----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
---------------------------
9 Juni 2000

         �MENSTUDI TIONGKOK, MENCARI KEBENARAN DARI KENYATAAN�
                 <T.M. Siregar Meraih gelar Ph.D pada Universitas
Wageningen>

Sembilan Juni, 2000, bukanlah hari yang biasa-biasa saja  bagi sahabat dekat
saya, T.M. SIREGAR. Pada hari yang punya arti istimewa baginya itu, ia telah
berhasil menyelesaikan �proefschriftnya� yang berjudul �CHINA�S ECONOMIC
REFORM: FROM RURAL FOCUS TO INTERNATIONAL MARKET�.dan meraih gelar PH.D.
pada Universiteit Wageningan , Nederland. Selain para undangan yang hadir
dalam upacara peresmian , juga tampak Hasyim Saleh, wakil Dutabesar
Indonesia di Nederland.  Prestasi ini dicapainya dalam keadaan yang tidak
mudah bagi diri dan istrinya.

Pada upacara yang dipimpin oleh Prof. Dr. B. Beekman itu, telah
diperdebatkan pelbagai masalah yang diajukan oleh para profesor dari Komisi
seperti, mengenai peranan teori Mao Tsetung dalam transformasi ekonomi
pedesaan, saling hubungan antara sistim ekono- nomi/politik di Tiongkok
dengan pemberlakuan HAM, pragmatisme dalam ekonomi, dll. Semua pertanyaan
tsb telah dapat dijawab oleh T.M. Siregar.
.
T.M. Siregar sudah lebih dari 30 tahun bermukim di luar negeri. Sejak
peristiwa 30 September 1965, ia tidak bisa kembali ke Indonesia, karena
paspornya telah dicabut oleh pemerintah yang ketika itu sudah dikuasai oleh
mantan Jendral Suharto. Pencabutan paspor tsb,  disebabkan oleh sikapnya
yang menolak untuk menandatangani pernyataan mengutuk G30S dan pemerintahan
Presiden Sukarno. Pernyataan tsb disodorkan oleh perwakilan Indonesia di
Praha saat itu. Seorang atase militer Indonesia dari Praha, khusus dikirim
ke Berlin untuk mendesak T.M. Siregar menandatangani pernyataan tsb. Ketika
itu TM Siregar, atas tugas pemerintah Indonesia sedang belajar di
�Hochschule fur Oekonomie in Berlin�.

                                                                      *

Mengapa T.M. Siregar mengambil tema salah satu bidang penting dari ekonomi
Tiongkok, sebagai tema studi untuk post-graduate studynya? Keterangannya
sederhana, tetapi prinsipil. Alasannya ialah, karena rasa hormatnya pada
suatu negeri yang, menurut Siregar,  praktek aktualnya merupakan contoh yang
baik dan , barangkali, mengandung kebenaran universal di dalam pengalaman
tsb. Menurut Siregar, apa yang telah dicapai Tiongkok adalah penting untuk
negeri-negeri yang sedang  berkembang lainnya, juga untuk dunia yang sudah
maju. Ia memilih Tiongkok sebagai obyek studinya, karena Tiongkok adalah
sebuah negeri yang besar, berpenduduk 1,3 milyar, dengan tanggungjawab yang
besar bagi rakyatnya dan kemanusiaan. Latar belakang lainnya mengapa Siregar
memilih tema Tiongkok, ialah karena sejak 1968 sampai dengan 1981, ia berada
di Tiongkok. Kemudian ia sekali lagi mengunjungi Tiongkok pada tahun 1993
untuk keperluan melengkapi studinya itu.

Karya studinya itu terdiri dari empat bagian.
Bagian  Pertama, menjelaskan tentang latar belakang sejarah masa sebelum
Reform dan Keterbukaan (Opening-up). Bagian Kedua dan Ketiga, merupakan
fokus utama dari proyek riset ini, yang menyoroti masalah Reform dan
Keterbukaan (Opening-up), dengan titik berat pada perkembangan agrikultur
dan perkembangan sektor-sektor non-agrikultur, yaitu �Village Township
Enterprises (VTE�s)�. Bagian Keempat, merupakan prediksi mengenai prospek
ekonomi Tiongkok dimasa mendatang.

                                                                          *

Tiongkok adalah salah satu negeri sosialis yang bisa bertahan melewati
kancah �perang dingin�, dan tidak ambruk dalam persaingan dengan
negeri-negeri kapitalis Barat, khususnya Amerika Serikat. Dari situ Tiongkok
telah menarik pelajaran dari pengalaman pembangunan sosialis di negeri
sendiri dan dari negeri-negeri blok Sovyet lainnya , sebelum blok itu
runtuh. Setelah mengambil kesimpulan, yang dianggapnya sesuai, Tiongkok
menempuh jalan sosialisnya sendiri. Mengenai Tiongkok pasca �perang dingin�
ini, pada pokoknya, boleh dibilang  terdapat tiga macam analisis dan
penilaian yang berbeda-beda.

Pendapat yang Pertama: Usaha kaum Komunis Tiongkok untuk menghapuskan sistim
feodalisme dan kapitalisme di Tiongkok dan menggantikannya dengan  sistim
ekonomi sosialis menurut ajaran Marx, telah mengalami kegagalan. Seperti
halnya kegagalan sosialisme di Uni Sovyet dan negeri-negeri blok Sovyet
lainnya. Sistim kapitalisme yang ternyata lebih unggul, telah kembali
beroperasi dan berkembang  di Tiongkok. Sekarang Tiongkok adalah negeri
kapitalis. Ini analisis dan kesimpulan pendapat pertama.

Yang Kedua , menilai bahwa Tiongkok, yang sejak berdirinya R.R.T. dianggap
sebagai suatu  negeri yang melakukan pembangunan ekonomi atas dasar ajaran
sosialisme Marx sebagai pedoman teorinya, telah mengalami perubahan
fundamental. Tiongkok Sosialis telah berubah menjadi Tiongkok yang menempuh
jalan kapitalisme. Tiongkok bukan lagi negeri sosialis, demikian kesimpulan
pandangan kedua.

Analisis dan kesimpulan Ketiga, sbb: Tiongkok masih tetap sebuah negeri
sosialis yang berpedoman pada ajaran dan teori Marxis. Menurut pendapat ini,
atas dasar pengalamannya sendiri, Tiongkok telah menyesuaikan teori dan
ajaran Marxis, dengan  keadaan kongkrit Tiongkok. Dalam mengurus ekonomi
negeri, dewasa ini Tiongkok mengkombinasikan sistim perencanaan sentral
dengan mekanisme pasar, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Jalan baru yang ditempuh Tiongkok, tetap menuju ke sosialisme.  Dewasa ini
kebijaksanaan ekonomi yang baru, telah mendorong pertumbuhan ekonomi
nasional yang pesat dan meningkatkan taraf hidup rakyat pada umumnya. Ini
adalah analisis dan kesimpulan pendapat ketiga.

Kesimpulan mana yang lebih sesuai dengan kenyataan masih harus dibuktikan
dalam proses selanjutnya.

Studi T.M. Siregar memberikan tambahan masukan dan mendorong orang berfikir,
apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tiongkok, khususnya yang menyangkut
pembangunan ekonomi dari suatu negeri yang sedang berkembang, , dan
bagaimana pula haridepan dan dampaknya terhadap perkembangan ekonomi dunia
di masa mendatang. Dalam hubungannya dengan Indonesia, hasil studi TM
Siregar ini punya arti khusus, mengingat prakarsa Presiden Abdurrahman
Wahid, untuk menjalin hubungan kerjasama yang lebih erat di berbagai bidang
antara Indonesia dengan Tiongkok.

