----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kompas, Rabu, 12 Juli 2000

Lima Kota Besar Tolak MPR

Jakarta, Kompas

Mayoritas warga masyarakat Kota Jakarta, Medan, Surabaya,
Banjarmasin, dan Makassar menolak gagasan mengubah Sidang
Tahunan MPR bulan Agustus mendatang menjadi Sidang Istimewa.
Mereka tidak menginginkan Presiden Abdurrahman Wahid mundur,
tetapi memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki
kabinet.

Meski demikian, sekitar 65 persen responden menilai langkah-
langkah pemerintahan Abdurrahman Wahid dirasakan belum membawa
perbaikan pada bangsa Indonesia, dan 27 persen berpendapat
sebaliknya. Demikian hasil pengumpulan pendapat yang dilakukan
Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan
Sosial (LP3ES) terhadap 1.246 responden di lima kota tersebut
pada tanggal 7-27 Juni lalu dan diumumkan di Jakarta, Selasa 11
Juli.

Temuan ini, kata Direktur LP3ES Imam Ahmad dalam konferensi pers
kemarin, menegaskan bahwa masyarakat tidak mendukung tuntutan
sebagian elite politik agar Abdurrahman Wahid mundur karena
dipandang belum berhasil menyelesaikan krisis ekonomi dan
kerusuhan di berbagai daerah.

"Sampai saat dilakukan (pengumpulan pendapat), masyarakat di
lima kota besar tidak bisa membayangkan adanya pengambilalihan
pemerintahan atau mencari figur yang tepat untuk menggantikan
Abdurrahman Wahid," kata Imam.

Hal itu, menurut pengumpulan pendapat LP3ES, dicerminkan oleh
kebingungan atau ketidaktahuan 89 persen dari responden atas
calon pengganti Abdurrahman Wahid seandainya terpaksa atau
dipaksa mengundurkan diri. Ini yang, menurut LP3ES, menjelaskan
mengapa 48 persen responden menolak gagasan mengubah Sidang
Tahunan MPR menjadi Sidang Istimewa, meski terdapat 29 persen
yang menyetujuinya.

Pemerintahan Abdurrahman Wahid, menurut pengumpulan pendapat
itu, dinilai oleh 48 persen responden telah memberikan ruang
bagi kebebasan politik yang lebih baik dibandingkan dengan masa
sebelumnya yang sebetulnya sudah dimulai pada era pemerintahan
BJ Habibie. Sayangnya, menurut para responden, kebebasan politik
itu belum dimanfaatkan secara optimal oleh partai politik.
Sebanyak 38 persen responden menilai kinerja partai politik
sekarang ini sama saja dengan yang lalu, 31 persen menilai lebih
baik, dan 21 persen menilai lebih buruk.

Langkah-langkah pemerintahan Abdurrahman Wahid dirasakan oleh 65
persen responden belum membawa perbaikan pada bangsa Indonesia,
27 persen berpendapat sebaliknya. Namun, 65 persen responden
tetap tidak menginginkan Abdurrahman Wahid mundur dan cenderung
memberikan kesempatan memperbaiki kabinetnya, misalnya
"mengganti menteri yang tidak cakap sebagaimana dinyatakan
oleh 49 persen populasi".

Kepala Divisi Cesda (Center for the Study of Development and
Democracy) LP3ES Naning Mardiniah yang menjadi penanggung jawab
pengumpulan pendapat ini mengatakan, survei diperkirakan
memiliki margin kekeliruan sekitar tiga per-sen pada tingkat
kepercayaan 95 persen untuk mewakili pendapat keseluruhan
penduduk dewasa di lima kota besar tersebut: Jakarta (548
responden), Medan (149), Banjarmasin (150), Surabaya (249), dan
Makassar (150).

Komposisi responden dewasa (18 tahun ke atas) dengan beberapa
variabel. Pendidikan, yakni SD (22 persen), SLTP (20 persen),
SLTA (42 persen), dan di atas SLTA (17 persen). Agama, yakni
Islam (89 persen), Protestan (6 persen), Katolik (3 persen),
Buddha (2 persen), Hindu (0,3 persen), dan lainnya (0,2 persen).
(sal)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Jul 2000 jam 05:35:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke