Potmas), Barisan Umat Islam Bersatu (Buistu), Furkon, Front Pembela Islam (FPI), Forum Bersama Ormas Islam (FBOI) dan terakhir adalah Laskar Jihad Ahlussunah Wal Jamaah (lihat Box). ==================================================== *** Daftar Milisi dan Induk Organisasinya *** ==================================================== No Nama Milisi Org. Pendukung Klaim massa ==================================================== 1. Ababil - 15.000 2. Sabillilah - 10.000 3. Brigade Hisbullah PBB 25.000 4. Front Pemuda Masyumi & 25.000 Islam Surakarta Muhammadiyah (FPIS) 5. Banser NU 500.000 6. Laskar Jihad Masyumi & 7.000 Ahlussunah Muhammadiyah Wal Jamaah 7. Gerakan Pemuda PPP 10.000 Ka'bah (GPK) 8. Pemuda Potensi Masyumi & 1.000 Masyarakat Muhammadiyah (Potmas) 9. Kokam PB Muhammadiyah - (tak ada data) 10. Satgas Tebas Golkar (Soeharto) - 11. Baladi Karya Golkar/Soksi - 12. Pemuda Pancasila Golkar - 13. Pemuda Pancamarga Golkar (dulu) - 14. FKPPI Golkar (dulu) - 15. Angkatan Muda Golkar - Pembaharuan Indonesia (AMPI) 16. Pendekar Banten Golkar - 17. Pagar Nusa NU 20.000 18. Gerakan Pemuda Islam di Golkar 50.000 Islam (GPI) (Suharto) 19. Angkatan Muda Militer - Siliwangi 20. Kamra Polisi/militer - 21. Kiblat Masyumi & 25.000 Muhammadiyah 22. Garda Bangsa PKB - 23. Satgas Wirapati PDI-P - 24. Banteng Tengkorak PDI-P - 25. Brigade Siaga PDI-P - Satu (Brigass) 26. Pemuda Bulan PBB 50.000 Bintang 27. Furkon Kisdi 5.000 28. Front Pembela Masyumi & 200.000 Islam (FPI) Muhammadiyah 29. Badai Timur - 2.000 30. Resimen Mahasiswa Militer - 31. Satgas PDI-P PDI-P 20.000 32. Barisan Simpatik PAN 30.000 ==================================================== (Sumber: dari berbagai sumber diolah Xpos, Mei 2000) Kemunculan Laskar Jihad ini cukup menarik. Ia adalah titik simpul kelompok Islam garis keras dalam rangka "perang" di Maluku. Kehadiran laskar jihad itu bukanlah datang begitu saja, tapi telah diskenariokan sejak lama oleh Ahmad Sumargono. "Kami tak mungkin lagi mempercayakan keselamatan Umat Islam ke-pada ABRI," tegas ketua Umum Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) itu. Pasukan itu berbentuk milisi milisi Islam yang dipersenjatai, urai Gogon demikian sapaan akrab ketua KISDI ini. Tugas mereka adalah membela semua kepentingan umat Islam di tanah air. "Pasal-nya setiap ada kerusuhan, umat Islam yang banyak dirugikan, misalnya pada peristiwa Dili di Timor Timur, Ketapang (Jakarta), Kupang (NTT) sampai kerusuhan Ambon," demikian tegas Gogon, (29/1). Jika urusan Ambon dicover oleh Laskar Jihad, di Jakarta dan kota lain di Jawa, FPI bertugas mengobrak-abrik panti-panti pijat, warung penjual minuman keras, tempat perjudian dan tempat pelacuran. Di tempat-tempat itu, FPI adalah hukum itu sendiri. Mereka seolah berhak atas apa saja. Sejumlah pemilik warung gerobak dorong harus menderita kerugian karena bir dagangannya dirampas oleh FPI. Mereka pula yang merusak dan membakar bar-bar di puncak dan di sekitar Jakarta. Pendudukan kantor Jawa Pos oleh Banser awal bulan ini, sebenarnya bukanlah yang pertama kali. Sebab sebelumnya FPI dan Satgas PDI-P adalah kelompok yang paling rajin mendemonstrasi media. Hanya saja, main hakim sendiri ala laskar-laskar ini, herannya tidak ditanggapi serius pihak kepolisian. Polisi malah mengaku merasa 'dibantu' oleh mereka, atau aparat keamanan diam-diam juga ikut melakukan pelatihan bersama. Dampak negatif hilangnya kewibawaan hukum di tengah masyarakat, tampaknya tak terlalu jadi perhatian serius aparat keamanan. (*) - ------------------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - -------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 May 2000 jam 08:15:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