T.M. Siregar menyatakan, bahwa tujuan studinya itu, pertama-tama dan
terutama,  adalah untuk �MENCARI KEBENARAN DARI KENYATAAN�. Dalam studinya
itu Siregar menggunakan kenyataan, eksperimen, dan literatur dari sumber
aslinya. Ia juga mempertimbangkan bahan kritis, komentar dan literatur
lainnya dari luar Tiongkok.

Dalam salah satu percakapannya dengan saya, Siregar menyatakan bahwa ia
telah menyampaikan hasil studinya itu secara resmi kepada Presiden
Abdurrahman Wahid, ketika beliau berkunjung ke Belanda dalam bulan Februari
y.l. Kepada Dutabesar Indonesia di Belanda, Abdul Irsan,  dengan mana ia
Siregar sudah lama menjalin komunikasi, juga telah disampaikannya hasil
studinya itu.

Menurut Siregar studinya itu, juga sebagai usaha penunaian tugas dan bukti
tanggungjawabnya kepada negara dan pemerintah Indonesia, yang dalam 1964,
ketika ia masih berfungsi sebagai Kepala Bagian Luarnegeri dari Departemen
Transkopemada, telah mengirimkannya  ke luar negeri untuk belajar ekonomi.

Di Indonesia dewasa ini, telalu amat sedikit pakar yang secara khusus
melakukan studi tentang pembangunan ekonomi Tiongkok, khususnya tentang
reform ekonomi pedesaan Tiongkok, yang melakukannya  dengan suatu sikap yang
tidak apriori, yang betul-betul obyektif. Dari segi ini, inisiatif dan studi
yang dilakukan oleh T.M. Siregar, mungkin merupakan suatu penerobosan, yang
akan bermanfaat untuk usaha-usaha serupa diwaktu mendatang. Maka usaha TM
Siregar itu seyogianya perlu disambut, disokong dan dikembangkan.

Sejak berdirinya Orba, literatur mengenai Tiongkok, yang terdapat di
Indonesia, apalagi literatur yang menyangkut studi mengenai masalah politik-
ekonomi Tiongkok , amat dipe-ngaruhi dan didominasi oleh politik resmi Orba
yang ketika itu tidak bersahabat, kalau tidak hendak dikatakan suatu politik
yang bermusuhan dengan Tiongkok.

Dari segi lain, T.M. Siregar, yang sudah hampir 80 umurnya itu, telah
menunjukkan dan memberikan dorongan kepada teman-teman dan kawan-kawannya,
bahwa umur bukanlah  rintangan yang tidak dapat diatasi, untuk terus aktif
berkecimpung di bidang ilmu. Ini bisa dilihat dari prakarsa yang
direalisasinya bersama dengan sejumlah teman-teman, ketika  beberapa tahun
yang lalu bersama-sama mendirikan lembaga studi di Amsterdam, yaitu
�Stichting Azie Studies voor Onderzoek en Informatie� yang berkecimpung di
bidang studi dan informasi mengenai masalah-masalah Asia. Sampai sekarang TM
Siegar adalah ketua dari �Stichting Azie Studies� tsb.

Meskipun,  diluar kehendaknya sendiri, ia terpaksa tidak bisa pulang, TM
Siregar dengan efektif  memanfaatkan kehadirannya di luarnegeri. Sampai saat
ini TM Siregar bersama istrinya, berdomisili di Amsterdam.

Sebagai teman dekatnya, saya kira tidak salah bila saya katakan bahwa banyak
teman yang mengenalnya dari dekat, akan sependapat dengan saya bila kita
ucapkan selamat dan bahagia kepada TM Siregar dan kepada istrinya, yang
keberadaannya disisinya , sebagai teman hidup yang  setia, telah memberikan
bantuan dan dukungan moral yang kuat pada suaminya.

Semoga harapan TM Siregar, agar studinya berhasil untuk menemukan sampai
batas mana Tiongkok dapat berperan sebagai �model� bagi dunia dalam mencari
solusi mengenai  masalah-masalah sosial-ekonomi dan politik global, bisa
terrealisasi.
* * *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Jun 2000 jam 15:36:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke